Rabu, 30 Agustus 2017

Mengenal Keutamaan Puasa Arafah

Di Dzulhijjah,banyak sekali amalan yang dicintai Allah. Terkhusus di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Meliputi haji, berqurban, memperbanyak takbir, memperbanyak dzikir, bersedekah serta puasa. Terkhusus puasa Tarwiyah dan Arafah. Sebelumnya simak dulu yuk, pengertian dan asal- usulnya!

Tarwiyah yang jatuh pada 8 Dzulhijjah erat kaitannya dengan peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim as.  Tarwiyah memiliki arti berpikir atau merenung. Pada hari inilah Nabi Ibrahim bermimpi mendapatkan perintah untuk menyembelih anaknya Ismail ( QS. As Saffat 102-107). Mendapatkan mimpi seperti itu, malam hingga pagi harinya Nabi Ibrahim terus gelisah dan memikirkan kebenarannya. Hingga malam berikutnya mimpi itu kembali datang, bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah. Nabi Ibrahim merasa yakin dengan apa yang diperintahkan. Itu lah kenapa hari itu disebut sebagai Arafah ( mengetahui ).

Pada malam ke-10, Nabi Ibrahim kembali mendapatkan mimpi yang sama. Siang harinya, beliau pun melaksanakan apa yang dipertintahkan. HIngga tangga 10 Dzulhijjah disebut juga sebagai Yaumul Nahr ( hari menyembelih ). Hal ini dikuatkan dengan adanya hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Abbas ( radiallallhuanhum ), Ibnu Abbas berkata, "Rasulullah melaksanakan shalat dhuhur di hari Tarwiyah dan shalat subuh di hari Arafah dari Mina."



http://www.anpasgin.com

Puasa Arafah bertepatan dengan momen wukuf di Arafah yang dilakukan oleh jemaah haji. Sehingga penentuan kapan puasa bukan berdasar hisab atau perhitungan bulan, tapi dengan melihat prosesi haji. Sedang puasa Tarwiyah dilaksanakan di hari pada tanggal 8 Dzulhijjah. Simak yuk, keutamaan puasa Arafah dalam hadist berikut ini :

Rasulullah bersabda, "Puasa Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun ( yang sudah berlalu dan akan datang ). Sedangkan puasa Asyyura ( 10 Muharram ) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu." HR. Muslim.

Ampunan adalah satu karunia yang sangat didambakan oleh orang yang beriman. Seorang yang berpuasa Arafah dengan niat semata untuk Allah, maka dosanya setahun yang lalu diampuni. Demikian juga dengan dosa setahun yang akan datang yang belum dilakukan pun sudah dihapuskan. Maka, puasa Arafah ibaratkan jaring untuk mendapatkan ampunan Allah Swt. Dan akan sayang sekali kalau itu tidak dilakukan bukan?

Adapun tentang keutamaan puasa Tarwiyah ada perbedaan pendapat yang mencuat. Tapi jika disandarkan pada niat memperbanyak puasa di awal-awal bulan Dzulhijjah maka tidak ada kerugian dalam melakukannya. Walau pun tanpa keutamaan seperti puasa Arafah. Karena sejatinya yang mengetahui besar kecil, banyak tidaknya karunia yang didapat seorang hamba hanya Allah yang Mengetahui. Terlebih lagi jika kita berpikir tidak ada jaminan masih bisa bertemu hari Tarwiyah dan Arafah di tahun depan. Maka, sebaiknya lakukan yang terbaik saat ini.***

Minggu, 13 Agustus 2017

Merayakan Cinta : Just Say I Love You

Beberapa hari yang lalu sempat viral guyonan ayla view di medsos. Membacanya saja membuat saya terpingkal-pingkal. Apalagi kalau ternyata eksperimen itu gagal, bikin perut kaku karena banyak tertawa. Di balik kritikan bahwa itu menaikan pamor sebuah merek mobil, saya malah kepikiran bahwa bisa jadi hal ini muncul karena banyaknya suami-suami yang cuek. Mereka merasa malu kalau disebuat romantis yang setiap saat bisa merayu atau gombalin istrinya. Padahal  Rasulullah sendiri sangat romantis terhadap istri-istrinya terutama pada Ummahatul Mukminin Aisyah ra.

