Tampilkan postingan dengan label my journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my journey. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 September 2025

Cerita 2025- Persiapan Anak Mondok sampai Kuliah ke Luar Negeri ( Bag 3 )

Bismillahirrahmanirrahim... 


Di bagian 2 kita sampai ke bagian Teteh mencoba lolos bagian administrasi di LPDP karena LoA nya dianggap masih bersyarat,  bukan LoA yang pasti ( belum fix dia diterima di Lund University). Saya sebagai orang tua hanya bisa terus memberikan pikiran positif dan juga semangat. 

Dan bagi kalian yang mau ikut lomba atau beasiswa, kita ikuti saja alur yang sudah ditetapkan panitia. Termasuk di sini adalah masa sanggah, maka lakukan saja, meski harus bolak-balik kirim email ke pihak Lund. 

Setelah masa sanggah selesai, Teteh kembali merasa pesimis. Karena tidak ada keterangan apapun dari pihak LPDP. Kalau pihak Lund ( Swedia ) itu fast respon, selama email dikirim masih hari kerja, dibalas cepet kok. Beda ya sama di sini, kadang terkesan di PHP gak sih hehehe, karena panitia terkesan diem-diem bae...😁

Selama masa menunggu itu datanglah pengumuman dari pihak Pemerintah Swedia yang menyatakan kalau dia tidak lolos mendapatkan beasiswa. Sedih ya sudah pasti. Fyi beasiswa dari pemerintah Swedia ini untuk master dan doktor memang ditujukan untuk profesional ya. Jadi kalian harus sudah pernah kerja dan punya pengalaman. 

Apalagi setelah dapat info kalau dia hanya masuk daftar tunggu di beasiswa Belgia. Saya mengarahkan untuk ikutan beasiswa ke negara lain, seperti Australia dan New Zealand. Terakhir dia ikutan MEXT ( Jepang ).  Bahkan ikut Beasiswa PMDSU ( pendidikan master menuju doktor sarjana unggul ), atau nawarin daftar ke almamaternya ( ITB ) atau kampus di sini, tapi anaknya gak mau. Kayaknya masih penasaran bisa gak ya kuliah ke luar negeri. 

Agar anak tetap semangat, saya suka bilang, "Ibu itu dulu punya prinsip setiap ikut lomba menulis atau mengirim artikel ataupun outline buku, kirim- lupakan -lalu kirim lagi - kirim lagi yang lain."  Yang artinya, jangan mudah menyerah, setiap usaha kita akan menemukan jalan rezekinya sendiri. Bayangin kalau tidak pernah mencoba, bagaimana akan dapat hasilnya kan?

Saya juga selalu bilang, beasiswa itu rezeki dari Allah, yang datangnya pada waktu yang tepat. Sama seperti, jodoh, kematian juga kelahiran. Gak bisa dipaksa dipercepat atau diperlambat. So... sabar saja dan selalu positif thingking sama takdir Allah. Karena Allah itu Maha Presisi, mendatangkan pada waktu dan orang yang tepat. 

Wawancara LPDP dan Merawat yang Sakit
Qadarullah bulan Mei saya sakit. Dan sebagai anak perempuan satu-satunya yang sedang ada di rumah, dia yang merawat saya. Menyiapkan sarapan, makan siang sampai malam. Saat itu Teteh sendiri mencoba legowo karena belum dapat jadwal tes wawancara LPDP. Padahal temen-temennya sudah berkabar mereka sudah ada jadwal bahkan sudah wawancara.  Ya, mungkin kali ini  belum rezekinya, dia pun sudah bersiap mencoba lagi bach 2 dan mulai cari-cari info beasiswa yang lain.

Tapi begitulah Allah menguji setawakal apa hambaNya, saat dia sudah berlapang dada tiba-tiba ada pemberitahuan kalau jadwal wawancara LPDP di akhir Mei. Dan Alhamdulillah kondisi saya juga sudah mulai membaik sehingga Teteh bisa lebih fokus mempersiapkan wawncaranya.

Satu lagi, saat itu rumah tetangga sedang direnovasi jadilah konsisi rumah tidak tenang, kurang kondusif untuk wawancara. Mana tidak boleh pakai earphone saat zoom jadi agak dag dig dug. 

Di hari wawancara dari jam 09.00, dia sudah stand by, sudah berlatih menjawab pertanyaan-pertanyaan. Karena suara yang berisik, akhirnya Teteh ke rumah tetangga. Minta baik-baik ke tukang untuk pause dulu pekerjaannya 1 jam ( selama wawancara ). Alhamdulillah pak tukang setuju ( haturnuhun pa...).

Dari kamar saya mendengarkanTeteh menjawab pertanyaan yang diajukan 3 panelis. Overall lancar dan cukup memuaskan. Alhamdulillah, pengalaman 3 tahun jadi asisten dan kegiatannya selama di kampus cukup  bisa menggambarkan bagaimana rencana studi yang dia tulis di essai. Dia juga menceritakan aktifitasnya aktif di organisasi sampai pengalaman pernah ikut lomba. 

Jadi bagi kalian yang mau coba ikut beasiswa, selain IPK tinggi,   coba untuk aktif berorganisasi, UKM atau komunitas,  rajin kalaupun tidak ya pernah ikut lomba kalau bisa  yang berkelompok ( team ) yang menggambarkan kalian bisa kerja sama dengan orang lain dan berperanlah di masyarakat. Bisa dengan jadi relawan di komunitas atau yayasan yang nyambung dengan minat bakat kalian.

Menunggu memang suka bikin gelisah ya gaess. Nah, karena itu Teteh mulai lagi cari-cari info lagi beasiwa yang buka bulan Juni. Ketemulah dia info beasiswa ke Canada, dan dia pun mulai serius menyiapkan berkas pendaftaran. Dia juga membuat portofolio untuk mencoba kerja freelance dengan mengumpulkan hasil gambar dan beberapa desain yang pernah dibuatnya. Teteh memang suka mendesain baik itu flayer,  infografis bahkan PPT ( dan ini dibayar oleh temannya - dan ini yang membuatnya PD untuk jadi freelance di bidang desain ).

