Jumat, 20 Mei 2022

Mengingat Mudik Sejati Dari Fenomena Mudik Idul Fitri


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, semoga kesejahteraan dan keselamatan tercurah untuk kita semua.

Bada tahmid dan shalawat..
Bagaimana kabar teman-teman semua, mumpung masih Syawal, saya mengucapkan Taqabbalallahu minna wa minkim shiyaamana wa shiyaamakum, minal aidzin wal faidzin. 

Satu yang paling terlihat di Idul Fitri kali ini adalah gelombang mudik besar-besaran. Setelah hampir 2 tahun adanya pembatasan karena pandemi covid, maka tahun ini kaum muslimin mendapat kesempatan untuk mudik kembali. Alhasil semua memanfaatkan, bukan hanya dari umat Islam tapi juga dari kalangan non Islam yang bisa jadi memanfaatkan untuk liburan kumpul dengan keluarga besar dan reuni dengan teman-teman.

Alhamdulillah, setelah 2 kali Lebaran tidak pulang tahun ini diberi kesempatan dan rezeki untuk bisa silaturrahmi lagi dengan orang tua, keluarga dan handai tolan di kampung. Anak-anak jelas yang paling hepi sih, karena mereka sudah membayangkan dapat salam tempel setelah 2 tahun krisis THR 😂😂😂. Ditambah mereka sudah kangen berat sama Mbah uti nya, satu-satunya orang tua yang masih ada di tengah-tengah kami.

Namun, saya dan suami juga wanti-wanti ke anak-anak, agar tidak salah niat pas mudik. Bisa-bisa kecewa kalau terlalu tinggi ekspektasi. Berharap dapat THR berlimpah tahunya zonk, sakitnya tuh tak berdarah lho...🤭. Pak suami malah menyiapkan sedikit wejangan untik disampaikan saat kumpul keluarga besar nanti. Intinya mengingatkan agar Lebaran itu bukan bubaran ( dari aktifitas ibadah di Ramadhan ), serta mengingatkan tentang mudik yang sejati.

Ya, kita semua akan 'mudik'  pada waktunya, ke kampung halaman asal kita. akhirat tepatnya syurga karena pertama kali Adam dan Hawa diciptakan lalu ditempatkan di Syurga.

Namun sedikit yang menyadari hal ini, bahkan banyak yang lupa. Sampai terlena dan terlalu betah hidup di dunia. Ya, kali ada manusia yang hidup abadi. Umur manusia jaman now itu ( Umat Rasulullah ) batasnya 63-70 tahunan. Itupun banyal yang enggak sampai. Banyak yang meninggal padahal masih muda, produktif lagi. Tapi kalau quota usia dah usai, kita bisa apa?

Fenomena Mudik
Mudik atau pulang kampung dari dulu punya makna yang sama. Yaitu kegiatan dimana manusia bergerak kembali ke tempat asal. Karena kebanyakan manusia urban asalnya dari kampung atau udik jadilah istilah pulang kampung atau mudik.

Setiap orang yang mudik pasti mereka melakukan persiapan. Bukan hanya tiket perjalanan, kendaraan, kesehatan, bekal selama di perjalanan juga jangan lupa oleh-oleh. Ada juga yang mempersiapkan penampilan, minimalnya bisa dipamerin ke keluarga di kampung kalau kesuksesan sudah diraih dengan tampilan trendy, glowing, bling-bling dan sejahtera ( bahasa halusnya kaya ).

Aktifitas yang dilakukan seputar mudik juga gak jauh-jauh dari holiday. Silaturahmi mah sebentar, liburannya yang gak kelar-kelar  Maka antrian macet pun pindah dari kota ke kampung, dari mall ke tempat wisata bahkan kuburan. Mirisnya tak terlihat sisa-sisa beramal di Ramadhan. Buktinya berburu kuliner jadi agenda wajib saat mudik, padahal baru beberapa hari berea menahan lapar dan haus, tapi gak ada efeknya sama sekali.

Mudik yang seperi ini biasanya hanya menghasilkan kerugian. Kesenangan bisa jadi dapay tapi beres itu apa yang didapat, hanya hati yang kosong dan malas beribadah. Naudzubillah kalau sampai jatuh sakit dan menghambat aktifitas.

Nah, agar tidak sampai kejadian seperti itu maka niatkan mudik memang untuk silaturahmi, untuk birrulwalidain, untuk mendapatkan ridha Ilahi. Hindari aifat6 berlebih-lebihan dalam hal apapun, karena itu adalah jebakan syaitan. ingat dan jaga terus apa yang kemarin diupayakan di Ramadhan, jangan dibubarkan apalagi dihilangkan kebiasaan baik itu. Karena yang ada nanti kebiasaan buruk yang merajalela.

Jika dapat uang THR, gunakan untuk hal yang bermanfaat. Jajan boleh tapi ingay jangan berlebihan. Syaitan itu tempatnya di perut yang penuh artinya yang selalu diisi dan dituruti keinginannya. Meski anak-anak dalam masa pertumbuhan pun saya tetap kasih 'rem' kalau urusan perut. Karena bukan hanya badan yang harus dibangun, tapi ada jiwa dan ruhani yang harus dibangun juga. Jadi kudu seimbang.

Mudik Yang Sejati
Dalam QS. Al Fajar : 27-30 jelas-jelas Allah menjelaskan tentang kampung halaman yang sejati yaitu syurga. Allah memanggil orang-orang yang sadar kampung halaman syuga itu dengan panggilan orang-orang yang berjiwa tenang ( nafsul mutmainnah ). Tenang disini bukan diam tapi lebih ke menunjukkan level keimanan dan kejiwaan seseorang. Bahwa orang yang memiliki jiwa yang tenang pasti imannya juga manteng ke Allah dengan kuat serta melakukan apapun berdasarkan tuntunan dari Al Qur'an dan Hadist Nabi.

