Mungkin bagi sebagian orang ubi disebut makanan udik alias kampung. Tapi bagi saya notebene lahir dan besar di kampung, ubi adalah makanan kesukaan. Kadang suka rindu kolek ubi atau sekedar kangen makan ubi goreng tanpa tepung. Dulu memang tepung terigu bukan barang akrab untuk orang kampung macam kami, jadi biasanya kami menggoreng ya tanpa tepung. Entah itu tempe, tahu, ubi juga pisang hehehe.
Nah, karena kesukaan pada ubi, saya pun merasa sedikit memaksa kesukaan ini pada anak-anak. Tapi mesti mengikuti selera anak-anak jaman sekarang. Kalau dulu singkong cukup dikukus lalu ditabur kelapa parut, sekarang saya menyajikan dengan cara dibuat singkong keju yang renyah. Demikian juga dengan ubi, kalau sudah bosan dibuat kolak, kadang saya ajak anak-anak berkreasi bikin biji salak atau candil ubi. Wah..., anak-anak langsung semangat tuh..
Tapi untuk jenis ubi satu ini saya lebih suka menyajikan dengan dioven saja. Pertama-tama sih beli yang mateng saja deh, praktis. Tapi penasaran juga ingin mengoven ubi Cilembu sendiri. Akhirnya, saya pun memutuskan mengoven sekilo ubi Cilembu. Saya mengikuti petunjuk mamang penjual yang sedikit pelit menunjukkan angka suhu di ovennya. Saya pasang suhu 180 derajat dalam waktu 1 jam. Ting..., oven berbunyi dan hasilnya ubi masih setengah matang. Tampilannya asli gak kece, karena tidak ada lengket-lengket seperti madu.
Saya pun memutar waktu di oven, satu jam lagi dan suhu dinaikan jadi 200 derajat. Okeh... lihat nanti bagaimana hasilnya. Dan... teng teng teng..., begini tampilannya saudara-saudara hehehe, asli bikin perut lapar. Apalagi kalau ditemani teh tawar atau kopi hitam. Cocok tuh dimakan di musim hujan. Mau coba, monggo...:)
Sementara lihatin dulu foto hasil jepretan ku ini ya... hihihi :)***
Rabu, 20 Januari 2016
Yang Perlu Diketahui Dari Pajak Binis Online
Berbisnis
secara online memang sangat menjanjikan untuk mengembangkan sebuah usaha.
Selain kemudahan, faktor lainnya yang menguntungkan adalah waktu dan tempat.
Berbisnis secara online bisa dilakukan kapanpun dan tidak akan dipusingkan
dengan tempat atau ruangan yang penuh. Keuntungan yang dihasilkan pun tidak
bisa dianggap kecil. Jika digabung dengan strategi yang tepat, jaringan
internet akan mengambangkan bisnis yang dibangun dengan cepat dan pesat.
![]() |
| https://www.facebook.com/photo.php?fbid= |
Wajarlah, jika bisnis ini sangat digemari oleh banyak kalangan. Tua mau pun muda, pemula juga profesional, berlomba-lomba mencari peluang yang ditawarkan. Belum lagi besarnya transaksi bisnis di dunia online yang sangat menjanjinkan. Menjadikan bisnis berbasis internet ternyata sangat potensial.
Hal itu pula yang membuat pemerintah berinisiatif menarik pajak dari bisnis online. Jangan sampai ada kesan tidak adil karena hanya bisnis offline dikenakan pajak. Tapi canangan pemerintah ini lebih banyak disambut dengan kepanikan dan kebingungan dari pelaku usaha online. Padahal menurut Zeti Arina, sebenarnya tidak ada yang beda atau khusus dari pajak ini. "Yang ada pajak penghasilan yang dikenakan terhadap wajib pajak yang secara subjektif dan objektif dari pelaku usaha online, yang telah memenuhi syarat sebagai wajib pajak."
Masih menurut Zeti, bahwa semua usaha bisnis online harusnya terkena pajak. Sesuai dengan peraturan pemerintag mengenai Penegasan Ketentuan Perpajakan Transaksi e- commerce dalam SE-62/PJ/2013. Pemerintah menetapkan ada 4 jenis e-commerce yaitu Classified Ads, Online Retail, Market Place dan Daily Deals. Pajak yang dikenakan adalah pajak dari pemberian gaji karyawan maupun transaksi jasa atau produk e-commerce itu sendiri.
Hal itu pula yang membuat pemerintah berinisiatif menarik pajak dari bisnis online. Jangan sampai ada kesan tidak adil karena hanya bisnis offline dikenakan pajak. Tapi canangan pemerintah ini lebih banyak disambut dengan kepanikan dan kebingungan dari pelaku usaha online. Padahal menurut Zeti Arina, sebenarnya tidak ada yang beda atau khusus dari pajak ini. "Yang ada pajak penghasilan yang dikenakan terhadap wajib pajak yang secara subjektif dan objektif dari pelaku usaha online, yang telah memenuhi syarat sebagai wajib pajak."
Masih menurut Zeti, bahwa semua usaha bisnis online harusnya terkena pajak. Sesuai dengan peraturan pemerintag mengenai Penegasan Ketentuan Perpajakan Transaksi e- commerce dalam SE-62/PJ/2013. Pemerintah menetapkan ada 4 jenis e-commerce yaitu Classified Ads, Online Retail, Market Place dan Daily Deals. Pajak yang dikenakan adalah pajak dari pemberian gaji karyawan maupun transaksi jasa atau produk e-commerce itu sendiri.
Bagi sebagian
pebisnis yang belum paham tentang hal ini,
pajak pasti terasa memberatkan. Karena dianggap sebagai beban. Alih-alih
membayar pajak mereka malah lebih memilih menghindari dengan tidak membayar.
Padahal jika ketahuan bisa mendatangkan sanki yang berat. “Mending tertib aman dengan membayar dan melaporkan. Dari pada enggak pernah
membayar, bila kemudian diperiksa bisa bangkrut karena harus membayar sanksi
yang cukup besar.” Jelas Zeti.
Sebagai seorang konsultan pajak, Zeti mengarahkan agar tidak perlu menghindari pajak. Memang, pajak tidak akan menghasilkan keuntungan langsung dalam bisnis. "Tapi jika anda membayar pajak maka akan terhindar dari sanki, sehingga kelangsungan bisnis akan terjaga. Yang kedua, jika penghasilan sudah dilaporkan maka profile harta kita secara perpajakan akan bertambah. Sehingga bisa suatu saat membeli aset tidak akan dipertanyakan darimana penghasilan didapat. Juga tidak akan ditanya apakah penghasilan itu telah dibayar pajaknya atau belum."