Jadi Awardee LPDP dan Persiapan Keberangkatan ( PK )

Tanggal 19 Juni 2025, bisa disebut tanggal penting karena siangnya si bungsu dapat kabar keterima di pesantren, dan malamnya hampir setengah 1 dini  hari Teteh nangis dan bilang dia lulus LPDP. Agak loading awalnya baru peluk dia dan bilang Alhamdulillah, barakallah berarti jadi dong ke Swedia.

Sebelum pengumuman LPDP tepatnya setelah dapat info gagal beasiswa dari pemerintah Swedia, Teteh sudah mengajukan penangguhan pembiayaan kuliah ke pihak universitas. Dan begitu lulus LPDP dia pun mempelajari alur cairnya beasiswa sampai keberangkatan. 20 Juni kirim email untuk konfirmasi ke LPDP dan ke Lund. Dari pihak kampus dapat tanggapan akan dibalas pada hari  Senin karena waktu itu akhir pekan (Sabtu) dan di sana sedang hari libur perayaan  nasional .Sedang dari pihak LPDP dapat info disuruh nunggu sampai  tanggal 30 Juni.

Hari Senin 23 Juni dapat balasan dari Lund kalau dia masih bisa ikut perkuliahan.  Tapi harus ada berkas yang disiapkan , yaitu   LOG letter of Garanty ( yang bertanggung jawab terhadap pembiayaan dia di Swedia ). LOG ( dikeluarkan oleh LPDP ) ini akan diteruskan oleh pihak Lund University ke bagian imigrasi agar Teteh dapat ijin tinggal di Swedia.

23 Juni dapat balasan dari LPDP dan dia mulai nengurus masa Persiapan Keberangkatan dan perjanjian bagi awardee ( penerima beasiswa ) - memenuhi ketentuan dari LPDP. 25 Juni surat PK beres, tapi LOG belum turun karena kepotong cuti bersama 27-30 juni ( Tahun Baru Islam ). Alhamdulillah 30 Juni ada zoom dengan pihak LPDP dan LOG turun. Selanjutnya dia harus cari tempat tinggal karena dulu ketika penangguhan pembayaran dia gak ikut ngewar asrama Lund University. 

Allahumma yassir walaa tiassyir  hanya minta  ke Allah agar dimudahkan saja semua urusan Teteh aamiin.

Jadi buat kalian yang punya sudah punya LoA tapi masih terkendala pembiayaan kuliah ( UKT ) mending cari tempat tinggal saja dulu yaa... 

Cukup susah untuk dapat tempat tinggal di Lund. Bulan Juli Agustus memang sedang waktu liburan, sehingga kebanyakan warga kota Lund tidak ada di tempat. Karena sedang liburan ya mereka slow respon kalo ada email yang menanyakan tentang penyewaan tempat tinggal.

Alhamdulillah dari PPi Swedia ada yang memeberi info dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang umum diajukan mahasiswa baru. Sampai akhirnya Teteh diarahkan untuk cari tempat tinggal di luar Lund, yaitu Malmo.

Selanjutnya Teteh buka rekening yang sesuai dengan LPDP,  dan bikin janji dengan kedutaan Swedia di Jakarta untuk mengurus ijin tinggal ( bukan visa karena dia akan di Swedia selama 2 tahun- sementara visa hanya ijin masuk dan tinggal selama 30 hari ). Sambil ngumpul-ngumpulin  koper, baju, makanan termasuk barang-barang yang akan dibawa ke Swedia. Dia juga harus ikutan PK dan beberapa kali ketemuan sama kakak-kakak PPI Swedia secara offline di Bandung. Sambil terus menyiapkan mental untuk berangkat ke luar negeri.


Keberangkatan 
Tanggal keberangkatan sudah ditentukan yaitu 18 Agustus. Mungkin karena capek dan banyak pikiran, dia agak ngedrop dan pilek agak lama. Dia juga menyelesaikan tugas di Komunitas Dikara semaksimal dia ada di Bandung, jadi dia pergi itu enggak ninggalin pekerjaan buat relawan lainnya di komunitas itu.
Perjalanan hampir 18 jam, dari Jakarta Doha sekitar 9 jam, transit 1-2  jam lalu terbang lagi ke Copenhagen selama hampir 8 jam. Dilanjut nyebrang ke Swedia pakai kereta 35 menit. MasyaaAllah kebayang jetlag nya. Makanya dia memilih lke kost an di Malmo karena enggak kuat kalau langsung ke kampus.

Alhamdulillah, gak kerasa udah hampir 1 bulan Teteh di sana, udah kuliah juga hampir 2 pekan, udah jalan-jalan ke Lund bahkan sempat keliling Copenhagen. 

Ayah ibu hanya bisa bantu doa, menitipkan anak ke pemilik sejati, Allah ta'ala. Semoga selalu dalam penjagaan Allah aamiin allahumma aamiin..

Alhamdulillah selesai juga ya temen-temen semoga gak bosen dan bermanfaat...
barakallahu fik









Kamis, 04 September 2025

Cerita 2025 - Persiapan Anak Mondok sampai Kuliah ke Luar Negeri ( Bag 1 )

Bismillahirrahmanirrahim 
gak kerasa tahun 2025 sudah berlalu 9 bulan, dan baru ada pingin nulis lagi di blog. Ngisi blog yang suwung...hehehe ( pemalasan emang...)

Sesuai dengan judul, kali ini mau menulis tentang pengalaman selama tahun 2025 membersamai 3 anak melanjutkan pendidikannya. Ya, tahun ini tahun panen dalam artian ada 2 anak -tepatnya- yang lanjut pendidikan ke jenjang selanjutnya. Karena yang satu lagi sudah lulus tahun 2024.