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ࣖࣖ

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." QS. Al-Fajr [89]: 27-30

Dalam kitab Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani al-Tanzil, Al-Baghdadi ‎menjelaskan bahwa makna al-nafs al-muthmainnah adalah jiwa yang tetap ‎pada keimanan dan keyakinan, membenarkan firman Allah, meyakini bahwa ‎Allah adalah Tuhannya, tunduk serta taat kepada perintah Allah, ridla dengan ‎ketetapan (qadla) serta takdir (qadar) Allah, yang selamat dari adzab Allah, ‎yang selalu tenang dan damai dengan terus berdzikir kepada Allah.‎

Jiwa yang demikian inilah yang kelak ketika kembali kepada Allah akan ‎disambut dengan sapaan mesra: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada ‎Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam ‎jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku.”

Ibrahnya, jika untuk mudik pas Lebaran saja kita penuh dengan persiapan ini itu, apa kabar dengan mudik yang sejati. Pastinya harus lebih bersiap, dengan persiapan amal terbaik. Jangan sampai merugi, karena kalau mudik sejati tidak akan bisa balik lagi ke dunia. Tiketnya cuma sekali jalan, nah lho... 

Terus kalau tanpa persiapan kita mau mudik kemana? Karena hanya ada dua tempat di akhirat sana, kalau gak kembali ke syurga dengan disambut salam oleh para malaikat penjaganya. Ya, bakalan masuk neraka dengan seluruh hardikan, bentakan dan ancaman dari malaikat penjaganya juga, naudzubillah...

So, mumpung masih diberi waktu hidup yuk kita bersiap. Kalau kata Ust. Evi E, sih kalau utusan mudik sejati mah bukan pakai nomer antri, tapi nomer dudut. Random, yang muda bisa duluan dari yang tua. Yang sehat bisa lebih dulu ketemu ajal dari pada yang sakit-sakitan. Makanya bersiap-bersiap dengan amal terbaik, dengan amal istimewa yang dipersiapkan di dunia ini.

Wallahu'alam bishowab.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sabtu, 26 Maret 2022

Bahagia Sambut Ramadhan


Kurang dari 10 hari lagi insyaallah ummat Islam seluruh dunia akan bertemu dengan Bulan Ramadhan. Bulan suci yang diibaratkan tamu agung, bulan yang mensucikan, bulan yang penuh keutamaan dan keberkahan. Rasulullah pernah bersabda, “Sekiranya manusia mengetahui kebaikan-kebaikan yang terdapat di bulan Ramadhan, tentulah mereka mengharapkan agar seluruh bulan adalah bulan Ramadhan” HR. Ibnu Huzaimah.

Ramadhan memang istimewa, datangnya membawa aura yang berbeda dari bulan lainnya. Manusia yang ingin berbuat baik didorong untuk berbuat baik dengan pahala yang berlipat. Bulan dimana Allah menurunkan Al Qur'an yang menjadi petunjuk bagi manusia, serta pembeda antara yang hak dan batil. Di Ramadhan juga Allah janjikan ampunan bagi hamba-hambaNya, hingga keluar dari Ramadhan kembali suci. Menetapi fitrahnya suci, dan hanya menyembah Allah Swt.

Ramadhan kian istimewa karena di 10 hari terakhirnya Allah Swt, sembunyikan satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Yaitu malam qadar atau lailatul qadar sebagai tanda kasih sayang Allah Swt. Maka alangkah ruginya orang yang tidak berharap ingin bertemu Ramadhan, sungguh rugi.

"Sungguh telah datang bulan Ramadhan yang penuh keberkahan. Allah mewajibkan kalian berpuasa di dalamnya. Di dalamnya pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan (Lailatul Qadar). Siapa saja yang terhalangi (untuk mendapatkan) kebaikan malam itu maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang agung)"
HR Ahmad dan an-Nasa`i.

Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah memberikan kesan setelah membaca hadist di atas, yang disampaikan dalam Al Lathaif wal Ma'arif hal 174 , “Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira saat pintu-pintu surga dibuka?” Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa (dan ingin bertobat serta kembali kepada Allah SWT) tidak gembira saat pintu-pintu neraka ditutup?” Bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira saat setan-setan dibelenggu?” 


Keberkahan Bulan Ramadhan
Agar semakin bergairah menyambut Ramadhan yang kian dekat ini, mari kita lihat keberkahan bulan Ramadhan.

1. Kesempatan Untuk Mendapat Ampunan dari Allah
Bulan Ramadhan adalah bulan dengan amaliyah khusus yaitu puasa. Dalam Al Qur'an di QS . Al Baqarah: 183, Allah menurunkan kewajiban ini denban jelas.

"Hai Orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan pada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa."

Banyak keutamaan dari puasa di bulan Ramadhan ini, salah satunya menjadi penyebab diampuni dosa-dosa kita. Seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah dalam sebuah hadist, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala (dari Allah Subhanahu wa Ta’ala), niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” HR. Bukhari Muslim

Dalam riwayat lain juga disebutkan, "Shalat fardhu lima waktu, shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antara masa tersebut seandainya dosa-dosa besar dijauhkannya.” HR. Muslim.

Ummahatul Mukminin Aisyah ra., pernah bertanya doa apa yang dianjurkan di bulan Ramadhan. Qadarullah beliau bertanya pda Rasulullah Saw., saat menjelang malam Qadar. Maka Rasulullah Saw.,  mengajarkan doa "Allahumma innaka  afuwwun Kariim, tuhibbul ' afwa' wa'fuanni."

