Senin, 25 Desember 2017

Ternyata, Ini Yang Paling Dikhawatirkan Rasulullah Saw


Beberapa hari ini rame di timeline adalah tentang eljibiti. Berawal dari keputusan MK yang memang multitafsir. Disusul tak berapa lama terjadi gempa yang cukup besar di beberapa kota. Seperti sebuah pertanda bahwa pemilik langit dan bumi ini tidak ridha dengan apa yang dilakukan makhluknya. 

Rentetan peristiwa ini mengingatkan saya pada sebuah cerita dari teman yang berprofesi sebagai guru BK atau konseling di sebuah sekolah menengah kejuruan. Saya memang sering meminta bocoran info tentang kasus atau apa yang lagi trend di kalangan anak remaja. Pernah dia cerita tentang fenomena macam selebgram- dimana siap difoto gaya apa aja untuk endors atau iklan fashion. Bayarannya tak seberapa sih, murah sekali. Tapi mereka siap membuka aurat untuk disebar di dunia maya. 

Nah, kali ini sebelum rame-rame keputusan MK tentang zina dan eljibiti, temen saya ini cerita tentang fenomena lesbian yang lagi marak banget di sekolahnya. Siswi-siswi bau kencur itu lebih memilih pacaran atau berhubungan dengan sesama perempuan.  Faktanya dia memang mengajar di sekolah kejuruan yang mayoritas peserta didiknya adalah perempuan. "Kebanyakan orang tua enggak tahu kalau anaknya jadi lesbi, Bu. Bahkan mereka merasa kalau anaknya main dengan sesama perempuan dibanding dengan lawan jenis." 

Giliran dia kasih lihat foto-foto muridnya itu saya sampai kaget. Mereka kalau sekolah pakai kerudung, tapi kalau lagi main atau diluar sekolah enggak bisa dibedakan mana perempuan mana laki-laki. Ada yang bergaya dengan celana jeans, t shirt, jaket dan rambut pendek. Ada yang manis girly bak anggota girlband. "Ini semua perempuan, Bu. Si ini yang jadi cowo nama aslinya ini," ujar temen saya sambil menyebut nama-nama islami yang kekinian banget. Huff.. naudzubillah...

Lalu saya pun buka yutub untuk melihat yang lagi seru di bahas di medsos. Tentang pro kontra keputusan MK yang ditayangkan oleh sebuah teve swasta. Dan saya makin kaget, sekaligus marah dengan perkembangan yang ada. Bagaimana mungkin negeri ini yang konon berdasar ketuhanan yang maha esa, malah membiarkan kelompok manusia yang menghina keberadaan Sang Khaliq. Dengan bersembunyi pada kata-kata berbelit, bagaimana jika ini adalah ciptaan tuhan juga? What?

Ya Allah, pengin rasanya teriak, lo waras? cageur? tapi sadar itu tidak menyelesaikan masalah... Tapi mari kita berpikir, apakah ada pencipta yang ingin membuat produk yang salah atau gagal? Nope, pasti enggak ada. Kita saja saat membuat mesin atau robot pasti akan berusaha sampai maksimal full untuk membuat yang sempurna. Apalagi dengan Sang Khaliq, Allah Swt yang menciptakan dengan seluruh kuasaNya. Sempurna dengan panduan hidup yang juga kaffah menyeluruh. Termasuk dalam urusan kebutuhan dan fitrah laki-laki dan perempuan.

Dan yang makin bikin saya ngeri adalah pemikiran bahwa berhubungan dengan sesama jenis lebih aman daripada dengan lawan jenis. Ini ternyata sudah disebarkan secara masif ke kalangan anak muda. Hingga sekarang pendukung sesama jenis ini meningkat lho, dengan alasan aman. Tapi masa iya aman? Karena enggak menghasilkan bayi? Tapi mendatangkan penyakit yang bisa memusnahkan ras manusia kok disebut aman.

Mestinya itu dijelaskan tidak ada istilah aman kalau merusak sistem imun manusia. Hingga penyakit biasa macam maag atau TB yang sekarang obatnya sudah jamak bisa menyebabkan kematian.  Trus ada enggak kepikir ya, bahwa lubang anus itu memang diciptakan untuk buang kotoran. Kebayang kan bakteri yang ngumpul sudah banyak, apa sudah hilang ya urat jijik di mereka itu? naudzubillah... astagfirullah.

FYI nih, Dokter di ILC cerita kalau pasiennya ada yang punya 4 pacar, 1 perempuan dan 3 laki-laki. Yang perempuan tidak diapa-apain karena takut hamil kali yaa, sementara yang laki-laki sudah dia garap dan ketiganya sukses tertular HIV. Sekarang si pasien sudah kena sipilis dan juga HIV. Harus makan obat seumur hidup, nah yang kasih biaya siapa? apa pasangan yang sesama jenis yang ngaku cinta? jadi beban negara dong. Dan jadi kesel kalau inget bisa-bisa uang pajak yang kita bayar dipakai untuk bayarin orang-orang yang sakit karena urusan pilihan menyimpang ini. ( Duh... asli ngebul nih kepala ).



