Sabtu, 17 April 2021

Sedekah Paling Utama


Assalamualaikum men temen...

Sudah hari ke-6 Ramadha lagi ya, Alhamdulillah. Semoga tetap semangat berkarya dan beramal shalih di bulan suci ini. 

Salam suatu hadist dikatakan bahwa Rasulullah Saw., adalah seorang yang sangat dermawan. Dan beliau sangat dermawan di bulan Ramadhan. Kedermawanan beliau lebih baik dari angin yang berhembus. Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari ini betul-betul menasehati dan menyemangati diri sebagai ummatnya dalam beramal di bulan suci.

Tapi kondisi pandemi memang berimbas pada semuanya. Jualan yang dulunya rame sempet sepi. Bisnis yang awalnya hidup, sekarang mirip hidup enggan matipun tak mau. Orang-orang yang masih punya gaji tetap saja menjerit karena harga-harga naik. Apalagi yang memang penghasilannya harus dicari setiap hari. subhanallah.

Kondisi ini seringnya membuat kita melewatkan kesempatan bersedekah dan berbagi. "Hei... kondisi gue juga lagi minus nih, nanto saja kalu dah lebih gue sedekah." Atau yang sering didengar, "Buat malan sendiri saja susah, bagaimana mau berbagi." Bisa juga rada sopan, "Nanti yaaa kalau ada lebih dikit, gue sedekah deh."

Padahal seringnya kalau sudah berlalu kesempitan manusia itu hobi lupa. Susab berlebih enggan bersedekah, alasannya ini kan hasil kerja banting tulang, enak aja dibagi ( noted ). Saat sudah lapang, malah puas-puasin memenuhi keinginan yang saat sempit tertunda. Saat sudah berlebih malah banyakan belanja atau naikin gaya hidup dari pada sedekah. Astagfirullah, duhh inget diri juga masih suka gitu mikirnya.

Padahal sedekah paling utama justru disaat kita sempit, susah, serba kekurangan. Ibaratnya, sedekah di waktu mudah mah biasa, yang luar biasa itu sedekah dikala susah. Bayangin berkorbannya kayak apa. Kuat niatnya seperti apa, yakin ke janji Allahnya bagaimana. Beda saat semuanya mudah atau kita dalam kondisi mampu, kan?

Di zaman Nabi, orang bersedekah itu berlomba-lomba. Karena Nabi mencontohkannya dengan jelas. Beliau sangat dermawan, padahal di rumah beliau sering kali enggak ada makanan. Demikian juga dengan putri beliau, Fathimah ra., yang memberikan roti sarapan keluarganya untuk pengemis. Atau Abu Bakar yang menyisakan setumpuk kerikil hanya agar membuat ayahnya Abu Qufahah ra. Atau kisah Abdurrahman bin Auf yang kalau sedekah tak pernah mikir untung rugi. Demikian juga dengan Ustman bin Affan, Umar bin Khattab dan sahabat lainnya ( radiyaallhu anhum ).

Nah, mumpung di bulan baik, yuk bersemangat berbagi, bersedekah yang terbaik. Jangan khawatir hartamu habis, karena janji Allah sedekah justru menyuburkan harta.  Jangan khawatir miskin, karena tidak sedekah itu justru mengundang rezeki. 

Terlebih di bulan ini disebut juga syahrul judd, bulan berbagi dengan yatim dan dhufa. Jadilah penyantun-penyantun dhuafa dan yatim, kelak engka7 akan bertetangga dengan Nabi di surga. Masyaa Allah tabarrakallah...

Wallahu 'alam bishowab.
semoga bermanfaat

Senin, 12 April 2021

Optimalisasi Amal untuk Mencapai Goal-Goal Ramadhan

Assalamu'alaikum temen-temen...

Alhamdulillah, jika diijinkan oleh Allah besok kita akan memasuki bulan suci Ramahdhan. Artinya nanti malam kita sudah mulai melaksanakan ibadah shalat tarawih yang menjadi satu amaliah khusus di Ramadhan. Tapi sebelum betul-betul memasuki Ramadhan sudahkah kita mengucap tahniah, membuat persiapan, mencanangkan target-target berdasar 3goal Ramadhan yang sudah termaktub dalam Al Qur'an.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Rasulullah Saw., setiap akan memasuki Ramadhan selalu melakukan sambutan, dengan membaca doa  seperti  berikut :

 

Ramadhan kali ini masih dalam kondisi pandemi, ya teman-teman. Kondisi yang membuat kita bisa jadi makin bosan karena kurang semangat karena pasti banyak dibatasi aktifitasnya. Padahal kita sedang kedatangan tamu agung. Bagi yang memahami pasti akan bergegas bersiap-siap jangan sampai si tamu agung ini 'nganggur' tidak dimanfaatkan. Karena tak ingin merugi maka inilah yang membuat saya gencar mencari ilmu untuk menambah iman dan juga landasan amal agar di Ramadhan tidak mati gaya,tidak bingung dengan amal-amal yang bisa dioptimalkan.

Alhamdulillah, dari kajian online di bulan Ramadhan yang diadakan oleh DKM Al Jihad UNPAD via Zoom dengan pembicara Ust. Salim A Fillah, ada hal-hal penting yang bisa dijadikan acuan untuk  mengoptimalkan amal di bulan suci. 

