Selasa, 23 Februari 2021

4 Alasan Adab Dipelajari Dulu Sebelum Ilmu

Ulama mendahulukan mempelajari adab sebelum ilmu. contohnya Ibnu Mubarrak -rahimahumullah yang mengatakan "Aku mempelajari adab selama 30 tahun dan mempelajari ilmu selama 20 tahun." Demikian juga dengan ulama yang lain. Bahkan mereka memilih guru pun melihat dari adabnya dulu. Artinya ilmu yang tinggi bukan jaminan seseorang itu bisa dijadikan pendidik jika akhaknya kurang.

Yang terjadi di zaman sekarang adalah sebaliknya, dimana orang terburu-buru mempelajari ilmu sementara adab ditinggalkan, disepelekan. Akibatnya banyak orang berilmu tinggi tapi minus akhlak. Banyak pendidik yang tingkah lakunya tidak bisa dijadikan teladan. Perilakunya tidak sebanding dengan ilmu yang dimilikinya.  Sungguh disayangkan.

Nah, berikut 4 alasan kenapa dahulukan adab sebelum ilmu :

1. Karena Dicontohkan oleh Rasulullah

Dalam QS. Al Ahzab : 21 
Rasulullah Saw., datang untuk memperbaiki akhlak. Perlu dipahami akhlak itu adalah perilaku yang lahir dari keimanan dan pelaksanaan syariat. Bukan sekedar adat kebisaan semata. Maka yang dimaksup memperbaiki akhlak adalah menyempurnaan perilaku, sifat, adab dengan berdasar wahyu. Jika selama ini ada orang yang sangat gemar berbagi dasarnya adalah kebiasaan maka dengan berdasarkan iman akan menjadi akhlakul karimah dan berpahala.

Masih ingatkan gelar Al Amin yang disematkan masyarakat Mekkah pada Baginda Nabi? Jauh sebelum beliau diangkat menjadi nabi dan rasul, adab dan perilaku baik nan terpercaya sudah. melekat dalam diri beliau. Demikian juga dengan sifat welas asih, peduli dan selalu menjauh dari perbuatan buruk dan dosa.

Semua tak lepas dari pendidikan dan penjagaan dari Allah pada sosok yang akan menjadi rahmat alam semesta. pada sosok yang akan menjadi teladan sepanjang masa, baik dalam perannya di masyarakat, keluarga maupun pribadi beliau.


2. Adab lebih mudah dipelajari dari pada ilmu
Selama ini kita didoktrin bahwa ilmu itu susah didapat. Jadi harus dicari sejak dini. Sementara adab yanh memang lahir dari pembiasaan sering disepelekan karena dianggap mudah atau kurang menantang. 

Seingat saya, dalam hal belajar maka belajarlah dulu hal yang mudah, baru yang susah. Yang dekat baru yang jauh. Bahkan saat saya mengikuti training menulis, tutor saya pun mengingatkan hal ini, tulislah yang mudah dan dekat dengan duniamu. 

Mempelajari adab sejatinya seiring dengan pembiasaan. Yang berarti seiring dengan pengasuhan anak. Bukankah kata Bunda Elly Risman, parenting itu adalah proses pembiasaan dan meninggalkan kenangan. Maka mengajarkan adab jauh lebih awal, seperti adab makan, adab minum, adab dengan saudara dengan orang tua, dengan guru dan sebagainya.

"Padahal akhlak itu sangatlah sederhana, berbuat baik kepada orang lain, menghindari sesuatu yang dapat menyakitinya (baik fisik maupun hati) dan menahan diri ketika disakiti" (Madarijus Salikin II/318-319).


3. Adab itu dibutuhkan dalam kehidupan setiap orang tapi tidak semua ilmu dibutuhkan untuk hidup.

Sebagai makhluk sosial maka dibutuhkan akhlak yang baik agar bisa hidup bersama dalam masyarakat. Kita bukanlah makhluk soliter, yang tidak memperhatikan interaksi dengan orang lain. Bahkan untuk mendidik satu orang anak sana butuh satu kampung. 

Jika seorang manusia cukup pede dengan hidup tanpa adab dengan manusia lainnya, maka jangan salahkan jika dia pun tidak dianggap keberadaannya. Saat butuh pertolongan, tidak ada yang akan mengulurkan bantuan. Dia akan menjadi manuasia yang sifatnya lebih mirip benda mati.