Si Bungsu lulus SD
Gak kerasa 6 tahun berlalu dan akhirnya bocil kesayangan lulus SD. Awal masuk pas saya dan suami lagi safar haji, jadilah dia sering bolos. Ada aja alasannya, dari mulai ogah pakai baju olah raga, sampai bete dari sejak bangun tidur. Kakak-kakaknya yang sibuk dengan sekolah masing-masing juga enggan maksa. Apalagi kalau anaknya sudah mewek, ya sudahlah... ditinggal saja di rumah sama yang jaga.

Kelas 1 Semester dua covid mulai melanda, dan akhirnya PJJ sampai kelas 2 nya. Kelas 2 sampai kelas 3 PJJ dan rolling masuk disesuaikan dengan jadwal. Kelas 4 -6 bisa sekolah lagi secara normal, alhamdulilah.

Sejak si bungsu masuk sekolah, emaknya terpaksa jadi macan ternak, alias ojeg langganan. Padahal dulunya emaknya lebih suka duduk manis dibonceng pak su, atau naik ojol ataupun ongpal. Jadi hikmah terbesar si bungus masuk SD adalah emaknya berani momotoran kemana-mana sendir, alhamdulillah.

Karena pas ada kebijakan pelarangan perpisahan dari gubernur Jabar yang baru, jadilah konsepnya expo dan pentas seni. Yang memang sesuai judul juga ditampilkan kreatifitas anak,  ada juga pameran hasil karya anak dan bazar dari adik tingkatnya. Yang jelas free ya alias gratis.


Oh iya, karena si bungsu juga sekolah madrasah setiap pulang sekolah, tahun ini pun dia lulus DTA Al Barokah. Jadi dia lulus punya dua ijazah, sekolah dan madrasah.


Pilih Masuk Pondok
Sejak awal bocil satu ini memang tidak minat melanjutkan ke SMP baik negeri maupun swasta. Dia hanya pingin masuk pondok. Sebagai orang tua kita juga melihat minat si anak memang seperti itu. Ditambah kesiapan dan kemandirian anak juga oke, fiks kita mulai mencari-cari pondok pesantren yang tepat untuk anak.

Kenapa gak bareng sepondok dengan kakaknya?  Banyak yang bertanya kayak gini, mengingat 3 anak yang lain juga mondok. Dan beda-beda lho pondok pesantrennya. Kami selalu menjawab, disesuaian dengan minat dan bakat anak. Makanya ada yang mondok di pondok tahfidz, di pondok modern Muhammadiyah, di pondok KMI. 

Demikian juga dengan si bungsu yang akhirnya jatuh ke pondok salaf satu ini.

Kabar baiknya si bocil betah di pondok, kemarin pas ada jadwal penjengukan, si anak terlihat ceria dan adaptasinya bagus, alhamdulilah.


Dua anak kuliah 
Nah, lanjut ke anak yang akan lanjut kuliah. Yaitu si sulung dan si nomer 4 yang biasa dipanggil Teteh dan Mbak.  
Perjalanan Mencari Kampus Terbaik
Ngomongin kampus terbaik bukan dilihat dari rangking kampus atau predikatnya ya, tapi terbaik bagi si anak dari Allah. Karena yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah kan, pun sebaliknya.

Mbak ini bisa dibilang berprestasi di pondok dan MA nya. Selama 3 tahun bisa menghapal 5 juz, jadi ketua osis di pondok pesantren, biasa tampil pidato pake bahasa Inggris, mengajar dan membimbing santri juniornya. Di MA pun dia rangking 1 untuk program IPS dan masuk eligibel yang bisa ikutan SNBP. 

Saat SNBP dia mili Unpad jurusan HI dan Ekonomi syariah. Qadarullah ternyata dia gagal. Anaknya cukup kecewa karena nilai dia memang bagus, tapi takdir berkata lain. Gak mau berlama-lama kecewa dia mulai menyiapkan diri untuk UTBK.  

Mendaftar UTBK di pondok karena masih ada beberapa ujian yang harus dijalani. Dan pulang beberapa minggu sebelum UTBK. Sama kita ditawarin ikut bimbel online UTBK, anaknya akhirnya cari info dan ikutlah bimbel pembahasan soal UTBK. Dan sebelum UTBK, dia belajar mandiri dengan latihan soa yang didapat di internet.

Mbak kembali pilin Unpad jurusan yang sama dengan saat UNBP. Mungkin masih penasaran dengan Hubungan Internasional. Ya sudahlah walau kita sudah coba kasih masukan, tapi tetap anak 'keukeuh' dengan keinginannya. Kita sebagai orang tua ya mendukung saja dengan doa semoga mendapatkan hasil sesuai keinginan.

Qadarullah, UTBK pun gagal. Pas lihat nilainya ternyata bahasa Inggris justru dapat nilai paling kecil dan itu yang bikin nilai UTBK nya kecil. Justru pelajaran matematika nya paling tinggi. Jadi sepertinya dia memang salah ambil jurusan hehehe.

Berlanjut ya di part 2













Selasa, 05 Maret 2024

Saat Demam Perhatikan Ini untuk Cegah Dehidrasi

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bagaimana kabarnya teman-teman, kali ini aku datang dengan cerita pengalaman anak yang sakit dan hampir mengalami dehirasi. Kok bisa? simak saja ya ceritaku kali ini...

Bermula dari anakku yang paling kecil renang. Sebelumnya beberapa hari dia pulang sekolah dalam kondisi kehujanan. Cuaca memang sedang sering turun hujan, dan karena dia diantar jemput pakai motor oleh emaknya alias aku ya meski udah pakai jas hujan tetaplah basah dan kedinginan. 

Pun saat pulang dari kegiatan renang. Begitu sampai sekolah si anak, gerimis mengundang hujan. Awalnya si bocah keukeuh enggak mau pake jas hujan dengan alasan, cuma gerimis, enggak enak pake jas hujan. Namun tetep dibujuk untuk pakai jas hujan dengan pertimbangan jika di jalan gerimis jadi hujan kan kita sudah 'ready'.