Rasulullah menganggap Ramadhan sebagai tamu agung yang membawa berlimpah kemuliaan. Pintu-pintu syurga dibuka yang artinya Allah memfasilitasi hambanya dengan banyak kesempatan untuk beramal shalih. Siang diisi dengan puasa, dengan membaca Al Qur'an, malamnya dengan shalat malam dan bermunajat pada Allah Swt.  Di bulan suci pintu-pintu neraka ditutup dan syaitan-syaitan dibelenggu. Maka merugilah orang-orang yang tetap bermaksiat di Ramadhan.  Merugilah orang-orang yang nafsunya tidak bisa ditekan untuk berbuat dosa. Naudzubillah.

3 Goals Sukses Ramadhan :



Agar bisa mengoptimalkan amal Ramadhan, perlu dipahami 3 goals atau tujuan yang Allah tetapkan dengan hadirnya Ramadhan ini. 

1. Agar Kalian Bertaqwa
Taqwa adalah sikap memenuhi seluruh perintah Allah dan menjauhi larangannya. Ubay bin Ka'ab ra., pernah ditanya oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra., tentang taqwa. Beliau menjawab bahwa Taqwa adalah sebentuk kehati-hatian dalam melangkahkan kaki di kehidupan ini agar tidak berada di jalan yang mendatangkan murkanya. Jalan pi-neraka-eun.

2. Agar Kalian Bersyukur
Selain sabar, maka syukur adalah resep agar bisa hidup selamat dan bahagia. Bersyukur hanya akan dimiliki oleh orang-orang yang senantiasa mengingat Allah, berprasangka baik pada Allah hingga meyakini setiap ketetapan Allah itu baik.
Jelas, tidak mungkin bersyukur orang yang hatinya senantiasa penuh dengan prasangka buruk pada Allah. 

Lewat puasa kita dididik peka, hingga muncullah empati dan keinginan memberi. Dari shalat, dzikir dan baca Alquran kita diajak untuk senantiasa mengingat Allah, mensyukuri nikmat iman, islam dan memahami bahwa janji Allah itu benar. 

Barangsiapa bersyukur akan aku tambah nikmatnya, barang siapa kufur maka azabku amat pedih.

3. Agar Kalian Mendapat Irsyad / Kebenaran
Irsyad/ kebenaran berupa bimbingan dalam kehidupan ini adalah hal sangat kita butuhkan. Tanpa kebenaran maka kita akan selamanya dalam kegelapan, kebingungan dan kejahilan. Tanpa kebenaran, amal-amal yang kita lakukan akan sia-sia. Lalu bagaimana kita akan menjawab pertanyaan dari Allah, 'Aina tadzhabun?' mau pergi kemana kalian? 

Orang yang mendapat petunjuk pasti akan menjawab inna lillahi wainna ilahi raji'un ( aku ini dari Allah dan kembali padaNya).


Optimalisasi Amaliah di Ramadhan 

1. Puasa
Tingkatkan level puasa kita dari tahun-tahun sebelumnya. Tekadkan jangan hanya menahan lapar dan dahaga saja. Tapi juga menahan pengelihatan, pendengaran, dan hati dari hal-hal yang tidak diridhaiNya. Minimal naik ke level puasa khawas atau khusus.

2. Baca Al Qur'an
Tingkatkan tilawah, tadabbur, tafahum terhadap kitab suci. Bikin targetan pribadi mau seberapa dekat kita dengan Al Qur'an. Mau murojaah ayat yang mana,  mau menghapal surat apa dan lain sebagainya.

3. Doa dan Dzikir
Sebulan penuh kita dipersilahkan utk berdoa dan berdzikir. Allah memperbanyak waktu waktu mustajab. Mohon atas hajat diri, hajat umat Islam, mohon rahmat, berkah dan ampunan Allah Swt.

4. Shalat-shalat Sunnah
Jadikan shalat sunnat sebagai komunikasi privat kita dengan Allah. Keluhkan pada yang Maha mendengar, agar tidak mudah mengeluh di hadapan Mahluk. Minta dna berharap pada Allah agar tidak kecewa saat berharap pada manusia yang lemah.

5. Shadaqah
Sesungguhnya shadaqah terbaik adalah di bulan Ramadhan, maka berbagilah walau dengan seteguk air, sebiji kurma, segenggam beras atau bahkan dengan doa dan ide ide berdasar kebenaran. Niatkan semua untuk sedekah dan semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan keberkahan berlipat ganda, aamiin...

Wallahu a'lam bidhowab.
Marhaban Yaa Ramadhan
Selamat beramal bakti di Ramadhan ini
Taqabballahu minna wa minkum




Minggu, 11 April 2021

Tarhib Ramadhan online Rumah Muslimah, Keluarga yang Dirindukan Ramadhan

 

Assalamu'alaikum ...


Apa kabar  temen-temen semua? Semoga semua dalam kondisi sehat walafiat, jasmani dan rohani, dan tetap dalam lindungan Allah Swt. 

Alhamdulillah, tak terasa Ramadhan tinggal dua hari lagi.Sudah sampai mana nih persiapan sambut bulan suci? Jika kita melihat dari pada sahabat nabi membagi satu tahun dalam hidup mereka, enam bulan setelah Ramadhan mereka menghidupkan hari-hari dengan amaliah yang sudah ditempa selama Ramadhan. Dan enam bulan selanjutnya mereka mempersiapkan baik iman, ilmu, amal, maupun harta untuk menghadapi Ramadhan. Bahkan mereka sudah muqim ( berdiam ) tidak mengadakan perjalanan niaga ( karena sebagian besar pekerjaannya adalah sebagai pedagang ), agar bisa memenuhi syarat wajib amaliah Ramdhan. 