Sementara untuk hidup tidak perlu semua ilmu dikuasai. Bisa jadi seorang petani tidak memerlukan ilmu kalkulus atau ilmu pertambangan. Dia lebih butuh ilmu biologi, ilmu tentang tanah dan ekonomi. Atau bagi seorang polisi dia tidak perlu mendalami ilmu biologi secara mendalam, tapi lebih butuh ilmu komunikasi, krimonologi dan yang berkaitan dengan pekerjaannya.


4. Adab menyelamatkan orang yang berilmu

Ternyata, akhlak adalah pembeda untuk pintar dan benar. Orang yang berilmu tentulah pintar, namun jika tidak melengkapi dirinya dengan akhlak, maka tak ada jaminan kepintaran yang dimilikinya mampu mengantarkan pada kebenaran. Sekalipun orang tersebut mengaku sebagai ulama, namun jika akhlak yang ditampilkan tercela, maka tak ada kebenaran yang bersemayam di setiap wejangan yang disampaikan.

Akhlak juga berfungsi sebagai benteng yang melindungi orang berilmu dari berbagai macam godaan. Sebab, orang berilmu tak akan pernah lepas dari godaan. Salah satu yang paling sering menghantui adalah kesombongan. Orang yang berilmu cenderung mengira dirinya sudah tahu segala, tapi tdk menjamin dirinya mendapat hidayah. Contoh terkenalnya ya Iblis laknatullah. Yang merasa lebih pintar, lebil alim dari Adam as., tapi malah menjadikannya dilaknat. merasa kebenaran hanyalah apa yang keluar dari mulutnya.

Tanpa akhlak, orang berilmu hanya akan menjadi hantu. Yang berarti tak jelas wujud dan manfaatnya. Jika ingin ilmu yang didapat bermanfaat maka cari dengan adabnya amalkan dengan adabnya juga. Karenanya, selalu lengkapi diri kita dengan akhlak, sebab hanya dengan cara itu, ilmu yang kita miliki dapat memberi kebaikan untuk diri sendiri dan orang lain. Jadikan pula akhlak sebagai ukuran dalam menilai keilmuan seseorang, jangan sampai kita terperosok dalam lubang kelam akibat salah memilih panutan.

Kesimpulannya,  bahwa anggapan bahwa adab itu tidak penting ternyata salah. Justru pentingnya memepelajari adab sebelum mempelajari ilmu agar  ilmu lebih nerkah, bermanfaat, jauh dari jebakan sombong dan takabur serta bernilai ibadah di hadapan Allah. Tak lupa senantiasa dalam perlindungan dan petunjuk Allah Swt.

Wallohu a'lam bishowab.


Jumat, 12 Februari 2021

Adakah Amalan Khusus di Bulan Rajab?


Marhaban ya Rajab...
Ditengah hiruk pikuk pandemi dan kabar -kabar yang terus berseliweran, banyak yang melupakan kalau satu bulan haram sudah datang. Ya, bulan Rajab, satu dari 4 bulan haram yang disucikan. Bulan dimana kita diharamkan berbuat aniaya, dosa-dosa besar terutama musyrik dan berbuay kerusakan. Bulan dimana kita diajak untuk memperbanyak amal shalih, memperkuat taat dan mendekat pada Allah Swt.

Menjelang masuknya Rajab, ada pertanyaan yang datangnya dari seorang sahabat. Tentang amalan khusus, tepatnya puasa sunnat bulan Rajab. Seketika otakpun berputar, mengumpulkan ingatan dan akhirnya menyerah. Ya, sependek ingatan saya tidak ada dalil kuat tentang puasa Rajab. Berbeda dengan dalil shaum sunnat Arafah, Assyura, atau Ayamul Bidh.

Memang, sebagaimana bulan Haram lainnya, maka kita dianjurkan untuk memperbanyak amal shalih. Memperbanya amaliah ibadah. Tapi bukan berarti di luar bulan haram kita boleh malas-malasan. Yang para shahabat dan ulama ingatkan adalah tidak boleh mengkhususkan suatu amalan tanpa ada dalil yang jelas. Jadi kalau mau memperbanyak amalan ibadah, silakan. Dengan menyuburkan amalan yang sudah biasa dilakukan.

Menurut Ust. Adi Hidayat dalam sebuah ceramahnya mengatakan, misal jika orang itu terbiasa puasa senin kamis, maka memasuki bulan Rajab mau ditambah dengan shaum Daud boleh, atau ditambah ayamul bidh juga boleh. Tapi jangan meniatkan shaum khusus karena di bulan rajab. Karenq perintahnya tidak ada.