Dan benar saja baru seperempat perjalanan hujan mulai deras hingga akhirnya hujan seperti dicurahkan dari langit. Karena sudah pakai jas hujan kita putusin terus jalan dengan harapan enggak kejebak banjir yang biasa datang setelah huja  deras. Qadarullah hujan mulai reda ketika sudah masuk daerah deket komplek. Otomatis kita berdua walau pakai jas hujan tetap kedinginan dan basah di sana-sini.

Malamnya si bocah mash ceria, makan malam dengan lahap dan tidur cepat. Sepertinya dia kecapean. Namun paginya ketika akan dibangunkan sholat subuh, badannya deman. Dia juga mengaku kedinginan dan pusing sekali. 

Dan demam ini berulang dan baru turun sekitar tiga hari kemudian. Lega dong pastinya dan berharap si anak tidak kenapa-napa, hanya masuk angin. Qadarullah jelang pergantian hari pas diperiksa saat anak tidur, demam lagi. Alhamdulillah dia mau bangun untuk makan dan minum  obat. Pas bangun dia mengeluh betisnya kaku dan sulit untuk digerakkan, ya Allah... kenapa lagi ini?

Paginya, kami sepakat bawa anak periksa. Tetangga di komplek ada yang kena DB, typus dan marak juga di beberap sekolah anak -anak yang kena gondongan. Begitu diperiksa dokter menyarankan cek darah walau dia udah mendiagnosa. "Kalau ada hasil lab darah adenya diagnosa saya juga lebih  jelas."

Nah, begitu tes darah drama baru dimulai. Selain pembuluh darahnya yang timbul tenggelam dan susah dicari, ternyata darah juga enggak mau naik padahal sudah disuntik. Diduga karena dehidrasi jadi lemah. Duh, makin deg-degan lihat wajah si bungsu yang pucat. Bahkan pas disuruh genggam jemari aja biar dia enggak sanggup.

"Adeknya pernah diinfus Bu?"

"Pernah pas dia BP, usianya sekitar 18 bulan. Sama susah juga cari pembuluh darahnya, sampai lengan  kanan kiri kena jarum untuk nemu pembuluh yang tepat."

Aku juga cerita  dua tahun lalu juga anak ini pernah periksa darah karena demam tinggi. Dan sama susah juga nemu pembuluh darahnya. "Istirahat dulu ya Bu. Adenya  minum dulu ya... ini dehidrasi Bu."

"Iya kalau enggak diingetin atau disuruh ya enggak minum."

Saya dan suami bergantian bujuk anak untuk minum.  Memang perlu sedikit ditegasin dan diingatkan kalau kondisi dia sekarang itu bahaya, dehidrasi.

Setelah hampir dua jam istirahat dan bolak balik minum air putih, Alhamdulillah akhirnya bisa juga ambil sampel darah untuk diperiksa. Hasilnya si anak gejala typus sama seperti dugaan dokter. 

Yang jadi catatan saat anak atau kita demam asupan cairan harus dipastikan ada. Selain menghidrasi tubuh, menyeimbangkan suhu tubuh, menurunkan demam, juga menghindari dari hal hal yang berbayaha karena dan  kekurangan cairan. Seperti tekanan darah yang turun dan ini  sangat berbahaya, jantung yang berdetak cepat dan kondisi badan yang lemah lemas tak bertenaga.

Cairan juga bisa didapat dari sayur dan buah-buahan.  Selain jadi sumber vitaman sayur dan buah juga bisa dijadikan alternatif menambah cairan saat anak atau penderita demam enggan minum air putih.

Alhamdulillah, hari ini kondisi anak sudah makin membaik. Syafakallah Abang... yuk sembuh yuk. Bentar lagi puasa lho. Abang udah berlatih kan di bulan Sya'ban ini...?

Semangat pulih Abang...***

Sumber artikel : health.kompas.com





Rabu, 08 Desember 2021

Ibrah Dakwah Nabi Ilyas as., pada Kaum Funicia

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....

Alhamdulillah wa syukurillah,  akhirnya kelas kisah nabi sampai juga ke Nabi Ilyas alaihissalam. Setelah dibawa ke dunia fantasi tapi nyata di kisah Nabi Sulaiman as., sekarang kita kembali kepada nabi dari Bani Israil yang silsilahnya akan bertemu pada Nabi Harun as.

Nabi Ilyas secara nasab ada beberapa pendapat tapi semuanya bertemu pada Nabi Harun bin Imran. Pendapat pertama Ilyas bin Yasin bin Fanhash bin Aizar bin Harun. Pendapat kedua adalah Ilyas bin Azir bin Aizar bin Harun bin Imran. 

Berdasar QS. As Shaffat : 123-132, Nabi Ilyas as., diutus pada kaum Funicia (  Ba'labak ) yang berada di sebelah barat Damaskus. Kaum ini menyembah patung Ba'al. Nah, ada beberapa pendapat juga nih tentang Ba'al ini. Ada yang menyebutnya sebagai sebagai patung wanita, tapi pendapat lain Ba'al itu awalnya adalah orang shalih yang doanya selalu dikabulkan oleh Allah Swt. karena menjaga apa-apa yang dimakan, dan dikenakannya halal, baik secara fisik maupun cara mendapatkannya. 

Sepintas mirip-mirip kisah Bal'am ya... wallahu a'lam bishowab. Lanjut saja ya men temen. Kita ambil dari pendapat kedua ini ya, yang menyatakan Ba'al dulunya adalah orang yang sangat shalih. Nah, setelah Ba'al ini meninggal, orang yang mengaguminya merasa kehilangan lalu mulai membuat benda-benda yang awalnya sebagai obat rindu. Lama-lama oleh generasi selanjutnya malah disembah, dipuja, dipinta layaknya  tuhan.