Nah, masih tetap tertarik melebarkan usaha di jejaring internet? Jangan lupa pajaknya juga ya, biar bisnis terus berjalan dengan aman. ***
Nah, masih tetap tertarik melebarkan usaha di jejaring internet? Jangan lupa pajaknya juga ya, biar bisnis terus berjalan dengan aman. ***
Sumber lain:
http://www.hartaku.com/mengenal-pajak-untuk-bisnis-online-di-indonesia/
Sabtu, 02 Januari 2016
Liburan Seru : Pengalaman Sehari Shooting
23 Desember 2015
Rabu tanggal 23 Desember dapat telepon dari pihak Penerbit Mizan. Ternyata, ada tawaran untuk Teteh Adzkiya, untuk berpartisipasi dalam acara Anak Indonesia di TVRI Bandung. Karena temanya tentang penulis anak, dan Mizan ( khusunya Dar!Mizan ) sebagai pencetus KKPK pun ditunjuk sebagai nara sumber. Alhasil, dalam waktu sesingkat-singkatnya dipilihlah beberapa penulis KKPK yang berdomisili di Bandung ( kan TVRI Bandung hehehe).
![]() |
| Teteh Adzkiya nyumput di balik kalender, agah di foto :) |
Sesuai janji pukul 15.00, saya , Teteh dan Omar sampai di Cinambo 135 Bandung. Akhirnya, setelah bekerja sama selama dua tahun, sempet juga menjejakkan kaki di kantor penerbit hahahay.... Secara saya pun belum pernah menjejakkan kaki ke kantor penerbit buku-buku saya hehehe.
Di Mizan, kami bertemu dua orang penulis KKPK lagi yang tentu saja diantar orang tua, Rafid dan ayah serta Zahra Qisti dan mama. Setelah berkenalan secukupnya dan menunggu beberapa lama, datanglah Mbak Dina dari TVRI Bandung. Sett..., beliau ini banyak sekali profesinya dari mulai penulis, sutradara juga produser. Jelasnya beliau ini orang sibuk dan keren lho, hehehe..
Proses wawancara perkenalan berlangsung hampir selama satu jam. Karena belum ketemu hal-hal unik, Mbak Dina meminta ketiga penulis KKPK itu untuk mengunjungi TVRI Bandung di Cibaduyut esok harinya. Tepatnya jam 15.00 juga sih. Kami selaku pengantar menyanggupi dan see you soon, tomorrow.
24 Desember 2015
Sejak semalam, Bandung sudah mulai didatangi para pelancong. Maklum, minggu ini ada dua hari libur nasional yang berderetan hingga membuat long weekend. Dari mulai kamis yang diperingati sebagai Hari Maulid Nabi Muhammad Saw., Jum'at yang diperingati sebagai Hari Natal dan sabtu minggu sebagai hari libur. Plus memang sudah memasuki waktu liburan anak-anak sekolah. Komplit sudah, laporan kemacetan menjadi bahan pembicaraan nitizen. Bahkan sampai di warung sayur di komplek rumah hehehe.
| https://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/f/f1/TVRI_Jabar_3-800x600_sundanescorner.jpg/220px-TVRI_Jabar_3-800x600_sundanescorner.jpg |
Ternyata, hanya Teteh dan Rafid yang bisa datang hari ini. Zahra berhalangan karena sakit. Dan kami pun dibawa berkeliling studio oleh Mbak Dina. Seru pastinya, kita jadi tahu seperti apa studio itu sebenarnya. Maaf gak ada foto-foto karena waktu itu lebih asyik mendengarkan penjelasan Mbak Dina dari pada foto-foto ( heheh ngeles aja padahal gak bawa kamera yang memadai ). Eh tapi saya malah asyik membayangkan drama korea The Producers ya ( halahhh... ), apalagi saat Mbak Dina menunjuk ruang kaca di tingkat dua. Dan menjelaskan bahwa itu ruang untuk mengatur semua yang terjad di floor .
Dan sepertinya di obrolan kedua pun, Mbak Dina belum puas. Maklum, dua anak ini kayaknya lebih asyik pakai bahasa kalbu dari pada ngomong. setiap ditanya jawabnya, ya atau tidak. Kalau sudah dikorek-korek baru agak panjang. Akhirnya, Mbak Dina memberi tugasmembuat tulisan seputar diri, keluarga, cita-cita, dan kasyikan menulis. dan seperti tebakan saya, keduanya langsung sepakat tanpa banyak mikir. Mungkin dalam bayangan mereka, menulis mah cingcai lah hahaha...
Kami pun pulang dengan pikiran penuh. Penuh ide dan pengalaman. Ternyata seru juga sesekali tour ke studio televisi. Kita akan makin menghargai kerja keras kru yang berusaha menampilkan tayangan terbaik sesuai bidang mereka :)
Tepat seperti perkiraan saya, Teteh bisa menulis tiga halaman lebih untuk tugas dari Mbak Dina. Saat saya membaca tulisannya, saya bahkan bisa tertawa dan sedikit kaget. Termasuk saat dia menulis apa yang paling diinginkannya, cita-cita dan keinginannya untuk mendapat beasiswa kuliah ke luar negeri dan menuliskan beberapa beasiswa yang pernah di dapatnya di SD.
Antara 25-29 Desember 2015
Kami mengisi liburan menengok saudara yang akan pergi umroh, menghadiri syukuran rumah seorang kawan ( tepatnya minta makan ya bu hehehe ), menyelesaikan persoalan persawahan milik ci ayah dan akhirnya pulang lagi ke Bandung. Badan terasa capek poll. Dan beberapa kali dalam sehari tengok-tengok email ci Teteh, untuk melihat ada info atau tidak dari Mbak Dina.
Entah ada masalah apa, yang jelas tidak ada pemberitahuan dan kabar apa pun. Saya pun berpikir ya sudah, belum rezekinya mungkin. Nanti juga ada kesempatan lain. Dan ternyata...
30 Desember 2015
Hari baru menunjukkan jam setengah delapan pagi, ketika telepon dari Mbak Dina masuk. "Sudah ada dimana?"
"Masih di rumah." Saya yang bingung jawab apa adanya.