Ya, ibadah memang harus ada dasarnya, harus ada perintahnya. Bukan kreatifitas, apalagi dasarnya suka-suka. Kalau dasarnya memperbanyak amal kebaikan, ya silahkan kerjakan amal shaleh yang bisa dilakukan. Misal tahajud jadi rutin, shadaqah jadi lebih sering, menolong sesama jadi agenda harian dan seterusnya.

Nah, menjawab pertanyaan sahabat tadi, saya pun menukil sebuah pendapat dari Imam Nawawi ( semoga Allah merahmati beliau ) yang menyatakan bahwa maksud hadist 'Rasulullah memperbanyak puasa di bulan Rajab' - Hadistnya diriwayatkan oelh Imam Muslim- adalah tidak ada larangan atau anjuran khusus untuk berpuasa di bulan Rajab. Hukumnya sama seperti puasa sunnat di bulan-bulan lainnya. Tidak ada landasan hukum larangan atau kesunnahan puasa rajab. Dasar hukumnya adalah sunnah seperti pada puasa sunnah yang sudah ada. Seperti puasa senin kamis, ayamul bidh dan puasa Daud.

Saya tegaskan lagi, bahwa sebaiknya perbanyak saja dari apa yang sering kita lakukan di bulan lainnya. Karena dasar hadianya juga seperti itu. Tidak dikhususkan ditanggal berapa atau hari apa. Ibn Abbas RA berkata:

 كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم حتى نقول لا يفطر ويفطر حتى نقول لا يصوم

“Rasul SAW berpuasa sampai-sampai kami mengatakan beliau tidak meninggalkan puasa (puasa terus), dan Rasul SAW tidak berpuasa sampai-sampai kami mengatakan beliau tidak berpuasa” [HR Muslim].

Jadi masih mau puas sunnat dibulan Rajab? silahkan niatkan seperti puasa sunnat biasa dan lakukan juga tanpa mengkhususkan tanggalnya atau hari atau bulannya. Demikian juga dengan amalan lainnya, seperti tahajut khusus atau shalat khusus. 


Wallahu a'lam bishowab



Minggu, 13 Desember 2020

Inspirasi Hari Ibu

Beberapa waktu lalu, setelah melihat sebuah iklan di televisi, dua bocah kecilku mulai membuat rencana. "Bang, ayo kita bikin kue atau pudding untuk hadiah pas Hari Ibu." usul si nomer 5.

"Ah, ya... seru kayaknya. Ayo." sambut saudaranya gembira. Lalu keduanya sibuk mereka-reka rencana yang tentu saja saat terdengar justru geli yang terasa.

"Ibu, apa kalau hari ibu kita harus kasih hadiah?" Bungsuku tampak penasaran.

"Tidak, sama seperti ulang tahun, kita juga tak diharuskan memberi hadiah atau kado."

"Trus kalo ada Hari Ibu, apa ada Hari Ayah, Hari Anak?" Kakak si bungsu ikutan berdiskusi.

Saya mengangguk. "Ada, hari ayah kalo tidak salah 12 November dan hari anak 23 Juli. Semua ada sejarahnya. Ada asal usulnya."

"Lalu apa sejarah Hari Ibu?" 

Saya terangkan sekilas tentang sejarah hari ibu dengan bekal setipis ingatan pelajaran sejarah. Intinya tentang pendidikan bagi kaum ibu. Terlepas dari kontek peringatannya di zaman now yang berubah menjadi hari mengenang kasih ibu. Ahh... rasanya sebagai seorang ibu saya juga senang kalau dalam satu tahun ada istilah cuti sesaat dari aktifitas domestik. Walau pada kenyataannya itu nonsens.

Berkaitan dengan pendidikan bagi kaum ibu, saya tercenung dengan pendapat seorang pujangga asal Kairo Mesir :

Sebagai sosok pertama yang akan ditanya  pertama kali oleh anaknya  dalam konteks apapun, seorang ibu memang dituntut memiliki keluasan wawasan dan ilmu. Di zaman ini di mana internet sudah masuk ke dalam rumah-rumah mestinya bisa menjadi jalan belajar lebih mudah bagi kaum ibu. Terlebih di musim BDR seperti ini, dimana peran guru diserahkan di pundak-pundak pada ibu. 