Padahal, aman itu kalau pada tempatnya lah, dan setia enggak gonta-ganti pasangan. Makanya berhubungan sex itu saat sudah siap dengan konsekuensinya. Sering-sering deh lihat dunia fauna, bahkan bintang saja berhubungan seksual itu saat sudah siap, saat sudah musimnya, dan sudah masuk umur. Bukan hanya mengikuti keinginan syahwat. Lha, kita manusia yang diberi akal masak kalah sama syhawat. Ya kali kalah sama singa atau monyet... ( ampun deh...)

Terus kalau belum siap dengan konsekuensi tapi pengin gimana dong? Itu kerasa pengin pasti ada sebabnya, bisa jadi kebanyakan nonton film porno atau malah kebanyakan nonton adegan dewasa sebelum waktunya. Makanya jaga pandangan, penuhi aturan Allah  baik itu larangan maupun perintah. Isi waktu dengan kegiatan positif dan berprestasi, jangan kebanyakan ngelamun, apalagi ngelamun jorok bin ngeres. Jaga penampilan, tutup aurat, bergaul dengan batasan-batasan yang sudah ditentukan.

Yakin deh, aturan Allah baik itu larangan maupun perintah pasti menyelamatkan. Jadi ikuti saja enggak usah merasa dibatasi. Manusia itu dikatakan manusia kalau ada aturan yang membatasi, kalau enggak ada yang maunya bebas berarti perlu ditanya kemanusiaannya. Dilarang pacaran, ikuti saja. Toh jodoh itu tidak datang dari pacaran kok. Disuruhnya nikah ikuti saja karena itu lebih sehat dan menentramkan. Di suruh setia jaga pergaulan ya manut saja,karena kalau pergaulan enggak dijaga maka perselingkuhan merajalela. Akibatnya menderita, tidak bahagia.

Satu lagi, coba kita ingat kekhawatiran Baginda Nabi Saw., terhadap ummatnya yang akan hidup di akhir zaman, " Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpat ummatku adalah perbuatan nabi Luth." HR. Ibnu Majah.

Senin, 11 Desember 2017

Adab Menolong Agar Pahalamu Tak Hilang

 Inilah Adab Islam dalam Hal Pinjam Meminjam
                   http://cdn2.tstatic.net/serambiummah/foto/bank/images/pinjam-meminjam-adab.jpg


Tolong menolong adalah hal yang jamak dalam kehidupan ini. Ada orang yang memang dimampukan Allah, dengan  kondisi berlebih hingga bisa mengulurkan bantuan. Ada juga kondisi yang didatangkan Allah hingga dia menempati posisi orang yang butuh. Dan hebatnya Islam, semua itu diatur hingga tidak menjadi polemik. Hingga tidak ada yang merasa sombong atau terhinakan.

Ajaran dan didikan inilah yang menjadikan potret indah di jaman para sahabat terwujud. Dimana dikenal banyak sekali para dermawan tapi mereka hidup sangat sederhana. Bahkan ada seorang dermawan yang tidak pernah mengenal kata tidak saat ada seorang umat Nabi yang membutuhkan hartanya. Karena kemurahannya ini Abu Bakar dan Umar radiallahuanhum sampai sedikit khawatir dan berpendapat, "Kalau kita biarkan pemuda ini degan kedermawanannya, dia akan menghabiskan harta kekayaan orangtuanya." ( Qais bin Sa'ad bin Ubadah ra., dalam buku Sirah 60 Sahabat Nabi Muhammad Saw., GPU )

Tapi di jaman sekarang rasanya sulit sekali menemukan orang seperti Qais ra. Seringnya yang ada sekarang itu orang lebih berani pinjam ke bank yang jelas riba karena saudaranya enggan menolong. Yang lebih menyedihkan lagi adalah orang-orang miskin yang terbelit hutang rentenir karena para hartawan tidak mau meminjamkan uang dengan alasan tidak jelas kapan akan dikembalikan.

Nah, sebenarnya bagaimana adab dalam memberi pertolongan  hingga kita semangat menolong dan pahala pun tak hilang. Lanjut yukkk...

Dalam QS. Al Baqarah ayat 261-264 jelas sekali tergambar bagaimana seharusnya dalam bertaawwun :

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. "

" Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. "

" Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. "

" Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. "


Kalau disimpulkan adalah sebagai berikut :
1. Dalam menolong dilarang keras untuk riya, niatkan menolong sesama hanya lillahi ta'ala. cukupkanlah diri dengan balasan dari Allah Swt. Tidak perlu menunggu ucapan terima kasih, maafkan saja saat yang ditolong lupa. mungkin memang tidak tahu hehehe.

