Jumat, 24 April 2020

Agar Tetap Semangat Menjalani Ramadhan di Tengah Wabah Covid 19

Sejak awal minggu ini unggahan-unggahan berisi Ramadhan sudah mulai terlihat. Di WAG, FB, IG pun sudah mulai bermunculan. Intinya hampir sama mengingatkan datangnya tamu agung bernama Ramadhan dan saling menyemangati agar tetap bisa menjalani hari-hari bermakna di bulan suci dengan amal shalih dan segudang kreatifitas.

Jujur banyak yang kaget dengan Ramadhan kali ini. Yang biasanya taraweh di masjid, kini harus puas berjama'ah di rumah bersama keluarga. Biasanya dua anak laki-laki di rumah akan jadi para pencari takjil yang kerjaannya jam lina sore sudah start ke masjid untuk buka bersama sambil ngabuburit. Kini mereka merasa gabut karena nunggu adzan maghrib yang hanya ditemani murojaah atau paling banter nonton film kartun dengan durasi dibatasi. Bagi si santri ini adalah Ramadhan pertama kali di rumah, setelah tiga tahun di pondok pesantren. Mungkin dari segi hidangan dia merasa enjoy, bisa memuaskan lidah dengan masakan rumah. Tapi dari segi aktifitas jelas membosankan. Saudara-saudaranya tidak ada yang dijadikan sparing patner untuk hapalan Al Qur'an. Karena selain dia sudah jauh, kecepatan menghapalnya juga di atas saudara-saudaranya. 

Bagi suami, Ramadhan kali ini betul-betul dimanfaatkan untuk makin mendekat dengan keluarga. Dia berusaha menata kembali program- program dan kisi-kisi agar bisa benar-benar membimbing keluarga ke arah tujuan utama yaitu ridha Allah, jannahNya. Saya tetep kebagian jadi tim masak, menyiapkan makan buka dan sahur. Dibantu oleh tiga gadis yang stay di rumah. Ditambah jadi tim pantau murojaah hapalana anak-anak. Selebihnya tetap dengan target - target pribadi yang mesti segera dieksekusi.

Tapi diluar semua kekurangan tadi, ternyata banyak sekali nikmat dan hikmah yaang diberikan Allah. Contoh kecil saja, meski taraweh di rumah karena imamnya anak pondok tetap terasa feel nya hehehe. Ayat dibada surat Al Baqarah, kadang ada request dari para makmum untuk mengurangi panjang ayat dengan baca juz amma saja. Tapi langsung diputuskkan oleh pak suami dengan mengurangi jumlah ayat yang dibaca. Ujian aja buat kita-kita terutama emaknya yang merasa kaki pegal dan panggilan bantal yang melambai-lambai...

Lainnya, seperti yang dijelaskan oleh Teteh adzkiya pas taklim, bahwa sisi positif yang harus disyukuri saat Ramadhan di rumah bersama keluarga. Antara lain :

1. Ekonomis karena kita tidak kemana-mana, di rumah saja. Tidak boleh mudik, jadi uang dialokasikan untuk kebutuhan lain. Atau untuk nambah shadaqah, infaq atau berbagi dengan sesama.

2. Terhindar dari maksiat, dalam artian biasanya nih walau di bulan suci, masih banyak juga yang siang-siang pacaran di taman kota atau di sekolah. Nah, dengan stay at home di rumah jadi terhindar dari hal-hal tersebut. Terlebih di rumah walau akses internet ada tetap saja diingatkan untuk menjaga mata, telinga, mulut dari hal-hal yang tidak halal.

3. Terhindar dari ghibah, ini menurut Teteh karena kalau sekolah ghibah ibn julid itu memang sangat gampang dan nikmat ( whattt!!! ). Ya walaupun di dunia maya gampang banget julid tapi kan tidak sensasinya tidak seperti saat di dunia nyata, begitu katanya. Lagian kalau di dunia nyata ya, ngapain julidin orang gak kenal atau artis, ahh... sok kenal banget ( hemmm...., itu masih kata si Teteh ).

4. Lebih dekat dengan keluarga, lebih tumbuh rasa kasih sayang, saling bantu, saling tolong.

5. Punya waktu lebih banyak mengejar target-target di Ramadhan ini. Bosen juga kan hampr sebulan jadi kaum rebahan. Nah, di bulan Ramadhan dimana ama-amal dilipatgandakan ya mendng buat beramalkan dari pada sekedar rebahan?

Terlebih jika ingat bahwa bagi orang beriman kondisi apapun yang diberikan Allah itu pasti baik, takdir apapun pasti baik. Tinggal bagaimana kita bisa bersyukur dan bersabar dalam menjalaninya. Tuk gak? Sekali lagi, banyakin doa ya temen temen, semoga kondisi ini segera usai, wabah ini segera diangkat oleh Allah Swt aamiin... Allahumma aamiin...