Dalam hadist lain dijelaskan tentang orang yang merugi seperti yang diriwayatkan oleh Imam Thirmidzi ra, "Merugilah orang yang berada dalam Ramadhan tapi dia tidak mendapat ampunan Allah."


2. Berkah dimudahkan Beramal shalih dan dijauhkan dari dosa
Dalam beberapa hadist dijelaskan bahwa saat Ramadhan syaitan-syaitan dibelenggu, pintu-pintu syurga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup. Ada dua pendapat di kalangan ulama. Yang pertama berpendapat memang secara harfiah syaitan dibelenggu, diikat sehingga tidak bisa menggoda manusia untuk bermaksiat. Demikian juga dengan pintu surga yang 8 itu dibuka, dan 7 pintu neraka ditutup.

Pendapat kedua menjelaskan bahwa hadist itu mengandung arti bahwa pintu syurga itu amal shalih, sehingga manusia dimudahkan untuk berbuat kebaikan apapun di bulan Ramadhan. Pintu neraka yang identik dengan dosa dan maksiat karena godaan syaitan pun ditutup. Jadi ada kesadaran dan keinginan lebih menahan diri dari berbuatan tercela. Misal yang biasa ghibah minimal saat puasa stop ghibah, yang suka marah-marah saat puasa berusaha menahan emosi dan lain sebagainya.

3. Berkah dari Pahala yang Berlipat Ganda
“Seluruh amalan anak Adam untuk mereka sendiri, kecuali puasa. Sungguh, ibadah puasa itu untuk-Ku. Akulah yang langsung akan memberikan imbalannya. Puasa adalah perisai.” Shahïh al-Bukhâri: 1904.

Jika di bulan lainnya, pahala kebaikan dibalas 10 kali lipat, maka di bulan Ramadhan Allah mengistimewakan dengan memberi pahala shiam seseorang yang diridhaiNya tanpa perhitungan. Amal sunnah di hari biasa dinilai seperti amalan wajib di Ramadhan. Bahkan di Lailatul Qadar bisa jadi kesempatan panen besar pahala karena bernilai lebih baik dari 1000 bulan, masyaaAllah...

Amal ibadah di Ramadhan itu satu paket. Siangnya Shiam, malamnya Qiyam. Maka tidak ada waktu kosong untuk memanen pahala. Bahkan shadaqah terbaik pun disebut adalah shadaqah terbaik. Lalu masihkan kita enggan atau malas beramal shalih di Ramadhan nanti?

4. Berkah Dikabulkan Doa
Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadits lain riwayat Abu Huraira RA, “Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak, yaitu; orang yang berpuasa sewaktu ia berbuka, imam atau pemimpin yang adil, dan doa dari orang yang teraniaya. Doanya itu dinaikkan Allah menembus awan dan dibukakan baginya pintu-pintu langit, serta firman Allah kepadannya, ‘Demi kemuliaan-Ku, Aku akan menolongmu, walau di belakang nanti’.” 
HR Turmudzi.

Doa adalah senjata kaum mukminin, dan mengingay banyak hajat pada manusia, maka perbanyaklah meminta kepada Allah. Terutama dua hal yang paling diinginkan oleh orang beriman, diampuni dosa dan dimasukkan dalam syuga. Diriwayat lain , diampuni dosa dan dihindarkan dari siksa neraka.

Seperti kita tahu ada tempat-tempat mustajab untuk berdoa, seperti di Baitullah, Raudah di Masjid Nabawi, Mihrab ( tempat imam ), Arafah dan tempat lainnya. Ada juga waktu makbul berdoa yaitu 1/3 malam di bulan selain Ramadhan. Maka di Ramadhan siang dan malam tetap bisa memohon dan insyaallah terkabul. Selama puasa yang dilakukan memang ikhlas dan sesuai ketentuan.

Maka, jangan sekedar sibuk mengitung berapa hari lagi puasa kalau tidak mempersiapkan apa yang akan dilakukan untuk menghidupkan Ramadhan. Jangan sampai merugi, jangan sampai Ramadhan dapat haus dan dahaga semata, jangan sampai tidak naik level ketaqwaan, dan jangan sampai dosa tidak berkurang malah bertambah, naudzubillah...

wallohu a'lam bishowab








Sabtu, 26 Februari 2022

Ada Apa Dengan Adzan?


Beberapa hari ini masyarakat sedang dihebohkan dengan polemik adzan. Lagi-lagi adzan dianggap menganggu, apalagi kalau pake toa atau pengeras suara. Sampai tega-teganya menganalogikan adzan dengan gonggongan anjing. 

Kalau yang mengatakan itu adalah orang biasa, dan bukan berstatus muslim ( walau hanya di KTP ) mungkin bisa dianggap lahir dari rasa terganggu. Karena bisa jadi penempatan toa yang ke arah huniannya hingga saat adzan terdengar dalam volume maksimum. Ya, walapun di kenyataan jarang sih orang non muslim yang rumahnya nempel atau deketan dengan masjid atau mushola juga, yee kan...?

Tapi ini yang bilang petinggi kementrian agama. Kan jadi bahan pertanyaan, ada apa dengan adzan sebenarnya, ada apa dengan yang bersangkutan?

Padahal adzan ya dari zaman dulu seoerti itu, disebar pakai pengeras suara juga sudah hal yang lazim. Sejak tahun 1973 memang sudah dijadikan budaya kalau masjid itu dilengkapi toa atau pengeras suara untuk keperluan adzan. Pro dan kontra tetap ada,  tapi biasanya dari non muslim tapi itu pun tidak pernah menghasilkan polemik. Karena bisa dibicarakan teknisnya.

