Jumat, 30 Juni 2023
Maryam 18
Selasa, 14 Maret 2023
4 Tipe Keluarga yang Harus Diperbaiki
Rabu, 25 Mei 2022
Menikah Hanya 8 Hari, Jangan Salahkan Proses Ta'arruf!
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Semoga keselamatan, rahmat Allah dan keberkahan senantiasa melingkupi kita semua, aamiin
Seperti biasa netizen memang maha benar dalam berkomentar. Yang paling bikin mata gatal membacanya adalah komentar tentang ta'arruf yang terkesan jadi biang dari pernikahan singkat ini. Padahal banyak juga pasangan yang harmonis, samawa, langgeng sampai kakek nenek berawal dari proses ta'arruf. Dan banyak juga pasangan yang berawal dari proses pacaran yang hanya berumur singkat. Bahkan dalam hitungan jam, hem...
Ta'arruf sendiri dalam Islam memang menjadi jalan dalam mengenal calon pasangan. Namanya proses mengenal ya memang tidak cukup hanya dengan saling tukar CV. Dulu, dimasa saya kuliah ramai sekali proses Ta'arruf dengan tukar CV ini. Tapi itu ternyata hanya tahap awal, selanjutnya ada proses pengenalan yang lebih dalam setelah kedua calon memang menyatakan siap menikah. Artinya memang sadar, merdeka, tidak ditekan apalagi dipaksa.
Saya sendiri menikah melalui proses ta'arruf. Awalnya memang saya membaca biodata calon suami. Tapi tidak berhenti sampai membaca saja, saya pun mendengar penjelasan dari pihak perantara ( waktu itu ya guru ngaji atau ustadz dan istrinya ) tentang calon suami. Saya pun mencoba mengenal lebih dalam lewat adik perempuan calon suami. Bukan hanya sifat, kepribadian, hobi, apa yang disukai apa yang tidak dari calon suami, tapi juga mengenal keluarga dimana dia berasal. Karena dari pola asuh dan pendidikan keluarga memegang peran penting pembentukan karasteristik sesorang.
Bahkan saya sempat berkunjung ke rumah calon suami, tentu tidak sendirian, tetap didampingi calon adik ipar perempuan. Saya pun melihat lingkungan sekitar, dan mendengar cerita calon suami dari orang-orang terdekatnya secara langsung. Jujur dengan calon sendiri saya jarang berkomunikasi langsung, artinya tetap melalui perantara. Karena bagaimanapun kita tetap dua orang asing yang tidak halal berkomunikasi berdua tanpa mahram atau pendamping. Saya berkomunikasi dengan ustadzah dan calon suami dengan ustadz,
Tak lupa dan tak ditinggalkan adalah doa mohon diberi petunjuk. Istikharah tak cukup sekali tapi berkali-kali. Apa saya dapat mimpi untuk kemudian jadi yakin dan mantap ke jenjang ta'aaruf selanjutnya? Kayaknya enggak deh hehehe. Enggak tahu juga apa saya yang kurang nangkap maksud mimpi atau memang jarang mimpi. Tapi yang saya minta pada Allah adalah jika memang dia jodoh maka tetapkan hati untuk melanjutkan tahap ini. Beri petunjuk dalam bentuk apapun. Ringankan hati dan mudahkan langkah. Dan ternyata itu yang saya dapatkan. Moral story nya sih, kalau sudah istikharah tapi gak dapat mimpi jangan galau. Tapi pandai-pandailah melihat tanda-tanda dan bersihkan diri dari hawa nafsu atau keinginan pribadi agar pesan yang Allah kirim mudah ditangkap.
Ini saya ambil dari kejadian yang saya alami sendiri lho, bukan kisah orang lain. Kisahnya seperti ini, beberapa waktu sebelum ta'arruf dengan calon suami yang sekarang - alhamdulillah mau berjalan 20 tahun jadi qawwam dalam rumah tangga- saya pun pernah menjalani ta'arruf. Taarruf yang pertama ini malah gagal sudah, padahal si calon memenuhi semua kriteria keluarga besar. Sudah punya pekerjaan tetap, sudah sarjana, PNS pula. Tapi saat saya ingin mengenal dari pihak keluarga besar disinilah mulai terlihat tanda-tanda bahwa dia bukan jodoh saya. Dari mulai komunikasi yang sulit, hati yang terus merasa berat, tidak ada i'tikad baik ingin melanjutkan prose ta'arruf, dan akhirnya si calon menghilang. Anak-anak gadis saya saat mendengar cerita ini langsung komen, "Wah, ternyata Ibu pernah mengalami di-ghosting juga ya pada zamannya wakakakak.."