Wallohu a'lam...

Senin, 13 April 2020

Kisah Sedekah Pencegah Bencana

Perhatikanlah Adab-Adab Ini Sebelum Anda Ber-Infaq dan Ber ...
https://i2.wp.com/www.islamkafah.com/wp-content/uploads/2017/03/
keutamaan-adb.jpg?fit=700%2C465&ssl=1

Sedekah berasal dari kata 'shadaqah' ( Bahasa Arab ), yang artianya adalah pemberian atau membelanjakan harta  yang ditujukan untuk mendapatkan keridhaan Allah Swt. Secara kata sedekah dekat dengan kata Shadiq yang berarti jujur atau teman yang selalu bisa dipercaya ( benar ). Juga berkaitan dengan kata shadaaq yang diartikan sebagai mahar yaitu bentuk keseriusan dari seorang laki-laki yang mengajak seorang perempuan untuk mengikatknya dalam akad pernikahan.  


Dalam Al Qur'an, kata shadaqah sering diikuti dengan zakat. Hal ini menunjukkan adanya shadaqah yang bersifat wajib, mengikat, lengkap dengan nisobnya. Namun dibeberapa yang lain kata shadaqah kadang berdiri sendiri, yang diartikan lebih umum yaitu mengeluarkan sebagian harta baik kepada kerabat, keluarga, fakir miskin hanya mengharap ridha Allah Swt. Bahkan ada juga ulama yang pendapat bahwa shadaqah itu memiliki arti lebih luas, dalam artian bukan saja mengeluarkan harta tapi hal-hal yang bersifat non materi juga bisa masuk kategori shadaqah, seperti senyum pada saudaramu, menyingkirkan duri atau bahaya di tengah jalan dan lain sebagainya.

Selain sebagai pembawa keberkahan harta, penghapus dosa, bahkan menghindarkan dari kematian yang su'ul khatimah, sedekah juga memiliki keutamaan atau manfaat sebagai penghindar dari bencana atau marabahaya. Berikut beberapa kisah yang bisa kita ambil hikmahnya tentang sedekah:

1. Kisah ini terjadi di zaman Bani Israil, seorang ibu yang merupakan janda miskin tinggal berdua dengan bayinya. Untuk memenuhi kebutuhannya si ibu mencari kayu bakar di hutan untuk dijual. Pagi ini setelah menyiapkan sarapan, si ibu mendengar ketukan di pintu rumahnya. Ternyata seorang pengemis yang terlihat kelaparan. Di meja makan tersedia dua roti yang menjadi pengganjal perutnya hari ini. Satu untuk pagi hari dan satu lagi untuk sore hari. Namun melihat wajah memelas dari pengemis di depan rumahnya, ibu itu langsung memberikan satu rotinya. Dia pun memotong roti yang sisa menjadi dua bagian, setengah untuk sarapan dan sisanya untuk makan malam. 

Tak berapa lama, dengan menggendong bayinya si ibu pun mulai bekerja mencari kayu bakar. Tanpa di sadari si ibu, ternyata seekor srigala sudah mengamati bayi dalam gendongannya. Dan saat si ibu lengah, si bayi pun langung disambar dan dibawa pergi. Saat itu si ibu hanya bisa berteriak minta tolong. Merasa tidak bisa berbuat banyak untuk mengejar srigala  tadi, si ibu pun berdoa dengan sungguh-sungguh. Dia sangat berharap akan pertolongan Allah Swt.

Atas ijin Allah, si bayi selamat diantarkan oleh seseorang yang tidak pernah terlintas ada hutan. Mengingat huutan itu termasuk sepi, tidak banyak orang yang lewat. Mendengar cerita si ibu sampai kejadian di serang serigala,  si penolong pun berkata, "Ketahuilah ibu bahwa itu adalah buah dari sedekah  sepotong roti tadi pagi."


2. Di sebuah desa tinggallan keluarga  kecil dengan anak yang masih balita. Keceriaan si anak adalah kegembiraan dari keluarga kecil tersebut. Sayang, suatu hari si anak sakit. Beberapa dokter sudah didatangi namun kesembuhan tak kunjung datang. Melihat wajah si anak yang layu tak bercahaya membuat kedua orang tuanya sedih. Hingga mereka pun mendengar kabar tentang seorang ulama yang dikenal bisa menyembuhkan beberapa penyakit yang susah obatnya. 

Suami istri itu berunding lalu memutuskan si suami untuk mendatangi ulama tersebut. "Wahai Syekh... sesungguhnya anakku sakit ini dan itu. gejalanya seperti ini seperti itu. Banyak dokter dan tabib sudah kami datangi tapi hasilnya nol besar. Apa yang harus kami lakukan?" Tanya bapak si anak setelah mengucapkan salam.

