Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Maret 2023

4 Tipe Keluarga yang Harus Diperbaiki

Mau dibawa kemana keluarga kita?
Pernahkah kita bertanya atau saling menyatukan kepala dengan pasangan dan membahas hal ini?

Yang ideal pertanyaan ini topik ini dibahas di awal pernikahan. Setelah akad nikah, resepsi dan kedua mempelai bertemu, maka suami yang sudah diangkat jadi qawwam atau pemimpin rumah tangga menentukan visi misi keluarga. Namun yang ideal seringnya terlupa oleh romantisme awal menikah atau pengantin baru. Hingga berlalu bertahun-tahun dan saat terasa jenuh, baru mempertanyakan hal ini.

Jangan menjawab, biarkan saja seperti air mengalir. Karena selain menunjukkan sifat yang skeptis, harus juga disadari bahwa tidak semua air mengalir ke laut. Memang air akan mengalir di tempat yang lebih rendah, bisa ke sungai, ke irigasi, septitank,  bahkan tergenang dalam kubangan yang jadi tempat nyamuk berkembang biak. Artinya bisa jadi air itu akan berkumpul menyambangi tempat-tempat yang tidak bersih, tidak buruk secara manfaatnya.

Padahal seorang muslim harus punya visi hidup bermanfaat, baik untuk diri, keluarga maupun lingkungannya. Karenanya sebuah keluarga dibentuk maka tentukan roadmap atau peta yang akan dijalani. Bukankah rumahtangga itu layaknya kapal yang mengarungi samudra. Maka pasti butuh peta, kompas, nakhoda dan awak kapal.

Dan ini adalah tugas suami, sebagai qawwam. Seorang pemimpin harus memiliki visi misi yang jelas bagi keluarganya.  Dan visi misi ini harus diterima, dipahami dan didukung oleh istri dan anak-anak. Jadikan visi misi ini sebagai relation goals pasangan, sehingga kompak dalam menjalankan rumah tangga.  Sadari bahwa kekompakan ayah ibu adalah awal mula keberhasilan mendidik anak-anak.



4 Jenis Keluarga yang Sering Ditemui
Dalam sebuah kajian parenting, Ust. Bendri Jaisyurrahman, pernah menerangkan tentang tipe-tipe keluarga yang marak terlihat di sekitar kita, diantaranya :

Tipe Terminal
Layaknya terminal yang menjadi tempat berkumpul orang-orang yang akan pergi dengan tujuan berbeda. Seperti itu juga rumah atau keluarga tipe terminal. Tidak ada kesamaan visi misi antara penghuninya. Masing-masing bergerak menuju target tujuan yang akan dicapai. 
Terminal juga sering terkesan riuh penuh teriakan, hal itu mencirikan bahwa keluarga type terminal bukan berarti sepi dari obrolan atau komunikasi. Tapi semua hanya basa-basi, omongan yang tidak memiliki tujuan, tidak lama karena hanya mengisi kekosongan waktu. Tidak pernah ada rapat atau syuro, tidak serius dalam memutuskan persoalan. Keputusan yang ada biasanya dadakan dan terkesan tidak serius.

Misal saat akan memilih sekolah anak, maka dipilih secara sepihak dan biasanya terpaksa. Seperti keputusan memasukkan anak ke pesantren ketika tidak diterima di sekolah favorit atau pilihan pertama. Hingga yang ada bertambahnya barisan santri tragis,  bukan barisan santri idealis.

Keluarga Tipe Kuburan
Nah, sekarang kita banyangin kondisi kuburan yang hening, mencekam dan tidak membuat orang hidup betah.  Adalah gambaran keluarga yang minim komunikasi. Omongan hanya sedikit, tidak banyak, obrolan hanya satu arah tidak dialogis, dan tidak ada yang berani membantah. Keluarga seperti ini biasanya cenderung kaku, tegang dan tidak membuat nyaman yang tinggal di dalamnya.

Keluarga Tipe Rumah Sakit
Apapula ini? ya bayangin saja rumah sakit. Tempat dimana masing-masing bergerak karena ada kepentingan. Dokter dan perawat yang menjanjikan pelayanan perawatan kesehatan, sedang pasien yang berhajat untuk sehat dan sembuh.
Tipe keluarga seperti rumah sakit biasanya sering terdengar jasa-jasa dan pengaruh yang diungkit-ungkit. Orang tua merasa begitu berjasa dan menuntut anak untuk memberikan penghargaan dan penghormatan. Persis seperti tenaga medis yang merasa berperan besar dalam menyelamatkan pasien.

Keluarga Tipe Pabrik
Dalam sebuah pabrik yang dikejar adalah target-target. Yang dilakukan adalah kerja-kerja. Yang dibicarakan pun adalah upaya untuk mencapai target, hingga jika target tidak tercapai maka ada pemotongan gaji atau kompensasi lainnya.
Keluarga tipe pabrik adalah gambaran keluarga yang hanya mengejar keberhasilan secara fisik, atau materi. Dan saling menuntut hingga memberi beban pada anggotanya. Hal ini bisa mengakibatkan sikap egois, hilang empati, jauhnya rasa ingin menolong dan menilai segalanya dari segi materi. 


Bahaya Keluarga yang Tanpa Roadmap
Keluarga yang tidak punya visi misi pasti bergerarak secara random atau tanpa arah. Maka mudah bagi keluarga seperti ini untuk dibelokkan ke arah yanh tidak semestinya. Mestinya berkeluarga itu tidak hanya di dunia namun berkelanjutan ke syurga. Maka, berlakulah seperti orang-orang yang tersebut dalam QS. Al Qashsas ( 28 ): 77

وَابۡتَغِ فِيۡمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّارَ الۡاٰخِرَةَ‌ وَلَا تَنۡسَ نَصِيۡبَكَ مِنَ الدُّنۡيَا‌ وَاَحۡسِنۡ كَمَاۤ اَحۡسَنَ اللّٰهُ اِلَيۡكَ‌ وَلَا تَبۡغِ الۡـفَسَادَ فِى الۡاَرۡضِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الۡمُفۡسِدِيۡنَ

"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan."

Di ayat tersebut digambarkan bagaimana orang yang berorientasi akhirat, bukan sekedar dunia. Sehingga dia memanfaatkan dunia untuk beramal shalih, berbuat baik dan menjaga amanah-amanah Allah di muka bumi ini. Dan semua ini dimulai dari mengubah orientasi visi misi hidup ( berkeluarga ) ke arah akhirat ( sekeluarga di dunia dan di syurga ). Jika banyak orang yang mencari dunia dan tidak melupakan akhirat, bagi yang orientasinya sehidup sesyurga pasti akan fokus mencari kejayaan akhirat sedang dunia hanya selingan. Jangan dibalik yaa...

Keluarga Ideal dalam Al Qur'an
Dalam QS. Ali Imran : 33 disebutkan dua keluarga ideal yang bisa dijadikan teladan. Yaitu, keluarga dari kalangan nabi , keluarga Ibrahim as. Serta keluarga dari kalangan biasa, yaitu keluarga imran. 
Dari dua keluarga mulia ini, bisa diambil hikmah adalah sama-sama orientasinya akhirat. Begitupun dalam mendidik keturunannya. Sehingga kita mengenal Ibrahim as., sebagai abul anbiya bapaknya para nabi, dan keluarga Imran yang derajatnya terus naik karena melahirkan perempuan terbaik sekelas Maryam binti Imran dan laki-laki sekelas nabi yaitu Isa putra Maryam. 

Persamaan kedua adalah, dua-duanya selalu menempatkan ridha Allah sebagai yang utama. Sehingga walau diharuskan hidup dalam kondisi jauh dari nyaman apalagi ideal, mau mau saja asal Allah Ridha. Seperti yang dikatakan Hajar, seperi sikap Hannah ibunda Maryam dan Maryam sendiri.

persamaan ke 3 adalah diberi rezeki dari arah tak disangka dan tanpa perhitungan. Apa yang diminta langsung dihadirkan. Layaknya Hajar yang mendapat anugerah mata air zam zam nan berkah, juga Maryam yang mendapat buah-buahan dari langit  di meja makannya. MasyaaAllah tabarrakallah

Nah, semoga kita bisa meneladani keluarga yang sudah terbukti diridhai dan dicintai Allah Ta'ala. Wallahu a'lam bishowab.***


Jumat, 29 Juli 2022

Hati yang Mati, Penyebab Doa Tak Terkabul Yang Jarang Diketahui


Doa adalah senjata terkuat orang beriman. Allah Ta'ala bahkan berjanji dalam Al Qur'an mengabulkan setiap permintaan hambaNya. Seperti yang terdapat dalam  QS. Al Ghafir (40) : 60, yang berbunyi : " Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aki perkenankan bagimu." 

Namun nyatanya banyak juga yang mengeluh doanya tak terwujud. Dan lupa untuk melihat apa syarat dan ketentuan agar doa terkabul. Seperti sudah diketahui, doa akan terkabul jika dilakukan dengan penuh keyakinan, hati bersih, iman yang lurus serta jauh dari kemaksiatan. Termasuk terhindar dari makanan yang tidak halal. 

Nah, ada satu penyebab doa tak terkabul menurut ulama adalah hati yang mati. Berikut kisahnya :

Syaqiq al-Balkhi mengisahkan, suatu ketika Ibrahim bin Adham jalan-jalan di Pasar Bashrah. Sekonyong-konyong, mendekatlah orang-orang. Lalu, mengelilinginya. Mereka bertanya kepadanya, "Apa maksud firman Allah, berdoalah kamu kepada-Ku niscaya Aku akan perkenankan doamu." (QS Ghafir [40] : 60 )

Mereka berkata, "Kami sebenarnya telah berdoa, namun setidaknya hingga hari ini tak kunjung dikabulkan Allah." Ibrahim berkata, "Karena kalian mati hati. Maka, bagaimana doa kalian akan dikabulkan?"


Mereka bertanya lagi, "Mengapa kami dikatakan mati hati?" Ibrahim menjawab, "Terdapat 10 perkara yang menyebabkan mati hati". Kemudian dia sebutkan satu per satu secara berurutan.

Pertama, kalian mengaku mengetahui Allah sebagai pencipta kalian tetapi kalian tidak menunaikan hak-hak-Nya. Allah berhak ditaati perintah-Nya. Mengapa, perintah-Nya itu kadang-kadang dilaksanakan dan kadang-kadang tidak dilaksanakan?

Kedua, kalian membaca kitab Allah, tetapi kalian tidak mengamalkan isinya. Allah memerintahkan agar menyembah Allah semata tanpa menyekutukan-Nya. Mengapa, Allah (langsung atau tidak langsung) kerap disekutukan dengan selain-Nya? 

Ketiga, kalian mengaku memusuhi setan, tetapi kalian mengikuti perintahnya. Allah melarang mengikuti langkah-langkah setan. Mengapa langkah-langkah setan itulah yang kerap dijadikan rujukan dalam kehidupan sehari-hari?

Keempat, kalian mengaku mencintai Rasulullah SAW, tetapi kalian meninggalkan sunahnya. Rasulullah SAW menjelaskan, orang yang memelihara anak yatim akan mendapat tempat istimewa di surga. Mengapa, tidak sedikit orang yang membiarkan anak yatim tanpa masa depan cerah?

Kelima, kalian mengaku mendambakan surga, tetapi kalian tidak mengerjakan hal-hal yang akan mengantarkan kalian masuk ke dalamnya. Mendirikan shalat dengan khusyuk, mengeluarkan zakat, menjaga kemaluan adalah sebagian kecil contoh-contohnya. Mengapa, tidak sedikit orang yang melalaikannya?

Keenam, kalian mengaku takut neraka, tetapi kalian tidak menghindari perbuatan dosa/maksiat. Misalnya, Allah melarang keras perbuatan zalim. Mengapa, banyak orang yang merasa dizalimi sesamanya?