Sementara tentang yang mengeluarkan polemik, mungkin kita harus mengingat kembali apa yang dikatakan Ibnu Qayyim rahimahullah.


Seperti diketahui bahwa dalam manusia ada satu bagian tubuh yang sangat penting. Yang jika bagian itu bagus maka baguslah seluruhnya. Sebaliknya jika bagian itu busuk maka buruklah semunya. Dan bagian penting itu adalah hati.

Perkataan ulama yang lain, lisan itu ibarat gayung dan hati itu ibarat bejana. Apa yang diambil dari bejana dengan gayung tersebut pasti sama. Kalau lah bejana ini  berisi keimanan maka isi dari gayungnya keimanan. Pun sebaliknya jika isinya kemunafikan, isi gayungnya pun sama.
Memang lisan itu anggota tubuh yang paling ringan digerakkan, bisa jadi amal shalih bisa juga sebaliknya jadi amal shalah. Maka jagalah lisan kita karena hisabnya berat. Jangan sampai menjadi orang yang merugi karena merasa sudah beramal banyak sampai haji segala, tapi semua hancur karena amalan lisan yang menebar fitnah perpecahan dalam ummat.

Karena fitnah itu sangat berat bahkan lebih dari pembunuhan. Yaitu fitnah yang berbentuk segala upaya memadamkan cahaya agama Allah Swt.

Semoga kita terhindar dari hal yang demikian, aamiin Allahumma aamiin...

Senin, 21 Februari 2022

Mengundang Pertolongan Allah dengan Sabar dan Shalat


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Apa kabar nih temen-temen. Walau dalam kondisi masih pandemi bahkan sekarang serang marak-maraknya varian Omicorn, semoga tidak menyurutkan langkah kita untuk menambah ilmu. Tentu saja dalam rangka menambah keimanan kepada Allah Swt. Karena itu ilmu yang kita minta dalam doa, Allahumma inni as'aluka ilman nafiian. Ilmu yang bermanfaat, yang dengannya kian merapat, mendekat pada ilahi Rabbi..

Tetap nenyesuaikan dengan kondisi pandei tentunya ya teman-teman. Semua sudah divaksin dan dalam kondisi sehat. Yang sakit stay at home, nyimak dari rumah atau ya seperti ini baca-baca review pandangan mata yang saya tulis hehehe. Semua tetap pakai masker dan jaga jarak meski dan cipika cipiki juga didelay dulu. Biasa kalau lama enggak ketemu kan seneng cipika cipiki pake sun tangan hehehe 

Kali ini saya ingin mereview sebuah kajian tentang sabar dan salat. Temanya seolah sudah biasa tapi kalau mau dibahas tuntas bisa berjam-jam lho. Bahkan sehari semalam rasanya gak cukup. Bayangkan saja membahas 40 ayat tentang sabar dan kurang lebih 185 ayat tentang sholat, wah... butuh waktu berapa jam tuh. Kalau sekedar tadarus sih sejam juga beres, tapi tilawah yang artinya membaca dan memahami maknanya bisa berkali lipat dari tadarus.

Tapi tak mengapa...
Karena keterbatasan waktu maka akan dibahas beberapa ayat dan hadist pendukung saja. Yuk dimulai...
Bismillahirrahmanirrahim...

Taklim dibuka dengan mengingatkan mulia kedudukan sebuah majelis yang didalamnya dibacakan ayat-ayat Allah. Yang dalam hadistnya disebut yang berada di dalamnya akan mendapat sakiinah ( ketenangan ), rahmat ( kasih sayang Allah ), diijabah doa-doa, dinaungi sayap-sayap malaikat dan disebut-sebut namanya oleh Allah Swt., dihadapan penghuni lainnya. 

Pantaslah dalam hadist yang lain majelis taklim itu disebut sebagai taman-taman syurga. Yang bukan sekedar tempat buang stres, tempat refreshing, tapi juga pembasuh jiwa bahkan menghidupkan jiwa-jiwa yang lelah dan sekarat oleh kepenatan dunia. Jadi gampangnya, mau refreshing yang berpahala ke majelis taklim saja, begitu hehehe.

Sesuai dengan tema, yaitu mengundang pertolongan Allah dengan Sabar dan Salat, maka kajian dibuka dengan QS. Al Baqarah : 153-156.  Ada juga di ayat lain di Al Baqarah : 45. Kedua ayat ini memiliki redaksi yang hampir sama. Sama-sama menggunakan kata 'ista'inuu' yang merupakan fiil 'amr atau kata perintah. Maka, memohon pertolongan Allah dengan sabar dan salat adalah sebuah kewajiban bagi orang yang beriman. Ingat kaidah ibadah, segala sesuatu yang dikerjakan haram tapi akan jadi halal jika ada perintah.

Maka, satukan dulu persepsi kita bahwa memint pertolongan Allah dengan sabar dan shalat adalah kewajiban yang harus dilakukan. Maka sabar itu ibadah, demikian juga dengan shalat. 

Sabar
"(Sambil mengucapkan), "Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu." Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu." QS  Ar Ra'd : 24

Surat Ar-Ra'd termasuk surat Makkiyah karena turun di Mekkah. Merupakan ayat hiburan dan penguat bagi Rasulullah Saw., dan para sahabat yang tengah diuji dengan kesulitan, hambatan, serta berbagai embargo oleh kaum musyrikin. Lebih-lebih karena yang melakukan penyiksaan itu masih termasuk kerabat, saudara sendiri. Pastinya lebih sakit. Dan Allah meminta Rasul dan para sahabat untuk bersabar.