2. Dilarang keras menyakiti si penerima pertolongan. Di sini nih kadang ujiannya, perlu ketegaran tingkat tinggi. Apalagi  jika ternyata yang awalnya iktikadnya minjam seperti gak ada ingat-ingatnya kapan akan mengembalikan. Tetap saja, jaga mulut dari mengeluarkan kata-kata yang menyakiti. Sudah lupakan saja, yakin kalau itu rezeki diri pasti akan kembali...

3. Sadar bahwa diri sedang dipilih Allah sebagai kran penghubung orang lain. Maka tidak perlu sombong dan menganggap diri amat berjasa. Karena tanpa kucuran rezeki dari Allah apalah kita. Bisa jadi kita juga yang dalam posisi penerima bantuan, ya kan... 

Duh susah, ya emang siapa bilang mudah. memang disitulah ujiannya. Maka dalam setiap amal shalih pun ada ujiannya. Karena itu selalu lah kita bermohon pada Allah untuk ditolong agar dimudahkan dimampukan beramal shalih dengan benar dan murni untuk Allah Swt. wallohu a'lam bishowab.

Rabu, 29 November 2017

Ini Yang Mesti Dilakukan Saat Mendapat Musibah

Baru buka hp dan mendapati berita tentang badai Cempaka yang membuat gunung pun terendam air. daerah sekitar aliran sungai Oyo rata dengan air. Qadarullah, hal yang dirasa tidak mungkin terjadi dengan mudah. Jika selama ini menyangka daerah tinggi aman dari banjir, Allah membuka mata kita untuk melihat kekuasaanNya. Subhanallah...


Hati makin berdetak cepat melihat foto-foto berseliweran. Ada rumah yang tinggal atapnya saja yang tampak. Pohon-pohon yang tampak hanya bagian puncaknya. Desa yang rata tertutup air. Rabbanaa..., apakah penghuninya selamat? Disertai doa-doa penuh harapan semoga tidak banyak korban. Semoga semua sabar menghadapi ujian musibah ini.

http://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/rumah-warga-di-pidie-dihantam-banjir-bandang-_151203061659-120.jpg
http://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/rumah-warga-di-pidie-dihantam-banjir-bandang-_151203061659-120.jpg

Ya..., musibah adalah hal yang sering datang dalam kehidupan manusia. Tidak selamanya senang dan nikmat yang datang. Terkadang meski enggan harus mau merasakan pahit, terhimpit, duka dan kesedihan. Lalu bagaimana resep atau ajaran Islam dalam menghadapi semua ini?

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar ." QS. Al baqarah : 153

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa." QS. Thahaa : 132

Dari dua ayat diatas ternyata ada dua resep dalam menghadapi ujian. Yaitu shalat dan bersabar. Itu juga yang dilakukan oleh para nabi yang mulia saat mendapati kekhawatiran dan kondisi yang menakutkan. Masih ingatkan ketika Nabi Adam as., diturunkan ke bumi ini. Saat itu kondisi dini hari. Nabi Adam yang takut dan bingung langsung berdoa kepada Allah. Tak berapa lama maka terbitlah matahari membuat alam terang. Adam as., pun langsung mendirikan shalat dua rakaat.

Demikian juga saat Nabi Musa as., beserta istrinya dalam perjalanan ke Mesir.  Sepanjang jalan banyak tentara Fir'aun yang masih terus mencarinya. Rasa khawatir membawa Nabi Musa untuk shalat empat rakaat. Setelah itu Allah pun menurunkan ketenangan dan rasa aman. Hingga keduanya bisa kembali bergerak dan lolos dari intaian pasukan Fir'aun.

Dalam sebuah kisah hikmah diceritakan seorang kuli angkut yang terkenal jujur di kota Kuffah. Banyak warga yang percaya menitipkan barang pada si kuli ini. Karena mereka sangat yakin si kuli ini amanah. Hari itu kuli jujur itu bergerak keluar kota Kuffah. bagal tunggangannya tampak penuh dengan barang titipan warga. 

Agak jauh di luar kota Kuffah seorang laki-laki berbaju rapi tampak mendekati si kuli. "Wahai saudaraku, hendak kemana engkau?"

"Aku akan ke kota fulan." Jawab kuli itu tanpa curiga.

"Kebetulan, aku pun akan ke kota yang sama. Bagaimana kalau aku naik ke bagalmu dan engkau mendapat imbalan beberapa dinar?"

"Ayolah, engkau pun akan lebih aman karena mendapat teman seperjalankan?" bujuk si laki-laki itu kala melihat si kuli terdiam.

Deal, keduanya pun berjalan beriringan, hingga mendekati wilayah hutan. Si Kuli sudah siap berbelok ke jalan yang lebih aman. Maklum hutan itu terkenal lebat dan sering dihuni perampok. Temannya pun tidak keberatan. Hingga mereka sampai di sebuah jalan yang bercabang. Si kuli tahu jalan yang satunya adalah jalan yang biasa dia lewati, sementara jalan yang kedua terkenal banyak bahaya. Tapi atas bujukan teman seperjalannya, dia pun akhirnya melewati jalan yang kedua.