Beberapa waktu lalu, tepatnya satu pekan kemarin kami dari komunitas Rumah Muslimah ( RUMUS ) juara mengadakan Tarhib Ramadhan online via Zoom, dengan tema yang menurut saya greget banget yaitu agar kita menjadi 'Keluarga yang Dirindukan Ramdhan'. Tema ini terinspirasi dari judul buku yang ditulis oleh pembicara yaitu Bunda Lilis Rohaeti, MPd. Jujur seringnya selama ini kita yang mengaku sebagai perindu Ramadhan. Tapi tidakpernah terlintas dalam pikiran menjadi manusia, menjadi keluarga yang dirindukan oleh bulan suci. Ibarat orang yang jatuh cinta kok rasanya bertepuk sebelah tangan yaa... sedih banget gitu lho.

Di webinar kali ini saya diberi kesempatan jadi moderator. Wuih...emak- emak yang biasanya hanya jadi peserta zoom pas anak BDR jadi harus mau belajar, mau melek teknologi. Jujur niat saya hanya ingin belajar dan belajar terus. Menjadi ibu di era pandemi gini kudu mau upgrade baik wawasan maupun keterampilan. Jangan merasa sudah tua dan susah belajar hal-hal baru. Apalagi karena anak-anak dikembalikan lagi ke rumah, ke ibunya sebagai pendidik utamanya. Kalau ibunya susah belajar, anak akan mencari dari sumber lain  yang tidak jelas apakah mengarahkan anak pada hal yang benar atau sebaliknya.


Konsep Keluarga

Materi dimulai dengan mengingatkan peserta pada konsep berkeluarga sesuai dengan Al Qur'an dan tuntunan Nabi Saw. Bagi saya sendiri layaknya murojaah. Mengulang dan menelaah kembali ayat-ayat yang dulu saat awal pernikahan sering sekali dibaca,ditadaburi. Bahwa Allah sudah menciptakan kita dan pasangan dan diikatkan dengan nama Allah. Maka pasangan yang sekarang ada di samping kita adalah pasangan pilihan Allah untuk kita. Yang pastinya pilihan Allah itu pasti terbaik, tidak ada ketentuan Allah yang jelek. Kalaupun ada kekurangan, maka kita pun harus mengakui diri jauh dari sempurna, banyak kekurangan juga.

Kita juga diingatkan bahwa tujuan menikah adalah agar kita meningkatkan ketaqwaan. Jadi keluarga atau rumah tangga adalah lahan untuk beribadah. Maka,pastikan bahwa dalam keluarga program-program yang berjalan adalah ibadah pada Allah Swt. Pastikan suami mendidik istri agar beribadah kepada Allah, dan istri sebagai ibu yang merupakan pendidik utama anak-anaknya mengarahkan dan membimbing anak-anak untuk mentaati Allah Swt. 

Dalam suatu hadist dikatakan bahwa setiap diri adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban. Suami sebagai kepala keluarga pastikan istri dan anak-anak agar selamat dari siksa api nereka. Suami akan ditanya dari mana rezeki yang digunakan untuk menafkahi keluarganya. Demikian juga dengan istri akan ditanya bagaimana rumah tangganya. Karena bagaimapun istri atau ibu adalah manager dalam keluarga. Yang mengatur anggota keluarga agar sesuai dengan program utama dalam keluarga yaitu mendapat keridhaan Allah Swt. Ibu sebagai pendidik utama akan ditanya bagaimana anak-anaknya apakah dikenalkan pada Allah, apakah dikenalkan pada syariatNya, atau tidak?


Ciri-Ciri Keluarga Sakinah

1.Berdiri di atas keimanan yang kokoh

2. Menunaikan misi ibadah dalam hidupnya

3. Mentaati perintah Allah ( bersyariat sesuai tuntunan Rasulullah )

4. Saling menyayangi

5. Saling menjaga dan mendukung dalam kebaikan

6. Saling memberikan yang terbaik untuk pasangan


Ramadhan Syahrul Ummati

Ramadhan dengan seluruh keutamaanya, didatangkan Allah kepada orang beriman sebagai tamu agung. Maka layaknya mau bertamu atau kedatangan tamu, pastinya ada persiapan - persiapan. Bayangkan saat kita akan kedatangan pejabat maka kita pasti menyiapkan seluruh fasilitas, tampilan bahkan  jamuan yang bisa diberikan. Jangan sampai Ramadhan yang begitu mulia terlewati begitu saja. Padahal sepanjang Ramadhan itu banyak sekal ikeistimewaan, seperti pintu syurga dibuka , pintu neraka ditutup, syaitan syaitan dibelenggu, dan dilipatgandakan pahala.

Ramadhan juga disebut Allah sebagai syahrul ummati ( bulan ummatku ), artinya Allah menurunkan banyak jamuan, banyak kemudahan, banyak limpahan pertolongan. Bahkan menurunkan malaikat dan ruh ( pemimpin malaikat ) untuk membantu hamba-hambanya menyelesaikan hajat dan urusan mereka( QS. Al Qadar ). Mau menghilangkan dosa, Allah buka pintu taubat, mau dimudahkan usaha Allah buka jalur komunikasi dengan shalat malam dan shalat- shalat sunnah lainnya. Ingin ditolong oleh Allah, diangkat masalahnya, diangkat derajatnya Allah berikan banyak waktu mustajab untuk memperbanyak doa. Maka harusnya Ramadhanitu diisi dengan program- program yang bermanfaat untuk seluruh anggota keluarga. Agar tujuan dari Ramadhan ini didatangkan yaitu taqwa akan  tercapai ( QS. Al Baqarah : 183 )


Persiapan Ramadhan

1. Persiapkan dengan Iman dan Ilmu

Dalam sebuah hadist Rasulullah mengatakan bahwa  barang siapa yang berpuasa dengan iman dan ihtisab maka diampuni  dosa-dosanya yang telah lalu. Maka sebaik- baik bekal adalah iman. Makabuatlah majelis-majelis untuk memperkuat iman. Karena iman itu sifatnya naik turun, maka awasi juga perbuatan- perbuatan yang justru melenakan dan menjauhkan dari ibadah. 