Ketujuh, kalian mengaku kematian itu niscaya datangnya, tetapi kalian tidak bersiap-siap menghadapinya. Contohnya, Allah menjelaskan di akhirat setiap orang akan dibalas sesuai dengan amalnya masing-masing. Mengapa, banyak orang yang tidak sungguh-sungguh mengerjakan amal saleh semasa hidupnya?

Kedelapan, kalian sibuk mempersoalkan cela, kekurangan, dan kesalahan orang lain sementara kalian abai terhadap cela, kekurangan, dan kesalahan diri kalian sendiri. Allah melarang keras membuka aib orang lain. Mengapa, masih banyak orang tidak menghiraukan larangan tersebut?

Kesembilan, kalian mendapatkan rezeki dari Allah, tetapi kalian lupa bersyukur kepada-Nya. Allah menitipkan harta yang banyak. Mengapa, tidak sedikit orang yang mengklaim harta itu miliknya sendiri? Lalu, mereka tidak mau berbagi dengan orang lain.

Ke-10, kalian mengebumikan jenazah saudara kalian, tetapi kalian tidak mengambil pelajaran darinya. Allah menyatakan, "Setiap yang bernyawa niscaya bakal merasakan kematian." Mengapa banyak orang yang seakan-akan tidak memercayainya? 

Ibrahnya jagalah hati jangan sampai mati. Hati itu adalah organ dari manusia yang sangat penting. Yang jika baik hatinya maka baik juga seluruh diri dan hidup orang tersebut. Dan jika seluruh hajat kita ingin dipenuhi maka hidupkan hati dengan melaksanakan apa-apa yang dicintai Allah dan meneladani Rasulullqh SAW.

Wallahu a'lam.
Sumber:  REPUBLIKA.CO.ID

Minggu, 22 Mei 2022

Perumpamaan Dunia dalam Al Qur'an


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, semoga keselamatan senantiasa tercurah pada kita, aamiin

Hari ini kita akan mencoba tadabbur ayat Al Qur'an ya men temen. Ceritanya pagi hari saya diingatkan sebuah notifikasi dari channel youtube yang saya ikuti. Sebuah masjid yang cukup banyak melahirkan banyak program keren seperti Kelas Kisah Nabi yang sudah saya diikuti dari tahun kemarin. Itu pun saya mulai sudah masbuk, sudah sampai kisah Nabi Musa. Tapi gak papa, better late than never hehehe.

Tapi bukan kelas itu yang saya ingin ceritakan, tapi tentang video pendek yang menarik minat di bagian short video. Dari judulnya saja sudah menarik, perumpamaan dunia apalagi ketika kita menyimaknya. Yuk ikuti...

Dalam QS. Al Kahfi : 45, Allah SWT menjelaskan tentang perumpamaan dunia. Yaitu seperti air hujan, yang bisa menghidupkan dan menyuburkan tanah yang kering. Nah, hujan itu jika turun dalam intensitas yang pas maka akan sangat bermanfaat baik bagi manusia, tumbuhan dan hewan. Sebaliknya jika berlebih maka yang terjadi bisa malah bencana, seperti banjir bandang. Jika kurang pun akan menyebabkan kekeringan. 

Demikian juga dengan dunia, saat yang datang ke kita pas dan yang menerima juga adalah orang yang tepat maka akan sangay bermanfaay. Bahkan mendatangkan keberkahan ( kebaikan ) berlipay baik bagi dirinya maupun orang sekitanya. Misal, harta kekayaan yang diterima sahabat Ustman bin Affan ra., maupun Abdurrahman bin Auf ra., jumlahnya pas dengan usaha keduanya. Dan karena yang menerima sekualitas Ustman dan Abdurrahman, maka manfaat harta keduanya dirasakan oleh ummat Islam. Harta keduanya bahkan berefek bukan hanya di dunia tapi mengalir sampai akhirat, masyaaAllah Tabarrrakallah...

Namun contoh lain juga ada, orang yang diberi harta berlimpah tapi malah menjadi bencana buat dirinya, seperti Tsalabah dan Qarun. Dikisahkan keduanya awalnya adalah hamba Allah yang rajin beribadah. Dalam Kelas Kisah Nabi , Qarun dikisahkan sebagai seorang ahli Baitul Maqdis yang taat. Kesamaan lainnya, keduanya sama-sama minim dalam urusan harta. Hingga Allah datangkan harta berlebih dan tidak ada yang selamat dari keduanya. Qarun mati tertimbun harta -hartanya dan Tsa'labah zakatnya tidak diterima, nauzubillah.

Harta yang sedikit sering kali dianggap ujian sementra harta yang banyak tidak. Padahal sama saja, kedua-duanya adalah ujian. Contoh Mus'aib bin Umair ra., ketika belum masuk Islam adalah pemuda yang tampil trendi dan berasal dari kalangan bangsawan lagi hartawan. Nyatanya setelah masuk Islam, dia menjadi sosok yang sangat sederhana, bahkan saat gugur di medan perang pun tidak ada kain yang kayak menutupi badannya. Kalau diangkat ke bagian kepala terlihat kakinya pun sebaliknya, subhanallah...

Menempatkan Dunia Sesuai Karakteristiknya


Jika dunia dianggap seperti air maka kita bisa menempatkan sesuai karakteristiknya. Ibarat sedang berlayar menempuh samudra kehidupan maka kita akan selamat sampai tujuan selama air ada di bawah telapak kaki kita. Sebaliknya kita tidak akan pernah sampai ke tujuan akhir yang diinginkan jika air berada di atas kita. Karena saat itu terjadi berarti kita tenggelam. 

Maka begitulah memperlakukan dunia. Letakkan dia dibawah kaki kita artinya kita yang berkuasa atas dunia itu. Bukan sebaliknya bukan diatas kepala yang artinya hidup kita dikuasai dan diatur oleh harta duniawi. 

So.... tidak ada larangan orang Islam jadi orang kaya. Tapi jadilah orang kaya yang baik yang dicintai oleh Allah Swt. Tidak ada larangan juga menikmati dunia, asal tetap dalam koridor ibadah bukan dalam rangka mengikuti hawa nafsu atau trend semata. Apalagi sampai terlena dan tenggelam didalamnya. 

Allahu Akbar, begitu indah cara Allah membuat perumpamaan dan menjelaskan pada hambanya. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dimudahkan menerima hidayahNya aamiin ya Rabbal 'alamiin...

Wallahu 'alam bishowab 
Semoga bermanfaat

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jumat, 20 Mei 2022

Mengingat Mudik Sejati Dari Fenomena Mudik Idul Fitri


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, semoga kesejahteraan dan keselamatan tercurah untuk kita semua.

Bada tahmid dan shalawat..
Bagaimana kabar teman-teman semua, mumpung masih Syawal, saya mengucapkan Taqabbalallahu minna wa minkim shiyaamana wa shiyaamakum, minal aidzin wal faidzin. 

Satu yang paling terlihat di Idul Fitri kali ini adalah gelombang mudik besar-besaran. Setelah hampir 2 tahun adanya pembatasan karena pandemi covid, maka tahun ini kaum muslimin mendapat kesempatan untuk mudik kembali. Alhasil semua memanfaatkan, bukan hanya dari umat Islam tapi juga dari kalangan non Islam yang bisa jadi memanfaatkan untuk liburan kumpul dengan keluarga besar dan reuni dengan teman-teman.

Alhamdulillah, setelah 2 kali Lebaran tidak pulang tahun ini diberi kesempatan dan rezeki untuk bisa silaturrahmi lagi dengan orang tua, keluarga dan handai tolan di kampung. Anak-anak jelas yang paling hepi sih, karena mereka sudah membayangkan dapat salam tempel setelah 2 tahun krisis THR 😂😂😂. Ditambah mereka sudah kangen berat sama Mbah uti nya, satu-satunya orang tua yang masih ada di tengah-tengah kami.

Namun, saya dan suami juga wanti-wanti ke anak-anak, agar tidak salah niat pas mudik. Bisa-bisa kecewa kalau terlalu tinggi ekspektasi. Berharap dapat THR berlimpah tahunya zonk, sakitnya tuh tak berdarah lho...🤭. Pak suami malah menyiapkan sedikit wejangan untik disampaikan saat kumpul keluarga besar nanti. Intinya mengingatkan agar Lebaran itu bukan bubaran ( dari aktifitas ibadah di Ramadhan ), serta mengingatkan tentang mudik yang sejati.

Ya, kita semua akan 'mudik'  pada waktunya, ke kampung halaman asal kita. akhirat tepatnya syurga karena pertama kali Adam dan Hawa diciptakan lalu ditempatkan di Syurga.

Namun sedikit yang menyadari hal ini, bahkan banyak yang lupa. Sampai terlena dan terlalu betah hidup di dunia. Ya, kali ada manusia yang hidup abadi. Umur manusia jaman now itu ( Umat Rasulullah ) batasnya 63-70 tahunan. Itupun banyal yang enggak sampai. Banyak yang meninggal padahal masih muda, produktif lagi. Tapi kalau quota usia dah usai, kita bisa apa?

Fenomena Mudik
Mudik atau pulang kampung dari dulu punya makna yang sama. Yaitu kegiatan dimana manusia bergerak kembali ke tempat asal. Karena kebanyakan manusia urban asalnya dari kampung atau udik jadilah istilah pulang kampung atau mudik.

Setiap orang yang mudik pasti mereka melakukan persiapan. Bukan hanya tiket perjalanan, kendaraan, kesehatan, bekal selama di perjalanan juga jangan lupa oleh-oleh. Ada juga yang mempersiapkan penampilan, minimalnya bisa dipamerin ke keluarga di kampung kalau kesuksesan sudah diraih dengan tampilan trendy, glowing, bling-bling dan sejahtera ( bahasa halusnya kaya ).

Aktifitas yang dilakukan seputar mudik juga gak jauh-jauh dari holiday. Silaturahmi mah sebentar, liburannya yang gak kelar-kelar  Maka antrian macet pun pindah dari kota ke kampung, dari mall ke tempat wisata bahkan kuburan. Mirisnya tak terlihat sisa-sisa beramal di Ramadhan. Buktinya berburu kuliner jadi agenda wajib saat mudik, padahal baru beberapa hari berea menahan lapar dan haus, tapi gak ada efeknya sama sekali.

Mudik yang seperi ini biasanya hanya menghasilkan kerugian. Kesenangan bisa jadi dapay tapi beres itu apa yang didapat, hanya hati yang kosong dan malas beribadah. Naudzubillah kalau sampai jatuh sakit dan menghambat aktifitas.

Nah, agar tidak sampai kejadian seperti itu maka niatkan mudik memang untuk silaturahmi, untuk birrulwalidain, untuk mendapatkan ridha Ilahi. Hindari aifat6 berlebih-lebihan dalam hal apapun, karena itu adalah jebakan syaitan. ingat dan jaga terus apa yang kemarin diupayakan di Ramadhan, jangan dibubarkan apalagi dihilangkan kebiasaan baik itu. Karena yang ada nanti kebiasaan buruk yang merajalela.

Jika dapat uang THR, gunakan untuk hal yang bermanfaat. Jajan boleh tapi ingay jangan berlebihan. Syaitan itu tempatnya di perut yang penuh artinya yang selalu diisi dan dituruti keinginannya. Meski anak-anak dalam masa pertumbuhan pun saya tetap kasih 'rem' kalau urusan perut. Karena bukan hanya badan yang harus dibangun, tapi ada jiwa dan ruhani yang harus dibangun juga. Jadi kudu seimbang.

