Sabtu, 22 Juli 2017

Catatan Anakku Mondok : Untuk Anakku

Bertepatan dengan hari anak 23 Juli ini,  saya ingin menuliskan  nasihat yang saya berikan ketika si bujang akan berangkat mondok.  Sebenarnya sudah hampir seminggu si bujang di pesantren,  tapi baru sekarang bisa move on,  mengurangi melow karena ditinggal anak lanang hehehe ������

Jujur,  ini adalah pengalaman pertama melepas anak jauh dari rumah.   Bukan untuk satu dua hari,  tapi kalau tidak ada kendala hampir selama 6 tahun.  Tega gak tega juga sih, tapi tekad anak yang kuat justru itu yang bikin hati saya mantap. "Aa pengin belajar agama Bu,  biarin Kakak (kembaran ya)  dan saudara yang lain belajar ilmu yang mereka sukai.  Aa mah mau menghafal Quran." ( yahh  melow lagi deh,  mewek lagi deh ������ )

Saya harusnya banyak - banyak bersyukur. Karena banyak orang tua yang anaknya mondok tapi anaknya ogah,  sampai ada upaya maksa-maksa.  lha anak saya malah asyik - asyik saja tuh, malah  semangat. ����

Nah,  karena pengalaman pertama maka banyak sekali yang saya 'pesankan'  ke anak.  Tapo biar gak panjang bak ular naga,  dibatasi jadi 3 poin aja yaa... 

1. Niatkan karena Allah
Jauh-jauh hari saya sudah menyampaikan hal ini pada si bujang.  Bahwa apa pun yang kita lakukan nyatakan semata - mata untuk Allah.  Termasuk mencari ilmu,  apalagi ilmu agama,  niatkanlah untuk Allah.  Bukan untuk merasa lebih baik,  lebih hebat di mata makhluk.  Tapi karena ingin lebib mengenal,  lebih dekat dan le ih cinta kepada Allah Swt.

2. Bersabarlah dalam menjalani proses
Ini sebenarnya nasihat buat saya sendiri.  Malam hari setelah siangnya menitipkan  Aa ke pesantren saya tidur sambil nangis.  Kangen dan  khawatir campur aduk.  Terus bertanya apakah ini jalan yang terbaik?
Tapi nasihat dari ustad dan ustadz di sana betul-betul membuat diri sadar akan niat menitipkan anak. "Sabar bu..,  insya Allah Aa disini kuat dan sabar."
Dan pas esok harinya lihat foto yang dikirim sama ustadz pembimbing ya,  saya jadi lega dan memperkuat tawakal kepada Allah.

3. Jadilah pribadi yang baik
Tinggal dengan orang lain di pondok pasti ada lika-likunya.  "Jadikan teman-teman Aa sebagai saudara terdekat Aa.  Mereka akan jadi tetangga Aa selama 6 tahun.  Inget enggak A,  hadist yang mengatakan bahwa tetangga untuk adalah saudara terdekatmu.  Ya memang seperti itu.  Berbagilah makanan,  jangan takut kekurangan. InsyaAllah makanan yg dibagi akan cukup dan berlimpah berkah. "
Nah,  ada yang mau nambahin atau berbagi pengalaman selama anaknya mondok?  Bisa tulis di komen yaa... ������

Minggu, 16 Juli 2017

Yaa.. Bunayya Laa Tusyrik Billah...

Sengaja di musim liburan kemarin, saya memperbanyak ngobrol, ngaji bareng atau bahasa kerennya taklim dengan anak-anak. Niat awal sih biar liburan gak sekedar diisi dengan bersantai, main, atau malah nonton tivi. Di hari sekolah, anak-anak hanya dapat ijin nonton tivi sabtu minggu. Itu pun siang hari, sedang malam ya off alias mati. Karena itu saya mengajukan kegiatan ngaji with kiddos di rumah dan langsung di acc ama suami.