Nah, ibrah dari kisah Ba'al ini, sekagum apapun, sesuka apapun, secinta apapun kita pada idola jangan sampai membuat lukisan atau patung untuk mengenangnya. Kalau mau cukup kenang dengan doa dan ikuti perilaku shalihnya oke...


Dakwah lama tak mendapat pengikut
Nah, ternyata bukan hanya Nabi Nuh as., yang lama berdakwah dengan hasil sedikit. Begitupula dengan Nabi Ilyas. Terlebih di masa Baklabah 1. Di masa penguasa ini, gerak dakwah Nabi Ilyas betul-betul sulit. Ancaman demi ancaman diberikan hingga orang-orang yang simpatik terhadap dakwah Nabi ilyas pun tidak berani muncul. Bahkan keselamatan Nabi Ilyas dipertaruhkan.

Raja Baklabah 1 tak segan-segan menyuruh pasukannya untuk mengepung rumah Ilyas as. Setelah dikepung rencananya akan dibakar hingga bangunan dan penghuninya hancur. Rencana ini diketahui oleh Allah Swt., dan Jilbab menyelamatkan Ilyas as. dengan cara mengeluarkan beliau ketika hari masih sore.

Dalam perjalanan bertemu dengan sepasang suami istri yang memiliki seorang anak ( berusia sekitar 7-9 tahun ) yang sedang sakit. Nabi Ilyas menawarkan mendoakan kesembuhan si anak. Atas ijin Allah Swt.,  anak itu sembuh dan diminta oleh Nabi Ilyas untuk diangkat jadi muridnya dan berganti nama menjadi Ilyasa.

Menyiapkan Generasi Penerus ( Ilyasa )
Dalam kisah Nabi Ilyas as., tidak ditemukan dasar hadist riwayat tentang penikahan atau rumah tangga beliau. Tapi ada tokoh Ilyasa yang kelak menjadi nabi dan rasul juga yang merupakan kadernya, atau penerus misi hidupnya sebagai nabi dan rasulnya Allah Swt.

Nabi Ilyas kembali ke negeri Baklabah dan bersembunyi di Gunung Kasium. Di Gunung ini, Nabi Ilyas dan Ilyasa ( waktu itu belum jadi nabi ) tinggal di sebuah gua selama 10 tahun. Nabi Ilyas mendidik Ilyasa seluruh ajaran kenabiannya baik secara teori maupun praktek.

Ada satu rahasia dari angka 10. Jadi untuk menjadi ahli, maka belajarlah selama 10 tahun, dan itu sudah dibuktikan oleh para nabi. Masih ingat kan Nabi Musa membayar mahar dengan mengembalakan kambing Nabi Syuaib selama 10 tahun ( awalnya 8 tahun lalu disempurnakan menjadi 10 tahun). Ingat juga kisah Daud as., yang belajar ketapel sejak usia 6 tahun, dan melawan Jalut saat usianya 16 tahun. Dan kini Nabi Ilyas mendidik Ilyasa pun selama 10 tahun.

Dakwah menghasilkan 10 ribu pengikut
Setelah 10 tahun, Nabi Ilyasa turun gunung dan kembali melakukan dakwah dibantu oleh sang murid. Negeri Funicia sudah berganti raja yaitu Baklabah II, yang tidak tahu atau tidak mengenal siapa itu Nabi Ilyas. Inilah yang membuata dakwah Nabi Ilyas diterima tanpa banyak hambatan hingga ummat mencapai angka 10 ribu orang.

Oleh orang-orang pengikut setia ayahnya ( Baklabah 1 ), Raja Baklabah II diprovokasi untuk kembali menangkap Nabi Ilyas. Pengikutnya juga ditakut-takuti, diancam agar kembali murtad. Tapi masyaa Allah, para muallaf ini tidak ada satupun yang murtad walau harus menghadapi ancaman pancung dari prajurit raja.

Melihat kondisi ini, ada kebanggaan dan kebahagiaan pada Nabi Ilyas. Bangga dan bahagia karena kekuatan iman kaumnya. Tapi dilain sisi beliau juga memikirkan keberlangsungan dakwah ini, hingga memutuskan untuk menyerahkan diri. Sedangkan Ilyasa tetap di gua di gunung Kasium.

Nabi Ilyas diselamatkan oleh Jilbril sebelum dipancung dan dibawa ke langit. Tidak ada riwayat yang menjelaskan langit ke berapa. Tapi tidak membenarkan juga kalau sekarang Nabi Ilyas masih hidup. Nabi Ilyas sudah diangkat oleh Allah ke langit, itu saja.

Ibrah yang bisa dipetik, seorang guru yang hebat adalah guru yang menyiapkan penggantinya.Agar ilmunya tetap bisa diajarkan dan menjadi bermanfaat untuk ummat. Seorang Dai yang hebat jangan hanya bisa orasi, tapi catatlah dalam sebuah buku atau kitab yang bisa dibaca ummat yang bahkan tidak akan bertemu dengannya.

Siapkan lah penerus dakwah yang terbaik yang bisa berorasi juga bisa menulis sebuah kitab atau buku. Wallahu a'lam bishowab.

Sumber :
Kishashul Anbiya Ibnu Katsir
Kelas Kisah Nabi by Muslim United ( Ust. Pago Herdian )

Minggu, 13 Desember 2020

Inspirasi Hari Ibu

Beberapa waktu lalu, setelah melihat sebuah iklan di televisi, dua bocah kecilku mulai membuat rencana. "Bang, ayo kita bikin kue atau pudding untuk hadiah pas Hari Ibu." usul si nomer 5.

"Ah, ya... seru kayaknya. Ayo." sambut saudaranya gembira. Lalu keduanya sibuk mereka-reka rencana yang tentu saja saat terdengar justru geli yang terasa.

"Ibu, apa kalau hari ibu kita harus kasih hadiah?" Bungsuku tampak penasaran.

"Tidak, sama seperti ulang tahun, kita juga tak diharuskan memberi hadiah atau kado."