Mudik Yang Sejati
Dalam QS. Al Fajar : 27-30 jelas-jelas Allah menjelaskan tentang kampung halaman yang sejati yaitu syurga. Allah memanggil orang-orang yang sadar kampung halaman syuga itu dengan panggilan orang-orang yang berjiwa tenang ( nafsul mutmainnah ). Tenang disini bukan diam tapi lebih ke menunjukkan level keimanan dan kejiwaan seseorang. Bahwa orang yang memiliki jiwa yang tenang pasti imannya juga manteng ke Allah dengan kuat serta melakukan apapun berdasarkan tuntunan dari Al Qur'an dan Hadist Nabi.

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ࣖࣖ

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." QS. Al-Fajr [89]: 27-30

Dalam kitab Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani al-Tanzil, Al-Baghdadi ‎menjelaskan bahwa makna al-nafs al-muthmainnah adalah jiwa yang tetap ‎pada keimanan dan keyakinan, membenarkan firman Allah, meyakini bahwa ‎Allah adalah Tuhannya, tunduk serta taat kepada perintah Allah, ridla dengan ‎ketetapan (qadla) serta takdir (qadar) Allah, yang selamat dari adzab Allah, ‎yang selalu tenang dan damai dengan terus berdzikir kepada Allah.‎

Jiwa yang demikian inilah yang kelak ketika kembali kepada Allah akan ‎disambut dengan sapaan mesra: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada ‎Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam ‎jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku.”

Ibrahnya, jika untuk mudik pas Lebaran saja kita penuh dengan persiapan ini itu, apa kabar dengan mudik yang sejati. Pastinya harus lebih bersiap, dengan persiapan amal terbaik. Jangan sampai merugi, karena kalau mudik sejati tidak akan bisa balik lagi ke dunia. Tiketnya cuma sekali jalan, nah lho... 

Terus kalau tanpa persiapan kita mau mudik kemana? Karena hanya ada dua tempat di akhirat sana, kalau gak kembali ke syurga dengan disambut salam oleh para malaikat penjaganya. Ya, bakalan masuk neraka dengan seluruh hardikan, bentakan dan ancaman dari malaikat penjaganya juga, naudzubillah...

So, mumpung masih diberi waktu hidup yuk kita bersiap. Kalau kata Ust. Evi E, sih kalau utusan mudik sejati mah bukan pakai nomer antri, tapi nomer dudut. Random, yang muda bisa duluan dari yang tua. Yang sehat bisa lebih dulu ketemu ajal dari pada yang sakit-sakitan. Makanya bersiap-bersiap dengan amal terbaik, dengan amal istimewa yang dipersiapkan di dunia ini.

Wallahu'alam bishowab.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sabtu, 26 Februari 2022

Ada Apa Dengan Adzan?


Beberapa hari ini masyarakat sedang dihebohkan dengan polemik adzan. Lagi-lagi adzan dianggap menganggu, apalagi kalau pake toa atau pengeras suara. Sampai tega-teganya menganalogikan adzan dengan gonggongan anjing. 

Kalau yang mengatakan itu adalah orang biasa, dan bukan berstatus muslim ( walau hanya di KTP ) mungkin bisa dianggap lahir dari rasa terganggu. Karena bisa jadi penempatan toa yang ke arah huniannya hingga saat adzan terdengar dalam volume maksimum. Ya, walapun di kenyataan jarang sih orang non muslim yang rumahnya nempel atau deketan dengan masjid atau mushola juga, yee kan...?

Tapi ini yang bilang petinggi kementrian agama. Kan jadi bahan pertanyaan, ada apa dengan adzan sebenarnya, ada apa dengan yang bersangkutan?

Padahal adzan ya dari zaman dulu seoerti itu, disebar pakai pengeras suara juga sudah hal yang lazim. Sejak tahun 1973 memang sudah dijadikan budaya kalau masjid itu dilengkapi toa atau pengeras suara untuk keperluan adzan. Pro dan kontra tetap ada,  tapi biasanya dari non muslim tapi itu pun tidak pernah menghasilkan polemik. Karena bisa dibicarakan teknisnya.

Sementara tentang yang mengeluarkan polemik, mungkin kita harus mengingat kembali apa yang dikatakan Ibnu Qayyim rahimahullah.


Seperti diketahui bahwa dalam manusia ada satu bagian tubuh yang sangat penting. Yang jika bagian itu bagus maka baguslah seluruhnya. Sebaliknya jika bagian itu busuk maka buruklah semunya. Dan bagian penting itu adalah hati.

Perkataan ulama yang lain, lisan itu ibarat gayung dan hati itu ibarat bejana. Apa yang diambil dari bejana dengan gayung tersebut pasti sama. Kalau lah bejana ini  berisi keimanan maka isi dari gayungnya keimanan. Pun sebaliknya jika isinya kemunafikan, isi gayungnya pun sama.
Memang lisan itu anggota tubuh yang paling ringan digerakkan, bisa jadi amal shalih bisa juga sebaliknya jadi amal shalah. Maka jagalah lisan kita karena hisabnya berat. Jangan sampai menjadi orang yang merugi karena merasa sudah beramal banyak sampai haji segala, tapi semua hancur karena amalan lisan yang menebar fitnah perpecahan dalam ummat.

Karena fitnah itu sangat berat bahkan lebih dari pembunuhan. Yaitu fitnah yang berbentuk segala upaya memadamkan cahaya agama Allah Swt.

Semoga kita terhindar dari hal yang demikian, aamiin Allahumma aamiin...

Jumat, 28 Januari 2022

Majelis Jejak Nabi Hadir Lagi


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Ba'da tahmid dan shalawat,
Alhamdulillah, kesempatan untuk mengkaji jejak nabi terbuka lagi. Masih dengan narasumber Ust. Salim A Fillah, kita siap dibawa untuk menelusuri jejak-jejak Nabi Muhammad Saw. 

Berawal dari postingan di IG, tentang Majelis Jejak Nabi. Hati semangat sekali untuk mengikuti. Kemudian ijinlah pada pak suami dan Alhamdulillah dapat lampu hijau. Bahkan beliau mendukung dengan berinfaq, jazakallah khair Mas Bro.

Episode 1 Keutamaan Mempelajari Sirah
Mempelajari jejak Nabi, harus tahu dulu apa yang ingin didapat. Karenanya harus tahu keutamaan mempelajari sirah Nabi Muhammad Saw. Sebenarnya ada 8 keutamaan, tapi episode kemarin ( Kamis, 27 Januari 2022 ) baru membahas 3 keutamaan. Apa saja itu, lanjut yaa...

1. Lisan Kita Terbiasa Bershalawat 
Mempelajari sirah Nabi, maka kita akan sering bertemu nama Rasulullah Muhammad Saw, dan itu akan membuat kita makin sering bershalawat kepada beliau. Apa sih fadilah bershalawat? Dalam sebuah hadist diterangkan bahwa shalawat itu akan mengampuni dosa dab memenuhi hajat-hajatnya. 

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda, bahwa sekali bershalawat kepada beliau , Allah akan bershalawat kepada kita 10 kali lipat. 

2. Mengetahui Uswatun Hasanah
Setiap manusia siapapun itu pasti butuh teladan, role model, contoh. Bahkan sebelum banyak manusia, Allah mengirimkan hewan untuk memberi contoh pada manusia. Seperti dalam kisah Habil dan Qabil.

QS. 33 : 21 ayat ini turun dalam perang Ahzab / perang Khandaq ( Tahun ke 5 Hijriyah ). Dalam perang ini Kaum Musyrikin Quraisy berhasil membuat aliansi dengan sekutu mereka termasuk Kaum Yahudi di Madinah hingg terkumpul kurang lebaih 12.000 pasukan. Itu adalah jumlah yang sangat. 

Mengingat Arab itu penduduknya sedikit - kata Arab artinya kosong- jumlah 300 saja dulu nenunjukkan sangat banyak. Sehingga saat menghadapi pasukan 12.000, Rasulullah Saw., meminta pendapat para sahabat startegi yang tepat. Karena untuk berperang menghadapi perang terbuka, kota Madinah bisa luluh lantak.

Salman Al Farisi mengusulkan untuk membuat parit ( Khandaq dalam bahasa Parsi, Uhdud dalam bahasa Arab ) dengan lebar 3-5 meter dan dalam 2 meter. Dan saat membuat khandaq Allah menurunkan kabar kemenangan ummat Islam, dengan tamsil bahkan Romawi saja akan dikuasai ummat Muhammad Saw.

Meskipun ayat ini turun di Madinah, aslinya Rasulullah Saw., sudah menjadi teladan sejak di Mekkah. Bahkan sebelum jadi Nabi pun, Rasulullah Muhamamd Saw., sudah dijadikan teladan, panutan masyarakatnya.Tapi lewat ayat ini Allah ingin menunjukkan bahwa puncak keteladanan atau Uswatun hasanah beliau adalah saat menjadi pemimpin. Dan itu terlihat di Perang Khandaq dengan seluruh kisah-kisah yang mengiringi perang tersebut. Dimulai dari makanan yang sedikit tapi mencukupi seluruh pasukan, kemampuan beliau menahan lapar lebih dari ummatnya dan lain sebagainya.

Imam Ahmad pernah berkata , "Seorang laki-laki itu sama saja sampai guncang terjadi, barulah akan terlihat mana yang permata mana uang batu kali."

Uswatun hasanah dalam diri Rasulullah Saw., bisa diambil siapa saja sesuai profesinya. Selama dia meneladani 4 sifat nabi, insyaallah sukses. Asal shiddiq ( jujur, bisa dipercaya ), amanah ( capable, sanggup memenuhi apa yang ditanggungnya ), tabligh ( komunikatif, gampang dihubungi), Fatonah ( cerdas inovatif ).

Tapi yang akan mendapat manfaat dunia akhirat sesuai dengan ayat 33: 21 adalah :
a. Berharap berjumpa dengan Allah ( beriman).
b. Berharap bertemu hari akhir ( banyak beramal shalih )
c. Berdzikir ( cinta pada Allah )

Ada 2 cara meneladani Rasulullah Saw.
a. Ta'abudi  mengikuti apapun yang dilakukan oleh Rasulullah. Contoh Ibnu Umar ra., pernah melihat Rasulullah Saw., melewati sebuah pohon dan memiringkan kepalanya. Maka setiap melewati pohon itu Ibnu Umar ra pun ikut memiringkan kepalanya.

b. Ta'akuli yaitu mengikuti Rasulullah meski tak sama bentuk ( misal pakaian tidak sama ) diniatkan untuk ibadah. Misal memakai pakaian untuk menutup aurat dan ibadah, meski tidak sana dengan yang dipakai oleh Rasul.

3. Cinta kepada Allah Swt.
Dari mengenal sirah Rasulullah Saw., kita akan mendapatkan cinta Allah dan pada hal yang mendekatkan kepada cinta Allah.
3: 31 yaitu dengan i'tiba. I'tiba itu mudah karena ada kaidah-kaidah yang jelas. seperti dalam :
a. Beragama maka ingatlah Allah tidak menginginkan kesulitan tapi kemudahan bagimu. Jadi dalam menjalankan agama jangan dipersulit, permudah saja.

b. Beribadah maka hukumnya adalah segala sesuatu awalnya haram , dan jadi halal setelah ada perintah. Maka ibadah itu cukup yang ada perintahnya saja, sedikit, gak perlu membuat acara inadah baru, gak perlu ditambah-tambahi.

c. Muamalah kaidahnya semuanya itu halal kecuali yang ada dalil haramnya. yang haram lebih sedikit dari yang halal.

Wallahu a'lam bishowab
Semoga bermanfaat 
 

Rabu, 08 Desember 2021

Ibrah Dakwah Nabi Ilyas as., pada Kaum Funicia

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....

Alhamdulillah wa syukurillah,  akhirnya kelas kisah nabi sampai juga ke Nabi Ilyas alaihissalam. Setelah dibawa ke dunia fantasi tapi nyata di kisah Nabi Sulaiman as., sekarang kita kembali kepada nabi dari Bani Israil yang silsilahnya akan bertemu pada Nabi Harun as.