Dan kali ini saya sengaja juga menyambungkan dengan moment Sidang Tahfidz Quran yang beberapa minggu lalu dijalani si kembar saat pelepasan siswa kelas 6. Saya tertarik untuk membahas ayat-ayat yang dibacakan saat pembukaan acara itu. Yaitu QS. Lukman ( 31 ) : 12- 19. Yang berisi pesan-pesan dari Lukmanul Hakim kepada anaknya. Yang akhirnya menjadi referensi dalam parenting dan mendidik anak-anak secara islami.

Tapi mengingat lamanya konsentrasi anak yang paling banter 30 menit, saya pun fokus ke dua ayat pertama, 12 dan 13. Dan ternyata anak-anak antusias, bahkan terjadi dialog seru selama pembahasan dua ayat tersebut. Alhamdulillah...

Lanjut yaa...

QS. Lukman : 12
Berisi perintah untuk bersyukur, menjadi hamba yang pandai bersyukur. Bersyukurlah karena sudah diciptakan Allah dalam sebaik-baik bentuk. Seperti dalam QS Attin ( 95) : 4. Karena penciptaan diri adalah sebuah peristiwa agung yang terjadi karena qudrat iradatNya semata. Bersyukurlah atas apa-apa yang sudah ditetapkan dan sudah diberikan sebagai karunia bagi kita, Nak. Betapa nikmat dan karunia Allah itu tak terhitung, amat banyak. Bersyukurlah maka Allah akan menambah nikmatNya. Karena barangsiapa yang bersyukur itu untuk dirinya sendiri. Barang siapa yang kufur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya.

QS. Lukman : 13
Bentuk syukur adalah dengan mengabdi sepenuhnya kepada Allah Swt. Inilah kenapa di lanjutkan dengan ajaran Lukman kepada anaknya untuk menjauhi musyrik. Yaa bunayya, laa tusyrik billah. Tidak mungkin kita bisa bersyukur jika musyrik atau menyekutukan Allah. Tidak mungkin kita berterimakasih, berbahagia dengan karunia Allah jika kita menduakan, mentigakan atau malah percaya ada kekuatan lain yang bisa memberi nikmat karunia dan kehidupan selain Allah Swt.

Disinilah pentingnya hidup untuk senantiasa menjaga fitrah diri yaitu bertauhid, mengesakan Allah. Bahwa itu lah tugas orang tua yang utama mengajarkan anak-anak agar bertauhid, mengimani Allah dengan sebaik-baiknya dengan sebenar-benarnya.Dan menjadi hak anak untuk meminta pengajaran yang benar dari orang tuanya. Agar tidak saling tuduh, saling menyalahkan, lempar tanggung jawab seperti dalam QS 7: 172-173

Nah, ada 3 hal kerugian dari musyrik atau tidak bertauhid :

1. Merupakan dosa tak terampunkan
2. penyebab utama tertolaknya amal
3. Tidak akan masuk syurga...

Nah, rugi bener kan kalau sampai kita musyrik. Karena sebanyak apa pun amal tidak akan dinilai oleh Allah, sia-sia. Dapat capeknya doang ya. Apalagi kalau sampai tidak bisa masuk syurga, tempat tinggalnya neraka dong? anak-anak dah pada bergidik ngeri. Ya..., begitu lah. Kan di hadist juga ada. di dalam buku kisah-kisah islami juga diceritakan seperti itu. Bahwa kelak ,setelah orang-orang beriman masuk syurga mereka mencari-cari kerabat, sahabat yang dulu di dunia bersama-sama tapi sekarang gak ada di syurga. Lalu mereka memohon kepada Allah Swt, dan diijinkan mencari kerabat dan sahabat di neraka. syaratnya selama mereka punya iman, bertauhid bisa deh masuk syurga. 