"Lho, kok masih di rumah. Gak baca email saya?"
"Enggak ada email Mbak Dina."
"Ah..., SMS ada gak?"
"Enggak.."
"Ah..., SMS ada gak?"
"Enggak.."
"Ya sudah, datang sekarang ya..., ditunggu."
"Kemana?"
"Cimanbo."
"Oke"
Dan saya pun langsung menginstruksikan Teteh untuk mandi, bersiap ke Mizan lagi. Gak berapa lama Mbak Dian kembali muncul di layar hp. "Bawa baju ganti,
oke."
"Siap"
Saya dan Teteh pergi dianter mamang ojeg sampai ke kantor Mizan. Di sana sudah ada Rafid plus Ayah, Zahra plus Mama dan Mbak Dina plus kru TVRI Bandung. Tak lama kami dipertemukan dengan Kak Sri Izzati ( penulis yang mempelopori KKPK ). Hehehe, ternyata dah tumbuh jadi gadis manis nih Kak Izzati, sudah kuliah pula di Psikologi UI. "Sudah tahun ketiga." Jelasnya masih dengan wajah sumringah.
Acara kenalan selesai. Mbak Dina langsung meminta kami semua bersiap, termasuk dirias ( make up ) sebelum kesorot kamera. Setelah itu akan langsung diambil take adegan kedatangan ke Mizan. Tapi sebelum itu foto dulu dong para pemerannya hehehe. Seperti di bawah ini :
Hahaha... sempetin selfie dulu ahh, cekrek..:)
![]() |
| Begini nih kalau kru lagi siap-siap ambil gambar...:) |
Nah, di bawah ini foto Kak Izzati dan Adzkiya. Hemm... makin kagum deh ama mahasiswi satu ini yang katanya masih dan akan terus menulis. Daebak ..:)
![]() | ||
| padahal udah all out, tapi kurang ceria juga, ulangiiii... |
![]() | ||
| adegan depan laptop dan buku hasil karya 'Misteri Teror Sepatu' by Adzkiya |
Menurut kabar yang beredar, hasil shooting kami hari itu akan ditayangkan di TVRI Bandung pada Ahad 10 Januari 2016. Jam nya sekitar jam 09.00 atau 10.00. Hehe kenapa saya bilang sekitar karena memang itu kabar yang saya dapat dari Mbak Dina. Insha Allah akan ada pemberitahuan lagi. atau bisa juga kunjungi website TVRI Bandung. Nah, yang ingin melihat versi lengkap tentang anak-anak yang menjadi penulis cilik ini, bisa lihat tayangan di layar kacanya ya kawan semua...:) Semoga bisa streaming, kan asyik tuh bisa dilihat lebih banyak mata lagi hehehe ( ngarep aslinya mah..)
Akhirnya, saya tutup tulisan ini dengan senyum mengembang dan penuh syukur. Semoga semua pengalaman ini bermanfaat dunia akhirat. Semoga selalu berkah yang datang. Semoga makin banyak anak-anak yang tersemangati untuk menulis dan menekuni bakat mereka. Semoga saya juga makin kenceng nulisnya dan menelurkan lebih banyak karya lagi ( yang bermanfaat tentunya ya... hehehe ) di tahun 2016 ini. Semoga dikabulkan, aamiin...
Terima kasih untuk semua pihak yang tidak bisa disebut satu persatu, terima kasih Bu Dina, Kak Rama Mizan, Penerbit Mizan, TVRI Bandung, Crew yang kompak dan jempolan, Kak Izzati, Zahra, Rafid, Ayah Rafid, Mama Zahra. Senang sudah bekerja sama dengan kalian semua :)
See you next journey ..:) ***
Fakta Seputar Mimisan yang Anda Perlu Tahu
Gara-gara Mas Hafidzi mimisan dua kali seminggu ini, saya langsung mencari info tentang mimisan. Secara itu adalah kejadian langka. Memang, saat mengandung si kembar saya juga pernah juga mimisan. Setelah konsultasi ke dokter katanya itu bukan sesuatu yang gawat. Karena mengandung anak kembar berarti pernapasan dalam tubuh saya pun jadi tripel hehehe. Wajar kalau suhu tubuh pun cenderung mudah naik dan itu bisa menyebabkan mimisan.
Nah, saat mengandung Mas Hafidzi pun beberapa kali saya mimisan. Saya pun tidak terlalu mempermasalahkan karena perubahan berat badan memang drastis. Pas hamil ni anak memang selera makan oke banget. Bahkan, saat kehamilan baru memasuki usia 4 bulan, dikira sudah lima bulan, karena tinggi fundus lebih cocok di usia 5 bulan.
Tapi dari dua kehamilan itu, yang sekarang sering mimisan ( dikatakan sering karena memang sudah lebih dari dua kali di waktu sebelumnya ya.. ) itu hanya Mas Hafidzi. Saya pun jadi mikir, apa memang ada hubungannya ibu yang saat hamil akan menurunkan bakat mimisan pada si anak?
Nah, pertanyaan di atas bisa didapat dari beberapa fakta tentang mimisan berikut ini :
1. Mimisan disebabkan karena pecahnya pembuluh darah di hidung. Ada dua bagian rongga hidung, bagian depan dan belakang. umumnya sih ( artinya hampir 90 % ) mimisan yang dialami adalah pecahnya pembuluh darah di bagian rongga hidung depan. Termasuk yang dialami oleh anak-anak dan ini cenderung tidak berbahaya, mengingat anak-anak masih dalam proses pertmbuhan dan perkembangan.
2. Mimisan biasanya terjadi dalam waktu singkat, kurang dari 5 menit. Bahkan mimisan bisa terjadi saat sedang tidur, artinya tidak dalam kondisi sadar. Darah yang keluar pun tidak banyak. Tapi ada juga yang mengalami mimisan sampai 30 menit dan volume darah yang banyak. Maka, untuk kasus seperti ini sebaiknya segera bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
3. Penyebab mimisan sangat beragam, seperti buang ingus terlalu keras, luka di rongga hidung karena sering dikorek ( biasanya anak-anak nih yang suka memasukkan apa saja ke lubang hidungnya hemmmm:( ), bentuk hidung yang bengkok ( ini biasanya diturunkan atau faktor keturunan ), pengaruh udara yang dingin dan kering, adanya masalah pada pembekuan darah ( dalam kasus hemofilia ), tumor dalam rongga hidung, sinutisis kronis dan gelaja kritis penyakit seperti dalam kasus demam berdarah.