Nabi Ilyas secara nasab ada beberapa pendapat tapi semuanya bertemu pada Nabi Harun bin Imran. Pendapat pertama Ilyas bin Yasin bin Fanhash bin Aizar bin Harun. Pendapat kedua adalah Ilyas bin Azir bin Aizar bin Harun bin Imran. 

Berdasar QS. As Shaffat : 123-132, Nabi Ilyas as., diutus pada kaum Funicia (  Ba'labak ) yang berada di sebelah barat Damaskus. Kaum ini menyembah patung Ba'al. Nah, ada beberapa pendapat juga nih tentang Ba'al ini. Ada yang menyebutnya sebagai sebagai patung wanita, tapi pendapat lain Ba'al itu awalnya adalah orang shalih yang doanya selalu dikabulkan oleh Allah Swt. karena menjaga apa-apa yang dimakan, dan dikenakannya halal, baik secara fisik maupun cara mendapatkannya. 

Sepintas mirip-mirip kisah Bal'am ya... wallahu a'lam bishowab. Lanjut saja ya men temen. Kita ambil dari pendapat kedua ini ya, yang menyatakan Ba'al dulunya adalah orang yang sangat shalih. Nah, setelah Ba'al ini meninggal, orang yang mengaguminya merasa kehilangan lalu mulai membuat benda-benda yang awalnya sebagai obat rindu. Lama-lama oleh generasi selanjutnya malah disembah, dipuja, dipinta layaknya  tuhan.

Nah, ibrah dari kisah Ba'al ini, sekagum apapun, sesuka apapun, secinta apapun kita pada idola jangan sampai membuat lukisan atau patung untuk mengenangnya. Kalau mau cukup kenang dengan doa dan ikuti perilaku shalihnya oke...


Dakwah lama tak mendapat pengikut
Nah, ternyata bukan hanya Nabi Nuh as., yang lama berdakwah dengan hasil sedikit. Begitupula dengan Nabi Ilyas. Terlebih di masa Baklabah 1. Di masa penguasa ini, gerak dakwah Nabi Ilyas betul-betul sulit. Ancaman demi ancaman diberikan hingga orang-orang yang simpatik terhadap dakwah Nabi ilyas pun tidak berani muncul. Bahkan keselamatan Nabi Ilyas dipertaruhkan.

Raja Baklabah 1 tak segan-segan menyuruh pasukannya untuk mengepung rumah Ilyas as. Setelah dikepung rencananya akan dibakar hingga bangunan dan penghuninya hancur. Rencana ini diketahui oleh Allah Swt., dan Jilbab menyelamatkan Ilyas as. dengan cara mengeluarkan beliau ketika hari masih sore.

Dalam perjalanan bertemu dengan sepasang suami istri yang memiliki seorang anak ( berusia sekitar 7-9 tahun ) yang sedang sakit. Nabi Ilyas menawarkan mendoakan kesembuhan si anak. Atas ijin Allah Swt.,  anak itu sembuh dan diminta oleh Nabi Ilyas untuk diangkat jadi muridnya dan berganti nama menjadi Ilyasa.

Menyiapkan Generasi Penerus ( Ilyasa )
Dalam kisah Nabi Ilyas as., tidak ditemukan dasar hadist riwayat tentang penikahan atau rumah tangga beliau. Tapi ada tokoh Ilyasa yang kelak menjadi nabi dan rasul juga yang merupakan kadernya, atau penerus misi hidupnya sebagai nabi dan rasulnya Allah Swt.

Nabi Ilyas kembali ke negeri Baklabah dan bersembunyi di Gunung Kasium. Di Gunung ini, Nabi Ilyas dan Ilyasa ( waktu itu belum jadi nabi ) tinggal di sebuah gua selama 10 tahun. Nabi Ilyas mendidik Ilyasa seluruh ajaran kenabiannya baik secara teori maupun praktek.

Ada satu rahasia dari angka 10. Jadi untuk menjadi ahli, maka belajarlah selama 10 tahun, dan itu sudah dibuktikan oleh para nabi. Masih ingat kan Nabi Musa membayar mahar dengan mengembalakan kambing Nabi Syuaib selama 10 tahun ( awalnya 8 tahun lalu disempurnakan menjadi 10 tahun). Ingat juga kisah Daud as., yang belajar ketapel sejak usia 6 tahun, dan melawan Jalut saat usianya 16 tahun. Dan kini Nabi Ilyas mendidik Ilyasa pun selama 10 tahun.

Dakwah menghasilkan 10 ribu pengikut
Setelah 10 tahun, Nabi Ilyasa turun gunung dan kembali melakukan dakwah dibantu oleh sang murid. Negeri Funicia sudah berganti raja yaitu Baklabah II, yang tidak tahu atau tidak mengenal siapa itu Nabi Ilyas. Inilah yang membuata dakwah Nabi Ilyas diterima tanpa banyak hambatan hingga ummat mencapai angka 10 ribu orang.

Oleh orang-orang pengikut setia ayahnya ( Baklabah 1 ), Raja Baklabah II diprovokasi untuk kembali menangkap Nabi Ilyas. Pengikutnya juga ditakut-takuti, diancam agar kembali murtad. Tapi masyaa Allah, para muallaf ini tidak ada satupun yang murtad walau harus menghadapi ancaman pancung dari prajurit raja.

Melihat kondisi ini, ada kebanggaan dan kebahagiaan pada Nabi Ilyas. Bangga dan bahagia karena kekuatan iman kaumnya. Tapi dilain sisi beliau juga memikirkan keberlangsungan dakwah ini, hingga memutuskan untuk menyerahkan diri. Sedangkan Ilyasa tetap di gua di gunung Kasium.

Nabi Ilyas diselamatkan oleh Jilbril sebelum dipancung dan dibawa ke langit. Tidak ada riwayat yang menjelaskan langit ke berapa. Tapi tidak membenarkan juga kalau sekarang Nabi Ilyas masih hidup. Nabi Ilyas sudah diangkat oleh Allah ke langit, itu saja.

Ibrah yang bisa dipetik, seorang guru yang hebat adalah guru yang menyiapkan penggantinya.Agar ilmunya tetap bisa diajarkan dan menjadi bermanfaat untuk ummat. Seorang Dai yang hebat jangan hanya bisa orasi, tapi catatlah dalam sebuah buku atau kitab yang bisa dibaca ummat yang bahkan tidak akan bertemu dengannya.

Siapkan lah penerus dakwah yang terbaik yang bisa berorasi juga bisa menulis sebuah kitab atau buku. Wallahu a'lam bishowab.

Sumber :
Kishashul Anbiya Ibnu Katsir
Kelas Kisah Nabi by Muslim United ( Ust. Pago Herdian )

Selasa, 16 November 2021

Pemuda Harapan Sesuai Al Qur'an


Assalamu'alaikum Men temen, semoga tetap dalam kondisi sehat dan terus semangat...

Bismillahirrahmanirrahim
Tanggal 28 Oktober kemarin, kita kembali diingatkan pada moment Hari Sumpah Pemuda. Moment dimana kita diminta untuk mengingat kembali pada fase hidup sebagai pemuda dan geraknya sesuai kehendak Sang Khaliq. 

Dalam QS. Ar Rum : 54 Allah SWT., mengingatkan hambaNya tentang tahapan penciptaan dan fase hidup manusia . Yang awalnya diciptakan dalam kondisi lemah ( bayi atau fase anak-anak), kuat ( fase pemuda ) dan lemah lagi ( fase lanjut usia ). Disini Allah menerangkan bukan dengan satuan umur, tapi dengan menggunakan sifat atau karakteristik setiap fase kehidupan yang dilalui oleh manusi.


اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

"Allah adalah Zat yang menciptakanmu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan(-mu) kuat setelah keadaan lemah. Lalu, Dia menjadikan(-mu) lemah (kembali) setelah keadaan kuat dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa."


Fase Pemuda
Dalam tumbuh kembang manusia,  fase pemuda sering dibatasi dari mulai remaja awal sampai tahap dewasa. Secara usia akan cukup kesulitan karena setiap orang memiliki waktu sendiri untuk berubah dari remaja hingga dewasa. Tapi jika kita mengambil dari pengertian usia produktif, maka usia pemuda bisa dibatasi dari usia 21- 33 tahun. Bagi orang yang memahami dunia bola, maka akan tahu bawa pada pada range waktu itulah para pemain bola mengalami masa keemasan. 

Sementara dalam Al Qur'an, tidak dibatasi dengan usia. Tapi dengan memahami karakter sifatnya. Pemuda itu adalah fase dimana manusia itu ( laki-laki maupun perempuan ) kuat diantara dua kelemahan. Kelemahan dari fase anak dan kelemahan saat fase tua.

Kelemahan fase anak adalah lemah baik secara fisik maupun secara akal ( ilmu dan pemikiran ). Secara fisik, fase anak adalah fase pertumbuhan, belum mencapai tumbuh kembang maksimal. Secara imunitas juga belum terbentuk sempurna, hingga rentang terkena atau tertular penyakit. Secara akal, ilmu wawasan dan pemikiran, anak-anak juga masih tahap dasar, bahkan tamyiz pun belum. Membedakan antara baik dan buruk, benar salahpun masih bingun. Pengalaman masih sangat minim.

Sementara pada fase tua, maka fisikpun sudah mulai ada penurunan. Tenaga pun mulai berkurang, pun demikian dengan semangat. Secara ilmu, wawasan dan pemahaman bisa jadi sudah penuh. Tapi akan jadi kelemahan karena akhirnya banyak pertimbangan dalam mengambil keputusan dan bergerak. Ya, karena orang tua kan banyak yang dipikirkan, hingga banyak yang perlu dipilah pilih.

Di fase itulah pemuda itu ada. Fase dimana secara fisik sudah tumbuh sempurna, secara pemikiran sudah memiliki beberapa wawasan yang tidak akan membebani, dan karena masih sendiri biasanya lebih berani mengambil keputusan yang beresiko sekalipun. Ketiadaan pengalaman justru membuat pemuda itu banyak ide dan berani mengeksekusinya.

Hingga wajar kalau menurut Syekh Yusuf Qardawi, pemuda itu ibaratkan matahari yang bersinar di tengah hari. Panasnya paling terik, dan berada di posisi terbaik untuk menyebarkan sinarnya.


Pemuda dalam Kacamata Islam
Dalam sirah nawabiyah, kita mengenal sosok-sosok yang membantu perjuangan Rasulullah Saw. Mereka dikenal dengan istilah Sahabat Nabi. Maka kita mengenal Abu Bakar ra., yang usianya masuk Islam sekitar 37 tahun, ada juga Ustman ra.,  yang berusia sekitar 34 tahun. Umar bin Khattab ra diperkirakan berusia 21-22 tahun ketika menyatakan keislamannya. Saad bin abi waqash sekitar 17 tahun, pun demikian dengan Mus'aib bin Umair, Thalhah dan Zubair. Sedang Ali bin Abi Thalib masuk Islam sejak masa kanak-kanak. 

Dalam Al Qur'an banyak sosok pemuda yang menginspirasi. Jangan lupakan Nabi Daud as., Harun as., Musa as., Yusuf as. dan Yahya. Pemuda yang kisahnya sampai diabadikan menjadi nama surat adalah pemua Al Kahfi yang menolak musyrik lalu ditidurkan oleh Allah selama 300 tahun lebih di sebuah gua. Ada juga pemuda dalam kisah Ashabul Ukhdud, dimana si pemuda enggan melepas Islam dan berhasil membawa satu kota beriman dan syahid dibakar dalam parit - parit yang diisi api.