Saya yakin sekali, pendidikan itu tidak mesti di dapat di bangku sekolah atau kuliah. Seringnya pendidikan yang tinggi dengan gelar berderet-deret tidak menjamin seorang bisa menjadi pengajar apalagi pendidik. Yang marak sih, pendidikan tinggi malah melahirkan tuntutan untuk bekerja sebagai bukti ijazah yang sudah didapat.  Malah jadi pertanyaan saat anaknya lulus S1 atay S2 kerjanya ngurus anak saja, katanya sayang kuliah mahal...

Pendidikan bisa didapat dari taklim, belajar langsung dari ibu- bagaimana melaksanakan peran istri dan ibu- melalui sharing bahkan obrolan ringan antara ibu dengan anak. Seorang teman safar saya pernah mengungkapkan pendapatnya tentang suksesnya seorang ibu mendidik anak perempuannya adalah saat si anak menyadari dan melaksanakan tugasnya sebagai istri dan ibu yang baik. 

Saat mendengarnya saya terkekeh pelan, mengingat tahun-tahun pertama dalam rumah tangga. Seandainya tidak ingat menikah adalah ibadah, pastinya ego yang akan dimunculkan. Jika tidak ingat bahwa berumah tangga adalah atas nama Allah pasti akan main-main atau minimalnya tidak akan serius. Jika tidak mengingat ada pahala ada syurga, tidak pernah bersungguh-sungguh dalam memperbaiki diri.

Pendidikan seorang menjadi ibu bukan sekedar pada pekerjaan domestik seorang wanita saja. Mencuci bisa saja diserahkan ke loundry atau mesin cuci. Memasak bisa juga diganti oleh makanan warteg, warung padang dan warung-warung lainnya. Tapi lebih ke arah visi misi hidup itu sendiri. Bukankah berumah tangga adalah cara untuk membuat sebuah generasi yang berarti menjaga keberlangsungan kehidupan itu sendiri?

Mendidik seorang ibu dimulai dari mengenal diri di hadapan Sang Khaliq dan tugas-tugasnya berkaitan dengan makhluk. Agar ketika dituntut hormat pada suami, dia merasa Allah-lah yang menyuruhnya. Pun saat dia diminta taat, itu oun dalam rangka taat pada Allah. Sehingga saat mendidik anak pun yang pertama dikenalkan adalah Allah sebagai pemilik dan penguasa hidup. Sehingga saat merasa lelah menjalani proses mendidik anak yang panjangnya melebihi ular naga ( hahaha ya iya kalii ) akan bisa kembali meminta pertolongan dan bersandar pada-Nya.

Ahh... anggaplah saya terlalu serius, atau mungkin tidak suka something sweets seperti menunjukkan kasih sayang. Atau tipe kaku dan konservatif yang bau tanah. Karena  menjelang hari ibu saya terlalu serius memikirkan apa saya sudah menyiapkan anak -anak gadis saya menjadi ibu dari generasi yang bisa jadi lebih milenial dari yang sekarang. Ah... kalau terlalu berat senyumin saja, tidak perlu panggil Dylan untuk ikut menanggungnya 😅😅😅.




Senin, 07 Desember 2020

Gadget dan Generasi Milenial


Ahad kemarin, 6 Desember 2020 webinar parenting yanh direncanakan kawan-kawan di Rumah Muslimah Juara Alhamdulillah sukses terlaksana. Hujan dari semalam seolah menjadi uji keberanian dan juga ketawakalan kepada panitia dan petugas yang tetap offline. Artinya tetap datang ke tempat diadakan syuting untuk kegiatan webinar. 

Mendekati waktu acara, dag dig dug pastinya. MC belum juga datang. Mungkin masih terjebak hujan yang masih setia turun dari subuh. Begitupun dengan tim IT yang harus bermotor ke on the spot. Baiklah, keep possitive thinking. Misuh-misuh gak ada manfaat, bikin senewen sih iya. Saatnya meyakini ini qudrat iradat Allah yang harus diterima dengan lapang dada.

Lanjut ya..

Di menit- menit terakhir petugas semua datang, Alhamdulillah. Tenang walau persiapan masih belum 90%. Gak papa..., MC diminta cuap -cuap dulu setelah tarik nafas hehehe. Dan Bismillah, jam sembilan lebuh acara dimulai. Dan semua dilancarkan walau jauh dari kata perfect. Aih... siapalah kita yang hanya makhluk lemah. Sempurna itu milik Allah lah...