Persiapkan juga ilmu-ilmu, karena amal tanpa ilmu itu akan sia-sia, akan menghasilkan amalan yang salah. Maka, sebelum memasuki Ramadhan pelajarilah ilmu-ilmu berkaitan dengan Ramadhan, yang menyangkut amal-amal khusus Ramadhan. Apa yang bisa ditingkatkan, apa yang harus dibuang atau ditinggalkan. 


2.  Meningkatkan Pemahaman Amaliah Ramadhan

Memahami amaliah Ramadhan maka kita akan merasa sayang jika tidak maksimal beramal. Belum tentu ada usia untuk bertemu Ramadhan tahun depan kan? Makanya, berusaha memahami bukanhanya tentang fiqihnya saja, tapi ke fadhilah-fadhilahnya. Puasa bukan sekedar menahan lapar dahaga saja, tapi juga menahan dari perbuatan sia-sia yang tidak Allah suka.

Di musim pandemi saat ini,anak-anak dipaksa untuk berinteraksi dengan gadget dan internet dalam waktu yang lama. Bisa jadi  mereka banyak melakukan kesia-sian dengan melihat tayangan tidak berfaedah, main game, nonton drakor dan lain sebagainya. Perlu dipikirkan kegiatan atau amaliyah yang bisa jadi riyadoh, pelatihan sekaligus terapi agar anak menjauh sedikit demi sedikit dari hal-hal kurang bermanfaat. Yang menjauhkan dia dari urusan ukhrawi.


3. Bertaubat dan Islah dengan seluruh anggota keluarga 

Memasuki Ramadhan dengan ihtisah satu upaya yang dilakukan dengan bertobat, menghitung-hitung amal dan bekal pulang ke kampung yang kekal. Evaluasi atau muhasabah sangat penting dilakukan. Juga saling mengislahkan kesalahan sesama makhluk dengan harapan Allah ridha memberi ampunan kepada kita. Suami bertanya apa yang belum dia lakukan dalam perannya sebagai kepala keluarga, istri bertanya apa yang belum dilakukan sebagai manager dan juga pasangan demikian juga dengan anak-anak.


4. Manajemen Amal dan Doa 

Dalam QS. Al Qadar disebutkan bahwa Allah menyediakan Ramadhan sebagai bulan untuk menyelesaikan urusan hambaNya. Jadi perlu dimanage amal dan doa hingga urusan atau hajat kita bisa tercapai. 

Hajat dan urusan disini bukan yang hanya yang bersifat materi, tapi lebih ke yang non materi atau ukhrowi. Misal, di Ramadhan kita berhajat menjadi orang yang lebih sabar. Maka berpuasalah dengan memenuhi seluruh syarat dan rukunnya, serta menjaga dari hal hal yang Allah tidak ridha.

Intinya sebagai manusia kita banyak keperluan, bayak hajat, banyak butuh pertolongan. Maka mintalah dengan doa-doa terbaik. Dan Allah sudah menyediakan Ramadhan penuh dengan waktu mustajab. Maka perbanyaklah berdoa di waktu sahur sebelum berbuka, waktu puasa waktu sholat malam. Isi dengan dzikir dan doa dari pada untuk berbuat yang sia-sia.


5. Persiapan rezeki halal untuk shadaqah, zakat dan berbagi 

Ada amaliah khusus yang berkaitan dengan harta di Ramadhan, yaitu bersedekah dan zakat fitrah. maka siapkanlah harta halal untuk mensucikam hartamu dan mengundang keberkahan serta ridhaNya.


Wallahu a'lam bishowab









Jumat, 12 Maret 2021

Memetik Hikmah Perjalanan Agung Isra Mi'raj


Ada moment penting yang biasa diingat ketika tanggal 27 Rajab, ya... peristiwa merupakan perjalanan terdahsyat sepanjang masa, Isra Mi'raj. Perjalanan yang betul- betul menguji keimanan bak ummat jaman dulu maupun jaman sekarang. Meski zaman now telah banyak penelitian oleh ilmuan yang akhirnya membuktikan peristiwa itu benar adanya. Tapi tetap saja jika iman tak diikut sertakan hanya menjadi bahan keilmuan tanpa menghasilkan ketaqwaan.

Dalam QS. Al Isra :1 diawali dengan kata subhanallah, artinya perjalanan ini menunjukkan  kekuasaan Allah, kehebatan Allah, ke-Maha an Allah yang tidak pernah ada noda, kesalahan, kegagalan maupun kelemahan. Artinya perjalanan ini benar-benar terjadi bukan bualan atau dongeng semata.

Perhatikan di ayat tersebut menggunakan kata bi'adbihi  yang artinya adalah hambaNya ( hamba Allah ). Kata hamba di sini menunjukkan objek bahwa yang diperjalankan adalah hamba Allah. Meski peristiwa itu terjadi pada Rasulullah, tapi Allah tidak menyebut dengan rasul atau nabiNya. 

Hal ini menunjukkan bahwa setiap hamba Allah akan diperjalankan sampai naik tingkat untuk berkomunikasi dengan Allah. Bagi mereka yang memenuhi syarat pastinya ( bisa dilihat di hikmah Isra Mi'raj ). Jika Rasulullah lewat Mi'raj ke Sidratul Muntaha, maka manusia biasa seperti kita mi'raj dengan shalat. 