Dengan bahasa yang bisa dipahami anak-anak, ternyata respon mereka bagus banget. Bahkan setelah diucap salam penutup mereka langsung nanya, "Lanjutannya kapan Bu?" Nah, mau mencoba ngaji bersama anak di rumah, bisa seru juga kok ^ _^


Sabtu, 17 Juni 2017

Hikmah Ramadhan : Bermesra Merapat dengan Al Quran

Ada yang istimewa pada Ramadhan 1438 H kali ini. Bisa dikata sejak awal puasa, sekolah anak-anak tidak memberikan libur awal puasa. Awal Ramadhan yang bertepatan dengan hari sabtu memang sudah jadi kebiasaan jadi hari libur untuk anak-anak yang bersekolah di Full Day School. Senin hari ke 3 langsung masuk sekolah dengan agenda Pesantren Ramadhan dengan kegiatan variatif yang sangat disukai anak-anak. Mulai nonton film, games, tilawah, ceramah hingga hafidz Qur'an.

Tahun ini juga si kembar lulus MI, dan acara pelepasan atau serah terima murid dari pihak sekolah kembali pada orang tua diisi dengan sidang tahfidz juz 30. Awalnya direncanakan juz 30 dan 29, tapi melihat yang sudah hafidz  juz 29 masih sedikit akhirnya diputuskan hanya juz terakhir. Dengan tantangan tartil dalam membacayanya dan dengan langgam bayati.

Jujur saja, saya merasa excited banget dengan kegiatan ini. Dulu saat si sulung lulus SDIT juga pernah ada acara khataman dan hafidz Qur'an juz 30. Jadi secara pengalaman memang  bukan yang pertama. Tapi saya merasa pasti ada yang beda, karena si kembar memang bukan di SDIT tapi di MI yang pelajaran agama porsinya sama dengan pelajaran umum.

Dan ternyata perkiraan saya tidak meleset. Begitu masuk tempat acara, suasana sudah mendukung. Peserta berseragam putih-putih, sederhana tapi dipenuhi essensinya, menutup aurat dengan rapi. Dan uniknya yang menjadi penguji adalah kami, para orang tua. Kami dipersilakan meminta peserta membacakan surat-surat yang diminta. Atau sambung ayat, bisa juga menerangkam kandungan isinya.

Air mata ini tak henti-henti mengalir. Bukan karena bangga semata, tapi lebih banyak ke arah haru dan muhasabah diri. Kami, adalah orang tua yang bisa jadi tumbuh besar bukam dalam lingkungan dan fenomena menghapal Quran yang tren seperti saat ini. Jadi bisa jadi diantara kami membaca Quran pun masih ada yang terbata-bata. Jangankan menghapal puluhan ayat, bahkan surat-surat pendek pun hanya yang terbiasa dibaca dalam solat saja yang hapal. Ouwh... malu malu ya Rabb...

Apalagi saat penerimaan kembali siswa dari pihak sekolah, terasa sekali beban berat yang kami terima. Mampu kah kami melanjutkan kebiasaan, prestasi baik, pendidikan dan bimbingan yang selama ini diberikan bapak ibu guru terhadap anak-anak? Padahal selama ini kami juga sadar betapa kurangnya dukungan, support, bimbingan yang kami berikan baik dati segi materi maupun immateri saat anak dibelajar di sekolah.

Terlebih saat kepala sekolah memberi wejangan, "Sungguh kami takut anak-anak, kalian akan menemukan keasyikan baru di jenjang lebih tinggi hingga melupakan Al Quran. Hingha kalian lupa pada niat yng sudah pernah diazzamkan, ingin hafidz Quran 30 juz." Atau kalian hapal tapi tidak menjaganya, karena Allah tidak akan menjaga orang yang tidak menjaga agamaNya."

Sungguh kami disadarkan bahwa menginginkan anak untuk hafidz Quran bukan karena semata-mata ingin dianggap keren, mengikuti tren, dipandang hebat apalagi sekedar memenuhi ambisis semata. Bukan juga karena kami ingin agar mereka memberi kami makhota dari cahaya kelak di akhirat, tapi untuk menjadi penjaga dan penolong agama Allah...