Menurut Ibnu Qayyib Al Jauzy rahimahullah, beliau  mengatakan dalam Madarijus Salikin : “Sabar adalah menahan jiwa dari keluh kesah dan marah, menahan lisan dari mengeluh serta menahan anggota badan dari berbuat tasywisy (tidak lurus). Sabar ada tiga macam, yaitu sabar dalam berbuat ketaatan kepada Allah, sabar dari maksiat, dan sabar dari cobaan Allah.”

Satu yang harus disepakati bahwa sabar itu tidak ada batasnya. Karena selama kita masih hidup pasti akan ada ujian, ada diperintah untuk taat dan dilarang berbuat maksiat. 

Maka lihatlah kesabaran Nabi Ayyub as.,  saat diuji sakit dan hilangnya harta benda hampir selama 18 tahun. Nabi Ayyub tidak pernah mengeluh, tidak pernah berburuk sangka pada Allah, bahkan selalu bersyukur dan berharap Allah ridha. Selalu bergerak untuk berdoa meminta kesembuhan pada Allah Swt.

Dalam hal ketaatan, Allah turunkan Nabi Nuh as., yang berdakwah hampir selama 950 tahun. Hasilnya kurang lebih 30 orang pengikut yang selamat baik bahtera. Tapi tak pernah sedetik pun Nabi Nuh berhenti bergerak dalam ketaatan untuk mengajak kaumnya beriman.

Agar sabar itu mengundang pertolongan Allah maka wujudkan dalam doa. Doa adalah senjata kaum muslimin. Satu ibadah yang sangat disukai oleh Allah Swt. Karena Allah sangat malu jika hambaNya meminta dan tidak memenuhinya. 

Maka riyadohkan dan mintalah sabar pada Allah Swt, sebagaimana dituntunkan dalam QS. Al 'Araf : 126 dan Al Baqarah: 25.

Shalat
Shalat merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan. Marupakan rukun Islam, hingga menjadi tanda keislaman seseorang. Wajar jika shalat adalah amalan yang pertama akan dibisab kelak di akhirat. 

Shalat memiliki makna doa-doa atau bacaan-bacaan disertai gerakan. Shalat juga merupakan jalan komunikasi atau penghubung antara makhluk dan khaliq. 
Shalat bisa diartikan sebagai ibadah yang mengandung ucapan-ucapan atau bacaan-bacaan disertai perbuatan yang mempunyai maksud khusus.

Shalat memiliki beberapa aspek tujuan. Secara ruhani orang yang melaksanakan shalat pasti akan mendapatkan ketenangan jiwa hingga cenderung dekat dengan Allah. Secara jasmani gerakan-gerakan shalat setelah diteliti ternyata sangat menyehatkan. Dan secara sosial, sholat bisa mencegah perbuatan keji dan munkar.

Lalu bagaimana jika ada orang yang shalat tapi tetao berbuat dosa atau maksiat, bisa disimpulkan sholatnya belum benar. Sehingga tujuan-tujuan tadi belum tercapai.

Saat kita diuji, saat mendapat kesulitan, orang-orang beriman akan bersabar dan membuktikan dengan memperbaiki kualitas sholat. Dia meminta dan berharap dengan membacakan doa-doa lewat bacaan shalat agar diberi pertolongan. Demikian juga saat dihadapkan pada perintah maupun larangan Allah. Karena tanpa pertolonganNya, pasti tak ada yang bisa dilakukan. Laa haulaa walaa quwwata illa billah ..

Shadaqallahul adzim
Wallahu a'lam bishawab.

Direview dari ceramah oleh Ust. Zahid Shibghotulloh.

Jumat, 28 Januari 2022

Majelis Jejak Nabi Hadir Lagi


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Ba'da tahmid dan shalawat,
Alhamdulillah, kesempatan untuk mengkaji jejak nabi terbuka lagi. Masih dengan narasumber Ust. Salim A Fillah, kita siap dibawa untuk menelusuri jejak-jejak Nabi Muhammad Saw. 

Berawal dari postingan di IG, tentang Majelis Jejak Nabi. Hati semangat sekali untuk mengikuti. Kemudian ijinlah pada pak suami dan Alhamdulillah dapat lampu hijau. Bahkan beliau mendukung dengan berinfaq, jazakallah khair Mas Bro.

Episode 1 Keutamaan Mempelajari Sirah
Mempelajari jejak Nabi, harus tahu dulu apa yang ingin didapat. Karenanya harus tahu keutamaan mempelajari sirah Nabi Muhammad Saw. Sebenarnya ada 8 keutamaan, tapi episode kemarin ( Kamis, 27 Januari 2022 ) baru membahas 3 keutamaan. Apa saja itu, lanjut yaa...

1. Lisan Kita Terbiasa Bershalawat 
Mempelajari sirah Nabi, maka kita akan sering bertemu nama Rasulullah Muhammad Saw, dan itu akan membuat kita makin sering bershalawat kepada beliau. Apa sih fadilah bershalawat? Dalam sebuah hadist diterangkan bahwa shalawat itu akan mengampuni dosa dab memenuhi hajat-hajatnya. 

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda, bahwa sekali bershalawat kepada beliau , Allah akan bershalawat kepada kita 10 kali lipat. 

2. Mengetahui Uswatun Hasanah
Setiap manusia siapapun itu pasti butuh teladan, role model, contoh. Bahkan sebelum banyak manusia, Allah mengirimkan hewan untuk memberi contoh pada manusia. Seperti dalam kisah Habil dan Qabil.

QS. 33 : 21 ayat ini turun dalam perang Ahzab / perang Khandaq ( Tahun ke 5 Hijriyah ). Dalam perang ini Kaum Musyrikin Quraisy berhasil membuat aliansi dengan sekutu mereka termasuk Kaum Yahudi di Madinah hingg terkumpul kurang lebaih 12.000 pasukan. Itu adalah jumlah yang sangat. 