Perjalanan ini diawali dari Baitul Haram ke Masjidil Aqsa'. Masjidil Haram mewakili tempat ibadah pertama manusia, Baitul Aqsa menunjukkan tempat berkumpulnya pada Nabi dan Rasul. Menunjukkan bahwa perjalanan ini menghubungkan bahwa dua tempat itu memiliki satu kesamaan ajaran, yaitu risalah tauhid.

Hikmah Isra Mi'raj
Seperti dijelaskan diatas bahwa setiap hamba Allah akan diperjalankan dan naik derajat kemuliaan. Tentu saja ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Yang bisa dilihat dari rentetan kejadian dalam malam Isra Mi'raj

1. Pembedahan dada pembersihan Hati

Dari REPUBLIKA.CO.ID, dikisahkan bahwa  Isra Miraj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makah ke Masjidil Al Aqsa di Yerusalem (Isra), kemudian dilanjutkan menuju langit ke Sidratul Muntaha (Mi'raj) dengan tujuan menerima wahyu Allah SWT. Peristiwa Isra' dan Mi'raj terjadi pada 621 M.

Dalam hadis disebutkan, sebelum Rasulullah SAW melakukan Isra dan Mi’raj, dadanya dibedah. Beliau bersabda, “Kemudian hatiku dikeluarkan, lalu dicuci dengan air zamzam, lalu dikembalikan ke tempatnya, dan diisi dengan keimanan dan hikmah....” (HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi).

Muhammad Al-Ghazali dalam Fiqih Sirah-nya berkomentar, ini melambangkan persiapan yang harus dilakukan sebelum beliau berangkat menjalankan Isra dan Mi’raj. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan, pembedahan dan pencucian hati ini terjadi tiga kali.

Pertama, saat beliau masih kanak-kanak, hidup di kampung dalam asuhan Halimatus Sa’diyah. Kedua, ketika beliau menerima wahyu untuk diangkat menjadi nabi dan rasul. Dan, ketiga saat beliau hendak melakukan Isra dan Mi’raj. (Fathul Bari Juz 11 Bab Mi’raj hal 216)

Tentu peristiwa pembedahan dada dan pencucian hati ini memberikan banyak pelajaran kepada kita. Artinya, siapa yang ingin naik dan menjadi manusia mulia, hendaknya membersihkan hati. Mentobati seluruh dosa dan kesalahan. Itu persiapan yang mesti dilakukan oleh siapa saja yang ingin menggapai kemuliaan dan derajat yang tinggi. Bukan persiapan harta, kekuatan raga maupun ilmu. Tapi hati yang suci, jiwa yang bening, dan keluhuran akhlak.


2. Menghadapi ujian dengan iman, sabar dan tawakal

Dua tahun sebelum Isra Mi'raj, Rasulullah diuji dengan kepergian teman setia, yang sudah mendukung sejak awal mula risalah ini berjalan, sang istri tercinta Khadijah binti khuwailid ra. Tak berapa lama kesedihan dan hilangnya penopang politik dalam menghadapi petinggi Kaum Quraisy. Sosok yang sudah mengasuhnya dan mengajari banyak hal ketika remaja dan mempercayainya,  yaitu Abu Thalib.

Kondisi ummat yang masih tertindas, penolakan dakwah dari Thaif, membuat Rasulullah berharap penuh pada pertolongan Allah. Dan Allah tidak pernah menyia-nyiakan pengharapan hambaNya yang bergerak maksimal dalam menjalankan tugas-tugasnya. Dan perjalan ini adalah sebuah jawaban dari doa-doa Rasulullah dan penghibur setelah banyak kesedihan yang dialami.

Sudah menjadi ketetapan Allah, hidup di dunia ini penuh dengan cobaan. Tidak statis, tapi dinamis. Ada naik turunnya, ada pasang surutnya. Dan bagi siapa saja yang menghadapai ujian itu dengan iman dan sabar maka Allah akan menurunkan pertolongan. 

Seringnya manusia mengantungkan harapan dan pertolongan pada makhluk yang lemah. Hingga berakhir kecewa dan patah hati saat apa yang diharapkan tak terjadi. Atau ada yang berpendapat sabar itu seolah diam, dan tawakal hanya pasrah. Padahal sabar dan tawakal itu tetap berusaha maksimal dan mengantungkan hasil pada ketetapan Allah.

3. Shalat berkualitas pengundang pertolongan

Dalam peristiwa ini Allah menurunkan pertolongan yang langsung diturunkan SK nya di langit, buka di bumi. Yaitu perintah shalat 5 waktu. Bayangkan syari'at lainnya diberi di bumi, tapi shalat memiliki kekhususan tersendiri. Diturunkan di langit sebagai tanda dengan shalat, hambaNya bisa mi'raj dan mendapatkan pertolongan.

"Hai orang-orang yang beriman, jadikan sabar dan salat sebagai penolongmu ( memohon pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat ). Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. " QS. Al Baqarah : 153

Ketika Perang Badar berkecamuk, Ali bin Abi Thalib ra., yang bertugas menjaga Rasulullah saw., melihat beliau sedang tegak melaksanakan shalat. Dua rakaat tapi tentunya kualitas shalat yang sampai menurunkan pertolongan dari Allah Swt. Berupa pasukan malaikat yang datang hingga kemenangan menjadi milik kaum mukminin.

Dibanyak kisah juga dijelaskan bagaimana Rasulullah meminta pertolongan dengan sabar dan shalat. Bahkan para sahabat dan orang-orang shalih. Maka, selaku ummat yang dituntut taat, maka kita pun harus menjadikan shalat sebagai jalan minta pertolongan. Tentu saja dengan memperbaiki kualitas shalat kita.