4. Menurut dokter, mimisan tidak diturunkan dari ibu yang selama hamil memiliki riwayat mimisan. Jadi kalau pun ternyata si anak sering mengalami mimisan bisa disebabkan oleh banyak hal. Termasuk kebaiasaan anak untuk mengorek rongga hidungnya sampai luka.
5. Cara tepat menangani mimisan dengan merubah posisi tubuh menjadi duduk. posisi ini bisa mengurangi tekanan pada pembuluh darah daerah hidung, dibanding posisi tidur. condongkan tubuh danTundukkan kepala agar darah keluar dari rongga hidung. Ini juga untuk menghindari darah masuk ke tenggorokan. Jika ada darah yang terlanjut masuk tenggorokan, keluarkan dengan meludah. Jangan menelannya karena akan memicu keinginan untuk muntah.
Tekan hidung dengan ibu jari sekitar 10 menit. Jangan lupa bernafas melalui mulut dulu ya hehehe. hal ini bermanfaat untuk menekan sumber darah dan menghentikan pendarahan. kompres hidung dengan air dingin. Atau bisa juga dengan menggunakan daun sirih yang sudah diremas. Getah yang dikandung dalam daun sirih dipercaya bisa menghentikan pendarahan di rongga hidung.
Itu juga yang saya lakukan saat Mas Hafidzi mimisan. Dengan daun sirih yang banyak tumbuh di taman erte hehehe.
Mudah-mudahan yang saya tulis ini bermanfaat ya kawan...:)***
Senin, 21 Desember 2015
Air Beras, Solusi Kulit Bersih Tanpa Kantong Bolong
Bagi Anda yang mendambakan kulit cantik, tapi dana terbatas ( hahahai ), coba gunakan yang paling dekat dengan kehidupan kita, air beras. Air ini bisa didapat dengan cara murah meriah ketika kita mencuci beras. Nah, air yang putih keruh itu jangan dibuang ya Kawan, tapi bisa digunakan untuk cuci muka, towner dan juga masker. Wow...
Air beras sudah dari dulu dipercaya memiliki khasiat dalam urusan kecantikan kulit. Bahkan nih, menurut info hasil baca-baca dan nyimak berita, air beras adalah rahasia kecantikan para super model dunia ( iye ke..., alah langsung ada yang nanya pake Upin Ipin mode on ). Tapi wajar sih, masuk akal juga. Karena dalam air cucian beras banyak terkandung protein, karbohidrat, glutein, selulosa dan vitamin B yang jumlahnya cukup tinggi. Bahkan kandungan ini belum tentu didapat ketika beras sudah masak menjadi nasi lho!
Berikut beberapa manfaat air beras untuk kecantikan kulit :
1. Mencerahkan kulit
caranya, cuci muka dengan air bekas cuci beras secara teratur. Memang butuh waktu ya.., tapi secara bertahap kulit akan terlihat cerah dan flek-flek hitam akan memudar. Asyiknya lagi, cara ini bisa dilakukan setiap hari tanpa takut efek samping.
2. Mengatasi kerontokan rambut
Caranya dengan keramas dengan menggunakan air cucian beras. Pijit-pijit sebentar lalu bilas dengan air bersih. Setelah itu baru gunakan shampo dan bilas lagi hingga bersih. Cara ini pun bisa dilakukan untuk rambut yang rusak karena sering dicatok atau salah menggunakan produk perawatan rambut .
3. Menghaluskan kulit
Bukan hanya untuk kulit wajah, air beras yang digunakan untuk mandi memiliki khasiat yang sama dengan mandi susu lho. Tapi kalau memang untuk mandi terlalu mahal ( hehehe..., beras yang sehat kan mahal juga yee ) gunakan air endapan cuci beras untuk masker dan lulur.
4. Mengontrol kelebihan minyak
Ternyata, mencuci muka dengan air beras setiap hari efektif mengontrol kelebihan minyak di kulit wajah , Kawan. Ah ya..., untuk kulit normal cenderung berminyak bisa gunakan beras putih. Untuk semua jenis kulit bisa gunakan beras hitam dan beras merah untuk kulit normal cenderung kering.
1. Taruh beras di tempat cuci beras. Isi dengan air dan cuci ringan untuk menghilangkan debu dan kotoran dalam beras. buang airnya.
2. Isi lagi dengan air, gosok-gosok atau aduk-aduk beras. Diamkan selama 30 menit untuk mendapatkan hasil terbaik. Masukkan air cucian beras ke dalam wadah.
Nah, air ini bisa langsung digunakan untuk mencuci wajah. pijit-pijit wajah dengan jari selama 6 menit, lalu bilas dengan air bersih dan keringkan dengan handuk lembut ( agak ditepuk-tepuk lembut ya...)
3. Jika ingin dijadikan lulur atau masker, diamkan air cuci beras ini hingga terlihat ada endapan. buang air dan gunakan endapan untuk lulur dan maskeran.
Saya juga sudah mencoba untuk saya dan anak-anak. Anak-anak saya semuanya aktif, ikut renang, porak sampai kemping pramuka. Akibatnya wajah mereka hitam gosong dan ada juga yang belang ( karena pakai jilbab ). Saya pakaikan endapan air cuci beras untuk maskeran. Mungkin karena anak-anak, sekali pakai saja hasilnya sudah terlihat, muka terlihat lebih bersih, gak gosong-gosong amat hehehe. Alhamdulillah ala kulli hal. Anda mau mencoba juga, Kawan? Sila kan.. monggo... Semoga bermanfaat ya...***
Ket : Disarikan dari beberapa sumber
Minggu, 20 Desember 2015
Tempatkan Iman Di Atas Cinta
| http://bungahati.net/513-703-large/bunga-matahari-vas-kaca-cantik.jpg |
Hari itu, ada undangan pertemanan di BBM saya. Awalnya berkernyit, merasa tidak kenal. Karena memori hape yang seadanya dan sudah penuh, saya pun kadang 'milih-milih' untuk urusan contact di BBM maupun WA. Hape sering ngehang kawan, heuheueheu dan saat ini bukan waktu yang tepat untuk minta lem biru ke donatur tetap alias suami hahaha
Sudah lah membicarakan tentang gadget saya hehehe. Akhirnya saya pun meng-accept permintaan teman yang berkali-kali membunyikan notifikasi. Dan setelah berkenalan, saya pun berucap hamdalah, karena kami sudah dipertemukan oleh Allah Swt.