Masih nyambung dengan fenomena di atas, saya lebih ingat dengan kajian Ust. Salim A Fillah yang temanya Merayakan Cinta. Dan isinya nyambung banget. Bahwa Cinta yang merupakan bagian dari rahmat Allah perlu diungkapkan. Tapi pastikan yang mendapat ungkapan cinta itu yang sudah halal lho, bukan yang masih burem gak jelas hehehe.

Terlebih, menyenangkan istri itu juga ibadah. Dan istri itu seneng banget dirayu dengan kata-kata. Kan istrinya juga bukan aliran kebatinan hehehe. Justru wanita itu mahkluk linguistik yang memiliki banyak kosa kata dan pandai berkata-kata alias cerewet hehehe. Dan memang cinta itu musti diungkapkan Jadi gak musti nunggu punya berlian semangkok atau repot- repot petik bunga,  apalagi sampai digelitik pake tebak-tebakan merek mobil. Tinggal ucapkan I love you aja, yakin istri akan meleleh dan sumringah.

Ust. Salim mengambil perbandingan dengan Allah Swt. Dengan sifat Maha Mengetahui, Allah sangat suka dengan pernyataan cinta dari hambaNya. Tidak sehari sekali, tapi 17 kali dalam sehari. Yaitu dalam QS. Al Fathihah yang dibaca dalam setiap rakaat shalat fardu. Dalam sebuah penjelasan, bahwa ayat 1-3 adalah pernyataan cinta seorang hamba kepada sang Khaliq. 

Memang benar terkadang bukan kurangnya cinta yang membuat sebuah keluarga tidak harmonis, tapi kurangnya ilmu untuk menumbuhkan, memelihara dan mengungkapkannya. Seorang suami yang memahami karakter wanita maka akan mau mendengarkan curhatan istrinya walaupun terkesan jauh dari penting dan terkadang tak butuh jawaban. Karena saat seorang istri sedang curhat bukan untuk diberi solusi apalagi kritikan, tapi hanya butuh didengar. Butuh untuk melampiaskan stress dan emosi yang ada dalam dirinya.

Kebayang kalau suaminya tidak mau mendengarkan , maka si istri akan curhat ke teman sosialitanya. Bisa jadi ghibah dan menghasilkan dosa. Kalau ternyata curhat dengan lawan jenis bisa-bisa bibit-bibit peselingkuhan mulai tumbuh. Dan rumah tangga akan terasa hambar, ditambah harga garam yang naik makin hambar hehehe ( jaka sembung deh... ;) )

Intinya mah jangan mau kalah sama pasangan belum halal di luaran sana yang jago bikin doki-doki alias deg-degan. Gak perlu juga diumbar di depan umum. Apalagi  mengikuti skenario drama Korea, alamakk jan. Karena nanti banyak yang baper hehehe. Dan terkesan promosi pasangan atau diri sendiri jadi pasangan yang paling juara. Emang mau ada diskon atau free ongkir gitu hehehe. Lebih baik ungkapkan dengan tulus dan sepenuh hati, tanpa ada keinginan mengeksplose.  Yakin deh cinta akan terus bersemi dengan pasangan.

Jadi sudah bilang I love you belum, atau aylaview... *_^

Sumber gambar:
http://www.9to5carwallpapers.com/i-love-you-i-love-you-images/


Kamis, 03 Agustus 2017

Catatan : Ibu, Generasi Alay dan Girl Band

Beberapa hari terakhir ini yang sedang wira-wiri di mesdos adalah berita tentang pro kontra kedatangan girl band asal Korea Girl Generation atau dikenal juga sebagai SNSD. Satu hal yang wajar sebenarnya adanya pihak yang mendukung dan menolak. Toh tidak semua orang menjadi pendukung Koreanwave yang melanda hampir seluruh dunia, kan?