Shalat yang sudah melewati tangga sebagai pelindung dari perbuatan fasik dan mungkar. Karena tidak mungkin pertolongan Allah datang saat diri masih bergelimang dosa yang menjadi penghambat keridhaanNya.

Maka tepat sekali,  jika ada yang mengatakan perbaikilah shalatmu maka Allah akan membaiki hidupmu. Semakin berkualitas shalat kita semakin naik derajat kita dan pertolongan, kebahagiaan dan kesuksesan ( falah ) semakin dekat dalam genggaman.

wallohu 'alam bishowab




Selasa, 23 Februari 2021

4 Alasan Adab Dipelajari Dulu Sebelum Ilmu

Ulama mendahulukan mempelajari adab sebelum ilmu. contohnya Ibnu Mubarrak -rahimahumullah yang mengatakan "Aku mempelajari adab selama 30 tahun dan mempelajari ilmu selama 20 tahun." Demikian juga dengan ulama yang lain. Bahkan mereka memilih guru pun melihat dari adabnya dulu. Artinya ilmu yang tinggi bukan jaminan seseorang itu bisa dijadikan pendidik jika akhaknya kurang.

Yang terjadi di zaman sekarang adalah sebaliknya, dimana orang terburu-buru mempelajari ilmu sementara adab ditinggalkan, disepelekan. Akibatnya banyak orang berilmu tinggi tapi minus akhlak. Banyak pendidik yang tingkah lakunya tidak bisa dijadikan teladan. Perilakunya tidak sebanding dengan ilmu yang dimilikinya.  Sungguh disayangkan.

Nah, berikut 4 alasan kenapa dahulukan adab sebelum ilmu :

1. Karena Dicontohkan oleh Rasulullah

Dalam QS. Al Ahzab : 21 
Rasulullah Saw., datang untuk memperbaiki akhlak. Perlu dipahami akhlak itu adalah perilaku yang lahir dari keimanan dan pelaksanaan syariat. Bukan sekedar adat kebisaan semata. Maka yang dimaksup memperbaiki akhlak adalah menyempurnaan perilaku, sifat, adab dengan berdasar wahyu. Jika selama ini ada orang yang sangat gemar berbagi dasarnya adalah kebiasaan maka dengan berdasarkan iman akan menjadi akhlakul karimah dan berpahala.

Masih ingatkan gelar Al Amin yang disematkan masyarakat Mekkah pada Baginda Nabi? Jauh sebelum beliau diangkat menjadi nabi dan rasul, adab dan perilaku baik nan terpercaya sudah. melekat dalam diri beliau. Demikian juga dengan sifat welas asih, peduli dan selalu menjauh dari perbuatan buruk dan dosa.

Semua tak lepas dari pendidikan dan penjagaan dari Allah pada sosok yang akan menjadi rahmat alam semesta. pada sosok yang akan menjadi teladan sepanjang masa, baik dalam perannya di masyarakat, keluarga maupun pribadi beliau.


2. Adab lebih mudah dipelajari dari pada ilmu
Selama ini kita didoktrin bahwa ilmu itu susah didapat. Jadi harus dicari sejak dini. Sementara adab yanh memang lahir dari pembiasaan sering disepelekan karena dianggap mudah atau kurang menantang. 

Seingat saya, dalam hal belajar maka belajarlah dulu hal yang mudah, baru yang susah. Yang dekat baru yang jauh. Bahkan saat saya mengikuti training menulis, tutor saya pun mengingatkan hal ini, tulislah yang mudah dan dekat dengan duniamu. 

Mempelajari adab sejatinya seiring dengan pembiasaan. Yang berarti seiring dengan pengasuhan anak. Bukankah kata Bunda Elly Risman, parenting itu adalah proses pembiasaan dan meninggalkan kenangan. Maka mengajarkan adab jauh lebih awal, seperti adab makan, adab minum, adab dengan saudara dengan orang tua, dengan guru dan sebagainya.

"Padahal akhlak itu sangatlah sederhana, berbuat baik kepada orang lain, menghindari sesuatu yang dapat menyakitinya (baik fisik maupun hati) dan menahan diri ketika disakiti" (Madarijus Salikin II/318-319).


3. Adab itu dibutuhkan dalam kehidupan setiap orang tapi tidak semua ilmu dibutuhkan untuk hidup.

Sebagai makhluk sosial maka dibutuhkan akhlak yang baik agar bisa hidup bersama dalam masyarakat. Kita bukanlah makhluk soliter, yang tidak memperhatikan interaksi dengan orang lain. Bahkan untuk mendidik satu orang anak sana butuh satu kampung. 

Jika seorang manusia cukup pede dengan hidup tanpa adab dengan manusia lainnya, maka jangan salahkan jika dia pun tidak dianggap keberadaannya. Saat butuh pertolongan, tidak ada yang akan mengulurkan bantuan. Dia akan menjadi manuasia yang sifatnya lebih mirip benda mati.

Sementara untuk hidup tidak perlu semua ilmu dikuasai. Bisa jadi seorang petani tidak memerlukan ilmu kalkulus atau ilmu pertambangan. Dia lebih butuh ilmu biologi, ilmu tentang tanah dan ekonomi. Atau bagi seorang polisi dia tidak perlu mendalami ilmu biologi secara mendalam, tapi lebih butuh ilmu komunikasi, krimonologi dan yang berkaitan dengan pekerjaannya.