Wanita cantik yang sebut saja namanya Neng ini curhat, tentang rumah tangganya yang diujung tanduk. "Saya sudah menikah, Teh. Suami saya adalah seorang muallaf. Tapi setelah dua bulan pernikahan, dia kembari kepada keyakinannya yang dulu. Sedih Teh, saya yang merasa ini tidak benar. Saya berusaha mengingatkannya, tapi suami bilang bahwa dia tidak akan mencampuri iman saya, juga tidak akan mengajak saya pindah ke agamanya. urusan agama itu urusan masing-masing."
Deg..., sampai di sini, dada saya bergetar karena haru. Subhanallah, kisah yang beberapa tahun lalu sempat jadi rame di infotainment karena pelakunya artis sekarang dialami oleh orang biasa macam Neng. Hebatnya, Neng yang merasa bahwa kondisi ini tidak benar dan tidak betah tinggal di rumah penuh pernak-pernik agama suaminya, memilih untuk kembali ke rumah orang tuanya.
Memang, menikah itu bukan sekedar untuk menemukan jodoh atau teman hidup. Bukan untuk melegalkan hidup bersama dengan lawan jenis. Bukan karena dikejar-kejar umur yang semakin tua. Juga bukan untuk memenuhi hasyrat biologis semata. Tapi untuk menggenapkan setengah din ( agama ). Itu lah kenapa Islam memandang pernikahan sangat tinggi dan berharga.
Jika pemahamannya, menikah untuk menggenapkan Din, maka secara keimanan harus pada satu kesatuan. Tidak ada perbedaan iman di dalam menggenapkan Din. Pastinya tidak akan mungkin genap ( utuh ) jika dalam rumah tangga yang dibangun ada dua keyakinan yang berbeda. Di sini lah, kenapa agama menjadi satu persyaratan utama dalam memilih pasangan di atas cinta, penampilan, harta maupun keturunan.
Ketetapan Allah juga bahwa saya menuliskan kisah seperti ini dalam buku Surat untuk Muslimah ( Ayesha el Himah Quanta Elex Media Komputindo ). Judulnya, Cinta Saja Tidak Cukup . Saya masukkan sub bab ini di Bab 2 Pelayan di Dunia, Bidadari di Syurga yang memang membahas tentang pernikahan dan pasangan. Di bab itu saya betul- betul menuliskan kisah tentang penistaan agama yang pernah dituduhkan pada seorang artis yang menjadi muallaf sebelum menikah dan setelah menikah menyatakan pkeislamannya tidak benar. ( bagi yang mau baca versi komplitnya, ke toko buku dan beli bukunya ya..., atau bisa juga via toko buku on line hehehe ).
Ada sebuah pesan penting untuk para muslimah, bahwa menikah itu jangan hanya berdasarkan cinta ( catet ya...). Karena berkali-kali Rasulullah menjelaskan bahwa agama atau iman adalah dasar awal dalam membangun rumah tangga yang bisa mengundang ridha Allah Swt. Dalam Al Quran jelas-jelas diatur tentang larangan menikahkan seorang muslimah dengan laki-laki yang tidak seiman.
| "Janganlah kamu nikahkan orang-orang musyrik ( dengan wanita-wanita mukmin ) sebelum mereka beriman ." ( QS. Al Baqarah : 221 ) "Nikahilah kali-laki shaleh dan carilah istri shalehah yang memiliki pengetahuan agama yang cukup. Minimal tahu tentang pokok-pokok ajaran agama Islam." ( Al Hadist ) |
| http://www.rumahnikah.com/wp-content/uploads/2014/10/Pengertian-Akad-Nikah-Dalam-Islam-300x300.jpg |
Saya jadi ingat dengan sebuah kisah indah tentang kokohnya iman seorang muslimah. Sebuah kisah yang saya ceritakan dengan harapan menguatkan hati Neng. Dia adalah Ummu Habibah yang beriman bersama suaminya. Karena kondisi penindasan dan siksaan yang dialami kaum muslimin di Mekkah maka, perintah untuk hijrah ke Habasyah pun turun. Ummu Habibah berangkat bersama suaminya. Beberapa waktu tinggal di Habsyah, rupanya keimanan suami Ummu Habibah mulai berubah. Sampai akhirnya dia pun memilih keluar dari Islam dan menjadi seorang Nashara ( karena dulu Habasyah adalah negeri yang mayoritas penduduknya bergama Nasrani ).
Ummu Habibah yang bersedih berusaha mengajak suaminya untuk kembali pada Islam. Sayang, apa yang diharapkannya tidak menjadi kenyataan. Tapi Allah menggantinya dengan kebaikan berkali lipat. Rasulullah mengirim pinangan untuknya dari Madinah. Hingga Ummu Habibah pun menjadi satu dari Ummahatul Mukminin.
Saya yakin teman baru saya juga masih sangat sayang dengan suaminya. Dia pun bercerita selalu berdoa dan berusaha terus mengingatkan suaminya untuk kembali pada Islam. Di akhir percakapan pun saya menuliskan kata-kata dengan harapan menyemangati Neng, "Yang sabar, yang kuat... yakin, Insha Allah di depan ada takdir yang jauh lebih baik untuk Teteh. Dan kalau pun dia ( suami Neng ) tidak mau kembali pada jalan kebenaran, yakin Allah akan mengirimkan imam yang jauh lebih baik dan lebih shaleh untuk teteh."
Teriring doa dan semangat untuk teman muslimahku yang cantik dan shalihah ***
Rabu, 16 Desember 2015
Be Brave, Kids!
Sore itu saya menyimak pembicaraan si kembar yang baru pulang sekolah. Sambil menikmati susu buatan mereka sendiri, keduanya saling bertanya tentang kegiatan esok hari. Kebetulan, besok adalah kegiatan lomba setelah musim UAS selesai. Banyak lomba yang diadakan pihak sekolah, dari mulai olah raga ( futsal, senam ) baris-berbaris, tebak ayat, cerdas cermat dan ada juga story telling.
"Kamu ikut lomba apa aja, Ka?" Tanya si bujang pada kembarannya.
"Aku ikut 3 lomba." Ujar Kaka dengan santai.