"Bersedekahlah dan mintalah kesembuhan anakmu pada Allah. Sesungguhnya sedekah itu bisa menjadi obat penyakit." Ujar ulama tersebut.

Di tengah jalan, laki-laki itu langsung membelanjakan uang yang dia punya, lalu dibagikan ke fakir miskin yang dia temua. Sambil terus berdoa untuk kesembuhan si anak. Alangkah terkejutnya laki-laki itu begitu sampai rumah dan melihat si anak kesayangan sudah ceria lagi. Sakitnya sudah hilang dan tawanya sudah terdengar lagi.


3. Tahun ini betul-betul tahun yang berat untuk para petani. Wabah hama menjadikan gagal panen di mana-mana. Tapi hal itu tidak berlaku pada seorang petani, sebut saja bernama Pak Fulan. Di tengah serangan hama, sawahnya tetap tumbuh subur dan panen dengan hasil terbaik. Banyak yang merasa heran, tak sedikit yang bingung dan menaruh curiga. Sampai akhirnya bisik-bisik selidik itu sampai ke telinga Pak Fulan. "Sesungguhnya aku tidak pernah mengambil yang bukan hak ku ( dalam artian dia tidak pernah mengambil milik orang lain ), dan aku juga selalu mengeluarkan yang menjadi hak Allah ( setiap panen segera dikeluarkan zakat dan sedekah )."


"Sedekah dapat menolak 70 macam bencana, dan yang paling ringan ( diantara bencana itu ) adalah penyakit kusta dan lepra." HR. Thabrani

Minggu, 12 April 2020

Hadapi Covid-19 dengan 5 Langkah sesuai Tuntunan Islam

Benarkah Musim Kemarau Penyebaran Covid-19 Melambat? | GEOTIMES



Di awal tahun, saat mengetahui wabah penyakit corona di kota Wuhan, tak pernah terlintas bahwa kini kita pun akan mengalaminya juga. Kepanikan langsung merebak di tengah masyarakat. Berbagai pendapat dari mulai yang terkesan menyepelekan sampai ketakutan berlebihan bermunculan di mana-mana. Pemerintah, tokoh agama bersinergi menyadarkan masyarakat untuk tidak abai terhadap wabah yang sudah berubah menjadi pandemi karena skalanya yang sudah internasional.

Namun, dibalik semua kejadian ini satu yang harus diingat, bahwa datangnya pandemi ini tidak lepas dari ketetapan Allah Swt. Bahkan kejadian ini sudah tercatat di Lauhful Mahfudz jauh sebelum ada kehidupan di bumi ini. Dan selaku orang beriman maka menyikapi wabah ini melalui dua cara pandang. Yaitu yang pertama sebagai ujian dan kedua adalah sebagai teguran.

Ujian dilaksanakan biasanya untuk mengevaluasi apa yang sudah didapat oleh manusia. Seorang murid mengikuti ujian pastinya untuk mengetahui sejauh mana hasil dari pembelajarannya beberapa waktu lalu. Demikian juga dengan ujian dari Allah, pastinya ada patokan yang jelas yaitu meningkatkan kualitas keimanan dari sang hamba. Harapannya setelah ujian usai, si hamba bisa naik level dalam hal keimanan dan ketaqwaan.

Sedang wabah sebagai teguran adalah satu jalan untuk introspeksi. Jika memang ada kesalahan, maka waktunya untuk memperbaiki. Jika ada yang dirasa menyimpang maka melalui wabah ini, maka sekaranglah waktu yang tepat untuk kembali menapaki koridor keridhaan Allah Swt. Bertobat atas segala apa-apa kesalahan yang dibuat, dengan harapan kembali suci dan mulia. Karena sejatinya tidak ada kehinaan bagi hamba yang bertobat.

Lalu bagaimana langkah-langkah yang tepat dalam menghadapi pandemi Covid 19 ini. Agar tidak terkesan lebai tapi juga tidak abai. Apalagi tidak mau tahu. Terlebih dalam Islam semua sudah ada tuntunannya, baik hidup dalam masa tenang maupun masa wabah. Berikut 5 langkah menghadapi pandemi covid 19 sesuai dengan tuntunan wahyu :


1. Hadapi dengan sabar 

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka adalah orang yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." QS. Al Baqarah ( 2 ) : 153-157

Satu langkah agar kita bisa sabar ya menerima bahwa semua yang terjadi, yang mendatangi diri semata-mata karena kehendak Allah Swt. Jika sudah pada tahap itu maka kita akan bisa untuk berupaya dengan sungguh-sungguh dalam menghadapi ujian yang didapat. Ketika virus covid 19 ini berar- benar datang, maka yakini bahwa itu pun ketetapan Allah Swt.  Jika sudah yakin bahwa ini datang dari Allah, maka yakin juga pasti akan ada penyelesaiannya juga. Allah yang menurunkan sakit, Allah juga menurunkan obat.