Saya memang berniat tidak berpanjang lebar memberi sambutan di acara tersebut. Hanya mengingatkan bahwa kunci penting dari mendidik generasi milenial yang sejak dalam kandungan saja sudah kenalan deng an gadget, kecil-kecil sudah lincah memainkan hape dibanding orang tuanya, adalah kemauan dari orang tua untuk senantiasa memperbaiki diri. Seperti yang dikatakan oleh Imam Al Ghazali .


Menjadi orang tua itu belajarnya sama panjangnya dengan usia si anak. Iman dan ilmu jelas bekal terbaik. Maka carilah ilmu yang bisa digunakan untuk memperbaiki diri, bukan untuk merasa diri lebih baik dari orang lain ( ana khairu minkum ). Yakinkan bahwa Allah sudah menyiapkan kita menjadi oran tua dengan juklaknya yaitu Al Qur'anul Karim.  Maka jangan pernah ragu mencari jawaban dari setiap permasalahan baik dalam mendidik anak maupun hidup dalam Al Qur'an. Karena Al Qur'an itu cocok untuk manusia di segala zaman.


Ditambah mau berupaya terus menerus. Zaman now memang zaman segala serba instan. Tapi dalam urusan ibadah jangan berpikir asal jadi. Karena Allah tidak melihat hasil tapi proses dari yang kita lakukan. Jika anak diingatkan susah nempelnya, anggaplah sedang dikasih ladang amal yang luasnya gak ketulungan. Sedih, kesal manusiawi kok. Agar tidak jadi kecewa bahkan sampai putus asa, maka iringi langkah dan upaya diri dengan doa. Bukankah Ibrahim as., berdoa ketika memohon agar keturunannya menegakkan shalat? Bukankah Zakaria as., berdoa agar diberi keturunan yang baik yang shalih? 


Berdoa juga menghindarkan kita dari ujub dan sombong. Ingat keberhasilan mendidik anak bukan lahir dari tangan sendiri. Tapi ada peran dari lingkungan, pendidik, teman dan juga keluarga.


Nah, bagi yang belum ikutan acaranya bisa lihat di youtube Yayasan Juara Insan Mandiri. Stay tune yaa. Semoga bermanfaat .***



Jumat, 25 September 2020

Gejala Alergi yang Harus Dikenali

             Dokumentasi guesehat.com


Beberapa waktu lalu, saya mengikuti webinar yang diselenggarakan oleh klinik Dokter Kita. Temanya betul-betul saya butuhkan, mengingat di rumah pak suami memang didiagnosa memiliki rhinitis alergi. Banyak yang belum tahu bahwa rhinitis itu bukan pilek menahun, walau gejalanya bisa jadi terlihat sama. Seperti bersin-bersin, keluar ingus bening sampai badan yang terlihat kurang fit. 

Awalnya saya juga bingung melihat kebiasaan pak suami, bersin -bersin di pagi hari, dan bersinnya itu beruntun, susah untuk berhenti. Tubuh gampang drop terutama saat kelelahan, musim hujan atau terpapar debu dan bau yang menyengat. Karena penasaran dan tidak mau minum obat flu terus meneruas, kita pun periksa ke dokter THT dan kenallah dengan namanya Rhinitis Alergi. Karena penyebabnya alergi maka perlu diketahui juga apa sih yang jadi pemicunya. Apa debu, serbuk bunga, bulu binatang, suhu ekstrim misal terlalu dingin atau panas,makanan tertentu dan masih banyak lagi. 

Alergi memang terkesan sepele, tapi menyusahkan jika tidak dikenali dan ditangani dengan baik. Terlebih alergi ini bisa diturunkan lho, jadi bukan hanya harta, uang, tanah atau rumah saja yang bisa diwariskan. Tapi penyakit ataupun alergi bisa diturunkan. Jadi, tidak usah heran jika seorang ayah atau ibu yang memiliki alergi saat mendapati anak memiliki alergi yang sama bisa juga berbeda dengan gejala yang berbeda juga 

Gejala yang umum seperti bersin-bersin, gatal di kulit, bercak merah, mata berair, bengkak di wajah, kebas di tangan. Ada juga gejala yang sering dianggap bukan karena alergi yaitu gatak di daerah bawah mata, gatal di hidung bahkan gatal di dalam telinga. Nah, pada kasus pak suami, kebiasaan bersin di pagi hari, meler sampai badan berasa kehilangan energi ternyata muncul pada anak laki-laki pertama. Dan gejala itu makin terlihat saat si anak sekolah di pondok pesantren tang lokasinya di dataran tinggi dengn suhu dingin.