"Sombong banget, kayak yang mau menang aja." Si bujang sensi. Selidik punya selidik, dia hanya memilih satu lomba yang memang diminatinya, futsal .
"Lho, kenapa? memang kalau lomba harus menang? Yang penting kamu berani mencoba. Aku memang gak jago bahasa Inggris, tapi mau mencoba story telling. Aku juga ikut cerdas cermat, walau kalah gak papa berarti kudu belajar lagi. Trus senam karena memang seneng banget ikutan senam."
Saya melihat apa yang terjadi dan mulai memahami kenyataan yang ada. ( Halah... bahasanya berat banget Bu..hihihi ). Keduanya memang kembar, tidak seperti Upin Ipin, karena satu cewek, satu cowok. Sifat keduanya pun berbeda jauh. Si laki-laki cenderung cuek, ogah moving kalo dah nemu zona nyamannya, dan termasuk anak yang santai ( Ibunya yang suka rudet ngadepin si Aa ). Nah, kembarannya yang biasa kami panggil Kaka, memang cenderung lebih berani. Di TK dia pernah melawan anak cowok yang jadi jagoan di sekolahnya. Padahal gak ada yang berani ribut sama si jagoan kecil itu, dan satu-satunya yang melawan ( cewek lagi hehehe ) ya cuma si Kaka.
Rasulullah sebagai pendidik terbaik manusia juga menekankan aspek keberanian dalam pembentukan sebuah generasi. Bahkan keberanian merupakan karakter yang harus dimiliki seorang muslim ( catet ya ibu-ibu ). Hingga sejarah mencatat seorang Usama bin Zaid bin Haritsah yang ketika usianya belum genap 20 tahun sudah menjabat sebagai panglima perang pilihan. Beberapa sahabat dari golongan Assabiqunal Awwalun juga tercatat sebagai kaum muda yang penuh keberanian. Seperti, Sa'ad bin Abi Waqqash juga Mush'ab bin Umair.
Beberapa buku parenting yang saya baca, menyatakan bahwa untuk memunculkan keberanian perlu dilihat dulu penyebabnya. Karena beda sebab maka beda juga penyelesaiannya :)
1. Motivasi
Ada anak-anak yang tiba-tiba berubah menjadi penakut dan ragu karena menghadapi hal yang baru. Jangan bosan memotivasi anak untuk mengatasi rasa takut atau malu yang ada dalam diri mereka. Tunjukkan dan yakinkan anak bahwa apa yang mereka khawatirkan tidak akan terjadi, tidak perlu menjadi beban.
Beberapa hari yang lalu saya meminta tolong si bujang untuk mengantar buku pesanan pada orang tua murid yang lain. Masih satu sekolah dan si murid yang saya titipi buku pun berada jauh di bawah tingkatnya. "Jangan Aa lah Bu?" Si bujang langsung menolak.
"Kenapa?"
"Aa gak kenal."
"Ya kenalan dong Aa. Dia anak laki-laki kok sama kayak Aa. Kalau ibu nyuruh Kaka atau Mbak, malah aneh kan?"
"Em... jangan Aa lah..., Aa malu." Akhirnya keluar juga alasan sebenarnya.
Saya pun menjelaskan bahwa malu itu kalau melakukan perbuatan yang salah. "Bukunya sudah ibu bungkus rapi. Ibu juga sudah tulis nama anak dan kelasnya. Pas jam istirahat, coba ke kelasnya dan panggil dia." Saya malah menambahkan anaknya yang pake kaca mata.
Masih ragu si bujang pun akhirnya menerima titipan saya dan seperti biasa saya kembali ingatkan sebelum berangkat sekolah. Saat pulang, "Buku sudah dikasih ke A*n** yang pake kaca mata. " Wajah si bujang pun terlihat senang penuh percaya diri.
2. Latihan dan latihan
Jangankan anak, orang tua saja bisa panas dingin jika disuruh naik panggung. Bagi yang biasa bicara atau tampil di muka umum, itu mah masalah sepele. Tapi jika biasanya dia hanya bisa pidato di depan anak-anaknya, lain cerita hehehe. Setelah memberi semangat, latihan juga sangat diperlukan.
Saya salut sekali saat guru si kembar bercerita bahwa di sekolah, banyak pelajaran yang diberikan dengan cara diskusi. Anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok dan diberi tema sesuai dengan mata pelajarannya. "Anak-anak dilatih berani bicara di depan teman-temannya. Kadang ada anak yang pinter tapi giliran bicara di depan umum jatuh mentalnya. Akhirnya malah dia tidak telihat pintar. Dia terlihat tidak menguasai bahan diskusi. Kalah sama yang berani."
Bu guru juga menyarankan anak-anak untuk didorong ikut lomba-lomba di daerah rumah, termasuk lomba Agustusan, Tahun Baru Islam dan lain-lain. Ini merupakan ajang latihan anak-anak agar lebih berani.
Semalam, Kaka juga berlama-lama menghapal materi story telling. Karena dia latihan di depan kami semua, banyak godaan ( terutama dari si sulung dan kembarannya ) tapi juga koreksi pada pengucapan yang kurang tepat. Ditambah vokabulari yang minim, saya pun tidak berharap dia menang. Yang penting dia sudah berani tampil, itu sangat saya syukuri, Alhamdulillah. Sifat berani itu jauh lebih penting, tul gak?
3. Bangun Percaya Dirinya
Nah, khusus untuk Aa, saya pikir bukan karena dia penakut. Tapi dia memiliki rasa percaya diri yang belum sebesar kembarannya. Dia memang cenderung mengalah. Kata bu gurunya juga tipe yang gak suka cari ribut. Walau sesekali kadang bersitegang dengan temannya, tapi masih dalam hal yang wajar. Dia berani ribut dan berani jail ya sama saudaranya kalau bukan kembarannya ya adik-adiknya. Nah, sedang dengan orang lain dia merasa belum pede.
Anak perlu diyakinkan bahwa dia memiliki kemampuan seperti teman-temannya. Tidak ada yang jelek dalam dirinya. Bahkan dirinya memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki teman-temannya ( seperti pujian gurunya ). Bagi anak-anak yang lebih suka mengalah ( baik pada teman, maupun saudara atau bahkan orang tuanya ), yakinkan anak untuk berkata 'Tidak' terhadap apa yang tidak disukainya. Mengalah itu ada waktunya, tidak setiap waktu dia harus mengalah. Di waktu lain bahkan saat dia merasa tidak suka, dia harus mempertahankan pendapatnya. Ini agar anak tidak terjerumus pada hal-hal negatif dari teman maupun lingkungan sekitarnya.