"Jagalah ajaran-ajaran Allah, niscaya engkau akan mendapatiNya selalu menjagamu. Jagalah larangan-larangan Allah, niscaya engkau akan mendepatiNya selalu dihadapanmu. Kenalilah Dia dalam sukamu, niscaya Allah akan mengenalimu dalam duka. Bila kamu meminta, mintalah kepadaNya, jika kamu butuh pertolongan memohonlah kepadaNya." ( Nasehat Rasulullah kepada Ibnu Abbas ra. )

Ya, Nak... ini hanya awal. Bantu kami untuk selalu mengingat hal ini. Mari bersama-sama menjagi generasi terbaik. Generasi yang meski berjarak beratus tahun dengan Baginda Nabi tapi diingatnya dengan penuh kasih bahkan dalam kalimat terakhirnya, ummati ummati ummati. Ummat yang terus menjaga agamaNya, menjaga ajaran-ajaranNya.

Semoga kalian senantiasa dalam lindungan dan kasih sayang Allah, Nak...***

Minggu, 11 Juni 2017

Mengenal Profil Para Sahabat Nabi di Bulan Suci

"Mi, buku dah terbit nih...!"
Pemberitahuan dari editor ini sontak membuatku kaget sekaligus haru. Naskah yang awalnya diperkirakan terbit akhir tahun, malah release di bulan suci. Bisa jadi penerbit GPU melihat ini momen yang pas. Saat gairah keislaman dan ibadah sedang on the top.

Kalau dilihat ke belakang, naskah ini diajukan 2 tahun yang lalu, 2015. Dengan genre anak islami. Makanya judul awalnya juga Sirah 60 Sahabat Nabi for Kids. Tapi karena faktor ilustrasi dan mungkin dilihat lebih pas undtuk dewasa or umum ( banyak adegan heroik yang berdarah-darah ), maka sasaran pembaca diperluas.

Beberapa kali kabar akan terbit naskah ini timbul tenggelam. 'Dipereum' itu istilah Neng editor di Indscript. Sampai saya sendiri sibuk dengan beberapa naskah buku yang akhirny terbit mendahului di 2015 dan 2016 lalu. Dan qadarullah, naskah ini terbit jadi rezeki tak terduga di ramadahan 2017 ini. Alhamdulillah ala kulli hal

Kenapa saya memilih genre anak? Karena jujur saja saya hanya menulis ulang berdasar sumber sana sini, tentu saja dengan gaya penulisan yang ingin memberi motivasi pada anak-anak. Agar mereka lebih mengenal dan mengidolakan para pembangun peradaban nubuwwah ini. Saya juga gak mau disebut sok sok- an ahli sirah. Duh, siapa lah daku ni? Hanya murid yang masih minim ilmu dan masih kudu belajar banyak. Tapi karena sudah dipilih oleh penerbit, dan sudah terbit, ya mau gimana lagi. Tinggal 'Bismillah tawakaltu 'alallah'.

Meski semper mondok di penerbit 2 tahun, tetap saja saya merasa belum maksimal dalam menulis naskah ini. Hal yang paling berat adalah menulis nama yang bisa jadi kurang familier di telinga. Karena sengaja saya menulis para sahabat diluar 4 Khulafaur Rasyidin atau 4 sahabat utama. Begitu juga dalam memperkirakan waktu dan usia yang bisa jadi kurang tepat.

Karena itu lah saya merasa buku ini masih banyak kekurangan. Besar harapan kekurangan itu tidak membuat turun kemuliaan para tokoh yang ada di buku ini. Tapi saya pastikan, para pembaca akan mendapat suntikan motivasi dan semangat untuk mencontoh dan meneladani generasi yang langsung dibimbing oleh Baginda Nabi Muhammad Saw ini.

Selamat membaca, selamat melintasi sejarah yang penuh buliran hikmah dan kemuliaan...

Sabtu, 27 Mei 2017

Hikmah Ramadhan : Mensyukuri Hidup

Sehari sebelum masuk bulan suci, kabar duka kembali datang. Kali ini dari keluarga teman dekat. Sebelumnya di beranda medsos, berseliweran kabar duka. Kabar berpulang yang selalu diawali dengan kalimat 'inna lillahi wainna ilaihi raajiun' dan diakhiri dengan harapan doa, semoga khusnul khatimah. 