Di sebuah tempat yang sepi, si laki-laki melompat dan menghunuskan pedang ke si kuli. "Kenapa engkau mudah tertipu. Tahukah kau apa jalan ini?"

Si kuli terkejut. " Ini adalah jalan dimana aku merampok orang-orang itu." Si laki-laki itu menunjukkan beberapa bangkai manusia di samping jalan.

"Apa maumu?" Tanya si kuli ketakutan. "Silakan engkau ambil semua barang bawaanku, asal jangan engkau bunuh aku."

Laki-laki itu menyeringai lalu terbahak. Dia sudah sering mendengar permohonan seperti ini. "Baiklah, lakukan apa pun yang engkau mau. Izinkan aku untuk sholat dulu dua rakaat." mendengar ucapan si kuli , laki-laki itu kembali terbahak. "Baiklah..., mereka yang telah mati pun dulu meminta hal yang sama. Dan ternyata shalat mereka tidak menyelamatkan dari pedangku." ejek si perampok itu. 

Di rakaat pertama setelah membaca Al Fatihah, si kuli tidak ingat akan membaca surat apa. Ditambah teriakan dari si perampok membuat pikirannya kian kalut. Lalu dia pun membaca ayat 62 dari QS. An Naml : "Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). "

Selang berapa detik, muncullah seorang penunggang kuda nan gagah bertopi besi. Penunggang kuda itu langsung menebas si perampok. Dan di tempat perampok itu mati terlihat nyala api. Melihat hal itu, kuli itu pun tersungkur sujud syukur kepada Allah Swt. Sebelum penunggang kuda bertopi besi itu pergi, kuli itu sempat bertanya, " Siapakah engkau dan bagaimana engkau datang?"

"Aku adalah hamba dari ayat yang engkau bacakan tadi. Sekarang engkau aman, dapat pergi ke mana saja." Setelah menjawab demikian, penunggang kuda itu pun menghilang.

Bagi seorang yang memahami arti shalat, maka shalat adalah harta paling berharga. Senjata paling ampuh bagi seorang mukmin. Seorang ulama sufi Ibnu Sirrin rahimahumullah pernah berkata, "Sendainya aku ditawari shalat dua rakaat dan syurga, maka aku akan memilih shalat dua rakaat. Karena syurga itu untuk kesenanganku sedang shalat dua rakaat untuk Allah." 

wallohua'lam bishowab

sumber :
http://khazanah.republika.co.id
Kisah-kisah Rukun Islam




 

  








Minggu, 26 November 2017

Jagalah Allah Niscaya...

http://cdn-tin.timestechnet.com/images/2016/01/20/jagalah-AllahhQ4ne.jpg
http://cdn-tin.timestechnet.com/images/2016/01/20/jagalah-AllahhQ4ne.jpg

Jagalah Allah maka..., ini adalah nukilan dari nasehat Baginda Nabi Saw., yang diberikan pada sang sepupu Abdullah bin Abbas ra.

Jagalah Allah ( ajaran-ajaran Nya ), niscaya Allah akan selalu menjagamu
Jagalah Allah ( larangan-laranganNya ), niscaya Allah akan ada di hadapanmu
Kenalilah Allah dalam sukamu, maka Allah akan mengenalimu dalam duka
Bila kamu meminta, maka mintalah pada Allah
Jika kamu butuh pertolongan , memohonlah kepadaNya

 
Sampai di akhir nasehat itu saya tertegun, shodaqta ya Rasulullah ( benarlah apa yang engkau ucapkan, Rasulullah ). Betapa indah kata demi kata yang terangkai. Semuanya berisi energi positif yang mestinya diterima dengan positif juga. gampangnya dengan hati yang penuh iman, dengan keyakinan.

Menjaga Allah atau menjaga ajaran-ajaranNya, itu adalah kebutuhan manusia. Iya kah? Bayangkan jika manusia hidup dengan aturan yang menurut keinginannya semata yang ada bakalan repot dan senewen. Karena memang nafsu manusia tidak akan pernah mencapai titik puas. Yang ada bakalan kurang dan kurang terus.

Sementara hidup yang didedikasikan untuk menjaga ajaran-ajaran Allah akan menghasilkan ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan. Contoh, orang yang menjaga hartanya dari hal-hal haram, pasti hidupnya akan lebih bahagia meski sederhana. Dibanding dengan orang yang hidup dari harta yang bercampur dengan riba, korupsi atau tipu menipu.


Maka jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu...
 

Menjaga diri dari setiap larangan-larangan Allah akan membuat diri merasa betul-betul diawasi olehNya. Sampai merasa Allah ada di hadapan kita. Itu adalah bentuk dari Ikhsan. Seorang ustadz pernah mengatakan, jaman sekarang ini ada iman dan islam, yang kurang itu ikhsannya. Banyak yang mengajak pada hal makruf tapi sedikit yang mengajak untuk menjauhi hal-hal yang mungkar. Bisa-bisa malah dianggap menyebar kebencian lagi hihihi.