4. Kegiatan yang Menantang
Sebagian orang tua mungkin pernah menanyakan manfaat outbond yang sering diadakan sekolah, terutama sekolah swasta atau full day. Bahkan di sekolah anak-anak, outbond dilakukan bukan hanya untuk kelas bawah ( 1-3 tahun ). Untuk anak kelas atas pun, ada program outbond sekali satu semester. Ternyata, kegiatan outbond yang menantang adrenalin efektif untuk mendongkrak jiwa berani anak.
Ini saya rasakan manfaatnya pada si sulung yang memang cenderung penakut. Tapi dengan mengikuti outbond dari sekolahnya perlahan dia jadi berani. Saya bahkan sampai suprise saat dia pulang outbond dan bercerita permainan apa saja yang diikutinya. termasuk flying fox yang memang sangat dihindarinya karena takut ketinggian.
Beberapa buku parenting yang saya baca, menyatakan bahwa untuk memunculkan keberanian perlu dilihat dulu penyebabnya. Karena beda sebab maka beda juga penyelesaiannya :)
1. Motivasi
Ada anak-anak yang tiba-tiba berubah menjadi penakut dan ragu karena menghadapi hal yang baru. Jangan bosan memotivasi anak untuk mengatasi rasa takut atau malu yang ada dalam diri mereka. Tunjukkan dan yakinkan anak bahwa apa yang mereka khawatirkan tidak akan terjadi, tidak perlu menjadi beban.
Beberapa hari yang lalu saya meminta tolong si bujang untuk mengantar buku pesanan pada orang tua murid yang lain. Masih satu sekolah dan si murid yang saya titipi buku pun berada jauh di bawah tingkatnya. "Jangan Aa lah Bu?" Si bujang langsung menolak.
"Kenapa?"
"Aa gak kenal."
"Ya kenalan dong Aa. Dia anak laki-laki kok sama kayak Aa. Kalau ibu nyuruh Kaka atau Mbak, malah aneh kan?"
"Em... jangan Aa lah..., Aa malu." Akhirnya keluar juga alasan sebenarnya.
Saya pun menjelaskan bahwa malu itu kalau melakukan perbuatan yang salah. "Bukunya sudah ibu bungkus rapi. Ibu juga sudah tulis nama anak dan kelasnya. Pas jam istirahat, coba ke kelasnya dan panggil dia." Saya malah menambahkan anaknya yang pake kaca mata.
Masih ragu si bujang pun akhirnya menerima titipan saya dan seperti biasa saya kembali ingatkan sebelum berangkat sekolah. Saat pulang, "Buku sudah dikasih ke A*n** yang pake kaca mata. " Wajah si bujang pun terlihat senang penuh percaya diri.
2. Latihan dan latihan
Jangankan anak, orang tua saja bisa panas dingin jika disuruh naik panggung. Bagi yang biasa bicara atau tampil di muka umum, itu mah masalah sepele. Tapi jika biasanya dia hanya bisa pidato di depan anak-anaknya, lain cerita hehehe. Setelah memberi semangat, latihan juga sangat diperlukan.
Saya salut sekali saat guru si kembar bercerita bahwa di sekolah, banyak pelajaran yang diberikan dengan cara diskusi. Anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok dan diberi tema sesuai dengan mata pelajarannya. "Anak-anak dilatih berani bicara di depan teman-temannya. Kadang ada anak yang pinter tapi giliran bicara di depan umum jatuh mentalnya. Akhirnya malah dia tidak telihat pintar. Dia terlihat tidak menguasai bahan diskusi. Kalah sama yang berani."
Bu guru juga menyarankan anak-anak untuk didorong ikut lomba-lomba di daerah rumah, termasuk lomba Agustusan, Tahun Baru Islam dan lain-lain. Ini merupakan ajang latihan anak-anak agar lebih berani.
Semalam, Kaka juga berlama-lama menghapal materi story telling. Karena dia latihan di depan kami semua, banyak godaan ( terutama dari si sulung dan kembarannya ) tapi juga koreksi pada pengucapan yang kurang tepat. Ditambah vokabulari yang minim, saya pun tidak berharap dia menang. Yang penting dia sudah berani tampil, itu sangat saya syukuri, Alhamdulillah. Sifat berani itu jauh lebih penting, tul gak?
3. Bangun Percaya Dirinya
Nah, khusus untuk Aa, saya pikir bukan karena dia penakut. Tapi dia memiliki rasa percaya diri yang belum sebesar kembarannya. Dia memang cenderung mengalah. Kata bu gurunya juga tipe yang gak suka cari ribut. Walau sesekali kadang bersitegang dengan temannya, tapi masih dalam hal yang wajar. Dia berani ribut dan berani jail ya sama saudaranya kalau bukan kembarannya ya adik-adiknya. Nah, sedang dengan orang lain dia merasa belum pede.
Anak perlu diyakinkan bahwa dia memiliki kemampuan seperti teman-temannya. Tidak ada yang jelek dalam dirinya. Bahkan dirinya memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki teman-temannya ( seperti pujian gurunya ). Bagi anak-anak yang lebih suka mengalah ( baik pada teman, maupun saudara atau bahkan orang tuanya ), yakinkan anak untuk berkata 'Tidak' terhadap apa yang tidak disukainya. Mengalah itu ada waktunya, tidak setiap waktu dia harus mengalah. Di waktu lain bahkan saat dia merasa tidak suka, dia harus mempertahankan pendapatnya. Ini agar anak tidak terjerumus pada hal-hal negatif dari teman maupun lingkungan sekitarnya.
4. Kegiatan yang Menantang
Sebagian orang tua mungkin pernah menanyakan manfaat outbond yang sering diadakan sekolah, terutama sekolah swasta atau full day. Bahkan di sekolah anak-anak, outbond dilakukan bukan hanya untuk kelas bawah ( 1-3 tahun ). Untuk anak kelas atas pun, ada program outbond sekali satu semester. Ternyata, kegiatan outbond yang menantang adrenalin efektif untuk mendongkrak jiwa berani anak.
Ini saya rasakan manfaatnya pada si sulung yang memang cenderung penakut. Tapi dengan mengikuti outbond dari sekolahnya perlahan dia jadi berani. Saya bahkan sampai suprise saat dia pulang outbond dan bercerita permainan apa saja yang diikutinya. termasuk flying fox yang memang sangat dihindarinya karena takut ketinggian.