4. Adab menyelamatkan orang yang berilmu

Ternyata, akhlak adalah pembeda untuk pintar dan benar. Orang yang berilmu tentulah pintar, namun jika tidak melengkapi dirinya dengan akhlak, maka tak ada jaminan kepintaran yang dimilikinya mampu mengantarkan pada kebenaran. Sekalipun orang tersebut mengaku sebagai ulama, namun jika akhlak yang ditampilkan tercela, maka tak ada kebenaran yang bersemayam di setiap wejangan yang disampaikan.

Akhlak juga berfungsi sebagai benteng yang melindungi orang berilmu dari berbagai macam godaan. Sebab, orang berilmu tak akan pernah lepas dari godaan. Salah satu yang paling sering menghantui adalah kesombongan. Orang yang berilmu cenderung mengira dirinya sudah tahu segala, tapi tdk menjamin dirinya mendapat hidayah. Contoh terkenalnya ya Iblis laknatullah. Yang merasa lebih pintar, lebil alim dari Adam as., tapi malah menjadikannya dilaknat. merasa kebenaran hanyalah apa yang keluar dari mulutnya.

Tanpa akhlak, orang berilmu hanya akan menjadi hantu. Yang berarti tak jelas wujud dan manfaatnya. Jika ingin ilmu yang didapat bermanfaat maka cari dengan adabnya amalkan dengan adabnya juga. Karenanya, selalu lengkapi diri kita dengan akhlak, sebab hanya dengan cara itu, ilmu yang kita miliki dapat memberi kebaikan untuk diri sendiri dan orang lain. Jadikan pula akhlak sebagai ukuran dalam menilai keilmuan seseorang, jangan sampai kita terperosok dalam lubang kelam akibat salah memilih panutan.

Kesimpulannya,  bahwa anggapan bahwa adab itu tidak penting ternyata salah. Justru pentingnya memepelajari adab sebelum mempelajari ilmu agar  ilmu lebih nerkah, bermanfaat, jauh dari jebakan sombong dan takabur serta bernilai ibadah di hadapan Allah. Tak lupa senantiasa dalam perlindungan dan petunjuk Allah Swt.

Wallohu a'lam bishowab.


Jumat, 12 Februari 2021

Adakah Amalan Khusus di Bulan Rajab?


Marhaban ya Rajab...
Ditengah hiruk pikuk pandemi dan kabar -kabar yang terus berseliweran, banyak yang melupakan kalau satu bulan haram sudah datang. Ya, bulan Rajab, satu dari 4 bulan haram yang disucikan. Bulan dimana kita diharamkan berbuat aniaya, dosa-dosa besar terutama musyrik dan berbuay kerusakan. Bulan dimana kita diajak untuk memperbanyak amal shalih, memperkuat taat dan mendekat pada Allah Swt.

Menjelang masuknya Rajab, ada pertanyaan yang datangnya dari seorang sahabat. Tentang amalan khusus, tepatnya puasa sunnat bulan Rajab. Seketika otakpun berputar, mengumpulkan ingatan dan akhirnya menyerah. Ya, sependek ingatan saya tidak ada dalil kuat tentang puasa Rajab. Berbeda dengan dalil shaum sunnat Arafah, Assyura, atau Ayamul Bidh.

Memang, sebagaimana bulan Haram lainnya, maka kita dianjurkan untuk memperbanyak amal shalih. Memperbanya amaliah ibadah. Tapi bukan berarti di luar bulan haram kita boleh malas-malasan. Yang para shahabat dan ulama ingatkan adalah tidak boleh mengkhususkan suatu amalan tanpa ada dalil yang jelas. Jadi kalau mau memperbanyak amalan ibadah, silakan. Dengan menyuburkan amalan yang sudah biasa dilakukan.

Menurut Ust. Adi Hidayat dalam sebuah ceramahnya mengatakan, misal jika orang itu terbiasa puasa senin kamis, maka memasuki bulan Rajab mau ditambah dengan shaum Daud boleh, atau ditambah ayamul bidh juga boleh. Tapi jangan meniatkan shaum khusus karena di bulan rajab. Karenq perintahnya tidak ada.

Ya, ibadah memang harus ada dasarnya, harus ada perintahnya. Bukan kreatifitas, apalagi dasarnya suka-suka. Kalau dasarnya memperbanyak amal kebaikan, ya silahkan kerjakan amal shaleh yang bisa dilakukan. Misal tahajud jadi rutin, shadaqah jadi lebih sering, menolong sesama jadi agenda harian dan seterusnya.

Nah, menjawab pertanyaan sahabat tadi, saya pun menukil sebuah pendapat dari Imam Nawawi ( semoga Allah merahmati beliau ) yang menyatakan bahwa maksud hadist 'Rasulullah memperbanyak puasa di bulan Rajab' - Hadistnya diriwayatkan oelh Imam Muslim- adalah tidak ada larangan atau anjuran khusus untuk berpuasa di bulan Rajab. Hukumnya sama seperti puasa sunnat di bulan-bulan lainnya. Tidak ada landasan hukum larangan atau kesunnahan puasa rajab. Dasar hukumnya adalah sunnah seperti pada puasa sunnah yang sudah ada. Seperti puasa senin kamis, ayamul bidh dan puasa Daud.

Saya tegaskan lagi, bahwa sebaiknya perbanyak saja dari apa yang sering kita lakukan di bulan lainnya. Karena dasar hadianya juga seperti itu. Tidak dikhususkan ditanggal berapa atau hari apa. Ibn Abbas RA berkata:

 كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم حتى نقول لا يفطر ويفطر حتى نقول لا يصوم

“Rasul SAW berpuasa sampai-sampai kami mengatakan beliau tidak meninggalkan puasa (puasa terus), dan Rasul SAW tidak berpuasa sampai-sampai kami mengatakan beliau tidak berpuasa” [HR Muslim].