Seminggu sebelum libur awal Ramadan, anak-anak pulang sekolah dengan membawa kabar tentang alumni sekolah yang berpulang di usia muda. Lebih nyesek lagi saat tahu usia yang sedang jadi bahan pembicaraan baru 15 tahun dan sudah hafidz 7 juz. Rasanya makin sedih, terutama saat mengingat bagaimana kesedihan yang dirasakan oleh sang ibu, hiks.

Dan begitu memasuki bulan suci, saat taklim keluarga ada rasa syukur yang teramat dalam. Bersyukur karena masih dipertemukan dengan bulan suci. Bulan yang didalamnya Allah berikan banyak keutamaan, dari mulai pahala yang berlipat-lipat, dikabulkannya doa-doa, ampunan bahkan malam lailatul qadar yang lebih baik dari 1000 bulan.

Syukur itu selain diucapkan, juga dibuktikan dengan bertambahnya amal kebajikan. Maka, sedari awal sudah mencatatkan sekian target baik sifatnya ubudiah pribadi maupun yang bersama-sama dengan keluarga dan masyarakat. Dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang didapat dengan rasa malas atau pun membuang-buang waktu.

Bersyukur juga dibuktikan dengan jiwa menerima yang lebih luas akan semua ketetapan Allah. Sadar sesadar-sadarnya bahwa hidup kita bukan sekedar langkah kaki manusiawi saja, tapi ada Allah yang dengan sifat Qadha Qadarnya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Maka, saat hidup sedang di titik sempit atau susah, terima sedang disuruh Allah melewati titik itu. Maka akan yakin dan positif thingking akan pertolongan Allah.

Sebaliknya jika hidup dalam titik sangat bahagia, maka maka perbesar syukur yang ada. Agar bahagia yang dirasakan juga makan bertambah. Dan mendidik diri bahwa semua pencapaian dalam hidup tidak lepas dari ijinNya.

Mensyukuri juga dibuktikan dengan usaha tanpa lelah untuk memperbaiki diri. Karena kesempurnaan hanya milik Allah, maka cela dosa dan noda memang temptanya manusia. Menghargai setiap detik kesempatan yang diberi untuk menjadikan diri lebih baik lebih baik. 

Syukur itu akan membuatmu merasa rugi kalau menyia-nyiakan hidup, mengisi hidup hanya dengan keluhan dan hal-hal yang sia-sia. 

Bersyukur itu akan membuatmu tetap bisa berbahagia dan bersabar dalam ujian hidup yang tengah dihadapi.

Bersyukur itu akan membuatmu menjadi orang- orang yang lebih taat, lebih dekat pada pemilik dan pemberi kehidupan ini.

Bersyukur... bersyukurlah selalu...***

Kamis, 25 Mei 2017

Tips Sehat Bugar Selama Berpuasa

Dalam berapa jam lagi Sya'ban akan berlalu, dan tamu agung itu datang bersamaan dengan berkumandangnya adzan maghrib. Satu yang disunnahkan oleh Baginda Nabi saw., adalah dengan bertahniah dan membaca doa bertemu Ramadhan, seperti di bawah ini :

"Ya Allah sesungguhnya telah datang bulan Ramadhan. Ya Allah, rabb pemilik bulan Ramadhan, Engkau turunkan  di dalamnya Al Qur'an. Engkau jadikan Al Qur'an penjelasan petunjuk antara yang hak dan yang batil. Ya Allah berkatilah kami di bulan Ramadhan ini. Bantulah kami untuk melakukan shaum dan shalat di dalamnya dan terimalah amal ibadah kami."

Selain prepare ilmu ibadah, agar Ramadhan nanti lebih optimal, perlu jg nih prepare tubuh kita agar tetap bugar melaksanakan ibadah shaum dan ibadah lainnya di bulan Ramadhan nanti.. Kali ini aku mau kasih tips spesial agar tubuh tetap bugar selama puasa. Cekidot! 😉

☑ Konsumsi karbohidrat kompleks saat sahur.
Makanan yg mengandung karbohidrat diantaranya kacang merah, ubi, nasi merah, lobak, dll. Dengan mengkonsumsi makanan yg mengandung karbohidrat kompleks ketika sahur akan membuat tidak cepat lapar.