Dalam sejarah peradaban Islam, beberapa wabah sudah pernah datang. Bahkan di zaman Umar bin Khattab ra., menjabat sebagai Amirul Mukminin pernah terjadi wabah thaun di daerah Syam.  Saat itu Amirul Mukminin akan mengadakan kunjungan ke daerah Syam yang diperintah oleh Abu Ubaidah bin Al Jarrah. Mendengar kabar ini Umar ra., memutuskan untuk kembali ke Madinah setelah diingatkan oleh Abdurrahman bin Aufra., tentang sabda Rasulullah Saw., tentang wabah penyakit.  "Jika terjadi wabah, maka janganlah kalian mendatanginya. Dan jika kalian di daerah wabah maka janganlah kalian pergi dari sana."

Masyaa Allah ternyata sejak 14 Abad yang lalu sudah ada solusi semacam lockdown ala Nabi Muhammad Saw. Ternyata oleh pemerintah China, hal itu dilakukan saat wabah mulai berkembang di kota Wuhan. Kota itu betul-betul dibarikade, dijaga ketat. Tidak ada boleh yang masuk, dan yang ada di kota Wuhan tidak boleh keluar. Hal ini adalah upaya agar wabah tidak menyebar ke daerah-daerah yang lain.


2. Perbanyak Sholat
Sholat bisa diartikan dengan doa. Dan doa adalah adab dari seorang hamba saat meminta apa pun kepada Allah Swt. Shalat juga bisa menjadi jalan kita mendekat kepada Allah, memperpendek jarak dengan Allah.

3. Tenang
Tenang  bisa didapat dengan memperbanyak tilawah Al Qu'an dan juga berdzikir. Dalam teori imunitas tubuh, maka pikiran yang tenang akan membuat imunitas tubuh kita naik. Sehingga kita lebih bisa bertahan menghadapi serangan virus, termasuk virus covid 19. Sebaliknya, pikiran yang penuh kecemasan alias stress akan membuat imunitas juga turun, sehingga kemungkinan kita tertular dan terjangkit corona lebih besar.

4. Positif Thingking
Bagi orang beriman apapun yang diberikan Allah pasti akan ada sisi sisi baik yang patut disyukuri. Nah, dari perasaan bersyukur itu lahirlah positif thingking yang menjadikan diri kita lebih optimis menghadapi wabah ini. Dari awal ditetapkan sosial distancing sampai menjadi physical distancing, mestinya banyak efek positif yang bisa kita ambil, seperti kita jadi lebih hati-hati, tidak sembarangan saat di tempat umum. Kalaupun harus antri kita lebih sabar dan tidak saling berebut.

Jika biasanya kita asyik berkegiatan bersama teman-teman, setelah ada upaya stay at home maka ambil sisi positifnya untuk berkegiatan bersama keluarga. Dan ternyata hasilnya tidak kalah seru dan menarik. Orang tua jadi tahu apa yang dipelajari anak di sekolah karena jadi guru selama anak school from home. Anak juga mendapat pendidikan skill of life, seperti memasak, membantu pekerjaan ibu, bersih-bersih rumah dan menjaga adik.

5. Perbanyak Sedekah
"Segeralah bersedekah karena sesungguhnya bala bencana tidak bisa mendahului sedekah." HR. Imam Baihaqi

Satu dari keutamaan sedekah adalah menghindarkan bala bencana. Insya Allah banyak kisah-kisah sudah pernah dibaca tentang keutamaan shadakah. Terlebih sekarang banyak dari tetangga dekat maupun masyarakat yang terkena dampak langsung dari pemberlakuan stay at home. Misal tukang angkot, driver ojol maupun ongpal. Jangan lupa mereka yang kerjanya di restoran, hotel dan tempat-tempat wisata. Nah, mari sisihkan dari rezeki kita untuk membantu mereka yang membutuhkan.  Tidak perlu takut akan berkurang rezeki kita karena sejatinya malah akan bertambah dan bertambah.


Semoga bermanfaat, wallohua'lam bisshowab.








Rabu, 27 November 2019

Menuliskan Secuil Syurga Di Rumah

Assalamu'alaikum...

Mau menceritakan buku solo saya yang terbit bulan Desember 2018 kemarin. Wah, telat banget deh si Mak ini wakakakak. Dah hampir setahun tuh. Emang selama ini lebih banyak dikenalin di FB maupun IG. Tapi ya daripada daripada tidak sama sekali yuk walaupun telat dikepoin saja ya😂.