Contoh lainnya, bagi orang yang menjaga dari larangan Allah maka akan menjaga juga setiap ucapan, tulisan , tindakan agar tidak melanggar garis pembatas. Tidak akan mengumbar aib orang lain, tidak akan berani berkata bohong, apalagi mengatakan hal di luar fakta yang bisa jatuh pada fitnah. Sementara orang yang tidak peduli pada ajaran Allah akan melakukan apapun, menuliskan apa saja, berkata-kata tanpa memikirkan apa itu bisa menghasilkan pahala atau dosa. Hasilnya, bisa dilihat di jaman sekarang dimana kebenaran sering kali ditimbun oleh kebatilan. Bahkan dengan ucapan yang manis dan terkesan benar.


Maka jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu..

 

Lalu yang paling nyess itu saat baca kalimat ke-3, mengenali Allah dalam suka seringkali terlupa. Akibatnya saat kita sedang duka Allah pun tak hadir saat duka. Seringnya kita mengenali Allah saat duka, dan lupa pada Allah saat suka. Di zaman Rasulullah, ada kisah nyata tentang hal ini. Adalah Tsa'labah yang mengingat Allah saat duka, saat miskin, saat dia hidup dalam kondisi kekurangan. Setelah memohon berkali-kali agar Nabi berkenan mendoakannya, hidupnya berubah. Dia menjadi orang yang kaya raya dengan hewan ternak yang berlimpah. Saat itu lah Tsa'labah mulai lupa mengenali Allah, lupa untuk bersyukur padaNya, lupa untuk shalat berjamaah di masjid, dan enggan untuk berzakat.


Maka jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu... 


Kalimat ke- 4 dan 5, membuat diri beristighfar berkali-kali. Ya, kadang kita kurang sabar saat menginginkan sesuatu. Kadang kita begitu taat pada aturan makhluk dengan nama ikhtiar tapi lupa yang menjadikan jadi atau tidak tetaplah Allah. Seringnya saat mendapat kesulitan, kesabaran yang selama ini sering diberi untuk nasehat menguap entah kemana. Lalu mengerahkan seluruh daya upaya untuk menghadirkan pertolongan dari makhluk. Lupa untuk meminta pertolongan pada Allah Swt.


Maka belum yakinkah akan hal ini? Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu 

8 Rabiul Awal 1439


Jangan Bersedih, Karena Punggungmu Kuat!

Sepertinya sudah cukup lama saya tidak mengunjungi teman satu ini. Kesibukan mendaftarkan empat anak setelah Lebaran kemarin, disusul aktifitas PLS si pengais bungsu di sekolah barunya praktis membuat saya jarang sekali sekedar bercengkrama dengan teman-teman di sekolah si bungsu. Sesekali saya menyapa wanita cantik ini saat dia sedang menjemur baju atau terlihat sapu-sapu di halaman rumahnya. Selebihnya, kami sibuk dengan aktifitas masing-masing.

Teman saya ini adalah sosok muda yang bagi saya banyak memberi inspirasi. Satu yang sering membuat saya tertegun adalah keyakinannya yang kuat terhadap Allah sebagai As shomad. Bahkan yang merisaukan dia bukan gaji atau penghasilan suaminya. Atau juga biaya hidup yang makin lama makin naik. atau uang kontrakan rumah yang harus disediakan setahun sekali untuk memperpanjang masa sewanya.

Wanita cantik ini lebih risau saat menyadari shalat suaminya masih bolong-bolong. Dia masih terus gelisah saat suaminya bekerja di tempat leasing kredit kendaraan bermotor. Sungguh, hatinya gelisah karena dia tahu pekerjaan suaminya bergandengan tangan dengan riba. Satu hal yang beberapa tahun ini karena pemahamannya sudah mulai dihindari, kalau belum bisa menjauhi sepenuhnya. Dia juga lebih 'galak' saat anaknya berbuat tidak sopan baik pada kawan maupun gurunya. Meski si anak masih sangat muda.

Beberapa hari yang lalu saya mengunjunginya lagi. Karena si bungsu memang deket banget dengan anak teman saya ini. Keduanya sering main bareng, janjian ngaji bareng, bahkan jum'at kemarin pengin jum'atan bareng walau akhirnya gagal karena suami saya jum'atan di kantor. Dan meluncurlah kisah yang bagi saya merupakan pengingat diri. Dada terasa mendapat pukulan yang spontan menyadarkan saya , how lucky  I am. Dan betapa kurangnya syukur selama ini karena masih mengedepankan keluhan dan kekhawatiran.

"Beberapa bulan ini saya mengalami baby blues yang cukup parah."

"Oh, kenapa?" Di sini saya sudah merasa tidak enak banget karena jarangnya berkunjung sekedar mengajak dia ngobrol atau jadi teman curhat.