Satu lagi gejala yang terlewati adalah seringnya merasa telinga gatal. Awalnya saya hanya mengira memang karena ada kotoran atau air masuk saat mandi atau renang. Gejala ini tampaknya mulai muncul saat si anak di pondok pesantren hingga saat pulang saya heran kok rajin amat bersihin telinga. Dia malah sering cari cari cotton bud yang sebelumnya tidak pernah tersedia di rumah ( atas saran dokter ). Ternyata, saat di pondok si anak beli sendiri dan setiap telihganya terasa gatal maka dia bersihkan dengan cutton bud.  Yang berakibat telinganya iritasi bahkan sampai luka, subhanallah.

Saat anak mengeluh telinganya sakit, saya pun kontak lagi klinik Dokter Kita yang memang mempunyai pelayanan dokter THT. Janji dibuat dan karena masa pandemi maka pemeriksaan dilakukan via video call.  Dan saya diingatkan lagi tentang gejalq sepele yang sering tidak dikenali seperti sering gatal di telinga sebagai bagian dari gejala rhinitis alergi. Sekaranh sudah dalam masa pengobatan selama 3 hari, dapat obat antibiotik, pereda sakit, obat tetes telinga dan obat anti alergi. 

Dan pesan dokter yang paling kena adalah, " Jaga tangan untuk tidak ngoprek atau korek korek telinga saat terasa gatal, karena alergi tidak akan hilang." Upayakan untuk hidup sehat, rutin olah raga, makanan bergizi, minum vitamin agar imunitas tubuh oke sehingga tubuh pun lebih fit dan kuat terhadap pemicu alergi.

Semoga cepet sembuh Aa, dan satu lagi pelajaran buat kami yang memang memiliki riwayat alergi dalam keluarga. Semoga bermanfaat...


Sabtu, 25 Juli 2020

Dzulhijjah dan Teladan Keluarga Ibrahim as.


Di penghujung Dzulqa'dah alangkah baiknya jika kita bersiap menyambut kedatangan Dzulhijjah yang tak kalah mulianya. Termasuk dalam jajaran bulan haram bersama Dzulqa'dah, Muharram dan Rajab. Yang artinya hari-hari dibulan ini sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah serta menjaga diri dari melakukan kedzaliman, terutama kedzaliman paling besar yaitu mensekutukan Allah Swt.

"Sesungguhnya hari yang agung di sisi Allah adalah hari nahr, lalu hari tasyrik ( setelah hari nahr )." HR. Abu Dawud yang disahihkan oleh Hakim.

Hari agung yang dimaksud adalah hari ketika seorang hamba membuktikan ketaatannya dengan berqurban. Seperti Nabi Ibrahim as.,  ketika menunjukkan kualitas keimanannya dengan menjalankan perintah Allah yang bisa jadi diluar logika manusia. Sebuah perintah yang pastinya sangat berat karena menyangkut cinta dan perasaan. Yaitu mengorbankan putra yang sudah ditunggu kehadirannya bertahun-tahun lalu.
Pelajaran taat kepada Allah dari Nabi Ibrahim as.

Maka bersegeralah membuktikan ketaatan kita kepada Allah dengan melakukan amaliah-amaliah yang sangat dianjurkan di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, seperti :

1.  Puasa 
Perbanyak puasa di 9 hari pertama bulan Dzulhijjah.  Terutama di tanggal 9 Dzulhijjah yang dikenal dengan shaum Arafah. Dalam beberapa hadist diterangkan keutamaan shaum Arafah ini yaitu menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Maka, jika kita tidak ada halangan dan tidak sedang wujuf di Arafah jangan lewatkan kesempatan emas untuk mendapatkan ampunan Allah di hari ini.

2. Memperbanyak takbir dan dzikir
Meyakini bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan kita semata-mata karena kebesaran Allah, maka agungkanlah Allah dan sebutlah baik dalam kondisi berdiri, duduk maupunh berbaring seperti dalam QS. Ali Imran : 191.

3. Haji
Haji merupakan ibadah yang mengabadikan ketaatan keluarga Ibrahim as. Sehingga ada yang menyebut haji sebagai napak tilas perjalanan suci. Perjalanan yang lahir dari ketauhidan yang amat kuat. Perjalanan dari seorang Khalilullah dalam menguatkan mental dan tekad untuk melaksanakn perintah besar dari Rabbnya. Maka, tidak ada balasan bagi orang-orang yang berhaji karena mengharap ridha Allah semata melainkan mendapatkan syurga.