Satu kesamaan dari pemuda-pemuda diatas adalah semangat dan sepak terjang mereka melakukan perubahan. Keimanan menjadikan mereka meninggalkan kesenangan dunia. Saat pemuda lain asyik dengan masa muda, mereka malah berlajar agama. Saat pemuda -pemuda lain asyik dalam sebuah permainan, maka mereka malah serius memikirkan kelurusan aqidah.

Sebagai pemuda di akhir zaman, bisa jadi tantangan yang ada lebih berat dari sebelumnya. Terlalu banya hal-hal yang melenakan para pemuda dari urusan agama dan akhirat. Iblis dan konco-konconya membungkus dunia sedemikian indah hingga sulit ditolak pesonanya. Kesuksesan di usia muda malah sering menggerus sifat zuhud, qanaah. Hingga tanpa sadar pemuda berbaju shalih pun menjadi agen-agen dunia.

Dulu, ketika saya masih muda ada sosok sahabat yang sering diceritakan terkait pemuda dengan seluruh daya tariknya. Dalam bayangan saya, Mus'aib adalah sosok pemuda yang secara fisik sangat menarik, kalo dijaman now bisa diajak jadi anggota boyband atau jadi seorang idol ( hehehe halu jaman dulu enggak kepikiran sih, pokoknya keren aja ). Lalu begitu mengenal Islam berubah drastis.  Tampilannya tak lagi semerbak mewangi dengan jubah-jubah khas Arab yang mewah.

Mus'aib layaknya pemuda dengan sifat pemberaninya bisa jadi tidak terlalu berpikir jauh akan konseskuensi pilihannya. Dan dengan seluruh tekadnya pula dia menghadapi ujian, tekanan bahkan penolakan dari keluarganya. Sampai-sampai dia pun mengalami susah makan, susah minum, tidur di tempat kotor. Yang semua itu berpengaruh pada penampilannya. Bahkan sampai ketika beliau menemui kesyahidan, Rasulullah sampai terharu melihat selembar kain yang tidak mencukupi menutup tubuhnya. 

Itulah satu teladan pemuda yang berhasil melewati ujian dunia dan memenangkan keimanan dalam kehidupannya. Dan saya yakin saat ini pun ada pemuda-pemuda seperti Mus'aib, seperti Saad bin Abu Waqqash, seperti Umar bin Khattab, bahkan seperti Ali bin Abi Thalib ( radiyallahu anhum ), yang kelak akan jadi pemuda-pemuda yang menjadi ikon perubahan, dan cemerlang karena keimanan dan geraknya sebagai agen kebenaran. Wallahu a'lam bishowab






Sabtu, 09 Oktober 2021

4 Tipe Wanita Syurga Yang Perlu Diketahui


Assalamu'alaikum temen-temen, semoga kabar baik dan dalam kondisi sehat wal afiat. Dan semoga selalu dalam lindungan Allah aamiin Allahumma Aamiin...

Alhamdulillah kondisi sudah mulai membaik juga ya. Walau masih PPKM tapi anak-anak sudah bisa PTM-T. Walau terbatas, walau sebentar no problemo. Nikmati dan syukuri saja. Segitu juga anak-anak sudah senang walau orang tua harus cooperatif antar jemput dan menjaga prokes anak agar tetap aman untuk semua pihak. 

Meski demikian kegiatan yang melibatkan banyak massa tetap dihindari. Nikahan tetap dengan prokes ketat, mau ngundang-ngundang ya tetap dibatasi. Termasuk untuk kajian-kajian dan rapat-rapat, paltform online masih menjadi pilihan.  Tapi tetap harus fokus,  serius dan jangan lupakan adab-adab menghadiri majelis ilmu. Agar ilmu yang didapat berkah, bermanfaat dunia akhirat.

Satu kajian yang saya ikuti secara online adakah kajian tentang Kisah Para Rasul, tepatnya tentang Nabi Musa as. Dan ternyata kisah Nabi Musa ini memang memiliki porsi banyak dalam Al Qur'an. Bisa dibilang bahwa kisah Nabi Musa ini tersebar dalam banyak surat-surat panjang dalam Al Qur'an, seperti Al Baqarah, Al Maidah, Ibrahim, An Naml, Al Khafi, Al Qasshas dan banyak lagi.

Dan satu hikmah yang didapat ketika membahas tentang masa kecil Nabi Musa AS adalah Kisah satu dari 4 pemuka wanita syurga, yaitu Asiyah binti Muhazim. Beliau adalah istri Fir'aun ( Ramses II ) yang berasal dari kalangan bangsawan dari kerajaan Mesir yang beriman. Sedang Ramses II yang merupakan anak dari Ramses I adalah golongan dari penghuni Istana yang ingkar ( terletak di Memphis ibu kota Mesir Kuno ).

Dikisahkan bahwa Ramses II dan Asiyah adalah teman sebaya, sudah kenal sejak kecil. Namun, yang tidak diketahui oleh calon raja itu adalah tentang keyakinan dari Asiyah yang terkenal dengan kecantikannya. Ya,  Asiyah adalah  seorang muslimah menyembunyikan keimanannya karena ancaman dari penguasa akan membunuh siapa saja yang tetap mengikuti agama Yusuf as. 

Sejak belia Ramses II ini sudah terpesona oleh kecantikan Putri Asiyah, dan keiinginannya untuk mempersunting sang muslimah baru terwujud setelah naik tahta menggantikan Ramses I.  Asiyah dalam posisi ditekan dan tak ada pilihan, dengan syarat tetap diijinkan beribadah sesuai keyakinannya, maka Asiyah pun menikah dengan Ramses dan menjadi Ratu Mesir.

Kejadian Musa remaja membunuh seorang Qibti membuat Fir'aun murka. Dan karena bisikan dari ketua ahli sihirnya maka Fir'aun pun menjatuhkan hukuman yang sangat kejam. Hingga Asiyah binti Muhazim pun mendapatkan kesyahidannya saat itu dan mendapatkan balasan rumah di Syurga yang terbebas dari tekanan dan siksaan.

Asiyah adalah pemimpin dari wanita yang diuji oleh Allah mendapatkan suami kejam. Ujian itu tidak membuatnya putus asa, apalagi berpaling dari keimanan. Justru tetap yakin pada pertolongan Allah. kelak beliau akan mengibarkan bendera dan memanggil para wanita beriman yang diuji dengan kondisi yang sama dan tetap bersabar dalam kondisi tersebut.

Sedang Maryam Binti Imran yang merupakan ibunda dari Nabi Isa akan memimpin para wanita shalihah yang sampai wafatnya tidak bertemu jodoh di dunia, tetap menjaga kehormatan walau sendirian di dunia. Kesabaran ini dihargai okeh Allah, saat seorang wanita diuji dengan jodoh yang seolah menjauh tapi tetap taat, berbakti, rajin ibadah dan husnudzan pada takdir Allah.

Ibunda Khadijah binti Khuwailid radiyallahu anha, adalah pemimpin bagi wanita shalihah yang mendapat suami lebih muda, hingga diuji dengan banyaknya pengorbanan yang harus dilakukan. Khadijah ra., mengorbankan apapun yang dimiliki untuk mengabdi pada suami, sampai suaminya ridha. Beliau akan menjadi pemimpin bagi muslimah yang senantiasa taat dan mau berkorban, melakukan yang terbaik untuk berbakti pada suaminya.

Terakhir adalah Fathimah Binti Rasulullah Saw., adalah gambaran istri yang diuji dengan suami yang lebih tua, yang kurang hartanya, dan memiliki anak yang banyak. Betapa Fathimah yang anak pemimpin Islam hidup sangat sederhana, harta yang sedikit, tapi  senatiasa mendukung suaminya untuk berjuang di jalan Islam. Dan beliau akan menjadi pemimpin bagi para muslimah yang diuji hal yang sama seperti beliau, dan mampu bersabar hingga Allah ridha.

Penjelasan ustadz yang disampaikan dengan santai itu ternyata bisa membuat saya terkaget-kaget. Masyaa Allah tabarrakallah, kerena selama ini kok asa enggak kepikiran. Tidak terlintas bahwa sejatinya wanita itu akan diuji dengan 4 hal tadi. Ibarat ada rangking ujian hidup yang biasa dialami para wanita ya empat hal tadi yang termasuk 4 besarnya. Ini tidak bermaksud mengecilkan ujian-ujian lainnya ya... tidak sama sekali.

Intinya bahwa hidup ini memang tempatnya ujian, dan itu sebagai bahan pembuktian apakah kita tetap dalam keimanan atau berpaling, wallahu a'lam bishowab.


Minggu, 15 Agustus 2021

Semangat Muharram: Amal Istimewa

Assalamu'alaikum men temen
Jumpa lagi di tahun baru 1443 H nih...

Moment Tahun Baru Islam baru saja diperingati oleh Ummat Islam. Bukan mengedepankan seremonial tapi lebih ke arah mengambil ibrah dari peristiwa yang melatarbelakangi penetapan kalender hijriyah ini. Minimalnya setahun sekali tafakur dan muhasabah 😊

Ya, peristiwa itu itu adalah hijrah Nabi Muhammad Saw., ke Madinah. Dalam beberapa keterangan sejarah, Rasulullah tidak berhijrah ke Madinah di bulan Muharram tapi sekitar Rabiul Awal tahun ke 12 kenabian. Namun bukan berarti Muharram tidak ada peritiwa penting sehingga ditentukan sebagai awal tahun hijriyah.

Di bulan Dzulhijjah, setelah melakukan ibadah haji beberapa orang yang sudah beriman dari Yatsrib melakukan janji setia yang disebut Baitul Aqabah. Dan di bulan Muharram diyakini sebagian ahli sejarah sebagai bulan pemantapan niat untuk berhijrah. Di buktikan dengan dimulainya hijrah awal ke Habasyah ( Ethiopia).

Lalu apa ibrah yang bisa diambil dari semangat hijrah ini?

Hijrah memang berarti berpindah, bukan pindah tempat saja. Tapi juga pindah kondisi, pemahaman, kesadaran bahkan aksi. Ya, memang hijrah seluas itu artinya. Saat ada orang berniat meninggalkan yang haram ke halal disebut hijrah. Saat ada orang yang bergerak ke arah taat itu juga hijrah. Berubah dari yang buruk ke arah baik, juga disebut hijrah.

Makanya, saat ditanya apa resolusi di tahun 1443 H ini, kepikiran ingin jadi lebih baik  dengan amal- amal istimewa. Maksudnya, amal yang selama ini memang belum dilakukan dan tahun ini coba dilakukan dan dibiasakan ( dirutinkan ). Atau bisa jadi sudah dilakukan tapi lebih dimaknai, lebih ditingkatkan kualitasnya. 

Misal, sedekah yang biasanya kalo lagi ada aja, sekarang mah kalau bisa membiasakan sedekah di kala sempit. Atau biasanya bangun tidur mendekati adzan subuh sekarang lebih awal lagi. Supaya rakaat shalat malamnya bertambah. Lebih sabar dalam mengurus keluarga. Apalagi masa-masa PJJ atau BDR memang sungguh menggoda emosi hehehe. Lebih shalihah menjadi pribadi, istri dan ibu.

Saya ingat akan sebuah nasehat, yang kurang lebih isinya seperti ini, jika ingin punya kedudukan khusus, maka lakukanlah amal-amal langka. Amal-amal istimewa. Seperti Keluarga Imran yang menepati setiap janji yang terucap, walau berat. Seperti Keluarga Ibrahim as., yang mendahulukan cinta dan taat  pada Allah dibanding lainnya. Seperi Adam as. yang segera bertobat saat menyadari telah berbuat dosa, seperti Nuh as., yang tetap setia dalam tugasnya meski banyak cemoohan dan hinaan yang diterima.