Point Penting dalam Ta'arruf:
Selain mengenal pribadi calon pasangan, kenali juga apa yang mendasari pasangan untuk menikah. Apa sih visi misi,tujuan. pandangan yang dimiliki calon pasangan dari sebuah pernikahan. Rumah tangga itu ibarat mengarungi bahtera di tengah lautan samudra. Terus tanpa nanya-nanya dulu tujuan yang akan dituju kita main naik aja. Baru pas kapal sudah berlayar, berani nanya ke nakhoda. Ya kali kalau kalau tujuannya sama, bisa disebut beruntung. Kalau enggak mau jebur laut apa?
Ta'arruf Setelah Menikah
Perlu dipahami juga bahwa proses ta'arruf bukan hanya dilakukan saat perkenalan atau sebelum menikah. Setelah menikahpun tetap proses ini dilakukan. Karena yang sudah satu pemahan dan visi misi dalam menikah pun tetap bisa berubah karena dinamika kehidupan. Manusia memang makhluk dinamis, tidak statis. Berubah terus seiring pemahaman dan ujian yang dihadapidnya. Jangan lupakan juga jebakan syaitan ada di mana-mana lho. Jangan pikir syaitan akan diam berpangku tangan melihat rumah tangga yang harmonisdan tujuannya sesuai kehendak Allah Swt. Justru Syaitan akan makin berupaya dengan godaan dari arah depan, belakang, kanan, kiri bahkan bawah untuk menguncang ikatan kuat ini.
Ada kisah bahwa Iblis sangat menghargai pasukannya yang bisa memisahkan sepasang suami istri dari ikatan akad suci. Sebuah janji yang senilai dengan perjanjian pengangkatan para nabi ( mitsaqan ghalidzan = ikatan yang kokoh ). Yang sampai ketika ikatan ini dipisahkan bergetar Arsy dan Allah pun tidak suka walau mengijinkan. Dan sebagaimana hukum alam, semakin tinggi pohon semakin kuat angin yang berkencang, maka begitupun berlaku pada ujian dalam pernikahan. Banyak contohnya dimana pada pesohor, ustadz terpandang harus jatuh karena ujian dalam rumah tangganya.
Proses taarruf yang benar pasti akan menghasilkan tafahum, saling memahami. Dibutuhkan sikap jujur pada diri sendiri akan kekurangan dan kemauan untuk berubah. Dari pasangan dibutuhkan sikap menerima karena bagaimanapun tidak ada manusia yang sempurna. Dari tafahum mulailah untuk saling menolong, bekerjasama. Karena tidak mungkin terjadi kerja team yang bagus kalau tanpa saling memahmi satu sama lain. Dan semua itu berawal dari taaruf atau proses mengenali, saling mengenal.
Proses ta'arruf tidak berjalan imbasnya kemana-mana lho. Paling deket ya di komunikasi, pasti macet. Kalau enggak satu arah, gak jauh dari ceramah atu khutbah ya yang pemirsanya gak boleh komen atau harus diam hehehe. Lalu bagaimana harmonis akan terbentuk kalau di gak nyambung antara pimpinan dan warganya, antara suami dan istri beserta anak-anaknya. Akibatnya jalan masing-masing yang bisa menyebabkan bahtera rumah tangga terombang-ambing lautan kehidupan. Kalau sudah seperti ini bukan syurga rumah kita tapi kebalikannya naudzubillah...
Semoga tulisan ini bisa sedikit nenambah ilmu dan wawasan tentang ta'arruf...
wallaohu a'lam bishowab.
Jumat, 20 Mei 2022
Mengingat Mudik Sejati Dari Fenomena Mudik Idul Fitri
Rabu, 27 November 2019
Menuliskan Secuil Syurga Di Rumah
Read more https://konsultasisyariah.com/24268-orang-tua-pintu-surga-paling-tengah.html
"Orang tua adalah pintu syurga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya." HR. Ahmad, Thurmudzi
Dalam menjelaskan hadist ini, ulama berpendapat bahwa banyak jalan untuk masuk syurga. Tapi jalan yang paling nyaman adalah jalan tengah yaitu melalui keridhaan orang tua. Dengan apa? denganmemberikan hak-hak orang tua.