❎ Hindari makanan dengan kadar glikemik tinggi saat sahur.
Mie instan mengandung banyak natrium, lemak jenuh dan MSG. Hal ini memicu tenggorokan terasa haus menerus. Selain itu, mie instan jg mengandung kadar glikemik tinggi yg dapat membuat kita merasa cepat lapar.

☑ Konsumsi makanan dengan menu gizi seimbang.
Menu gizi seimbang terdiri dari:
- karbohidrat (nasi, umbi2an, serelia, dll)
- protein hewani (daging ayam, kambing, ikan, telur), disarankan mengkonsumsi protein lebih banyak saat sahur
- protein nabati (kacang2an, bayam, dll)
- makro nutrien (buah dan sayur)

❎ Hindari minum kopi dan teh saat sahur
Kopi dan teh mengandung zat diuretik (peluruh kencing) yg dapat merangsang berkemih lebih banyak sehingga kita cepat merasa haus.
☑ Terapkan pola minum 2-4-2
Pola minum 2-4-2 diartikan dengan
minum air dua gelas saat berbuka, empat
gelas di malam hari hingga menjelang
tidur, dan dua gelas lagi di saat makan
sahur perlu dilakukan. Setidaknya dengan
formasi ini, kebutuhan cairan minimal bagi
orang dewasa sudah terpenuhi.

❎ Hindari mengkonsumsi makanan yg tinggi garam saat sahur.
Garam dapat menarik air dari cairan dalam tubuh lalu menahannya di sela-sela sel, sehingga tidak disebarkan ke tubuh dan kita menjadi cepat merasa haus.

☑ Konsumsi kurma saat berbuka
Dari Salman ibn ‘Aamir, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian akan berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma sebab kurma itu berkah, kalau tidak ada, maka dengan air karena air itu bersih dan suci.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

☑ Konsumsi rutin madu
Madu mengandung: karbohidrat, air, zat mineral, senyawa nitrogen, alkaloid, stimulator biogenik, antibiotik tanaman (phytoncides), enzim (fermentasi), asam organik, minyak esensial, aromatik, mudah menguap, zat hormonal, antioksidan, anti-kanker dan agen anti-tumor dan lain-lain yang masih belum diketahui atau dipelajari secara spesifik. Beragam kandungan madu tersebut memiliki manfaat yg baik bagi tubuh terutama sebagai booster stamina dan fungsi otak sehingga selama puasa tubuh dapat tetap bertenaga dan otak tetap mampu berpikir dengan jernih. Madu yg direkomendasikan adalah raw honey atau madu non olahan karena nutrisinya masih alami terjaga.
Dengan menjaga pola makan, insya Allah tubuh tetap bugar selama Ramadhan sehingga ibadah pun bisa lebih optimal.

Siap menyambut Ramadhan?
Bismillah..
_Stay healthy with raw honey_ ...
#OfficialCW31 #rawhoney #prepareRamadhan #healthylife #fasting #zaidarawhoney #tipspuasa

Kamis, 11 Mei 2017

Jangan Singkat Kalimat Hauqalah




 Kumpulan Kaligrafi "LAHAULA WALAQUWWATA ILLABILLAHIL AALIYIL AADHIM"


 “Pokoknya saya mah laa haola aja deh!”

Sering kan, mendengar singkatan seperti itu. Saya sering banget. Mungkin karena kebiasaan menyingkat kata-kata agar lebih simpel, seperti baper atau mager hehehe. Dalam bahasa arab ternyata ada juga tuh singkatan dari beberapa ungkapan yang disebut An-naht. Seperti untuk kalimat bismillahirrahmanirrahim sering disingkat dengan basmalah, atau alhamdulillah dengan hamdalah. Sedang Kalimah laa haulaa walaa quwwata illa billah sering disingkat dengan kalimat haulaqah atau hauqolah.

Ini juga dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah,  “Ahli bahasa menyatakan bahwa ungkapan tersebut ( laa haulaa walaa quwwata illaa billah ) disingkat menjadi hauqolah atau haulaqah.