Saya juga ingat ada yang berpendapat resolusi itu anggaplah doa. Yang jika kita upayakan insyaallah akan dikabulkan. Yes, saya sepakat dong. Dalam artian ketika berdoa saya juga berusaha untuk melakukan aksi agar doa terkabul. Ingin dapat hidayah pasti upaya yang dilakukan minimalnya rajin dengerin tausiyah, mendatangi kajian ( sekarang mah masih belum bisa ya, online saja deh ), dan berteman dengan orang -orang yang ingin dapat hidayah juga. 

Apalagi, Allah itu sesuai persangkaan hambaNya. Jika yakin doanya bakal dikabulkannya, Allah akan mengabulkannya permohonannya. Bahkan melebihi keinginan si hamba itu sendiri. Karena Allah itu Maha Pemurah ( Al Kariim ).

Jadi sudah siap dengan resolusi apa nih men temen. Sudah siap dengan amal istimewa apa? Yuk niatkan, yuk azzamkan yuk upayakan...
Bismillah biidznillah, yakin bisa. 

Minggu, 08 Agustus 2021

Dzulhijjah Story - Ismail Pun Mengalami PJJ


Bismillahirrahmanirrahim

Hampir 18 bulan kita berada dalam musim pandemi. Banyak kebiasaan baru yang akhirnya  terbentuk. Mulai dari pakai masker, rajin cuci tangan, antri vaksi, kerja dari rumah dan jangan lupa belajar jarak jauh.

Awalnya bisa jadi gagap, asing, terseret-seret sampai senewen. Ibu -ibu  mengeluh karena pembelajaran secara online ini menambah beban pekerjaan. Murid-murid yang tak paham apa-apa selama sekolah daring. Guru yang kerepotan karena harus on sampai tengah malam menunggu tugas -tugas yang masuk, dan hal lainnya yang akhirnya membawa kita pada kata  'bisa'.

Jauh sebelumnya, ribuan tahun yang lalu Ismail as., pun pernah mengalami kondisi seperti ini. Berpisah dari ayahnya ( guru utamanya ), ditengah keterbatasan fasilitas. Tanpa gadget, wifi, internet.  Bahkan kebutuhan pokok untuk bertahan hidup pun sulit di dapat. 

Sekian tahun kemudian, sang ayab Ibrahim as., datang dengan perintah Allah untuk menyembelihnya. Lalu terjadilah percakapan yang keindahannya diabadikan dalam Al Qur'an, "Wahai Ayahku tersayang ( Abati ), lakukanlah apa yang diperintahkan ( Allah ) kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."

Bagaimana bisa Ismail tumbuh begitu sabar, tabah dan pemaaf ( halim )?

Dialah Sayyidah Hajar yang ternyata menjadi kunci suksesnya pembelajaran jarak jauh ala Ismail waktu itu. Jika Hajar tidak tabah, banyak mengeluh, pasti Ismail pun akan menjadi pribadi yang lemah dan cengeng. Jika Hajar selalu berprasangka buruk pada takdir Allah,  maka Ismail akan menolak apa yang perintahNya. Jikalau Hajar kurang tawakal maka pastinya Ismail pun akan tumbuh menjadi anak pendemdam.

"Jika ini ketentuan Allah, maka aku yakin Allah tak akan menyia-nyiakan hambaNya." Inilah kalimat Hajar yang menunjukkan betapa kuat dan yakinnya beliau pada pertolongan Allah Swt.

Pandemi ini mengembalikan pada peran utama seorang ibu, madrasatul ula untuk anak-anaknya. Bersemangatlah duhai para ibu, yakin Allah tidak akan membiarkan upayamu sia-sia...

Akhir Dzulhijjah 1442
Masih Dzulhijjah story
By Ummi Ayesha

Sabtu, 07 Agustus 2021

Ridha Dan Resep Bahagia

Bismillahirrahmanirrahim
Semalam saya ikutan sebuah kajian tentang Nabi ibrahim as di IG streaming. Dan setelah sinyal yang menggoda timbul tenggelam, Alhamdulillah kegiatan bisa diikuti. Dan agar tetap teringat saya tuliskan di sini ya. Semoga bisa jadi pengingat khususnya buat saya dan umumnya untuk kita semua. 

Yuk mulai... 


Di zaman pandemi ini, rasa-rasanya kata bahagia itu sangat mahal. Padahal bahagia sangat penting untuk menaikkan imun. Dan imun yang kuat akan membuat kita 'strong' juga menghadapi makhluk Allah super kecil yang bernama virus covid 19 ini.

Bagaimana bisa bahagia, kalau ternyata penghasilan seret. Bagaimana bisa hepi kalau banyak kebiasaan baru yang bikin diri terasa makin terasing. Harus dirumah saja, menghadapi anak-anak yang bikin puyeng karena belajar online. Ya, kalau sinyal dan gadget bersahabat. Kalau lagi ngambek pasti emosi naik sekian tinggi, mirip level pedas seblak deket rumah.

Bagaimana bisa bahagia kalau ternyata diri dan keluarga terpapar covid. Mesti isoman yang bikin makin gugup. Percaya deh, saya sudah mengalami dan kalau kurang kuat iman, imun dan semangat bakalan down dan lama bangkitnya.

Bagaimana bisa senyum kalau ternyata diuji dengan kehilangan anggota keluarga tersayang. Saya sendiri begitu tahu ibu kemungkinan terpapar di kampung sana, sempet susah tidur.  Ya, Rabbanaa... khawatir sekali terlebih setiap hari mendengar kabar beberapa tetangga dan teman alumni sekolah ada yang berpulang.

Saat diuji dengan kesedihan, kehilangan sebenarnya sikap yang dilakukan adalah sabar. Dan langkah pertama adalah menerima ketetapan Allah. Yakin Allah itu Maha Baik, maka yakin saja ketetapanNya pun pasti baik untuk hambaNya.

Lalu ingatlah bahwa semua yang dimiliki adalah milik Allah. Kita hanya pihak yang dititipi dan diberi ijin untuk menggunakannya dalam jangka batas waktu tertentu. Jadi jika sewaktu-waktu sang pemilik memintanya kembali ya sah-sah saja.

Susah?
Berat?
Sedih?
manusiawi kok, tapi jangan berlama-lama. Jangan juga berlebihan sampai meraung - raung dan tidak menerima takdir. 

Ada dua kisah ideal tentang husnudzan dan tawakal penuh pada Allah. Yaitu  Ibunda Hajar -saat ditinggalkan di Bakkah-  dan Ummu Sulaim saat mendapat ujian anaknya meninggal.  

Mari kita lihat ending dari dua kisah ini. Ismail yang menjadi pribadi halim ( sabar, tabah, taat, patuh dan pemaaf ) mewariskan sifat itu pada Muhammad Saw., satu- satunya keturunan beliau yang jadi nabi dan rasul. Lalu anak yang didatangkan Allah sebagai ganti anak yang meninggal  dari Ummu Sulaim melahirkan 7 keturunan yang semuanya pemikul Al qur'an, masyaa Allah tabarrakallah.

Artinya, yakinlah saat kita menerima takdir Allah maka ada takdir baik juga yang menanti. 
Saat kita bisa menerima ketetapan Allah saat itu kita bisa bahagia. 

masih Dzulhijjah story
By Ummi Ayesha
catatan hasil menyimak kisah Ibrahim as

Sabtu, 17 April 2021

Sedekah Paling Utama


Assalamualaikum men temen...

Sudah hari ke-6 Ramadha lagi ya, Alhamdulillah. Semoga tetap semangat berkarya dan beramal shalih di bulan suci ini. 

Salam suatu hadist dikatakan bahwa Rasulullah Saw., adalah seorang yang sangat dermawan. Dan beliau sangat dermawan di bulan Ramadhan. Kedermawanan beliau lebih baik dari angin yang berhembus. Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari ini betul-betul menasehati dan menyemangati diri sebagai ummatnya dalam beramal di bulan suci.

Tapi kondisi pandemi memang berimbas pada semuanya. Jualan yang dulunya rame sempet sepi. Bisnis yang awalnya hidup, sekarang mirip hidup enggan matipun tak mau. Orang-orang yang masih punya gaji tetap saja menjerit karena harga-harga naik. Apalagi yang memang penghasilannya harus dicari setiap hari. subhanallah.

Kondisi ini seringnya membuat kita melewatkan kesempatan bersedekah dan berbagi. "Hei... kondisi gue juga lagi minus nih, nanto saja kalu dah lebih gue sedekah." Atau yang sering didengar, "Buat malan sendiri saja susah, bagaimana mau berbagi." Bisa juga rada sopan, "Nanti yaaa kalau ada lebih dikit, gue sedekah deh."

Padahal seringnya kalau sudah berlalu kesempitan manusia itu hobi lupa. Susab berlebih enggan bersedekah, alasannya ini kan hasil kerja banting tulang, enak aja dibagi ( noted ). Saat sudah lapang, malah puas-puasin memenuhi keinginan yang saat sempit tertunda. Saat sudah berlebih malah banyakan belanja atau naikin gaya hidup dari pada sedekah. Astagfirullah, duhh inget diri juga masih suka gitu mikirnya.

Padahal sedekah paling utama justru disaat kita sempit, susah, serba kekurangan. Ibaratnya, sedekah di waktu mudah mah biasa, yang luar biasa itu sedekah dikala susah. Bayangin berkorbannya kayak apa. Kuat niatnya seperti apa, yakin ke janji Allahnya bagaimana. Beda saat semuanya mudah atau kita dalam kondisi mampu, kan?

Di zaman Nabi, orang bersedekah itu berlomba-lomba. Karena Nabi mencontohkannya dengan jelas. Beliau sangat dermawan, padahal di rumah beliau sering kali enggak ada makanan. Demikian juga dengan putri beliau, Fathimah ra., yang memberikan roti sarapan keluarganya untuk pengemis. Atau Abu Bakar yang menyisakan setumpuk kerikil hanya agar membuat ayahnya Abu Qufahah ra. Atau kisah Abdurrahman bin Auf yang kalau sedekah tak pernah mikir untung rugi. Demikian juga dengan Ustman bin Affan, Umar bin Khattab dan sahabat lainnya ( radiyaallhu anhum ).

Nah, mumpung di bulan baik, yuk bersemangat berbagi, bersedekah yang terbaik. Jangan khawatir hartamu habis, karena janji Allah sedekah justru menyuburkan harta.  Jangan khawatir miskin, karena tidak sedekah itu justru mengundang rezeki. 

Terlebih di bulan ini disebut juga syahrul judd, bulan berbagi dengan yatim dan dhufa. Jadilah penyantun-penyantun dhuafa dan yatim, kelak engka7 akan bertetangga dengan Nabi di surga. Masyaa Allah tabarrakallah...

Wallahu 'alam bishowab.
semoga bermanfaat

Senin, 12 April 2021

Optimalisasi Amal untuk Mencapai Goal-Goal Ramadhan

Assalamu'alaikum temen-temen...

Alhamdulillah, jika diijinkan oleh Allah besok kita akan memasuki bulan suci Ramahdhan. Artinya nanti malam kita sudah mulai melaksanakan ibadah shalat tarawih yang menjadi satu amaliah khusus di Ramadhan. Tapi sebelum betul-betul memasuki Ramadhan sudahkah kita mengucap tahniah, membuat persiapan, mencanangkan target-target berdasar 3goal Ramadhan yang sudah termaktub dalam Al Qur'an.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Rasulullah Saw., setiap akan memasuki Ramadhan selalu melakukan sambutan, dengan membaca doa  seperti  berikut :

 

Ramadhan kali ini masih dalam kondisi pandemi, ya teman-teman. Kondisi yang membuat kita bisa jadi makin bosan karena kurang semangat karena pasti banyak dibatasi aktifitasnya. Padahal kita sedang kedatangan tamu agung. Bagi yang memahami pasti akan bergegas bersiap-siap jangan sampai si tamu agung ini 'nganggur' tidak dimanfaatkan. Karena tak ingin merugi maka inilah yang membuat saya gencar mencari ilmu untuk menambah iman dan juga landasan amal agar di Ramadhan tidak mati gaya,tidak bingung dengan amal-amal yang bisa dioptimalkan.