Nah, berbicara mengenai hak orang tua, maka perlakukan diri sebagai anak. Artinya, kewajiban seorang anak terhadap orang tua. Jujur saya jadi ingat beberapa hari yang lalu si pengais bungsu dapat peer dari sekolahnya tentang hak anak dan kewajibannya pada orang tua. Qadarullah juga tema hak dan kewajiban ini nyambung juga dengan taklim ahad pagi di rumah.
Seperti biasa saya minta si anak mikir dulu. Dan jawaban pertama yang keluar adalah mentaati perintah orang tua. Yes, betul tapi perlu ditambah dalam urusan yang makruf dan tidak mendurhakai Allah. Artinya, kalau perintah orang tua tersebut bisa membuat Allah tidak suka apalagi sampai murka yaaa... tidak perlu diikuti. Misal, perintah untuk berbohong, mencuri atau membuka aurat.
"Lalu hak anak apa?" Si bocah sudah tidak sabar untuk mengetahui apa yang akan didapatnya jika sudah mentaati orang tua.
"Pastinya, disayang dan dididik agar mengenal Rabbnya oleh orang tua."
Di sini saya juga menerangakan bahwa disayang itu bukan berarti semua yang diminta anak dikasih. Karena orang tua itu bukan doraemon yang setiap kali Nobita merengek langsung ngeluarin alat dari kantong ajaibnya. Disayang bisa juga dengan diingatkan bahkan ditegur.
"Trus apa lagi?"
"Menurut Mas apa?"
"Mendoakan orang tua?"
"Bisa.., emang mas rajin mendoakan ayah ibu?"
"Kadang-kadang sih..." ujar si bocah jujur.
"Kalau ayah ibu Insya Allah selalu mendoakan mas, dan anak-anak ayah ibu.Bahkan saat memilih nama buat kalian pun, itu adalah doa."
Umar bin Khattab ra., pernah menjelaskan bahwa hak anak dari orang tuanya ada 3 , yang pertama dipilihkan ibu yang baik ( shalihat ), mendapat pendidikan tentang al quran dan diberi nama yang baik.
Dan sebenarnya masih banyak juga kewajiban anak kepada orang tua, termasuk membantu, meringankan bebannya, merawatnya saat orang tua sudah lemah. Untuk yang terakhir ini memang perlu kesabaran tingkat tinggi, karena seperti sudah diketahui bahwa semakin sepuh orang akan bertingkah seperti anakanak. Bisa disebut disitulah ujiannya.
Nah, buku cantik ini menceritakan kisah-kisah birrul walidain yang mewakili setiap zaman. artinya bukan hanya jaman old saja lho, tapi masih ada kok kisah- kisah birrul walidain di zaman kekinian yang sangat menyentuh hati, membuat haru. Menarik kan..? Membacakan kisah-kisah di buku ini, saya aja sering mewek, terharu. Bisa sekalian membangun bonding dengan anak kalau dibacakan oleh ibu atau ayah kepada buah hatinya.
Nah, semoga bermanfaat yaa...
Wallohu a'lam bisshowab
wa'alaikum salam...
Read more https://konsultasisyariah.com/24268-orang-tua-pintu-surga-paling-tengah.html
Read more https://konsultasisyariah.com/24268-orang-tua-pintu-surga-paling-tengah.html
Selasa, 29 Januari 2019
7 Manfaat Mendongeng atau Membacakan Buku Cerita untuk Anak
![]() |
| picture by google |
![]() |
| doc pribadi |
Senin, 10 September 2018
Apa Saja Yang Diperbaharui Di Tahun Baru Islam?
| http://cdn2.tstatic.net/kaltim/foto/bank/images/taun-baru-islam-1-muharram-1440-h_20180905_085952.jpg |
Baca juga :Yang Sering Terlupa di Moment Tahun Baru Islam
Baca Juga : Sejarah Tahun Baru Islam for Kids
2. Tak Beraturan Jadi Disiplin
Disiplin adalah komponen penting dalam beribadah. Bayangkan jika beramal dan suka suka gue, alias susah diatur. Ya pastinya amalnya juga tidak akan berbentuk. Padahal seorang munslim itu syaratnya ya tunduk patuh pada aturan Allah. Lalu jika jiwa disiplin itu tidak ada bagaimana bisa disebut sebagai seorang muslim?