"Sejak pertama kali dekap si dede, hati saya sudah 'deg', seperti merasakan something wrong." suaranya sudah mulai terbata-bata. Dia mengambil nafas panjang berharap dadanya sedikit lega, lalu melanjutkan kisahnya. "Ternyata memang benar, dede mengidap DS ( Down syndrom ) walau minor. Kata dokter perkembangannya akan lebih lambat dari yang normal. minimlanya dari kakaknya. Awalnya saya tidak mau mengatakan kecurigaan saya sama suami. Saya keep sendiri sambil berharap perasaan saya salah. Tapi hal itu malah membuat saya stress. saya malah menolak untuk menyusui dede bayi sampai sering marah-marah terutama pada kakaknya. Sampai akhirnya saat suami bertanya kenapa saya berubah, saya memutuskan untuk cerita tentang kekhawatiran dan perkataan dokter."

Sampai di situ juga saya yang mendengarnya sudah ingin nangis. Tapi sosok mungil di depan saya terlihat tegar sekali. "Jangan menyalahkan diri, Neng. Jangan cari kambing hitam untuk melampiaskan ketidak ridhaan kita. Yakini bahwa itu adalah qadarullah, ketetapan Allah." Saya hanya bisa mengucapkan kata-kata itu.

"Iya, itu juga yang dikatakan suami saya. Tidak ada yang salah dengan kita. Juga dengan anak kita. Itu adalah ciptaanNya yang sempurna yang diamanahkan ke kita. Yakin saja pasti akan ada hal baik , akan ada kemudahan, akan ada jalan untuk menghadapi ini semua."

Ah... rasanya menguap semua kata-kata motivasi dan penguat hati ingin saya ucapkan. Tapi yang keluar malah ayat terakhir surat Al Baqarah.  Ya, saya terlalu malu untuk mengatakan, sabar saja. Tapi saya masih ingin mengingatkan bahwa Allah tidak pernah salah pilih, salah kirim apalagi salah memberi keputusan. Ini adalah pilihan, kiriman dan keputusan Allah yang terbaik. Karena yakin bahwa yang akan menerimanya juga mampu.

Memang punggung itu diciptakan untuk menahan beban. Maka saat merasa beban hidup terasa begitu berat mintalah punggung yang kuat. Yang denganya kita masih bisa berjalan tegak meniti kehidupan ini. Mencari bongkahan-bongkahan bekal kebaikan yang akan dibawa saat pulang.

Benar tidak ada beban yang berat jika ada punggung yang kuat untuk menanggungnya. Maka mintalah keekuatan pada yang Sang Maha Daya, yang tanpaNya apalah diri ini. Laa haulaa walaa quwwata illa billah...



Selasa, 17 Oktober 2017

Jangan Takut Mencari Kebenaran

Beberapa waktu yang lalu ramai sangat alias viral video ustadz yang mengomentari sebuah cara ngaji atau belajar Islam yang dinilainya tidah nyunnah. Berbagai pro dan kontra pun mengiringi. Bahkan jadi kesannya ada perang di dunia maya. Kubu yang mendukung si ustadz dan kubu yang membela tipe ngaji yang dikenal dengan liqo ini. Dan sudah hapal kan, perang di kalangan fans dan hater ini ini terkadang  lebih panas dan ramai, hemmm.

Sedih, pasti. Kok sepertinya umat dibawa pada masa jaman ribut qunut atau enggak. Padahal yang enggak sholat subuh masih banyak dan mereka gak pernah diajak untuk sholat. Artinya, kok malah meributkan orang-orang yang sudah punya keinginan belajar Islam. Sementara orang yang masih jauh dari Islam apalagi sampai Islam phobia padahal di KTP mengaku Islam gak disentuh. 

Saya jadi ingat jaman kuliah dulu, dimana ada upaya yang dilakukan satu pihak agar mahasiswa itu fokus kuliah saja. Karena kalau ikut ngaji jadi malah radikal, males kuliah dan sering deg- degan karena nilai di urutan paling akhir. Tapi kalau kegiatan konser musik, acara campur baur antara laki dan perempuan didukung sekali. Bahkan dapat dana bantuan. Alhasil, mentoring sepi. Pengajian bulanan kampus hanya empat baris. itu pun kalau cuaca mendukung. Hujan dikit bubar deh...

Saya yang bodoh ini malah lebih mikir, dari pada tenaga habis untuk saling nyinyir saling cibir antar orang yang mau ngaji, mending tenaga buat mikir ngajak kaum muda jaman now yang susah banget di suruh ngaji. Masih banyak lho target dakwah di sekitar rumah kita. Yang butuh nasehat, bimbingan dan teladan langsung. Bukan dengan saling serang antar umat.

Dakwah itu mestinya merangkul bukan memukul, kalau pesan Ust. Evie Effendi yang lagi banyak diminati masyarakat. Artinya jangan mudah menunjukkan jalan permusuhan. Gak perlu juga menunjukkan perbedaan dan jurang pemisah. Lebih baik rangkul hingga tak ada lagi sekat. Beri ajakan sesuai bahasa dan kemampuan yang diajak. Seperti saat Rasulullah mendapati seorang Arab yang ingin masuk Islam tapi masih berlumur dosa. Lihat bagaimana Rasulullah merangkul orang itu. Tidak pernah ada upaya memukul, merendahkan apalagi menghina. 