Mengingat Arab itu penduduknya sedikit - kata Arab artinya kosong- jumlah 300 saja dulu nenunjukkan sangat banyak. Sehingga saat menghadapi pasukan 12.000, Rasulullah Saw., meminta pendapat para sahabat startegi yang tepat. Karena untuk berperang menghadapi perang terbuka, kota Madinah bisa luluh lantak.

Salman Al Farisi mengusulkan untuk membuat parit ( Khandaq dalam bahasa Parsi, Uhdud dalam bahasa Arab ) dengan lebar 3-5 meter dan dalam 2 meter. Dan saat membuat khandaq Allah menurunkan kabar kemenangan ummat Islam, dengan tamsil bahkan Romawi saja akan dikuasai ummat Muhammad Saw.

Meskipun ayat ini turun di Madinah, aslinya Rasulullah Saw., sudah menjadi teladan sejak di Mekkah. Bahkan sebelum jadi Nabi pun, Rasulullah Muhamamd Saw., sudah dijadikan teladan, panutan masyarakatnya.Tapi lewat ayat ini Allah ingin menunjukkan bahwa puncak keteladanan atau Uswatun hasanah beliau adalah saat menjadi pemimpin. Dan itu terlihat di Perang Khandaq dengan seluruh kisah-kisah yang mengiringi perang tersebut. Dimulai dari makanan yang sedikit tapi mencukupi seluruh pasukan, kemampuan beliau menahan lapar lebih dari ummatnya dan lain sebagainya.

Imam Ahmad pernah berkata , "Seorang laki-laki itu sama saja sampai guncang terjadi, barulah akan terlihat mana yang permata mana uang batu kali."

Uswatun hasanah dalam diri Rasulullah Saw., bisa diambil siapa saja sesuai profesinya. Selama dia meneladani 4 sifat nabi, insyaallah sukses. Asal shiddiq ( jujur, bisa dipercaya ), amanah ( capable, sanggup memenuhi apa yang ditanggungnya ), tabligh ( komunikatif, gampang dihubungi), Fatonah ( cerdas inovatif ).

Tapi yang akan mendapat manfaat dunia akhirat sesuai dengan ayat 33: 21 adalah :
a. Berharap berjumpa dengan Allah ( beriman).
b. Berharap bertemu hari akhir ( banyak beramal shalih )
c. Berdzikir ( cinta pada Allah )

Ada 2 cara meneladani Rasulullah Saw.
a. Ta'abudi  mengikuti apapun yang dilakukan oleh Rasulullah. Contoh Ibnu Umar ra., pernah melihat Rasulullah Saw., melewati sebuah pohon dan memiringkan kepalanya. Maka setiap melewati pohon itu Ibnu Umar ra pun ikut memiringkan kepalanya.

b. Ta'akuli yaitu mengikuti Rasulullah meski tak sama bentuk ( misal pakaian tidak sama ) diniatkan untuk ibadah. Misal memakai pakaian untuk menutup aurat dan ibadah, meski tidak sana dengan yang dipakai oleh Rasul.

3. Cinta kepada Allah Swt.
Dari mengenal sirah Rasulullah Saw., kita akan mendapatkan cinta Allah dan pada hal yang mendekatkan kepada cinta Allah.
3: 31 yaitu dengan i'tiba. I'tiba itu mudah karena ada kaidah-kaidah yang jelas. seperti dalam :
a. Beragama maka ingatlah Allah tidak menginginkan kesulitan tapi kemudahan bagimu. Jadi dalam menjalankan agama jangan dipersulit, permudah saja.

b. Beribadah maka hukumnya adalah segala sesuatu awalnya haram , dan jadi halal setelah ada perintah. Maka ibadah itu cukup yang ada perintahnya saja, sedikit, gak perlu membuat acara inadah baru, gak perlu ditambah-tambahi.

c. Muamalah kaidahnya semuanya itu halal kecuali yang ada dalil haramnya. yang haram lebih sedikit dari yang halal.

Wallahu a'lam bishowab
Semoga bermanfaat 
 

Rabu, 08 Desember 2021

Ibrah Dakwah Nabi Ilyas as., pada Kaum Funicia

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....

Alhamdulillah wa syukurillah,  akhirnya kelas kisah nabi sampai juga ke Nabi Ilyas alaihissalam. Setelah dibawa ke dunia fantasi tapi nyata di kisah Nabi Sulaiman as., sekarang kita kembali kepada nabi dari Bani Israil yang silsilahnya akan bertemu pada Nabi Harun as.

Nabi Ilyas secara nasab ada beberapa pendapat tapi semuanya bertemu pada Nabi Harun bin Imran. Pendapat pertama Ilyas bin Yasin bin Fanhash bin Aizar bin Harun. Pendapat kedua adalah Ilyas bin Azir bin Aizar bin Harun bin Imran. 

Berdasar QS. As Shaffat : 123-132, Nabi Ilyas as., diutus pada kaum Funicia (  Ba'labak ) yang berada di sebelah barat Damaskus. Kaum ini menyembah patung Ba'al. Nah, ada beberapa pendapat juga nih tentang Ba'al ini. Ada yang menyebutnya sebagai sebagai patung wanita, tapi pendapat lain Ba'al itu awalnya adalah orang shalih yang doanya selalu dikabulkan oleh Allah Swt. karena menjaga apa-apa yang dimakan, dan dikenakannya halal, baik secara fisik maupun cara mendapatkannya. 