Nah, yang bikin miris adalah saat perbedaan pendapat ini disikapi dengan makian dan kata-kata kasar. Mereka yang notebene mengaku sebagai fans dari SNSD atau biasa disebut SONE Indonesia dengan kejam mencaci maki pihak yang tidak setuju. Adalah Elly Risman, seorang pakar parenting yang selama ini terkenal sangat peduli dengan anak-anak negeri ini sampai jadi bahan bully bahkan dig**lok-g**lokin :( :( :(

Kenapa saya sebut kejam, karena pihak SM entertainment yang membawahi SNSD pun menyatakan kekecewaannya akan tingkah para SONE Indonesia ini. Banyakin baca deh adik-adik jangan nyolot aja ya yang digedein! Banyak link nya kok..bisa dibaca. Setahu saya sebagai orang yang mendampingi abege yang suka budaya halyu, di Korea sana sopan santun dan senioritas itu dijunjung tinggi. Bahkan bintang muda sekelas KYJ yang fansnya mendunia saja pernah jadi bahan bulan-bulanan netizen karena dianggap berlaku tidak sopan dalam sebuah promo film. Bukan karena kata-kata kasar lah yang pasti, hanya karena si gadis cantik ini dinilai bertingkah kurang sopan di samping para sunbae nya. 

Nah lo..

Sementara di sini sepertinya para kaum muda selalu menganggap generasi tua itu bodoh hingga pantas dihina. Sungguh, saya sampai tak tega dan geram membaca cuitan mereka yang membalas cuitan Bu Elly. Yang terlintas pertama kali adalah rasa kaget karena begitu kasarnya tulisan-tulisan mereka.  Padahal yang mereka caci maki adalah wanita paruh baya yang bisa jadi seumuran ibu atau  orang tua mereka.

Yang kedua terlintas adalah apa yang sudah diberikan oleh orang tua generasi muda ini. Apakah mereka menerapkan budaya barat yang tidak mengenal sopan santun, adab, unggah-ungguh dalam mendidik anak-anaknya. Maaf lho bukan menjudge, karena anak-anak belajar sopan santun itu dari lingkungan terdekat yaitu keluarga. Atau jangan-jangan para orang tua ini juga biasa saja dicaci maki dan dibodoh-bodohin sama anak-anaknya. It's so rude ...

Lalu saat kepala mulai dingin saya bisa ngomong, ya... mungkin anak-anak itu ngomong kasar karena darah muda mereka, apalagi di dunia maya yang gak kelihatan muka. Keberanian naik 200% malu hilang minus persen, hingga leluasa menumpahkan isi hati tanpa mikir pantes enggaknya. Atau karena kurangnya kedewasaan mereka. Maklumlah anak muda yang merasa bakalan muda terus hehehe. Padahal berapa tahun lagi mereka juga bakalan tua bahkan jadi orang tua.

Nah, nyinggung jadi orang tua nih, yang saya enggak habis pikir saat baca beberapa status yang dikeluarkan oleh para mahmud yang intinya mempertanyakan sikap Bu Elly. And, you know what... komen-komen mereka pun sama alaynya, sama kasar dan kejamnya dengan anak-anak abege di atas. What a world..., ngelus dada dan lanjut istighfar berkali-kali. Bahkan ada yang sampai menyangsikan dan merasa menyesal sudah baca-baca artikel parenting dari beliau.

Wah, para mahmud ini kudu dirukyah kayaknya hehehe ( asli gemes saya ). Bisa jadi mereka memang alumni fans KPop ya... Yang masa mudanya hobi banget ngefans, ngikutin berita  dan jadi shipper sana sini. Saya akui, saya juga suka nonton drakor, suka beberapa lagu Jepang dan Korea,  dorama, tapi masih batasan  wajar. Yang baik diambil, buang jauh -jauh yang buruk. Lalu ada yang komen, kalau emaknya alay gini gimana anak-anaknya apa gak alay kuadrat? Wee deh pokoknya... nyesek.

Menjadi mama, menjadi ibu bukan sekedar karena melahirkan trus tersemat panggilan mamah, bunda, ibu dan kelar. Tapi berpredikat ibu juga ada tugas berat yg harus diemban, mendidik dan menjaga generasi. Dan mamah-mamah muda, mendidik anak itu perlu ilmu sebagai bekal yang cukup. Lalu jika kepada orang yang pantasnya disebut guru atau  pakar parenting kalian hina-hina, trus kira-kira manfaat gak ilmu yang kalian dapat? Malah kualat ntar loh.  Mendidik anak itu berat jendral!