Nah, bagi yang memang sudah terlanjur bingung dengan video viral tadi, coba deh baca kisah Salman Al Farisira., saat mencari kebenaran. Dia sampai berpindah dari agama satu ke agama yang lain. Bahkan saat akan ke Madinah, Salman ra., sampai kena tipu dan berakhir sebagai budak. meski statusnya berubah, Salman tidak pernah menyesal apalagi berhenti mencari. Buktinya beliau tetap mencari jalan agar bisa menemui Rasulullah di daerah Baqi. 

Menyesalkah Salman? Tentu saja tidak. Itu adalah perjalanan takdir yang sudah ditentukan oleh Allah Swt. Dan ingat semua kembali lagi ke faktor hidayah. Kesuksesan bukan datang karena kehebatan kita tapi lebih karena Allah yang memudahkan urusan kita. So..., jangan sepelekan niat untuk mencari kebenaran. Kita tidak tahu kemana kaki akan dilangkahkan. Selama kita meminta dan berdoa dengan lurus Allah juga akan menunjukkan jalan kebenaran.

Kisah Salman Al Farisi bisa dibaca di buku 60 Sirah Sahabat Nabi Muhammad Saw by Ummu Ayesha terbitan GPU 2017


Lalu bagaimana di jaman now? Apa hal itu masih bisa terjadi. Masih banget dong... saya yakin sekali. Jadi gak perlu takut untuk terus ngkaji Islam. Jangan pula merasa paling benar hingga merasa sudah jadi ahli sunnah apalagi ahli syurga. Dulu para sahabat yang semasa hidup sudah disebut ahli syurga pun tidak pernah banyak gaya dengan main nyalah-nyalahin ummat. Dan para ulama salaf pun tidak saling cibir meski mereka bisa jadi berbeda mazhab atau pendapat. Justru saling memuliakan dan bergerak bagaimana ummat lebih mengenal Islam yang benar.

Terakhir, yuk ahh saling rangkul antar sesama muslim. Stop saling pukul, saling ejek. Bukankah muslim yang baik adalah yang bisa menjaga muslim yang lain dari kejelekannya ( baik lisan maupun perbuatan ).*** tulisan seorang yang masih perlu belajar banyak.

 

Jumat, 15 September 2017

Review Overprotectif Kahoko, Bikin Ketawa Sekaligus Kesindir

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOawbXtaBfyWHI4rRz7aO8sAimbELr2D3VVh998vx8U6x6obU2L10KwStePk6H3yZnLTbtqeQBiV73skaG7lYrljiBifPybwu3MyMnme_5E3OZR5EWXQSPdHsKB9y61LN2fAxiOxTYSJ4/s640/knk+asds.jpg



Sepanjang 2017 -walaupun masih ada beberapa bulan lagi, rasanya tidak ada drama Korea yang greget. Beda dengan tahun 2016 yang bertaburan drama keren dari negeri gingseng sana. Akhirnya kembali mantengin channel tivi yang memutar dorama. Dan antusias saya langsung naik saat nemu drama Overprotectif Kahoko ( Kahogo no Kahoko ) yang lucu abis.Tapi dibalik lucu-lucunya itu tetap saja ada pesan yang cukup memukul kesadaran sebagai seorang ibu -khususnya. 

Dilihat dari judulnya drama ini memang menceritakan tentang seorang gadis yang sudah memasuki usia dewasa ( sudah kuliah dan memasuki masa mencari kerja ) ternyata tidak tahu apa-apa. Nemoto Kahoko sudah berusia 22 tahun, bisa dibilang enggak mandiri banget. Bangun harus dibangunin sama sang mama. Mau mandi semua sudah disiapkan dari mulai handuk sampai baju ganti. Selalu bangga dengan bekal makan siang yang ciamik kreasi mamanya. Bahkan pakai baju pun sesuai pilihan mamanya. Ngikik plus bingung juga lihatnya sambil mikir emang ada ya di dunia nyata. But..., meski kesannya dilebihkan ada juga kok di dunia nyata yang seperti itu, banyak malah hehehe.

Balik lagi ke Kahoko yaa...

Masalah mulai muncul saat Kahoko tidak bisa mendapatkan pekerjaan apa pun. Bahkan sampai perusahaan tempat ayahnya bekerja ( Nemoto Masataka ) pun enggan memperjakannya walau sebagai pegawai magang. Ibunya ( Nemoto Izumi ) tidak kehabisan akal. Dia malah memberi ide ( tepatnya memaksakan idenya ) pada Kahoko untuk menyiapkan diri memasuki dunia pernikahan. Asli ngakak pas lihat adegan ini. 