Sepintas mirip-mirip kisah Bal'am ya... wallahu a'lam bishowab. Lanjut saja ya men temen. Kita ambil dari pendapat kedua ini ya, yang menyatakan Ba'al dulunya adalah orang yang sangat shalih. Nah, setelah Ba'al ini meninggal, orang yang mengaguminya merasa kehilangan lalu mulai membuat benda-benda yang awalnya sebagai obat rindu. Lama-lama oleh generasi selanjutnya malah disembah, dipuja, dipinta layaknya  tuhan.

Nah, ibrah dari kisah Ba'al ini, sekagum apapun, sesuka apapun, secinta apapun kita pada idola jangan sampai membuat lukisan atau patung untuk mengenangnya. Kalau mau cukup kenang dengan doa dan ikuti perilaku shalihnya oke...


Dakwah lama tak mendapat pengikut
Nah, ternyata bukan hanya Nabi Nuh as., yang lama berdakwah dengan hasil sedikit. Begitupula dengan Nabi Ilyas. Terlebih di masa Baklabah 1. Di masa penguasa ini, gerak dakwah Nabi Ilyas betul-betul sulit. Ancaman demi ancaman diberikan hingga orang-orang yang simpatik terhadap dakwah Nabi ilyas pun tidak berani muncul. Bahkan keselamatan Nabi Ilyas dipertaruhkan.

Raja Baklabah 1 tak segan-segan menyuruh pasukannya untuk mengepung rumah Ilyas as. Setelah dikepung rencananya akan dibakar hingga bangunan dan penghuninya hancur. Rencana ini diketahui oleh Allah Swt., dan Jilbab menyelamatkan Ilyas as. dengan cara mengeluarkan beliau ketika hari masih sore.

Dalam perjalanan bertemu dengan sepasang suami istri yang memiliki seorang anak ( berusia sekitar 7-9 tahun ) yang sedang sakit. Nabi Ilyas menawarkan mendoakan kesembuhan si anak. Atas ijin Allah Swt.,  anak itu sembuh dan diminta oleh Nabi Ilyas untuk diangkat jadi muridnya dan berganti nama menjadi Ilyasa.

Menyiapkan Generasi Penerus ( Ilyasa )
Dalam kisah Nabi Ilyas as., tidak ditemukan dasar hadist riwayat tentang penikahan atau rumah tangga beliau. Tapi ada tokoh Ilyasa yang kelak menjadi nabi dan rasul juga yang merupakan kadernya, atau penerus misi hidupnya sebagai nabi dan rasulnya Allah Swt.

Nabi Ilyas kembali ke negeri Baklabah dan bersembunyi di Gunung Kasium. Di Gunung ini, Nabi Ilyas dan Ilyasa ( waktu itu belum jadi nabi ) tinggal di sebuah gua selama 10 tahun. Nabi Ilyas mendidik Ilyasa seluruh ajaran kenabiannya baik secara teori maupun praktek.

Ada satu rahasia dari angka 10. Jadi untuk menjadi ahli, maka belajarlah selama 10 tahun, dan itu sudah dibuktikan oleh para nabi. Masih ingat kan Nabi Musa membayar mahar dengan mengembalakan kambing Nabi Syuaib selama 10 tahun ( awalnya 8 tahun lalu disempurnakan menjadi 10 tahun). Ingat juga kisah Daud as., yang belajar ketapel sejak usia 6 tahun, dan melawan Jalut saat usianya 16 tahun. Dan kini Nabi Ilyas mendidik Ilyasa pun selama 10 tahun.

Dakwah menghasilkan 10 ribu pengikut
Setelah 10 tahun, Nabi Ilyasa turun gunung dan kembali melakukan dakwah dibantu oleh sang murid. Negeri Funicia sudah berganti raja yaitu Baklabah II, yang tidak tahu atau tidak mengenal siapa itu Nabi Ilyas. Inilah yang membuata dakwah Nabi Ilyas diterima tanpa banyak hambatan hingga ummat mencapai angka 10 ribu orang.

Oleh orang-orang pengikut setia ayahnya ( Baklabah 1 ), Raja Baklabah II diprovokasi untuk kembali menangkap Nabi Ilyas. Pengikutnya juga ditakut-takuti, diancam agar kembali murtad. Tapi masyaa Allah, para muallaf ini tidak ada satupun yang murtad walau harus menghadapi ancaman pancung dari prajurit raja.

Melihat kondisi ini, ada kebanggaan dan kebahagiaan pada Nabi Ilyas. Bangga dan bahagia karena kekuatan iman kaumnya. Tapi dilain sisi beliau juga memikirkan keberlangsungan dakwah ini, hingga memutuskan untuk menyerahkan diri. Sedangkan Ilyasa tetap di gua di gunung Kasium.

Nabi Ilyas diselamatkan oleh Jilbril sebelum dipancung dan dibawa ke langit. Tidak ada riwayat yang menjelaskan langit ke berapa. Tapi tidak membenarkan juga kalau sekarang Nabi Ilyas masih hidup. Nabi Ilyas sudah diangkat oleh Allah ke langit, itu saja.

Ibrah yang bisa dipetik, seorang guru yang hebat adalah guru yang menyiapkan penggantinya.Agar ilmunya tetap bisa diajarkan dan menjadi bermanfaat untuk ummat. Seorang Dai yang hebat jangan hanya bisa orasi, tapi catatlah dalam sebuah buku atau kitab yang bisa dibaca ummat yang bahkan tidak akan bertemu dengannya.

Siapkan lah penerus dakwah yang terbaik yang bisa berorasi juga bisa menulis sebuah kitab atau buku. Wallahu a'lam bishowab.

Sumber :
Kishashul Anbiya Ibnu Katsir
Kelas Kisah Nabi by Muslim United ( Ust. Pago Herdian )

Selasa, 16 November 2021

Pemuda Harapan Sesuai Al Qur'an


Assalamu'alaikum Men temen, semoga tetap dalam kondisi sehat dan terus semangat...