Kalau saya justru berpikir bagibpara mamah mau mamah tua mamah muda, sekaranglah waktunya menyatukan langkah, merapatkan genggaman tangan untuk menyelamatkan generasi. Lebih bijaklah dalam melihat segala sesuatu. Ingatlah ibu adalah sekolah ( kalau disebut madrasah alergi saya ganti dengan sekolah ) pertama, tempat bertanya pertama kali anak-anaknya tentang apa saja. Seorang guru pertama yang digugu dan ditiru. Dan sudah tua juga, kurangin deh alay nya, takut komen greget di atas jadi doa...***

Sabtu, 22 Juli 2017

Catatan Anakku Mondok : Untuk Anakku

Bertepatan dengan hari anak 23 Juli ini,  saya ingin menuliskan  nasihat yang saya berikan ketika si bujang akan berangkat mondok.  Sebenarnya sudah hampir seminggu si bujang di pesantren,  tapi baru sekarang bisa move on,  mengurangi melow karena ditinggal anak lanang hehehe ������

Jujur,  ini adalah pengalaman pertama melepas anak jauh dari rumah.   Bukan untuk satu dua hari,  tapi kalau tidak ada kendala hampir selama 6 tahun.  Tega gak tega juga sih, tapi tekad anak yang kuat justru itu yang bikin hati saya mantap. "Aa pengin belajar agama Bu,  biarin Kakak (kembaran ya)  dan saudara yang lain belajar ilmu yang mereka sukai.  Aa mah mau menghafal Quran." ( yahh  melow lagi deh,  mewek lagi deh ������ )

Saya harusnya banyak - banyak bersyukur. Karena banyak orang tua yang anaknya mondok tapi anaknya ogah,  sampai ada upaya maksa-maksa.  lha anak saya malah asyik - asyik saja tuh, malah  semangat. ����

Nah,  karena pengalaman pertama maka banyak sekali yang saya 'pesankan'  ke anak.  Tapo biar gak panjang bak ular naga,  dibatasi jadi 3 poin aja yaa... 

1. Niatkan karena Allah
Jauh-jauh hari saya sudah menyampaikan hal ini pada si bujang.  Bahwa apa pun yang kita lakukan nyatakan semata - mata untuk Allah.  Termasuk mencari ilmu,  apalagi ilmu agama,  niatkanlah untuk Allah.  Bukan untuk merasa lebih baik,  lebih hebat di mata makhluk.  Tapi karena ingin lebib mengenal,  lebih dekat dan le ih cinta kepada Allah Swt.

2. Bersabarlah dalam menjalani proses
Ini sebenarnya nasihat buat saya sendiri.  Malam hari setelah siangnya menitipkan  Aa ke pesantren saya tidur sambil nangis.  Kangen dan  khawatir campur aduk.  Terus bertanya apakah ini jalan yang terbaik?
Tapi nasihat dari ustad dan ustadz di sana betul-betul membuat diri sadar akan niat menitipkan anak. "Sabar bu..,  insya Allah Aa disini kuat dan sabar."
Dan pas esok harinya lihat foto yang dikirim sama ustadz pembimbing ya,  saya jadi lega dan memperkuat tawakal kepada Allah.

3. Jadilah pribadi yang baik
Tinggal dengan orang lain di pondok pasti ada lika-likunya.  "Jadikan teman-teman Aa sebagai saudara terdekat Aa.  Mereka akan jadi tetangga Aa selama 6 tahun.  Inget enggak A,  hadist yang mengatakan bahwa tetangga untuk adalah saudara terdekatmu.  Ya memang seperti itu.  Berbagilah makanan,  jangan takut kekurangan. InsyaAllah makanan yg dibagi akan cukup dan berlimpah berkah. "
Nah,  ada yang mau nambahin atau berbagi pengalaman selama anaknya mondok?  Bisa tulis di komen yaa... ������

Minggu, 16 Juli 2017

Yaa.. Bunayya Laa Tusyrik Billah...