"Trus kalo ada Hari Ibu, apa ada Hari Ayah, Hari Anak?" Kakak si bungsu ikutan berdiskusi.

Saya mengangguk. "Ada, hari ayah kalo tidak salah 12 November dan hari anak 23 Juli. Semua ada sejarahnya. Ada asal usulnya."

"Lalu apa sejarah Hari Ibu?" 

Saya terangkan sekilas tentang sejarah hari ibu dengan bekal setipis ingatan pelajaran sejarah. Intinya tentang pendidikan bagi kaum ibu. Terlepas dari kontek peringatannya di zaman now yang berubah menjadi hari mengenang kasih ibu. Ahh... rasanya sebagai seorang ibu saya juga senang kalau dalam satu tahun ada istilah cuti sesaat dari aktifitas domestik. Walau pada kenyataannya itu nonsens.

Berkaitan dengan pendidikan bagi kaum ibu, saya tercenung dengan pendapat seorang pujangga asal Kairo Mesir :

Sebagai sosok pertama yang akan ditanya  pertama kali oleh anaknya  dalam konteks apapun, seorang ibu memang dituntut memiliki keluasan wawasan dan ilmu. Di zaman ini di mana internet sudah masuk ke dalam rumah-rumah mestinya bisa menjadi jalan belajar lebih mudah bagi kaum ibu. Terlebih di musim BDR seperti ini, dimana peran guru diserahkan di pundak-pundak pada ibu. 

Saya yakin sekali, pendidikan itu tidak mesti di dapat di bangku sekolah atau kuliah. Seringnya pendidikan yang tinggi dengan gelar berderet-deret tidak menjamin seorang bisa menjadi pengajar apalagi pendidik. Yang marak sih, pendidikan tinggi malah melahirkan tuntutan untuk bekerja sebagai bukti ijazah yang sudah didapat.  Malah jadi pertanyaan saat anaknya lulus S1 atay S2 kerjanya ngurus anak saja, katanya sayang kuliah mahal...

Pendidikan bisa didapat dari taklim, belajar langsung dari ibu- bagaimana melaksanakan peran istri dan ibu- melalui sharing bahkan obrolan ringan antara ibu dengan anak. Seorang teman safar saya pernah mengungkapkan pendapatnya tentang suksesnya seorang ibu mendidik anak perempuannya adalah saat si anak menyadari dan melaksanakan tugasnya sebagai istri dan ibu yang baik. 

Saat mendengarnya saya terkekeh pelan, mengingat tahun-tahun pertama dalam rumah tangga. Seandainya tidak ingat menikah adalah ibadah, pastinya ego yang akan dimunculkan. Jika tidak ingat bahwa berumah tangga adalah atas nama Allah pasti akan main-main atau minimalnya tidak akan serius. Jika tidak mengingat ada pahala ada syurga, tidak pernah bersungguh-sungguh dalam memperbaiki diri.

Pendidikan seorang menjadi ibu bukan sekedar pada pekerjaan domestik seorang wanita saja. Mencuci bisa saja diserahkan ke loundry atau mesin cuci. Memasak bisa juga diganti oleh makanan warteg, warung padang dan warung-warung lainnya. Tapi lebih ke arah visi misi hidup itu sendiri. Bukankah berumah tangga adalah cara untuk membuat sebuah generasi yang berarti menjaga keberlangsungan kehidupan itu sendiri?

Mendidik seorang ibu dimulai dari mengenal diri di hadapan Sang Khaliq dan tugas-tugasnya berkaitan dengan makhluk. Agar ketika dituntut hormat pada suami, dia merasa Allah-lah yang menyuruhnya. Pun saat dia diminta taat, itu oun dalam rangka taat pada Allah. Sehingga saat mendidik anak pun yang pertama dikenalkan adalah Allah sebagai pemilik dan penguasa hidup. Sehingga saat merasa lelah menjalani proses mendidik anak yang panjangnya melebihi ular naga ( hahaha ya iya kalii ) akan bisa kembali meminta pertolongan dan bersandar pada-Nya.

Ahh... anggaplah saya terlalu serius, atau mungkin tidak suka something sweets seperti menunjukkan kasih sayang. Atau tipe kaku dan konservatif yang bau tanah. Karena  menjelang hari ibu saya terlalu serius memikirkan apa saya sudah menyiapkan anak -anak gadis saya menjadi ibu dari generasi yang bisa jadi lebih milenial dari yang sekarang. Ah... kalau terlalu berat senyumin saja, tidak perlu panggil Dylan untuk ikut menanggungnya 😅😅😅.




Senin, 07 Desember 2020

Gadget dan Generasi Milenial


Ahad kemarin, 6 Desember 2020 webinar parenting yanh direncanakan kawan-kawan di Rumah Muslimah Juara Alhamdulillah sukses terlaksana. Hujan dari semalam seolah menjadi uji keberanian dan juga ketawakalan kepada panitia dan petugas yang tetap offline. Artinya tetap datang ke tempat diadakan syuting untuk kegiatan webinar. 

Mendekati waktu acara, dag dig dug pastinya. MC belum juga datang. Mungkin masih terjebak hujan yang masih setia turun dari subuh. Begitupun dengan tim IT yang harus bermotor ke on the spot. Baiklah, keep possitive thinking. Misuh-misuh gak ada manfaat, bikin senewen sih iya. Saatnya meyakini ini qudrat iradat Allah yang harus diterima dengan lapang dada.

Lanjut ya..

Di menit- menit terakhir petugas semua datang, Alhamdulillah. Tenang walau persiapan masih belum 90%. Gak papa..., MC diminta cuap -cuap dulu setelah tarik nafas hehehe. Dan Bismillah, jam sembilan lebuh acara dimulai. Dan semua dilancarkan walau jauh dari kata perfect. Aih... siapalah kita yang hanya makhluk lemah. Sempurna itu milik Allah lah...