Di episode awal diceritakan juga kondisi keluarga besar Kahoko. Semua tampak baik, kebersamaan yang bisa membuat semua orang iri. Kasih sayang berlimpah sampai-sampai perayaan ultah Kahoko saja dilakukan dalam beberapa season hehehe. Di sini Kahoko sempat merasakan iri plus kagum dengan sepupunya Ito, yang ingin menjadi Cellois ( pemain Cello ).  Dari Ito juga Kahoko mendapati pandangan berbeda tentang keluarga besarnya.

Lucunya lagi dorama ini kadang menampilkan ilustrasi yang bikin tambah ketawa. Seperti Papa Kahoko yang menggambarkan dirinya sebagai singa jantan, kahoko sebagai anak katak, Izumi sebagai rubah, nenek sebagai gajah yang bijaksana dan lainnya. Ditambah lagu di akhir episode yang saat saya mendengarnya ada kesan hangat, kalo gak salah judulnya family hehehe ( kalo salah ya maaf yaa ).

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYq_mPA56nE4qsmqlHQvDIApFvMClJN0gSGF0M6ZPlMAap_aJ0LbPQSbTUfzswCi1ZhiQPhP6UlmJFnUqLZwhWxBo6Pmc8YoZ31swCA1ab6kMm3hVsT5uq62i_wRATTBb8XgExRVjxuIM/s1600/knk+ep3-001.jpg

Sampai dia bertemu dengan seorang pemuda bernama Mugino Hajime. Seorang pemuda jangkung yang bercita-cita jadi pelukis ternama. Sekaligus pekerja paruh waktu sebagai pengantar pizza. Pertemuan demi pertemuan tak terduga terjadi antara keduanya. Dari sinilah Kahoko banyak mendapat bantuan dari Hajime untuk melihat dunia sesungguhnya. Menjadi pribadi dewasa mandiri. Memiliki keinginan untuk bekerja dan bermanfaat.

Sampai episode 5 ini, saya masih cukup puas untuk duduk di depan tivi dan mengikuti ceritanya. Banyak pelajaran yang bisa diambil, seperti di episode ke 5 saat Izumi kabur dari rumah. Bahwa seorang ibu ingin tetap berada dekat dengan anak-anaknya. Ingin selalu dianggap berguna, dan tidak ingin melewatkan sedetik pun waktu kebersamaan dengan si anak. Tapi tahu kah yang dijawab oleh nenek Kahoko, " Tidak ada seorang ibu yang merasa cukup kebersamaan dengan anak. Setiap ibu pasti merasa kurang dan selalu kurang. Tapi anak-anak akan hidup dengan mimpi dan dunianya sendiri. Kita bertugas menyiapkan mereka agar mereka mampu berjuang di kehidupan mereka." ( kata-kata saya tulis ala saya ya hehehe -gak sama persis ).

Saya sendiri punya pengalaman begitu ketat atau protektif terhadap anak. Terutama si sulung. Dia selalu menuruti semua perkataan saya hingga dia tumbuh menjadi anak yang tidak kreatif, kaku, tidak bisa berinovasi dan terlalu patuh. Anak cenderung mengalah, tidak mau ribut, dan kurang mampu mengekspresikan apa yang dirasakannya. Hemm... disini saya merasa jauh dengan anak. dan itu justru terasa menyiksa.

Ada plus minusnya memang, tapi saya sedih saat menyadari bahwa ada bagian dalam diri anak yang tidak berkembang karena kekangan pola asuh yang saya terapkan. Lalu dengan mengikuti anjuran psikolog yang kebetulan my best frend almarhumah, sedikit demi sedikit saya pun berubah. Dan anak saya pun mulai berkembang. Bahkan bisa dikatakan melesat baik kemampuan kognitif, maupun emosinya.

Ya..., sebagai pendidik anak-anak, maka patutlah tahu tujuan yang akan diraih. Umar bin Khattab  r.a. pernah bersabda bahwa didik lah anak-anak sesuai dunianya. Memang betul sekali, anak bisa jadi datang lewat kita sebagai orang tuanya, tapi mereka akan hidup di jaman dan dunia mereka yang pastinya akan berbeda dengan duani kita. Tugas kita bukan melindungi semata, tapi membuat mereka siap dan mampu menghadapi tantangan jamannya. baik berupa tantangan iman maupun kehidupan.

Intinya, jangan jadi ibu egois yang hanya keinginannya saja yang mau dituruti. Bahkan sampai cita-cita anak pun ditentukan oleh si ibu. Yakin kan bahwa setiap anak istimewa. Setiap anak diberi dua pilihan, jalan kebaikan sesuai fitrah dan jalan kefasikan. Sebagai orang tua hanya bisa membimbing, mengarahkan, mendidik, mendoakan hingga mereka memilih jalan yang benar. Selebihnya bertawakallah kepada pemilik sejati, karena tetap saja ada faktor hidayah.Wallohu a'lam***

Keterangan :
Semua gambar diambil dari http://wateryscenery.blogspot.co.id/2017/08/kahogo-no-kahoko-dorama-summer-2017.html