Sengaja di musim liburan kemarin, saya memperbanyak ngobrol, ngaji bareng atau bahasa kerennya taklim dengan anak-anak. Niat awal sih biar liburan gak sekedar diisi dengan bersantai, main, atau malah nonton tivi. Di hari sekolah, anak-anak hanya dapat ijin nonton tivi sabtu minggu. Itu pun siang hari, sedang malam ya off alias mati. Karena itu saya mengajukan kegiatan ngaji with kiddos di rumah dan langsung di acc ama suami.




Dan kali ini saya sengaja juga menyambungkan dengan moment Sidang Tahfidz Quran yang beberapa minggu lalu dijalani si kembar saat pelepasan siswa kelas 6. Saya tertarik untuk membahas ayat-ayat yang dibacakan saat pembukaan acara itu. Yaitu QS. Lukman ( 31 ) : 12- 19. Yang berisi pesan-pesan dari Lukmanul Hakim kepada anaknya. Yang akhirnya menjadi referensi dalam parenting dan mendidik anak-anak secara islami.

Tapi mengingat lamanya konsentrasi anak yang paling banter 30 menit, saya pun fokus ke dua ayat pertama, 12 dan 13. Dan ternyata anak-anak antusias, bahkan terjadi dialog seru selama pembahasan dua ayat tersebut. Alhamdulillah...

Lanjut yaa...

QS. Lukman : 12
Berisi perintah untuk bersyukur, menjadi hamba yang pandai bersyukur. Bersyukurlah karena sudah diciptakan Allah dalam sebaik-baik bentuk. Seperti dalam QS Attin ( 95) : 4. Karena penciptaan diri adalah sebuah peristiwa agung yang terjadi karena qudrat iradatNya semata. Bersyukurlah atas apa-apa yang sudah ditetapkan dan sudah diberikan sebagai karunia bagi kita, Nak. Betapa nikmat dan karunia Allah itu tak terhitung, amat banyak. Bersyukurlah maka Allah akan menambah nikmatNya. Karena barangsiapa yang bersyukur itu untuk dirinya sendiri. Barang siapa yang kufur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya.

QS. Lukman : 13
Bentuk syukur adalah dengan mengabdi sepenuhnya kepada Allah Swt. Inilah kenapa di lanjutkan dengan ajaran Lukman kepada anaknya untuk menjauhi musyrik. Yaa bunayya, laa tusyrik billah. Tidak mungkin kita bisa bersyukur jika musyrik atau menyekutukan Allah. Tidak mungkin kita berterimakasih, berbahagia dengan karunia Allah jika kita menduakan, mentigakan atau malah percaya ada kekuatan lain yang bisa memberi nikmat karunia dan kehidupan selain Allah Swt.

Disinilah pentingnya hidup untuk senantiasa menjaga fitrah diri yaitu bertauhid, mengesakan Allah. Bahwa itu lah tugas orang tua yang utama mengajarkan anak-anak agar bertauhid, mengimani Allah dengan sebaik-baiknya dengan sebenar-benarnya.Dan menjadi hak anak untuk meminta pengajaran yang benar dari orang tuanya. Agar tidak saling tuduh, saling menyalahkan, lempar tanggung jawab seperti dalam QS 7: 172-173

Nah, ada 3 hal kerugian dari musyrik atau tidak bertauhid :

1. Merupakan dosa tak terampunkan
2. penyebab utama tertolaknya amal
3. Tidak akan masuk syurga...

Nah, rugi bener kan kalau sampai kita musyrik. Karena sebanyak apa pun amal tidak akan dinilai oleh Allah, sia-sia. Dapat capeknya doang ya. Apalagi kalau sampai tidak bisa masuk syurga, tempat tinggalnya neraka dong? anak-anak dah pada bergidik ngeri. Ya..., begitu lah. Kan di hadist juga ada. di dalam buku kisah-kisah islami juga diceritakan seperti itu. Bahwa kelak ,setelah orang-orang beriman masuk syurga mereka mencari-cari kerabat, sahabat yang dulu di dunia bersama-sama tapi sekarang gak ada di syurga. Lalu mereka memohon kepada Allah Swt, dan diijinkan mencari kerabat dan sahabat di neraka. syaratnya selama mereka punya iman, bertauhid bisa deh masuk syurga. 