Saya memang berniat tidak berpanjang lebar memberi sambutan di acara tersebut. Hanya mengingatkan bahwa kunci penting dari mendidik generasi milenial yang sejak dalam kandungan saja sudah kenalan deng an gadget, kecil-kecil sudah lincah memainkan hape dibanding orang tuanya, adalah kemauan dari orang tua untuk senantiasa memperbaiki diri. Seperti yang dikatakan oleh Imam Al Ghazali .


Menjadi orang tua itu belajarnya sama panjangnya dengan usia si anak. Iman dan ilmu jelas bekal terbaik. Maka carilah ilmu yang bisa digunakan untuk memperbaiki diri, bukan untuk merasa diri lebih baik dari orang lain ( ana khairu minkum ). Yakinkan bahwa Allah sudah menyiapkan kita menjadi oran tua dengan juklaknya yaitu Al Qur'anul Karim.  Maka jangan pernah ragu mencari jawaban dari setiap permasalahan baik dalam mendidik anak maupun hidup dalam Al Qur'an. Karena Al Qur'an itu cocok untuk manusia di segala zaman.


Ditambah mau berupaya terus menerus. Zaman now memang zaman segala serba instan. Tapi dalam urusan ibadah jangan berpikir asal jadi. Karena Allah tidak melihat hasil tapi proses dari yang kita lakukan. Jika anak diingatkan susah nempelnya, anggaplah sedang dikasih ladang amal yang luasnya gak ketulungan. Sedih, kesal manusiawi kok. Agar tidak jadi kecewa bahkan sampai putus asa, maka iringi langkah dan upaya diri dengan doa. Bukankah Ibrahim as., berdoa ketika memohon agar keturunannya menegakkan shalat? Bukankah Zakaria as., berdoa agar diberi keturunan yang baik yang shalih? 


Berdoa juga menghindarkan kita dari ujub dan sombong. Ingat keberhasilan mendidik anak bukan lahir dari tangan sendiri. Tapi ada peran dari lingkungan, pendidik, teman dan juga keluarga.


Nah, bagi yang belum ikutan acaranya bisa lihat di youtube Yayasan Juara Insan Mandiri. Stay tune yaa. Semoga bermanfaat .***



Rabu, 27 November 2019

Menuliskan Secuil Syurga Di Rumah

Assalamu'alaikum...

Mau menceritakan buku solo saya yang terbit bulan Desember 2018 kemarin. Wah, telat banget deh si Mak ini wakakakak. Dah hampir setahun tuh. Emang selama ini lebih banyak dikenalin di FB maupun IG. Tapi ya daripada daripada tidak sama sekali yuk walaupun telat dikepoin saja ya😂.

Jujur nih nulis buku tentang birrul walidain ini adalah sebentuk pengingat untuk diri saya sendiri pada khususnya, dan untuk para pembaca cilik saya juga pada umumnya. Memang buku ini untuk anak-anak. Bergenre islami. Dengan ilustrasi ciamik dari seorang mojang Bandung yang bernama Dinar. Buku ini berjodoh dengan penerbit Elex Media

Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya. (HR. Ahmad 28276, Turmudzi 2022, Ibn Majah 3794, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Read more https://konsultasisyariah.com/24268-orang-tua-pintu-surga-paling-tengah.html
Dari Abu Darda ra., Rasulullah berpesan:
"Orang tua adalah pintu syurga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya." HR. Ahmad, Thurmudzi

 Dalam menjelaskan hadist ini, ulama berpendapat bahwa banyak jalan untuk masuk syurga. Tapi jalan yang paling nyaman adalah jalan tengah yaitu melalui keridhaan orang tua. Dengan apa? denganmemberikan hak-hak orang tua.

Nah, berbicara mengenai hak orang tua, maka perlakukan diri sebagai anak. Artinya, kewajiban seorang anak terhadap orang tua. Jujur saya jadi ingat beberapa hari yang lalu si pengais bungsu dapat peer dari sekolahnya tentang hak anak dan kewajibannya pada orang tua. Qadarullah juga tema hak dan kewajiban ini nyambung juga dengan taklim ahad pagi di rumah.

Seperti biasa saya minta si anak mikir dulu. Dan jawaban pertama yang keluar adalah mentaati perintah orang tua. Yes, betul tapi perlu ditambah dalam urusan yang makruf dan tidak mendurhakai Allah. Artinya, kalau perintah orang tua tersebut bisa membuat Allah tidak suka apalagi sampai murka yaaa... tidak perlu diikuti. Misal, perintah untuk berbohong, mencuri atau membuka aurat.

"Lalu hak anak apa?" Si bocah sudah tidak sabar untuk mengetahui apa yang akan didapatnya jika sudah mentaati orang tua.
"Pastinya, disayang dan dididik agar mengenal Rabbnya oleh orang tua."
Di sini saya juga menerangakan bahwa disayang itu bukan berarti semua yang diminta anak dikasih. Karena orang tua itu bukan doraemon yang setiap kali Nobita merengek langsung ngeluarin alat dari  kantong ajaibnya. Disayang bisa juga dengan diingatkan bahkan ditegur.

"Trus apa lagi?"
"Menurut Mas apa?"
"Mendoakan orang tua?"
"Bisa.., emang mas rajin mendoakan ayah ibu?"
"Kadang-kadang sih..." ujar si bocah jujur.
"Kalau ayah ibu Insya Allah selalu mendoakan mas, dan anak-anak ayah ibu.Bahkan saat memilih nama buat kalian pun, itu adalah doa."

Umar bin Khattab ra., pernah menjelaskan bahwa hak anak dari orang tuanya ada 3 , yang pertama dipilihkan ibu yang baik ( shalihat ), mendapat pendidikan tentang al quran dan diberi nama yang baik.

Dan sebenarnya masih banyak juga kewajiban anak kepada orang tua, termasuk membantu, meringankan bebannya, merawatnya saat orang tua sudah lemah. Untuk yang terakhir ini memang perlu kesabaran tingkat tinggi, karena seperti  sudah diketahui bahwa semakin sepuh orang akan bertingkah seperti anakanak. Bisa disebut disitulah ujiannya.