"Dan haji yang mabrur, tidak ada balasan baginya selain syurga." HR. Muslim.

4. Qurban
Meneladai Qurbannya Nabi Ibrahim as.
Banyak pemahaman yang kurang tepat bahwa berqurban adalah amalan sunnat belaka. Nyatanya, dalam Al Qur'an di QS. Al Kautsar bahkan sampai diancam untuk menjauhi  tempat shalat jika mampu berkurban tapi enggan melaksanakannya. Karena berqurban adalah sejatinya bukti keimanan kita. Seperti kisah Nabi Ibrahim as., beserta sang  putra yang sampai diabadikan daam Al Qur'an tepatnya di Qs. As Saffat : 99- 108. 

Berqurban adalah bentuk ujian keimanan. Untuk melihat sekualitas apa iman yang selama ini diaku ada di dalam dada. Semakin besar keimanan pasti ujiannya atau pengorbanannya pun semakin sulit. Seperti yang terjadi pada Ibrahim as. Untuk kualitas keimanan  Nabi Ibrahim yang dijuluki Bapak Tauhid maka objek qurban juga tak main-main. Yaitu anak yang menjadi harapan, penerus visi misi hidup, bahkan investasi terbaik di akhirat, anak seshalih Ismail, masyaa Allah.

Mari perhatikan keluarga mulai ini saat Ibrahim as., mendapatkan perintah ini. Beliau menemui sang istri dan istrinya ini bukannya melemahkan apalagi memperturutkan perasaan yang menjadi dominasi kaum hawa. Ibunda Hajar mendukung dan memberi keyakinan bahwa Allah tidak akan dzalim terhadap hambaNya, dan tidak mungkin perintah Allah itu akan menyusahkan.
Satu sikap yang diwariskan dan dididik benar-benar kepada sang putra yang selama 13 tahun dibawah bimbingannya di tanah Bakka. 

Maka ketika Ibrahim as., menyampaikan perintah itu kepada Ismail, sebagai bentuk pemimpin yang baik yang tidak otoriter tapi menerapkan diskusi dan musyawarah ( syuro ), maka jawaban Ismail pun tak kalah hebat dari sang ibu. 
Jawaban yang hanya lahir dari jiwa-jiwa yang paham bahwa berqurban itu mendekat pada Allah ( menuju kepada Rabbku dzahaba ila rabbi ). 

Bahwa berqurban itu kesiapan diri dalam menjalankan perintah Allah. Bahwa sejatinya qurban melahirkan kesabaran unggul buah ketaatan. Bahwa dalam qurban ada sebuah tekad mengutamakan dan menempatkan perintah Allah dalam prioritas pertama. Bahwa dalam sebuah cinta pasti ada pengorbanan untuk merayu dan mendapatkan keridhaan dari sang tercinta. 

Maka lihatlah balasan bagi Ibrahim dan Ismail setelah mereka memilih taat dalam perintah. Seorang generasi penerus yang shalih yang sabar ( halim ).  Seorang penerus visi misi hidup yang tidak akan membuat orang tuanya galau, melow penuh kekhawatiran saat meninggalkannya. Bahkan akhirnya visi misi Nabi ibrahim ini sampai pada cicit buyutnya yang berjarak ribuan tahun yaitu Nabi Muhammad Saw.

5. Taubat
Caranya bisa dengan memperbanyak shalat, sehingga memperbanyak sujud kita untuk memohon ampunan Allah, memperbanyak istighfar dan menjaga diri dari maksiat dan hal-hal keji. 

6. Memperbanyak amal-amal shalih 
seperi tilawah Al Qur'an, sedekah, birrulwalidain, silaturrahim  serta mempermudah urusan sesama muslim bahkan jika itu baru bisa dilakukan melalui doa. 

Wallohu a'lam bishowab.***
 


Sabtu, 27 Juni 2020

Dzulqa'dah dan Keistimewaannya


Alhamdulillah,  setelah menjalani pembinaan, gemblengan, serta latihan di Ramadhan yang iatimewa tahun ini, kita dipertemukan dengan bulan Dzulqa'dah. Disebut Istimewa karena di tahun ini Ramadhan berlangsung diluar kebiasaan. Sejak dunia terpapar pandemi global covid 19, ibadah khusu Ramadhan yang biasanya dilakukan sekampunh bahkan senegaranya, kini paling banter satu keluarga. Tidak ada buka bersama, taraweh berjama'ah, bahkan iktikaf pun di rumah. Ya, semua serba di rumah, dari rumah, diam di rumah.