Rasulullah juga menyarankan beberapa jenis olah raga yang bisa membangun mental keberanian anak. Seperti, berkuda, memanah dan berenang. Ketiga jenis olah raga ini selain menuntut kedispilinan, kepercayaan diri, konsentrasi juga keberanian. "Setiap sesuatu yang tidak termasuk mengingat Allah, ia merupakan
permainan yang sia-sia kecuali empat hal ; seorang lelaki berjalan di
antara dua tujuan (untuk memanah), melatih berkuda, bermesraan dengan
keluarga, dan mengajarinya berenang." Hadist Riwayat At-Thabrani
Kuda adalah tunggangan atau sarana transportasi yang sudah lazim di masyarakat Arab waktu itu. Mempelajarinya juga mendukung kehidupan mereka yang terbiasa dengan kondisi alam yang keras. Demikian juga dengan memanah yang dalam konteks saat itu adalah senjata andalan. Memanah banyak memiliki aspek selain membidik dan melepaskan anak panah. Dari mulai perhitungan arah, pembacaan arah angin, konsentrasi , kekuatan dan keteguhan tekad. Lalu bagaimana dengan berenang? Bukankah di Arab susah ditemukan danau yang memang dipakai untuk berenang?
Bisa jadi ini adalah pengajaran dari Nabi, agar umatnya mau keluar dari comfort zone nya. Ya, manusia yang terbiasa hidup di darat, mudah bernafas, diajar untuk melatih dirinya dalam kondisi yang tidak biasa. Di dalam air, dia harus mengatur nafas, mengatasi ketakutannya akan tenggelam dan juga koordinasi gerakan beberapa anggota tubuh lainnya. Intinya, dari ketiga macam olah raga di atas selain keterampilan, faktor keberanian juga sangat menentukan.
5. Contoh dari Orang Tua
Duh pas bab ini, saya agak kesentil. Secara saya ini orangnya penakut hehehe. Suami kadang sering nyindir, "Gak bakalan bisa nyetir mobil kalau masih panikan kayak kamu mah.." Untuk urusan bicara di depan umum sih saya dah biasa karena dari SD pun memang terbiasa jadi dirigen atau pembaca UUD ( wah sekarang masih ada gak ya hehehe ). Ikutan lomba juga oke, karena dah pernah juga ikut cerdas cermat walau gak lolos sampai Kabupaten :(
Makanya, kalau urusan mengajari anak naik sepeda,berenang atau kegiatan luar yang memacu adrenalin saya serahin ke ahlinya, bapaknya anak-anak. Saya bagian yang lain aja deh hehehe. Jadi kita bagi peran saja ya...
Balik lagi ke topik tulisan hehehe, jadi sebaiknya orang tua menunjukkan contoh nyata tentang keberanian. Tidak takut mencoba hal yang baru, berani menyatakan pendapat, tidak negdumel di belakang, apalagi selalu mengalah. Anak-anak yang melihat orang tuanya memiliki sifat tertutup dan lebih suka di zona nyamannya ya akan meniru. Jadi jangan maksa anak untuk berani kalau orang tua juga tidak memiliki sifat berani.
6. Kurangi Kritikan, Perbanyak Pujian
Jadi ingat isi ceramah sambutan kepala sekolah si pengais bungsu kemarin, di masa golden age, satu kritikan dan bentakan akan mematikan jutaan syaraf-syaraf kecerdasannya. Sedang satu pujian akan menumbuhkan jutaan syaraf-syaraf dalam otaknya. Subhanallah..., betapa hebatnya sebuah pujian. Maka, dari pada mengkritik dan menilai anak negatif, lebih baik menggantinya dengan penghargaan. Anak-anak akan timbul keberanian berlipat-lipat saat mereka berhasil melangkah satu langkah dari rasa takutnya. So.., mari kita hitung lebih banyak mana yang kita beri pada anak, pujian atau kritikan?
Ada yang mau menambahkan, silah kan tulis di komen ya... Dan semoga bermanfaat kawan :)
5. Contoh dari Orang Tua
Duh pas bab ini, saya agak kesentil. Secara saya ini orangnya penakut hehehe. Suami kadang sering nyindir, "Gak bakalan bisa nyetir mobil kalau masih panikan kayak kamu mah.." Untuk urusan bicara di depan umum sih saya dah biasa karena dari SD pun memang terbiasa jadi dirigen atau pembaca UUD ( wah sekarang masih ada gak ya hehehe ). Ikutan lomba juga oke, karena dah pernah juga ikut cerdas cermat walau gak lolos sampai Kabupaten :(
Makanya, kalau urusan mengajari anak naik sepeda,berenang atau kegiatan luar yang memacu adrenalin saya serahin ke ahlinya, bapaknya anak-anak. Saya bagian yang lain aja deh hehehe. Jadi kita bagi peran saja ya...
Balik lagi ke topik tulisan hehehe, jadi sebaiknya orang tua menunjukkan contoh nyata tentang keberanian. Tidak takut mencoba hal yang baru, berani menyatakan pendapat, tidak negdumel di belakang, apalagi selalu mengalah. Anak-anak yang melihat orang tuanya memiliki sifat tertutup dan lebih suka di zona nyamannya ya akan meniru. Jadi jangan maksa anak untuk berani kalau orang tua juga tidak memiliki sifat berani.
6. Kurangi Kritikan, Perbanyak Pujian
Jadi ingat isi ceramah sambutan kepala sekolah si pengais bungsu kemarin, di masa golden age, satu kritikan dan bentakan akan mematikan jutaan syaraf-syaraf kecerdasannya. Sedang satu pujian akan menumbuhkan jutaan syaraf-syaraf dalam otaknya. Subhanallah..., betapa hebatnya sebuah pujian. Maka, dari pada mengkritik dan menilai anak negatif, lebih baik menggantinya dengan penghargaan. Anak-anak akan timbul keberanian berlipat-lipat saat mereka berhasil melangkah satu langkah dari rasa takutnya. So.., mari kita hitung lebih banyak mana yang kita beri pada anak, pujian atau kritikan?
Ada yang mau menambahkan, silah kan tulis di komen ya... Dan semoga bermanfaat kawan :)
Langganan:
Postingan (Atom)



