Jadi masih mau puas sunnat dibulan Rajab? silahkan niatkan seperti puasa sunnat biasa dan lakukan juga tanpa mengkhususkan tanggalnya atau hari atau bulannya. Demikian juga dengan amalan lainnya, seperti tahajut khusus atau shalat khusus. 


Wallahu a'lam bishowab



Minggu, 13 Desember 2020

Inspirasi Hari Ibu

Beberapa waktu lalu, setelah melihat sebuah iklan di televisi, dua bocah kecilku mulai membuat rencana. "Bang, ayo kita bikin kue atau pudding untuk hadiah pas Hari Ibu." usul si nomer 5.

"Ah, ya... seru kayaknya. Ayo." sambut saudaranya gembira. Lalu keduanya sibuk mereka-reka rencana yang tentu saja saat terdengar justru geli yang terasa.

"Ibu, apa kalau hari ibu kita harus kasih hadiah?" Bungsuku tampak penasaran.

"Tidak, sama seperti ulang tahun, kita juga tak diharuskan memberi hadiah atau kado."

"Trus kalo ada Hari Ibu, apa ada Hari Ayah, Hari Anak?" Kakak si bungsu ikutan berdiskusi.

Saya mengangguk. "Ada, hari ayah kalo tidak salah 12 November dan hari anak 23 Juli. Semua ada sejarahnya. Ada asal usulnya."

"Lalu apa sejarah Hari Ibu?" 

Saya terangkan sekilas tentang sejarah hari ibu dengan bekal setipis ingatan pelajaran sejarah. Intinya tentang pendidikan bagi kaum ibu. Terlepas dari kontek peringatannya di zaman now yang berubah menjadi hari mengenang kasih ibu. Ahh... rasanya sebagai seorang ibu saya juga senang kalau dalam satu tahun ada istilah cuti sesaat dari aktifitas domestik. Walau pada kenyataannya itu nonsens.

Berkaitan dengan pendidikan bagi kaum ibu, saya tercenung dengan pendapat seorang pujangga asal Kairo Mesir :

Sebagai sosok pertama yang akan ditanya  pertama kali oleh anaknya  dalam konteks apapun, seorang ibu memang dituntut memiliki keluasan wawasan dan ilmu. Di zaman ini di mana internet sudah masuk ke dalam rumah-rumah mestinya bisa menjadi jalan belajar lebih mudah bagi kaum ibu. Terlebih di musim BDR seperti ini, dimana peran guru diserahkan di pundak-pundak pada ibu. 

Saya yakin sekali, pendidikan itu tidak mesti di dapat di bangku sekolah atau kuliah. Seringnya pendidikan yang tinggi dengan gelar berderet-deret tidak menjamin seorang bisa menjadi pengajar apalagi pendidik. Yang marak sih, pendidikan tinggi malah melahirkan tuntutan untuk bekerja sebagai bukti ijazah yang sudah didapat.  Malah jadi pertanyaan saat anaknya lulus S1 atay S2 kerjanya ngurus anak saja, katanya sayang kuliah mahal...

Pendidikan bisa didapat dari taklim, belajar langsung dari ibu- bagaimana melaksanakan peran istri dan ibu- melalui sharing bahkan obrolan ringan antara ibu dengan anak. Seorang teman safar saya pernah mengungkapkan pendapatnya tentang suksesnya seorang ibu mendidik anak perempuannya adalah saat si anak menyadari dan melaksanakan tugasnya sebagai istri dan ibu yang baik. 

Saat mendengarnya saya terkekeh pelan, mengingat tahun-tahun pertama dalam rumah tangga. Seandainya tidak ingat menikah adalah ibadah, pastinya ego yang akan dimunculkan. Jika tidak ingat bahwa berumah tangga adalah atas nama Allah pasti akan main-main atau minimalnya tidak akan serius. Jika tidak mengingat ada pahala ada syurga, tidak pernah bersungguh-sungguh dalam memperbaiki diri.

Pendidikan seorang menjadi ibu bukan sekedar pada pekerjaan domestik seorang wanita saja. Mencuci bisa saja diserahkan ke loundry atau mesin cuci. Memasak bisa juga diganti oleh makanan warteg, warung padang dan warung-warung lainnya. Tapi lebih ke arah visi misi hidup itu sendiri. Bukankah berumah tangga adalah cara untuk membuat sebuah generasi yang berarti menjaga keberlangsungan kehidupan itu sendiri?

Mendidik seorang ibu dimulai dari mengenal diri di hadapan Sang Khaliq dan tugas-tugasnya berkaitan dengan makhluk. Agar ketika dituntut hormat pada suami, dia merasa Allah-lah yang menyuruhnya. Pun saat dia diminta taat, itu oun dalam rangka taat pada Allah. Sehingga saat mendidik anak pun yang pertama dikenalkan adalah Allah sebagai pemilik dan penguasa hidup. Sehingga saat merasa lelah menjalani proses mendidik anak yang panjangnya melebihi ular naga ( hahaha ya iya kalii ) akan bisa kembali meminta pertolongan dan bersandar pada-Nya.

Ahh... anggaplah saya terlalu serius, atau mungkin tidak suka something sweets seperti menunjukkan kasih sayang. Atau tipe kaku dan konservatif yang bau tanah. Karena  menjelang hari ibu saya terlalu serius memikirkan apa saya sudah menyiapkan anak -anak gadis saya menjadi ibu dari generasi yang bisa jadi lebih milenial dari yang sekarang. Ah... kalau terlalu berat senyumin saja, tidak perlu panggil Dylan untuk ikut menanggungnya 😅😅😅.