Dengan bahasa yang bisa dipahami anak-anak, ternyata respon mereka bagus banget. Bahkan setelah diucap salam penutup mereka langsung nanya, "Lanjutannya kapan Bu?" Nah, mau mencoba ngaji bersama anak di rumah, bisa seru juga kok ^ _^


Sabtu, 17 Juni 2017

Hikmah Ramadhan : Bermesra Merapat dengan Al Quran

Ada yang istimewa pada Ramadhan 1438 H kali ini. Bisa dikata sejak awal puasa, sekolah anak-anak tidak memberikan libur awal puasa. Awal Ramadhan yang bertepatan dengan hari sabtu memang sudah jadi kebiasaan jadi hari libur untuk anak-anak yang bersekolah di Full Day School. Senin hari ke 3 langsung masuk sekolah dengan agenda Pesantren Ramadhan dengan kegiatan variatif yang sangat disukai anak-anak. Mulai nonton film, games, tilawah, ceramah hingga hafidz Qur'an.

Tahun ini juga si kembar lulus MI, dan acara pelepasan atau serah terima murid dari pihak sekolah kembali pada orang tua diisi dengan sidang tahfidz juz 30. Awalnya direncanakan juz 30 dan 29, tapi melihat yang sudah hafidz  juz 29 masih sedikit akhirnya diputuskan hanya juz terakhir. Dengan tantangan tartil dalam membacayanya dan dengan langgam bayati.

Jujur saja, saya merasa excited banget dengan kegiatan ini. Dulu saat si sulung lulus SDIT juga pernah ada acara khataman dan hafidz Qur'an juz 30. Jadi secara pengalaman memang  bukan yang pertama. Tapi saya merasa pasti ada yang beda, karena si kembar memang bukan di SDIT tapi di MI yang pelajaran agama porsinya sama dengan pelajaran umum.

Dan ternyata perkiraan saya tidak meleset. Begitu masuk tempat acara, suasana sudah mendukung. Peserta berseragam putih-putih, sederhana tapi dipenuhi essensinya, menutup aurat dengan rapi. Dan uniknya yang menjadi penguji adalah kami, para orang tua. Kami dipersilakan meminta peserta membacakan surat-surat yang diminta. Atau sambung ayat, bisa juga menerangkam kandungan isinya.

Air mata ini tak henti-henti mengalir. Bukan karena bangga semata, tapi lebih banyak ke arah haru dan muhasabah diri. Kami, adalah orang tua yang bisa jadi tumbuh besar bukam dalam lingkungan dan fenomena menghapal Quran yang tren seperti saat ini. Jadi bisa jadi diantara kami membaca Quran pun masih ada yang terbata-bata. Jangankan menghapal puluhan ayat, bahkan surat-surat pendek pun hanya yang terbiasa dibaca dalam solat saja yang hapal. Ouwh... malu malu ya Rabb...

Apalagi saat penerimaan kembali siswa dari pihak sekolah, terasa sekali beban berat yang kami terima. Mampu kah kami melanjutkan kebiasaan, prestasi baik, pendidikan dan bimbingan yang selama ini diberikan bapak ibu guru terhadap anak-anak? Padahal selama ini kami juga sadar betapa kurangnya dukungan, support, bimbingan yang kami berikan baik dati segi materi maupun immateri saat anak dibelajar di sekolah.

Terlebih saat kepala sekolah memberi wejangan, "Sungguh kami takut anak-anak, kalian akan menemukan keasyikan baru di jenjang lebih tinggi hingga melupakan Al Quran. Hingha kalian lupa pada niat yng sudah pernah diazzamkan, ingin hafidz Quran 30 juz." Atau kalian hapal tapi tidak menjaganya, karena Allah tidak akan menjaga orang yang tidak menjaga agamaNya."