Alhamdulillah, dari kajian online di bulan Ramadhan yang diadakan oleh DKM Al Jihad UNPAD via Zoom dengan pembicara Ust. Salim A Fillah, ada hal-hal penting yang bisa dijadikan acuan untuk  mengoptimalkan amal di bulan suci. 

Rasulullah menganggap Ramadhan sebagai tamu agung yang membawa berlimpah kemuliaan. Pintu-pintu syurga dibuka yang artinya Allah memfasilitasi hambanya dengan banyak kesempatan untuk beramal shalih. Siang diisi dengan puasa, dengan membaca Al Qur'an, malamnya dengan shalat malam dan bermunajat pada Allah Swt.  Di bulan suci pintu-pintu neraka ditutup dan syaitan-syaitan dibelenggu. Maka merugilah orang-orang yang tetap bermaksiat di Ramadhan.  Merugilah orang-orang yang nafsunya tidak bisa ditekan untuk berbuat dosa. Naudzubillah.

3 Goals Sukses Ramadhan :



Agar bisa mengoptimalkan amal Ramadhan, perlu dipahami 3 goals atau tujuan yang Allah tetapkan dengan hadirnya Ramadhan ini. 

1. Agar Kalian Bertaqwa
Taqwa adalah sikap memenuhi seluruh perintah Allah dan menjauhi larangannya. Ubay bin Ka'ab ra., pernah ditanya oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra., tentang taqwa. Beliau menjawab bahwa Taqwa adalah sebentuk kehati-hatian dalam melangkahkan kaki di kehidupan ini agar tidak berada di jalan yang mendatangkan murkanya. Jalan pi-neraka-eun.

2. Agar Kalian Bersyukur
Selain sabar, maka syukur adalah resep agar bisa hidup selamat dan bahagia. Bersyukur hanya akan dimiliki oleh orang-orang yang senantiasa mengingat Allah, berprasangka baik pada Allah hingga meyakini setiap ketetapan Allah itu baik.
Jelas, tidak mungkin bersyukur orang yang hatinya senantiasa penuh dengan prasangka buruk pada Allah. 

Lewat puasa kita dididik peka, hingga muncullah empati dan keinginan memberi. Dari shalat, dzikir dan baca Alquran kita diajak untuk senantiasa mengingat Allah, mensyukuri nikmat iman, islam dan memahami bahwa janji Allah itu benar. 

Barangsiapa bersyukur akan aku tambah nikmatnya, barang siapa kufur maka azabku amat pedih.

3. Agar Kalian Mendapat Irsyad / Kebenaran
Irsyad/ kebenaran berupa bimbingan dalam kehidupan ini adalah hal sangat kita butuhkan. Tanpa kebenaran maka kita akan selamanya dalam kegelapan, kebingungan dan kejahilan. Tanpa kebenaran, amal-amal yang kita lakukan akan sia-sia. Lalu bagaimana kita akan menjawab pertanyaan dari Allah, 'Aina tadzhabun?' mau pergi kemana kalian? 

Orang yang mendapat petunjuk pasti akan menjawab inna lillahi wainna ilahi raji'un ( aku ini dari Allah dan kembali padaNya).


Optimalisasi Amaliah di Ramadhan 

1. Puasa
Tingkatkan level puasa kita dari tahun-tahun sebelumnya. Tekadkan jangan hanya menahan lapar dan dahaga saja. Tapi juga menahan pengelihatan, pendengaran, dan hati dari hal-hal yang tidak diridhaiNya. Minimal naik ke level puasa khawas atau khusus.

2. Baca Al Qur'an
Tingkatkan tilawah, tadabbur, tafahum terhadap kitab suci. Bikin targetan pribadi mau seberapa dekat kita dengan Al Qur'an. Mau murojaah ayat yang mana,  mau menghapal surat apa dan lain sebagainya.

3. Doa dan Dzikir
Sebulan penuh kita dipersilahkan utk berdoa dan berdzikir. Allah memperbanyak waktu waktu mustajab. Mohon atas hajat diri, hajat umat Islam, mohon rahmat, berkah dan ampunan Allah Swt.

4. Shalat-shalat Sunnah
Jadikan shalat sunnat sebagai komunikasi privat kita dengan Allah. Keluhkan pada yang Maha mendengar, agar tidak mudah mengeluh di hadapan Mahluk. Minta dna berharap pada Allah agar tidak kecewa saat berharap pada manusia yang lemah.

5. Shadaqah
Sesungguhnya shadaqah terbaik adalah di bulan Ramadhan, maka berbagilah walau dengan seteguk air, sebiji kurma, segenggam beras atau bahkan dengan doa dan ide ide berdasar kebenaran. Niatkan semua untuk sedekah dan semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan keberkahan berlipat ganda, aamiin...

Wallahu a'lam bidhowab.
Marhaban Yaa Ramadhan
Selamat beramal bakti di Ramadhan ini
Taqabballahu minna wa minkum




Minggu, 11 April 2021

Tarhib Ramadhan online Rumah Muslimah, Keluarga yang Dirindukan Ramadhan

 

Assalamu'alaikum ...


Apa kabar  temen-temen semua? Semoga semua dalam kondisi sehat walafiat, jasmani dan rohani, dan tetap dalam lindungan Allah Swt. 

Alhamdulillah, tak terasa Ramadhan tinggal dua hari lagi.Sudah sampai mana nih persiapan sambut bulan suci? Jika kita melihat dari pada sahabat nabi membagi satu tahun dalam hidup mereka, enam bulan setelah Ramadhan mereka menghidupkan hari-hari dengan amaliah yang sudah ditempa selama Ramadhan. Dan enam bulan selanjutnya mereka mempersiapkan baik iman, ilmu, amal, maupun harta untuk menghadapi Ramadhan. Bahkan mereka sudah muqim ( berdiam ) tidak mengadakan perjalanan niaga ( karena sebagian besar pekerjaannya adalah sebagai pedagang ), agar bisa memenuhi syarat wajib amaliah Ramdhan. 

Beberapa waktu lalu, tepatnya satu pekan kemarin kami dari komunitas Rumah Muslimah ( RUMUS ) juara mengadakan Tarhib Ramadhan online via Zoom, dengan tema yang menurut saya greget banget yaitu agar kita menjadi 'Keluarga yang Dirindukan Ramdhan'. Tema ini terinspirasi dari judul buku yang ditulis oleh pembicara yaitu Bunda Lilis Rohaeti, MPd. Jujur seringnya selama ini kita yang mengaku sebagai perindu Ramadhan. Tapi tidakpernah terlintas dalam pikiran menjadi manusia, menjadi keluarga yang dirindukan oleh bulan suci. Ibarat orang yang jatuh cinta kok rasanya bertepuk sebelah tangan yaa... sedih banget gitu lho.

Di webinar kali ini saya diberi kesempatan jadi moderator. Wuih...emak- emak yang biasanya hanya jadi peserta zoom pas anak BDR jadi harus mau belajar, mau melek teknologi. Jujur niat saya hanya ingin belajar dan belajar terus. Menjadi ibu di era pandemi gini kudu mau upgrade baik wawasan maupun keterampilan. Jangan merasa sudah tua dan susah belajar hal-hal baru. Apalagi karena anak-anak dikembalikan lagi ke rumah, ke ibunya sebagai pendidik utamanya. Kalau ibunya susah belajar, anak akan mencari dari sumber lain  yang tidak jelas apakah mengarahkan anak pada hal yang benar atau sebaliknya.


Konsep Keluarga

Materi dimulai dengan mengingatkan peserta pada konsep berkeluarga sesuai dengan Al Qur'an dan tuntunan Nabi Saw. Bagi saya sendiri layaknya murojaah. Mengulang dan menelaah kembali ayat-ayat yang dulu saat awal pernikahan sering sekali dibaca,ditadaburi. Bahwa Allah sudah menciptakan kita dan pasangan dan diikatkan dengan nama Allah. Maka pasangan yang sekarang ada di samping kita adalah pasangan pilihan Allah untuk kita. Yang pastinya pilihan Allah itu pasti terbaik, tidak ada ketentuan Allah yang jelek. Kalaupun ada kekurangan, maka kita pun harus mengakui diri jauh dari sempurna, banyak kekurangan juga.

Kita juga diingatkan bahwa tujuan menikah adalah agar kita meningkatkan ketaqwaan. Jadi keluarga atau rumah tangga adalah lahan untuk beribadah. Maka,pastikan bahwa dalam keluarga program-program yang berjalan adalah ibadah pada Allah Swt. Pastikan suami mendidik istri agar beribadah kepada Allah, dan istri sebagai ibu yang merupakan pendidik utama anak-anaknya mengarahkan dan membimbing anak-anak untuk mentaati Allah Swt. 

Dalam suatu hadist dikatakan bahwa setiap diri adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban. Suami sebagai kepala keluarga pastikan istri dan anak-anak agar selamat dari siksa api nereka. Suami akan ditanya dari mana rezeki yang digunakan untuk menafkahi keluarganya. Demikian juga dengan istri akan ditanya bagaimana rumah tangganya. Karena bagaimapun istri atau ibu adalah manager dalam keluarga. Yang mengatur anggota keluarga agar sesuai dengan program utama dalam keluarga yaitu mendapat keridhaan Allah Swt. Ibu sebagai pendidik utama akan ditanya bagaimana anak-anaknya apakah dikenalkan pada Allah, apakah dikenalkan pada syariatNya, atau tidak?


Ciri-Ciri Keluarga Sakinah

1.Berdiri di atas keimanan yang kokoh

2. Menunaikan misi ibadah dalam hidupnya

3. Mentaati perintah Allah ( bersyariat sesuai tuntunan Rasulullah )

4. Saling menyayangi

5. Saling menjaga dan mendukung dalam kebaikan

6. Saling memberikan yang terbaik untuk pasangan


Ramadhan Syahrul Ummati

Ramadhan dengan seluruh keutamaanya, didatangkan Allah kepada orang beriman sebagai tamu agung. Maka layaknya mau bertamu atau kedatangan tamu, pastinya ada persiapan - persiapan. Bayangkan saat kita akan kedatangan pejabat maka kita pasti menyiapkan seluruh fasilitas, tampilan bahkan  jamuan yang bisa diberikan. Jangan sampai Ramadhan yang begitu mulia terlewati begitu saja. Padahal sepanjang Ramadhan itu banyak sekal ikeistimewaan, seperti pintu syurga dibuka , pintu neraka ditutup, syaitan syaitan dibelenggu, dan dilipatgandakan pahala.

Ramadhan juga disebut Allah sebagai syahrul ummati ( bulan ummatku ), artinya Allah menurunkan banyak jamuan, banyak kemudahan, banyak limpahan pertolongan. Bahkan menurunkan malaikat dan ruh ( pemimpin malaikat ) untuk membantu hamba-hambanya menyelesaikan hajat dan urusan mereka( QS. Al Qadar ). Mau menghilangkan dosa, Allah buka pintu taubat, mau dimudahkan usaha Allah buka jalur komunikasi dengan shalat malam dan shalat- shalat sunnah lainnya. Ingin ditolong oleh Allah, diangkat masalahnya, diangkat derajatnya Allah berikan banyak waktu mustajab untuk memperbanyak doa. Maka harusnya Ramadhanitu diisi dengan program- program yang bermanfaat untuk seluruh anggota keluarga. Agar tujuan dari Ramadhan ini didatangkan yaitu taqwa akan  tercapai ( QS. Al Baqarah : 183 )


Persiapan Ramadhan

1. Persiapkan dengan Iman dan Ilmu

Dalam sebuah hadist Rasulullah mengatakan bahwa  barang siapa yang berpuasa dengan iman dan ihtisab maka diampuni  dosa-dosanya yang telah lalu. Maka sebaik- baik bekal adalah iman. Makabuatlah majelis-majelis untuk memperkuat iman. Karena iman itu sifatnya naik turun, maka awasi juga perbuatan- perbuatan yang justru melenakan dan menjauhkan dari ibadah. 