Jujur nih nulis buku tentang birrul walidain ini adalah sebentuk pengingat untuk diri saya sendiri pada khususnya, dan untuk para pembaca cilik saya juga pada umumnya. Memang buku ini untuk anak-anak. Bergenre islami. Dengan ilustrasi ciamik dari seorang mojang Bandung yang bernama Dinar. Buku ini berjodoh dengan penerbit Elex Media

Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya. (HR. Ahmad 28276, Turmudzi 2022, Ibn Majah 3794, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Read more https://konsultasisyariah.com/24268-orang-tua-pintu-surga-paling-tengah.html
Dari Abu Darda ra., Rasulullah berpesan:
"Orang tua adalah pintu syurga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya." HR. Ahmad, Thurmudzi

 Dalam menjelaskan hadist ini, ulama berpendapat bahwa banyak jalan untuk masuk syurga. Tapi jalan yang paling nyaman adalah jalan tengah yaitu melalui keridhaan orang tua. Dengan apa? denganmemberikan hak-hak orang tua.

Nah, berbicara mengenai hak orang tua, maka perlakukan diri sebagai anak. Artinya, kewajiban seorang anak terhadap orang tua. Jujur saya jadi ingat beberapa hari yang lalu si pengais bungsu dapat peer dari sekolahnya tentang hak anak dan kewajibannya pada orang tua. Qadarullah juga tema hak dan kewajiban ini nyambung juga dengan taklim ahad pagi di rumah.

Seperti biasa saya minta si anak mikir dulu. Dan jawaban pertama yang keluar adalah mentaati perintah orang tua. Yes, betul tapi perlu ditambah dalam urusan yang makruf dan tidak mendurhakai Allah. Artinya, kalau perintah orang tua tersebut bisa membuat Allah tidak suka apalagi sampai murka yaaa... tidak perlu diikuti. Misal, perintah untuk berbohong, mencuri atau membuka aurat.

"Lalu hak anak apa?" Si bocah sudah tidak sabar untuk mengetahui apa yang akan didapatnya jika sudah mentaati orang tua.
"Pastinya, disayang dan dididik agar mengenal Rabbnya oleh orang tua."
Di sini saya juga menerangakan bahwa disayang itu bukan berarti semua yang diminta anak dikasih. Karena orang tua itu bukan doraemon yang setiap kali Nobita merengek langsung ngeluarin alat dari  kantong ajaibnya. Disayang bisa juga dengan diingatkan bahkan ditegur.

"Trus apa lagi?"
"Menurut Mas apa?"
"Mendoakan orang tua?"
"Bisa.., emang mas rajin mendoakan ayah ibu?"
"Kadang-kadang sih..." ujar si bocah jujur.
"Kalau ayah ibu Insya Allah selalu mendoakan mas, dan anak-anak ayah ibu.Bahkan saat memilih nama buat kalian pun, itu adalah doa."

Umar bin Khattab ra., pernah menjelaskan bahwa hak anak dari orang tuanya ada 3 , yang pertama dipilihkan ibu yang baik ( shalihat ), mendapat pendidikan tentang al quran dan diberi nama yang baik.

Dan sebenarnya masih banyak juga kewajiban anak kepada orang tua, termasuk membantu, meringankan bebannya, merawatnya saat orang tua sudah lemah. Untuk yang terakhir ini memang perlu kesabaran tingkat tinggi, karena seperti  sudah diketahui bahwa semakin sepuh orang akan bertingkah seperti anakanak. Bisa disebut disitulah ujiannya.

Nah, buku cantik ini menceritakan kisah-kisah birrul walidain yang mewakili setiap zaman. artinya bukan hanya jaman old saja lho, tapi masih ada kok kisah- kisah birrul walidain di zaman kekinian yang sangat menyentuh hati, membuat haru. Menarik kan..? Membacakan kisah-kisah di buku ini, saya aja sering mewek, terharu. Bisa sekalian membangun bonding dengan anak kalau dibacakan oleh ibu atau ayah kepada buah hatinya.

Nah, semoga bermanfaat yaa...
Wallohu a'lam bisshowab

wa'alaikum salam...

Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya. (HR. Ahmad 28276, Turmudzi 2022, Ibn Majah 3794, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Read more https://konsultasisyariah.com/24268-orang-tua-pintu-surga-paling-tengah.html
Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya. (HR. Ahmad 28276, Turmudzi 2022, Ibn Majah 3794, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Read more https://konsultasisyariah.com/24268-orang-tua-pintu-surga-paling-tengah.html


Selasa, 26 November 2019

Nasehat itu Bernama Kematian


Hasil gambar untuk nasehat itu berupa kematian

Assalamu'alaikum...
Wah, rasanya sudah lama sekali ya tidak menulis di sini. Setelah di  ( sok ) sibuk dengan urusan ini itu hehehe, semangat menulis memang lagi down banget. Sepulang dari safar beberapa dua bulan kemarin memang masih menggebu-gebu tuh keinginan menuliskan semua kenangan di tanah suci. Tapi anak-anak yang bergantian sakit, mungkin memang sudah takdirnya mereka sakit saat ditungguin sama ibunya, jadi kembali ke titik nadir si semangat itu. Huff..., rasanya untuk kembali menulis menekan tuts-tuts di laptop kok rasanya berat berkilo-kilo. 