Beberapa ulama menjelaskan arti dari kalimat hauqolah ( tidak ada daya upaya atau kekuatan kecuali dari Allah swt ) dalam hal apa? Menurut Ibnu Abbas ra., bukan sekedar dalam menjalankan ketaatan dalam beribadah kepada Allah Swt., tapi dalam hal penjagaan dari hal-hal buruk atau maksiat yang dilarang oleh Allah. Sering juga diartikan sebagai tiada daya  untuk menolak kejahatan dan kekuatan untuk mendapat kebaikan melainkan dari Allah swt.


Pemahaman yang salah
1.   Sebagian orang menjadikan kalimat haulaqah ini sebagai kalimat istijra ( ucapan innalillahi wa inna ilaihi raajiun, ucapan ketika mendapat musibah  seperti yang termaktub dalam QS Al Baqarah ( 2 ) : 156 ). Sedang kalimat haulaqah bermakna kesabaran dan ketawakalan penuh seorang hamba kepada Allah. 

2.   Seringnya menyebut dengan kata yang kurang tepat laa haela atau la haula, atau la hola. Ini bisa menggeser arti dari kalimat pastinya. Atau hanya menyebut laa haula tanpa disempurnakan. Ini juga tidak disarankan ya Kawan. Jadi sebaiknya disempurnakan saja pelafalan kalimat hauqalah.


Nah, biar semangat gak nyingkat-nyingkat atau mengucapkan dengan ‘salah ‘ ungkapan haulaqah, yuk kita cek keutamaan kalimat ini :
  • Termasuk al baqiyatus shalihat
Termasuk amalan-amalan yang kekal lagi shalih. Hal ini selaras dengan apa yang dijelaskan oleh Utsman bin Affan ra., “yaitu ucapan laa ilaaha illallah, subhanallah, alhamdulillah, Allahu akbar dan laa haulaa walaa quwwata illa billah.”

  • Merupakan bukti kepasrahan diri kepada Allah swt
Ibnu Abbas ra., berkata, “Siapa yang berkata bismillah sungguh dia telah mengimani Allah,  yang berkata alhamdulillah dia sudah bersyukur kepada Allah, siapa yang berkata Allahu akbar maka dia sudah mengagungkan Allah, siapa yang berkata laa ilaaha illallah maka dia sudah bertauhid kepada Allah, dan siapa yang sudah berkata laa haula walaa quwwata illa billah maka dia sudah berserah diri kepada Allah, dan akan menjadi harta simpanan baginya di syurga.

  • Harta simpanan di syurga
Ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah saw., kepada Abu Musa Al –asy’ari ( Abdullah bin Qais ) ra., “Hai Abdullah bin Qais, ucapkanlah laa haula walaa quwwata illa billah, karena itu salah satu harta simpanan di syurga.” ( HR. Bukhari Muslim )

  •        Tanaman Syurga
Dalam kisah-kisah Isra’ Mi’raj dikisahkan Rasulullah bertemu dengan Nabi Ibrahim as., dan beliau pun berpesan, “Hai Muhammad, perintahkanlah ummatmu untuk memperbanyak tanaman syurga.” Rasulullah pun bertanya, “Apa itu tanaman syurga?” Nabi Ibrahim as., menjawab, “yaitu ucapan laa haula walaa quwwata illa billah.
  •      Salah satu pintu syurga
Rasulullah saw., pernah berkata pada Qais bin Sa’ad bin Ubadah ra., “Maukah aku tunjukkan padamu salah satu pintu syurga?” “Tentu saja wahai  Rasul Allah.” Jawab Qais ra. Beliau pun bersabda, “yaitu ucapan laa haulaa walaa quwwata illa billah.”
 
 

Nah, jadi sayang kan kalau ucapan kita tidak berbuah apa-apa, hanya karena ilmu kita yang minim. Yuk perbaiki diri terus, Kawan! Semoga bermanfaat

Wallohu a’lam bishowab.

Sumber Gambar :  
http://gloobest.blogspot.co.id/2014/06/kumpulan-kaligrafi-lahaula-walaquwwata.html