Sungguh kami disadarkan bahwa menginginkan anak untuk hafidz Quran bukan karena semata-mata ingin dianggap keren, mengikuti tren, dipandang hebat apalagi sekedar memenuhi ambisis semata. Bukan juga karena kami ingin agar mereka memberi kami makhota dari cahaya kelak di akhirat, tapi untuk menjadi penjaga dan penolong agama Allah...

"Jagalah ajaran-ajaran Allah, niscaya engkau akan mendapatiNya selalu menjagamu. Jagalah larangan-larangan Allah, niscaya engkau akan mendepatiNya selalu dihadapanmu. Kenalilah Dia dalam sukamu, niscaya Allah akan mengenalimu dalam duka. Bila kamu meminta, mintalah kepadaNya, jika kamu butuh pertolongan memohonlah kepadaNya." ( Nasehat Rasulullah kepada Ibnu Abbas ra. )

Ya, Nak... ini hanya awal. Bantu kami untuk selalu mengingat hal ini. Mari bersama-sama menjagi generasi terbaik. Generasi yang meski berjarak beratus tahun dengan Baginda Nabi tapi diingatnya dengan penuh kasih bahkan dalam kalimat terakhirnya, ummati ummati ummati. Ummat yang terus menjaga agamaNya, menjaga ajaran-ajaranNya.

Semoga kalian senantiasa dalam lindungan dan kasih sayang Allah, Nak...***

Minggu, 11 Juni 2017

Mengenal Profil Para Sahabat Nabi di Bulan Suci

"Mi, buku dah terbit nih...!"
Pemberitahuan dari editor ini sontak membuatku kaget sekaligus haru. Naskah yang awalnya diperkirakan terbit akhir tahun, malah release di bulan suci. Bisa jadi penerbit GPU melihat ini momen yang pas. Saat gairah keislaman dan ibadah sedang on the top.

Kalau dilihat ke belakang, naskah ini diajukan 2 tahun yang lalu, 2015. Dengan genre anak islami. Makanya judul awalnya juga Sirah 60 Sahabat Nabi for Kids. Tapi karena faktor ilustrasi dan mungkin dilihat lebih pas undtuk dewasa or umum ( banyak adegan heroik yang berdarah-darah ), maka sasaran pembaca diperluas.

Beberapa kali kabar akan terbit naskah ini timbul tenggelam. 'Dipereum' itu istilah Neng editor di Indscript. Sampai saya sendiri sibuk dengan beberapa naskah buku yang akhirny terbit mendahului di 2015 dan 2016 lalu. Dan qadarullah, naskah ini terbit jadi rezeki tak terduga di ramadahan 2017 ini. Alhamdulillah ala kulli hal

Kenapa saya memilih genre anak? Karena jujur saja saya hanya menulis ulang berdasar sumber sana sini, tentu saja dengan gaya penulisan yang ingin memberi motivasi pada anak-anak. Agar mereka lebih mengenal dan mengidolakan para pembangun peradaban nubuwwah ini. Saya juga gak mau disebut sok sok- an ahli sirah. Duh, siapa lah daku ni? Hanya murid yang masih minim ilmu dan masih kudu belajar banyak. Tapi karena sudah dipilih oleh penerbit, dan sudah terbit, ya mau gimana lagi. Tinggal 'Bismillah tawakaltu 'alallah'.

Meski semper mondok di penerbit 2 tahun, tetap saja saya merasa belum maksimal dalam menulis naskah ini. Hal yang paling berat adalah menulis nama yang bisa jadi kurang familier di telinga. Karena sengaja saya menulis para sahabat diluar 4 Khulafaur Rasyidin atau 4 sahabat utama. Begitu juga dalam memperkirakan waktu dan usia yang bisa jadi kurang tepat.

Karena itu lah saya merasa buku ini masih banyak kekurangan. Besar harapan kekurangan itu tidak membuat turun kemuliaan para tokoh yang ada di buku ini. Tapi saya pastikan, para pembaca akan mendapat suntikan motivasi dan semangat untuk mencontoh dan meneladani generasi yang langsung dibimbing oleh Baginda Nabi Muhammad Saw ini.

Selamat membaca, selamat melintasi sejarah yang penuh buliran hikmah dan kemuliaan...