Alhamdulillah hari ini digerakkan untuk mendekati laptop lagi. Menulis pengalaman takziyah beberapa dua hari ke belakang. Ya, seorang kerabat telah berpulang. Seorang ibu yang notebene sama denganku, ibu rumah tangga dengan aktifitas sehari-hari di rumah ngurus keluarga, rumah, anak dan suami. Lima tahun lalu divonis ginjal dan harus cuci darah. Penyebabnya, entahlah. Karena yang sering dikeluhkannya selama ini adalah sakit maag, perut kembung dan perih. Sesuatu yang bagi siapa saja pasti pernah mengalami.

Singkat cerita, mulailah hari -hari melelahkan itu datang. Bukan secara fisik saja tapi juga mengikis kesabaran. Namun, betullah bahwa setiap ujian pasti datang pada orang yang mampu. Maka, keluarga kecil itu mulai menjalani hari-hari rutin ke rumah sakit untuk cuci darah. perawatan demi perawatan pun dijalani. Baik itu medis maupun alternatif. 

Bisa dibilang mereka kompak dalam menerima ujian ini. Sang suami dengan setulus hati merawat dan berperan sebagai ibu untuk dua anaknya. Sang ibu meski didera rasa sakit tetap berusaha mendidik buah hati mereka dengan maksimal. Dia mengingatkan anak-anaknya akan hal yang kekal, akhirat. Bahwa amallah yang akan menemani, menjadi bekal terbaik. Maka, dengan sisa-sisa tenaga dia dorong dua buah hatinya agar pergi mengaji. Menekuni huruf-huruf hijaiyah, terbata-bata melafadzkannya hingga akhirnya bisa lancar.

"Itu bekal terbaik, jadi anak sholeh-sholehah ya Nak. Bantu mamah, doain mamah. Maaf, mamah enggak bisa nemenin kalian lebih lama."

Mendengar cerita ini, hati langsung tertusuk-tusuk. Ya, betapa diri sering lupa bahwa kematian itu amat dekat. Bahwa kematian itu datang bisa tanpa sebab, tanpa memandang umur, bukan masalah nomor urut, bisa jadi random. Atau kalau kata Ust. Evie Effendi mah nomor dudut ( asal ambil/acak ).Seringnya kita disibukkan untuk mempersiapkan anak agar sukses di dunia, tapi hanya sedikit, hanya sebagian bahkan kadang berlubang-lubang dalam urusan bekal hidup sukses saat 'pulang' nanti.  Seringnya kita merasa sudah banyak berbekal, bahkan sombong dengan amal yang sedikit. Padahal... astaghfirullah, belum tentu amal-amal yang selama ini kita banggakan bernilai di hadapan Allah...

Semoga tulisan ini bermanfaat ya...
wa'alaikum salam ...










Jumat, 05 Juli 2019

Agar Tak Pusing Memilih Sekolah untuk Anak

Hasil gambar untuk sekolah
https://settlersindia.com/sites/default/files/building-1400x1051.jpg



Assalamu'alaikum men temen...

Alhamdulillah, kabar baik kan? Setelah kesibukan idul Fitri disambung halal bihalal dari mulai tingkat keluarga besar, RT, RW sampai komunitas tempat beraktifitas kini mulai fokus lagi pada apa yang di depan mata. Bagi yang tahun sekarang memasukkan anak-anak ke sekolah baru ( langsung ngacung tinggi-tinggi), maka selamat kita satu gerbong hehehe. Karena tahun sekarang dua anak yang jadwal masuk sekolah baru, satu masuk SD satu lagi masuk SMP. 


Saya yakin seyakin- yakinnya, setiap orang tua pasti ingin memasukkan anak mereka ke sekolah terbaik. Karenanya saya menghargai pilihan yang diambil setiap orang tua. Bagi yang berusaha memasukkan anaknya ke sekolah negeri dan harus pusing dengan zonasi, percayalah I feel u. Pernah merasakan di posisi yang sama. Mules sampai hari pengumuman tiba. Ngencengin doa di setiap sepertiga akhir malam. Pasrah seikhlas-ikhlasnya pada hasil yang akan di dapat. Toh, semuanya sudah tertulis di Lauhful Mahfudz.

Sedang yang memilihkan sekolah swasta untuk anak-anaknya, kita juga segerbong Mak! Karena beberapa pertimbangan akhirnya memilih memasukkan anak ke sekolah swasta baik itu fullday maupun boarding ( pondok pesantren). Merasakan pusing karena melihat deretan angka untuk biaya pendidikan yang tiap tahun pasti ada kenaikan. Memperkuat usaha, menambah permintaan pada Sang maha Kaya Allah Al Ghani.