3. Dari Penakut Jadi Pemberani
4. Dari Biasa jadi Berprestasi
Rabu, 05 September 2018
Ikutan Training Blog Advanced Agar Semangat Ngeblog Naik Lagi
![]() |
| https://scontent.fcgk3-1.fna.fbcdn.net/v/t1.0-9/ |
Selasa, 04 September 2018
5 Hal Yang Perlu Disiapkan Orang Tua Saat Anak Mondok
Tak terasa sudah setahun bujang saya di pondok pesantren. Masa-masa adaptasi pun sudah berlalu. Dari yang awalnya sering murung, kini si bujang terlihat bersemangat dan betah di tempatnya belajar. Bahkan adiknya yang kini di kelas 6 sudah mengajukan proposal untuk mondok juga. Proposal yang bagi saya cukup susah untuk meloloskan karena sejak awal saya ingin anak-anak perempuan tetap di rumah, diasuh dan belajar di rumah saja. Lebih tepatnya saya ingin sebagai pendampingi mereka saat mereka memasuki dunia remaja sebagai gadis belia.Minggu, 11 Juni 2017
Mengenal Profil Para Sahabat Nabi di Bulan Suci
"Mi, buku dah terbit nih...!"
Pemberitahuan dari editor ini sontak membuatku kaget sekaligus haru. Naskah yang awalnya diperkirakan terbit akhir tahun, malah release di bulan suci. Bisa jadi penerbit GPU melihat ini momen yang pas. Saat gairah keislaman dan ibadah sedang on the top.
Kalau dilihat ke belakang, naskah ini diajukan 2 tahun yang lalu, 2015. Dengan genre anak islami. Makanya judul awalnya juga Sirah 60 Sahabat Nabi for Kids. Tapi karena faktor ilustrasi dan mungkin dilihat lebih pas undtuk dewasa or umum ( banyak adegan heroik yang berdarah-darah ), maka sasaran pembaca diperluas.
Beberapa kali kabar akan terbit naskah ini timbul tenggelam. 'Dipereum' itu istilah Neng editor di Indscript. Sampai saya sendiri sibuk dengan beberapa naskah buku yang akhirny terbit mendahului di 2015 dan 2016 lalu. Dan qadarullah, naskah ini terbit jadi rezeki tak terduga di ramadahan 2017 ini. Alhamdulillah ala kulli hal
Kenapa saya memilih genre anak? Karena jujur saja saya hanya menulis ulang berdasar sumber sana sini, tentu saja dengan gaya penulisan yang ingin memberi motivasi pada anak-anak. Agar mereka lebih mengenal dan mengidolakan para pembangun peradaban nubuwwah ini. Saya juga gak mau disebut sok sok- an ahli sirah. Duh, siapa lah daku ni? Hanya murid yang masih minim ilmu dan masih kudu belajar banyak. Tapi karena sudah dipilih oleh penerbit, dan sudah terbit, ya mau gimana lagi. Tinggal 'Bismillah tawakaltu 'alallah'.
Meski semper mondok di penerbit 2 tahun, tetap saja saya merasa belum maksimal dalam menulis naskah ini. Hal yang paling berat adalah menulis nama yang bisa jadi kurang familier di telinga. Karena sengaja saya menulis para sahabat diluar 4 Khulafaur Rasyidin atau 4 sahabat utama. Begitu juga dalam memperkirakan waktu dan usia yang bisa jadi kurang tepat.
Karena itu lah saya merasa buku ini masih banyak kekurangan. Besar harapan kekurangan itu tidak membuat turun kemuliaan para tokoh yang ada di buku ini. Tapi saya pastikan, para pembaca akan mendapat suntikan motivasi dan semangat untuk mencontoh dan meneladani generasi yang langsung dibimbing oleh Baginda Nabi Muhammad Saw ini.
Selamat membaca, selamat melintasi sejarah yang penuh buliran hikmah dan kemuliaan...