Nah, buku cantik ini menceritakan kisah-kisah birrul walidain yang mewakili setiap zaman. artinya bukan hanya jaman old saja lho, tapi masih ada kok kisah- kisah birrul walidain di zaman kekinian yang sangat menyentuh hati, membuat haru. Menarik kan..? Membacakan kisah-kisah di buku ini, saya aja sering mewek, terharu. Bisa sekalian membangun bonding dengan anak kalau dibacakan oleh ibu atau ayah kepada buah hatinya.

Nah, semoga bermanfaat yaa...
Wallohu a'lam bisshowab

wa'alaikum salam...

Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya. (HR. Ahmad 28276, Turmudzi 2022, Ibn Majah 3794, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Read more https://konsultasisyariah.com/24268-orang-tua-pintu-surga-paling-tengah.html
Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya. (HR. Ahmad 28276, Turmudzi 2022, Ibn Majah 3794, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Read more https://konsultasisyariah.com/24268-orang-tua-pintu-surga-paling-tengah.html


Selasa, 12 September 2017

Inilah Pentingnya Menjadi Ibu Bahagia

Siapa sih yang tidak ingin bahagia dalam hidup ini?


Kebahagiaan adalah hal yang semua orang inginkan. Banyak cara dilakukan dari mulai kerja siang malam, berpayah-payah, berjuang hingha berpeluh-peluh untuk mendapatkan si ' bahagia' ini. Tapi tak jarang yang dicari seolah ngumpet entah dimana. Semakin dicari semakin rapat dia sembunyi.. alih-alih ingin bahagia malah lelah yang didapat.

Bagi seorang ibu, bahagia sering disandingkan dengan anak-anak dan rumah. Rumah rapi bersih adalah idaman setiap ibu. Anak-anak yang tumbuh dengan baik, sehat, shalih dan shalihah adalah harapan setiap Ibu. Yah kesannya tanpa semua tadi seorang ibu tidak bisa bahagia.

Padahal kebahagiaan itu mestinya tidak disandarkan pada pihak lain. Artinya seseorang harusnya bisa menciptakan bahagia untukdirinya sendiri, baru bisa menularkan kebahagiaan untuk sekitarnya. Ifda' binafsik kalau istilah kerennya, ya mulainlah dari diri sendiri dulu.

Keuntungan dari ibu yang bahagia adalah karena ibu yang merupakan sumber di keluarga akan memancarkan kebahagiaan ke seisi rumah. Ibu yang bahagia akan lebih rileks saat menghadapi berbedaan pendapat dengan suami. Ibu yang bahagia akan lebih santai melihat rumah acak-acakan penuh mainan. Ibu yang bahagia akan lebih bisa berempati ketika buah hati sakit atau menghadapi kesulitan.

Yang paling kece sih dari ibu yang bahagia adalah bahwa dia bisa memberi contoh pada anak-anaknya bagaimana menjalani hidup ini. Ibu bisa mengajari anak bagaimana menciptakan bahagia untuk dirinya sendiri. Dan ibu yang akan bisa menghantarkan putra putrinya pada kebahagiaan hakiki.

Bukan berarti enggak pernah marah, cemberut apalagi nangis. Namanya hidup yang penuh dinamika ada saja yang datang dan perlu direspon sewajarnya. Tapi  minimalnya ibu yang bahagia akan lebih mudah menemukan hak-hal positif hingga lebih cepet move on alias gak lama-lama melow hehehe.

Tentu saja bahagia yang seperti ini ada syarat dan ketentuannya. Aih emang gak ada yg gratisan kok heheheh. Syarat pertama adalah hati yang beriman. Tidak ada kebahagiaan yang dapat dihasilkan dari hati yang kosong.

Menurut Ust. Evie Effendi, jika menginginkan sesuatu datangu pemiliknya. Jika ingin kebahagiaan dalam hidup, maka datangilah pemilik sejati dari kehidupan ini. Yang sufah mengatur dan menetapkan setiap garis takdir dari hambaNya. Taknlain tak bukan adalah Allah Swt. Masalahnya tidak akan sampai me k inta pada Allah jika dalam diri tidak ada iman, gak jungkin banget kam? Padahal Allah tidak pernah bosan mengabulkan permohonan hambaNya yang meminta penuh harap. Apalagi di sepertiga malam terakhir.

Syarat kedua adalah hati yang penuh syukur. Yup... orang yang tidak bahagia bukan karena kurangnya karunia yang didapat, tapi lebih karena kurangnya syukur dalam diri. Tipe seperti ini biasanya lebih suka mengorek-ngorek kekurangan dalam diri orang lain, menuntut kesempurnaan baik dari pasangan maupun anak. Padahal mana ada makhkuk sempurna, tul  enggak?

Bersyukur sejatinya menghargai, berlapang dada dan nerima dengan apa yang didapat. Gak butuh pasangan seganteng aktor Korea, toh dirimu juga tidak seunyu-unyu artis sono yang putih mukus bak pualam. Jangan terobsesi menjadikan anakmu yang terhebat, tapi arahkan dia untuj menjadi yang paking taslim, palinh taat laksana Ismail as. Kalaupun tak bisa, sepersepukuhnyaboun tak apa, karrna dirimu pun bukan Siti Hajar nan jadi teladan. 

Berlapang dadalah dari kekurang dewasaan anak-anak, karna dulu pun kita seperti itu. Hargailah apa yang dibawa pulang suamimu, karena itu hasil dia berupaya mendapatkan rezeki halal untuk menghidupimu. Tak perlu membandingkan kekuargamu dengan kekuarga yang lain, karena ujian tiap insan itu berbeda. Maka sibuklah dengan ujian yang engkau bhadapi dengan selaksa sabar. serta keyakinan bahwa engkau mampu karena Allah tak akan dzalim terhadap hambaNya.***

Wallohu'alam bishowab