Mencari sekolah yang tepat dengan bakat minat dan kebutuhan anak memang susah susah gampang. Perlu maju mundur, saling menempelkan kepala dan tangan, seiring sejalan antara ortu dan anak. Biar semua pihak bisa saling mendukung dan bersinergi jika nanti akhirnya si anak belajar di sekolah impiannya. Makanya, jauh- jauh hari saya sudah mecari-cari kriteria yang bisa dijadikan acuan memilih sekolah. Diantara seperti di bawah ini :


1. Sekolah memikili visi yang sama dengan visi pendidikan keluarga
sebenarnya tugas mendidik anak ada di pundak orang tua. Sekolah harusnya disikapi sebagai bantuan dalam memberikan pendidikan yang terstruktur dan terkurikulum bagi anak. Karena itu pendidikan di sekolah harus sejalan dengan pendidikan di rumah. terutama dalam hal yang dasar seperti aqidah dan visi misi pendidikannya.
 
Jangan sampai kita memilih sekolah yang visinya malah bertolak belakang sengan misi keluarga kita. Termasuk dalam hal ini adalah jangan sampai kita memilih sekolah bagi anak yang berpotensi merusak aqidah. Itu malah yang paling pokok yang saya pegang. Makanya ketika survey sekolah yang paling ditanya duluan ya visi misi sekolah. Walaupun namanya islami kalau visi misinya gak jelas apalagi ditengarai memiliki penyusupan aqidah ya langung coret pake tinta merah. Meskipun secara kualitas akademis maupun fasilitas jempolan, no way.


2.  Perhitungkan keuangan
Meski uang bukan segalanya, tapi segalanya bakalan lebih lancar jika ada uang ya kan. Nah, itu juga perlu kita lihat masalah biaya pendidikan. Pastikan kita siap dan mampu mengeluarkan sekian rupiah untuk sekolah anak. Artinya, jangan juga kita memaksakan diri yang membuat kondisi keuangan keluarga dalam zona bahaya. Pikirkan baik-baik dampak positif maupun negatifnya. Jangan sampai kita mengambil jalan curang karena itu jelas-jelas bertentangan dengan tujuan mendidik anak. 


3. Diskusikan dengan anak
karena yang akan menjalani anak, maka mintalah pendapat dia tentang sekolah seperti apa yang di inginkan. Apakah sekolah umum, sekolah berbasis agama. sekolah negeri, sekolah swasta. Atau pilih fullday atau boarding school? Setelah itu baru orang tua memberi masukan kepada anak jika ternyata pilihan orang tua berbeda dengan anak. 

Biasanya kurleb satu tahun saya kasih waktu untuk anak memilih dan menentukan sekolah seperti apa yang dia inginkan. Seperti saat anak mau lulus SD, di awal semester saya sudah membuka pembicaraan tentang SMP. di semester dua biasanya kerjasama dengan sekolah untuk menyesuaikan denganbakat minat anak. Jadi orang tua mendapatkan banyak data untuk menentukan sekolah yang tepat dan bisa mengakomodir semua kebutuhan anak.


4. Cari tahu kelebihan dan kekurangan sekolah
Karena tidak ada sekolah yang sempurna, ya jangan dicari. Tapi carilah yang mudaratnya lebih kecil. Bisa dengan mengadakan kunjungan ke sekolah yang dimaksud. Bertanya pada alumni sekolah tersebut, bisa juga bertanya ke tetangga kanan kiri. Yang perlu diingat kita mencari kelebihan bukan untuk menjadi tekad agar bisa masuk ke sekolah tersebut. Demikian juga mencari kekurangan bukan untuk menjatuhkan .


5. Kenali juga lingkungan sekolah
Ini juga perlu dikenali ya men temen. Karena faktor lingkungan itu sangat berperan dalam membentuk perilaku anak. Pernah mendengar keluhan orang tua yang anaknya berubah sejak masuk ke sekolah baru. Mulai merokok, rambut dicat, dan sering banget pulang jauh melebihi jam sekolah. Setelah diteliti ternyaat si anak terpengaruhi oleh lingkungan sekitar sekolah. Ada juga anak yang tiba-tiba mogok sesekolah. Ternyata oh ternyata karena si anak takut setiap hari kena palak dan bully karen alingkungan sekolahnya terkenal tempat biasa tawuran antar pelajar. 


6. Fasilitas sekolah
Bukan hanya fasilitas di dalam sekolah seperti laboratorium, perpustakaan, lapangan, ruang ini itu, tapi saya juga memikirkan jalur transportasi anak. Kalau sekolahnya cukup jauh ( kadang jarak di peta dengan kenyataan suka beda hehehe ), pastikan apa sekolah punya layanan jemputan atau tidak. akan berbeda jika anak sudah besar dan bisa menggunakan transportasi umum atau bus sekolah.  Jangan sampai anak kesulitan mencapai sekolah hanya karena kita mengejar mutu dan kualitas sekolah. Anak bisa merasa bosan dan malas ke sekolah. Lebih parah lagi kalau anak sampai merasa tidak punya tenaga karena sudah terkuras selama perjalanan menuju sekolah. Percaya deh, itu juga bisa menyebabkan masalah pada anak.