Persiapkan juga ilmu-ilmu, karena amal tanpa ilmu itu akan sia-sia, akan menghasilkan amalan yang salah. Maka, sebelum memasuki Ramadhan pelajarilah ilmu-ilmu berkaitan dengan Ramadhan, yang menyangkut amal-amal khusus Ramadhan. Apa yang bisa ditingkatkan, apa yang harus dibuang atau ditinggalkan. 


2.  Meningkatkan Pemahaman Amaliah Ramadhan

Memahami amaliah Ramadhan maka kita akan merasa sayang jika tidak maksimal beramal. Belum tentu ada usia untuk bertemu Ramadhan tahun depan kan? Makanya, berusaha memahami bukanhanya tentang fiqihnya saja, tapi ke fadhilah-fadhilahnya. Puasa bukan sekedar menahan lapar dahaga saja, tapi juga menahan dari perbuatan sia-sia yang tidak Allah suka.

Di musim pandemi saat ini,anak-anak dipaksa untuk berinteraksi dengan gadget dan internet dalam waktu yang lama. Bisa jadi  mereka banyak melakukan kesia-sian dengan melihat tayangan tidak berfaedah, main game, nonton drakor dan lain sebagainya. Perlu dipikirkan kegiatan atau amaliyah yang bisa jadi riyadoh, pelatihan sekaligus terapi agar anak menjauh sedikit demi sedikit dari hal-hal kurang bermanfaat. Yang menjauhkan dia dari urusan ukhrawi.


3. Bertaubat dan Islah dengan seluruh anggota keluarga 

Memasuki Ramadhan dengan ihtisah satu upaya yang dilakukan dengan bertobat, menghitung-hitung amal dan bekal pulang ke kampung yang kekal. Evaluasi atau muhasabah sangat penting dilakukan. Juga saling mengislahkan kesalahan sesama makhluk dengan harapan Allah ridha memberi ampunan kepada kita. Suami bertanya apa yang belum dia lakukan dalam perannya sebagai kepala keluarga, istri bertanya apa yang belum dilakukan sebagai manager dan juga pasangan demikian juga dengan anak-anak.


4. Manajemen Amal dan Doa 

Dalam QS. Al Qadar disebutkan bahwa Allah menyediakan Ramadhan sebagai bulan untuk menyelesaikan urusan hambaNya. Jadi perlu dimanage amal dan doa hingga urusan atau hajat kita bisa tercapai. 

Hajat dan urusan disini bukan yang hanya yang bersifat materi, tapi lebih ke yang non materi atau ukhrowi. Misal, di Ramadhan kita berhajat menjadi orang yang lebih sabar. Maka berpuasalah dengan memenuhi seluruh syarat dan rukunnya, serta menjaga dari hal hal yang Allah tidak ridha.

Intinya sebagai manusia kita banyak keperluan, bayak hajat, banyak butuh pertolongan. Maka mintalah dengan doa-doa terbaik. Dan Allah sudah menyediakan Ramadhan penuh dengan waktu mustajab. Maka perbanyaklah berdoa di waktu sahur sebelum berbuka, waktu puasa waktu sholat malam. Isi dengan dzikir dan doa dari pada untuk berbuat yang sia-sia.


5. Persiapan rezeki halal untuk shadaqah, zakat dan berbagi 

Ada amaliah khusus yang berkaitan dengan harta di Ramadhan, yaitu bersedekah dan zakat fitrah. maka siapkanlah harta halal untuk mensucikam hartamu dan mengundang keberkahan serta ridhaNya.


Wallahu a'lam bishowab









Jumat, 12 Maret 2021

Memetik Hikmah Perjalanan Agung Isra Mi'raj


Ada moment penting yang biasa diingat ketika tanggal 27 Rajab, ya... peristiwa merupakan perjalanan terdahsyat sepanjang masa, Isra Mi'raj. Perjalanan yang betul- betul menguji keimanan bak ummat jaman dulu maupun jaman sekarang. Meski zaman now telah banyak penelitian oleh ilmuan yang akhirnya membuktikan peristiwa itu benar adanya. Tapi tetap saja jika iman tak diikut sertakan hanya menjadi bahan keilmuan tanpa menghasilkan ketaqwaan.

Dalam QS. Al Isra :1 diawali dengan kata subhanallah, artinya perjalanan ini menunjukkan  kekuasaan Allah, kehebatan Allah, ke-Maha an Allah yang tidak pernah ada noda, kesalahan, kegagalan maupun kelemahan. Artinya perjalanan ini benar-benar terjadi bukan bualan atau dongeng semata.

Perhatikan di ayat tersebut menggunakan kata bi'adbihi  yang artinya adalah hambaNya ( hamba Allah ). Kata hamba di sini menunjukkan objek bahwa yang diperjalankan adalah hamba Allah. Meski peristiwa itu terjadi pada Rasulullah, tapi Allah tidak menyebut dengan rasul atau nabiNya. 

Hal ini menunjukkan bahwa setiap hamba Allah akan diperjalankan sampai naik tingkat untuk berkomunikasi dengan Allah. Bagi mereka yang memenuhi syarat pastinya ( bisa dilihat di hikmah Isra Mi'raj ). Jika Rasulullah lewat Mi'raj ke Sidratul Muntaha, maka manusia biasa seperti kita mi'raj dengan shalat. 

Perjalanan ini diawali dari Baitul Haram ke Masjidil Aqsa'. Masjidil Haram mewakili tempat ibadah pertama manusia, Baitul Aqsa menunjukkan tempat berkumpulnya pada Nabi dan Rasul. Menunjukkan bahwa perjalanan ini menghubungkan bahwa dua tempat itu memiliki satu kesamaan ajaran, yaitu risalah tauhid.

Hikmah Isra Mi'raj
Seperti dijelaskan diatas bahwa setiap hamba Allah akan diperjalankan dan naik derajat kemuliaan. Tentu saja ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Yang bisa dilihat dari rentetan kejadian dalam malam Isra Mi'raj

1. Pembedahan dada pembersihan Hati

Dari REPUBLIKA.CO.ID, dikisahkan bahwa  Isra Miraj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makah ke Masjidil Al Aqsa di Yerusalem (Isra), kemudian dilanjutkan menuju langit ke Sidratul Muntaha (Mi'raj) dengan tujuan menerima wahyu Allah SWT. Peristiwa Isra' dan Mi'raj terjadi pada 621 M.

Dalam hadis disebutkan, sebelum Rasulullah SAW melakukan Isra dan Mi’raj, dadanya dibedah. Beliau bersabda, “Kemudian hatiku dikeluarkan, lalu dicuci dengan air zamzam, lalu dikembalikan ke tempatnya, dan diisi dengan keimanan dan hikmah....” (HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi).

Muhammad Al-Ghazali dalam Fiqih Sirah-nya berkomentar, ini melambangkan persiapan yang harus dilakukan sebelum beliau berangkat menjalankan Isra dan Mi’raj. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan, pembedahan dan pencucian hati ini terjadi tiga kali.

Pertama, saat beliau masih kanak-kanak, hidup di kampung dalam asuhan Halimatus Sa’diyah. Kedua, ketika beliau menerima wahyu untuk diangkat menjadi nabi dan rasul. Dan, ketiga saat beliau hendak melakukan Isra dan Mi’raj. (Fathul Bari Juz 11 Bab Mi’raj hal 216)

Tentu peristiwa pembedahan dada dan pencucian hati ini memberikan banyak pelajaran kepada kita. Artinya, siapa yang ingin naik dan menjadi manusia mulia, hendaknya membersihkan hati. Mentobati seluruh dosa dan kesalahan. Itu persiapan yang mesti dilakukan oleh siapa saja yang ingin menggapai kemuliaan dan derajat yang tinggi. Bukan persiapan harta, kekuatan raga maupun ilmu. Tapi hati yang suci, jiwa yang bening, dan keluhuran akhlak.


2. Menghadapi ujian dengan iman, sabar dan tawakal

Dua tahun sebelum Isra Mi'raj, Rasulullah diuji dengan kepergian teman setia, yang sudah mendukung sejak awal mula risalah ini berjalan, sang istri tercinta Khadijah binti khuwailid ra. Tak berapa lama kesedihan dan hilangnya penopang politik dalam menghadapi petinggi Kaum Quraisy. Sosok yang sudah mengasuhnya dan mengajari banyak hal ketika remaja dan mempercayainya,  yaitu Abu Thalib.

Kondisi ummat yang masih tertindas, penolakan dakwah dari Thaif, membuat Rasulullah berharap penuh pada pertolongan Allah. Dan Allah tidak pernah menyia-nyiakan pengharapan hambaNya yang bergerak maksimal dalam menjalankan tugas-tugasnya. Dan perjalan ini adalah sebuah jawaban dari doa-doa Rasulullah dan penghibur setelah banyak kesedihan yang dialami.

Sudah menjadi ketetapan Allah, hidup di dunia ini penuh dengan cobaan. Tidak statis, tapi dinamis. Ada naik turunnya, ada pasang surutnya. Dan bagi siapa saja yang menghadapai ujian itu dengan iman dan sabar maka Allah akan menurunkan pertolongan. 

Seringnya manusia mengantungkan harapan dan pertolongan pada makhluk yang lemah. Hingga berakhir kecewa dan patah hati saat apa yang diharapkan tak terjadi. Atau ada yang berpendapat sabar itu seolah diam, dan tawakal hanya pasrah. Padahal sabar dan tawakal itu tetap berusaha maksimal dan mengantungkan hasil pada ketetapan Allah.

3. Shalat berkualitas pengundang pertolongan

Dalam peristiwa ini Allah menurunkan pertolongan yang langsung diturunkan SK nya di langit, buka di bumi. Yaitu perintah shalat 5 waktu. Bayangkan syari'at lainnya diberi di bumi, tapi shalat memiliki kekhususan tersendiri. Diturunkan di langit sebagai tanda dengan shalat, hambaNya bisa mi'raj dan mendapatkan pertolongan.

"Hai orang-orang yang beriman, jadikan sabar dan salat sebagai penolongmu ( memohon pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat ). Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. " QS. Al Baqarah : 153

Ketika Perang Badar berkecamuk, Ali bin Abi Thalib ra., yang bertugas menjaga Rasulullah saw., melihat beliau sedang tegak melaksanakan shalat. Dua rakaat tapi tentunya kualitas shalat yang sampai menurunkan pertolongan dari Allah Swt. Berupa pasukan malaikat yang datang hingga kemenangan menjadi milik kaum mukminin.

Dibanyak kisah juga dijelaskan bagaimana Rasulullah meminta pertolongan dengan sabar dan shalat. Bahkan para sahabat dan orang-orang shalih. Maka, selaku ummat yang dituntut taat, maka kita pun harus menjadikan shalat sebagai jalan minta pertolongan. Tentu saja dengan memperbaiki kualitas shalat kita.

Shalat yang sudah melewati tangga sebagai pelindung dari perbuatan fasik dan mungkar. Karena tidak mungkin pertolongan Allah datang saat diri masih bergelimang dosa yang menjadi penghambat keridhaanNya.

Maka tepat sekali,  jika ada yang mengatakan perbaikilah shalatmu maka Allah akan membaiki hidupmu. Semakin berkualitas shalat kita semakin naik derajat kita dan pertolongan, kebahagiaan dan kesuksesan ( falah ) semakin dekat dalam genggaman.

wallohu 'alam bishowab