Begitupun dengan Lebaran yang terasa sepi tanpa mudik. Tapi dibalik itu semua tetap saja ada kebahagiaan yang dikirm Allah Swt. Jika biasanya makan masakan mamah karena mudik, kini seminggu sebelumnya sudah kumpul-kumpul bahan untuk menu ketupat opor ayam. Niatnya agar anak-anak tidak terlalu kecewa karena jatah uang salam tempel tahun sekarang pun berkurang. Nyatanya tetep ada rezeki dan tetep dapat THR kan gaess hehehe.

Jika di Ramadhan adalah bulan latihan maka bulan syawal adalah bulan mempertahankan hasil latihan. Bulan dimana kita menjaga amal-amal dan kebiasaan baik di Ramadhan. Tidak ada istilah di syawal bebas tak berbekas. Masih ada shaum Syawal untuk menyempurnakan shaum di Ramadhan. Shalat malampun tetap dilakukan. Kan sudah bisa taraweh di Ramadhan, kan? Jangan lupakan juga shadaqah, berinfak bahkan membayar nadzar bagi yang memiliki.

Di bulan Dzulqa'dah maka kita sejatinya sedang  di maqam ( posisi kita ). Sesuai dari arti kata Dzulqa'dah yang artinya duduk. Duduk disini berati kita dalam posisi sudah stabil dengan latihan/ amal kebaikan yang dilakukan. Maqam di sini juga harus dibuktikan dengan pengorbanan yang akan dilakukan di bulan berikutnya yaitu Dzulhijjah dengan berhaji, maupun berqurban. 

Dzulqa'dah satu dari bulan haram
Dalam kalender Islam, terdapat 12 bulan yang semuanya memiliki keistimewaan dan kemuliaan dalam peribadahan. Tidak ada istilah waktu kosong, bersantai atau liburan dari urusan Ibadah. Dari 12 bulan yang sudah ditetapkan Allah ini, terdapat 4 bulan haram. Yaitu bulan-bulan dimana diharamkan melakukan hal-hal yang menganiaya diri sendiri. Masyarakat Jahiliyah malah memegang larangan berperang saat bulan haram. Sehingga mereka akan melakukan gencatan senjata di bulan-bulan haram ( sesuai keyakinan mereka ).

Allah Swt., menjelaskan tentang bulan haram ini dalam QS. At Taubah ayat 36 ;

"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah 12 bulan, ( sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada 4 bulan haram. Itulah ( ketetapan) agama yang lurus. Maka janganlah kamu mendzalimi dirimu ( dalam 4 bulan haram ) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilaj bahwa Allah beserta orang-orang bertaqwa."  QS 9 : 36


Dalam hadist diterangkan tentang bulan-bulan haram. yaitu :

"Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)


Ibnu Abbas ra., mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arif, 207

Adakah amalan khusus di Dzulqa'dah?
Berbiacara amalan atau beribadahan semua harus ada dasarnya. Dan ternyata belum ditemukan riwayat khusus tentang amalan yang memang dikaitkan dengan Dzulqa'dah. Jika Dzulhijjah ada amalan khusus seperti haji, shaum arafah dan berqurban, di Muharram ada puasa hari Assyura, maka sebagaimana Rajab maka di bulan Dzulqa'dah tidak ada amalan khusus. 

Bukan berarti kita merasa biasa saja atau tidak ada istimewanya. Karena termasuk dalam bulan haram, maka perbanyaklah amal kebaikan yang disukai Allah Swt. Serta jauhi kemaksiatan yang dimurkaiNya. Karena di bulan haram itu pahala dilipat gandakan, demikian juga dengan dosa.

Di bulan ini Rasulullah melakukan 3 kali umrah dan yang keempat dilakukan bertepatan dengan haji ( umrah rukun haji) di bulan Dzulhijjah bertepatan dengan Haji Wada'. Ditengah kabar penundaan kabar ibadah haji tahun 2020, maka yang bisa dilakukan adalah persiapan untuk berqurban. Terlebih di masa pandemi seperi sekarang ini. Bahkan Rasulullah Saw., adalah orang yang paling banyak berqurban. Saat sempit beliau tetap berkurban meski dengan seekor biri-biri.

Nah, sudah sampai mana persiapanmu di Dzulqa'dah ini?


Sumber :


Shahih Bukhari Muslim

Ramadhan Sepanjang masa