Nah, itu yang bisa saya tulis di postingan ini Semoga bermanfaat yaaa

Wassalamu'alaikum bye bye men temen...

Sabtu, 01 Juni 2019

Jangan Jadi Hamba Ramadhan!

Di langit subuh, bulan sabit makin mengecil. Ya, bertanda bulan suci akan segera usai. Situasi tarawih dan sahur sudah mulai sepi. Ngabuburit yang biasanya bikin jalan depan komplek pun mulai lengang. Para penjual dan warung-warung mulai banyak yang off, mau mudik alasan mereka. Ada juga yang beralasan, karena di pasar pun barang dagangan sudah susah didapat. Sekarang yang rame bukan di masjid lagi, tapi di mall atau jalan tol hehehe.

Hasil gambar untuk bulan sabit
https://cdn.pixabay.com/photo/2017/04/12/18/07/crescent-moon-2225249_960_720.jpg

Ya, sesuai sunnatullah  Ramadhan pasti akan berlalu. Sedih, bahagia, mau atau tidak mau pasti akan terjadi. Mungkin yang bisa kita lakukan selain menjaga semangat di hari- hari akhir Ramadhan adalah mengevaluasi amal dan kebiasaan baik di bulan suci. Serta mencanangkan apa yang akan dijaga, dirawat dari kebiasaan baik ini di bulan-bulan selanjutnya.

Memang sih, tidak akan sama. karena Ramadhan itu istimewa. Tapi jangan sampai kita habis-habisan beramal di Ramadhan doang. Sementara di bulan-bulan lainnya malah malas atau seadanya. Jangan sampai ada kesan kita itu hamba bulan Ramadhan, karena beramal dengan giat di bulan itu. Tapi tetaplah jadi Allah yang terus menghamba dan beribadah kepada Allah baik di dalam maupun di luar Ramadhan. Bisa kan gaess?

Prof. Dr. K. H. Ahmad Satori Ismail yang merupakan Ketua Ikatan Dai Indonesia ( IKADI ) mengingatkan agar jangan sampai terjadi pengkultusan bulan Ramadhan. Meskipun di bulan ini amal sunnah dinilai seperti amal wajib di bulan lainnya, pahala kebajikan dilipat gandakan, tapi jangan sampai terjadi pengkultusan ke bulan Ramadhan. "Setiap muslim hendaknya menyadari posisi sebagai hamba Allah, bukan hamba Ramadhan." ( Republika.co.id/15juli2016)

Hal ini selaras dengan cita-cita menjadikan Ramadhan sepanjang masa. Dalam artian semangat dan amaliyah yang disuburkan di Ramadhan akan terus terjaga di luar bulan suci. Jika di Ramadhan kita terbiasa menahan nafsu, menjaga hati, lisan, mata dan menjaga dari perbuatan dosa, semestinya itu pun tetap di lakukan di Syawal sampai Sya'ban. Jika di Ramadhan kita terbiasa shalat malam, tafakur, bersedekah, berlomba-lomba dalam kebaikan, maka di bulan lainnya pun tetap bisa diteruskan kebiasaan baik ini. Intinya kalau kata Prof. Kyai Satori adlaah upaya  meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah tidak terhenti pada Ramadhan saja.

Beberapa ulama berpendapat bahwa salah satu tanda diterimanya ibadah Ramadhan adalah kebaikan yang kita lakukan melahirkan berbagai kebaikan lainnya. Ya, jadi amal yang dilakukan tidak berhenti saat di bulan puasa saja. Tapi terus berupaya untuk melanggengkan amalan. Dan itu adalah satu hal yang dicintai Allah Swt. 

Upaya yang mesti dilakukan agar tetap terjaga semangat di luar Ramadhan adalah memperkokoh ilmu agama. Dengan ilmu maka amal yang dilakukan pun akan berdasar. Ngaji lagi gaess..., jangan berhenti. Jangan males dan banyak alasan kalo diajak ke kajian hahahay. Ah ya, ada juga yang bisa dilakukan nih, dengan berkomunitas bersama dengan orang-orang yang satu tujuan, yaitu beramal sholeh. Bahasa kerennya sih berkumpul bersama dengan orang-orang sholeh ya gaess... ( hehehe ).  

Semoga di tengah kesibukan mudik dan aroma Lebaran, kita tidak kehilangan kemulian di akhir Ramadhan. Semoga Allah memilih kita menjadi orang-orang yang mendapatkan lailatul qadar, aaminn Allohumma aamiin...***