Bismillahirrahmanirrahim
Tanggal 28 Oktober kemarin, kita kembali diingatkan pada moment Hari Sumpah Pemuda. Moment dimana kita diminta untuk mengingat kembali pada fase hidup sebagai pemuda dan geraknya sesuai kehendak Sang Khaliq. 

Dalam QS. Ar Rum : 54 Allah SWT., mengingatkan hambaNya tentang tahapan penciptaan dan fase hidup manusia . Yang awalnya diciptakan dalam kondisi lemah ( bayi atau fase anak-anak), kuat ( fase pemuda ) dan lemah lagi ( fase lanjut usia ). Disini Allah menerangkan bukan dengan satuan umur, tapi dengan menggunakan sifat atau karakteristik setiap fase kehidupan yang dilalui oleh manusi.


اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

"Allah adalah Zat yang menciptakanmu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan(-mu) kuat setelah keadaan lemah. Lalu, Dia menjadikan(-mu) lemah (kembali) setelah keadaan kuat dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa."


Fase Pemuda
Dalam tumbuh kembang manusia,  fase pemuda sering dibatasi dari mulai remaja awal sampai tahap dewasa. Secara usia akan cukup kesulitan karena setiap orang memiliki waktu sendiri untuk berubah dari remaja hingga dewasa. Tapi jika kita mengambil dari pengertian usia produktif, maka usia pemuda bisa dibatasi dari usia 21- 33 tahun. Bagi orang yang memahami dunia bola, maka akan tahu bawa pada pada range waktu itulah para pemain bola mengalami masa keemasan. 

Sementara dalam Al Qur'an, tidak dibatasi dengan usia. Tapi dengan memahami karakter sifatnya. Pemuda itu adalah fase dimana manusia itu ( laki-laki maupun perempuan ) kuat diantara dua kelemahan. Kelemahan dari fase anak dan kelemahan saat fase tua.

Kelemahan fase anak adalah lemah baik secara fisik maupun secara akal ( ilmu dan pemikiran ). Secara fisik, fase anak adalah fase pertumbuhan, belum mencapai tumbuh kembang maksimal. Secara imunitas juga belum terbentuk sempurna, hingga rentang terkena atau tertular penyakit. Secara akal, ilmu wawasan dan pemikiran, anak-anak juga masih tahap dasar, bahkan tamyiz pun belum. Membedakan antara baik dan buruk, benar salahpun masih bingun. Pengalaman masih sangat minim.

Sementara pada fase tua, maka fisikpun sudah mulai ada penurunan. Tenaga pun mulai berkurang, pun demikian dengan semangat. Secara ilmu, wawasan dan pemahaman bisa jadi sudah penuh. Tapi akan jadi kelemahan karena akhirnya banyak pertimbangan dalam mengambil keputusan dan bergerak. Ya, karena orang tua kan banyak yang dipikirkan, hingga banyak yang perlu dipilah pilih.

Di fase itulah pemuda itu ada. Fase dimana secara fisik sudah tumbuh sempurna, secara pemikiran sudah memiliki beberapa wawasan yang tidak akan membebani, dan karena masih sendiri biasanya lebih berani mengambil keputusan yang beresiko sekalipun. Ketiadaan pengalaman justru membuat pemuda itu banyak ide dan berani mengeksekusinya.

Hingga wajar kalau menurut Syekh Yusuf Qardawi, pemuda itu ibaratkan matahari yang bersinar di tengah hari. Panasnya paling terik, dan berada di posisi terbaik untuk menyebarkan sinarnya.


Pemuda dalam Kacamata Islam
Dalam sirah nawabiyah, kita mengenal sosok-sosok yang membantu perjuangan Rasulullah Saw. Mereka dikenal dengan istilah Sahabat Nabi. Maka kita mengenal Abu Bakar ra., yang usianya masuk Islam sekitar 37 tahun, ada juga Ustman ra.,  yang berusia sekitar 34 tahun. Umar bin Khattab ra diperkirakan berusia 21-22 tahun ketika menyatakan keislamannya. Saad bin abi waqash sekitar 17 tahun, pun demikian dengan Mus'aib bin Umair, Thalhah dan Zubair. Sedang Ali bin Abi Thalib masuk Islam sejak masa kanak-kanak. 

Dalam Al Qur'an banyak sosok pemuda yang menginspirasi. Jangan lupakan Nabi Daud as., Harun as., Musa as., Yusuf as. dan Yahya. Pemuda yang kisahnya sampai diabadikan menjadi nama surat adalah pemua Al Kahfi yang menolak musyrik lalu ditidurkan oleh Allah selama 300 tahun lebih di sebuah gua. Ada juga pemuda dalam kisah Ashabul Ukhdud, dimana si pemuda enggan melepas Islam dan berhasil membawa satu kota beriman dan syahid dibakar dalam parit - parit yang diisi api.

Satu kesamaan dari pemuda-pemuda diatas adalah semangat dan sepak terjang mereka melakukan perubahan. Keimanan menjadikan mereka meninggalkan kesenangan dunia. Saat pemuda lain asyik dengan masa muda, mereka malah berlajar agama. Saat pemuda -pemuda lain asyik dalam sebuah permainan, maka mereka malah serius memikirkan kelurusan aqidah.

Sebagai pemuda di akhir zaman, bisa jadi tantangan yang ada lebih berat dari sebelumnya. Terlalu banya hal-hal yang melenakan para pemuda dari urusan agama dan akhirat. Iblis dan konco-konconya membungkus dunia sedemikian indah hingga sulit ditolak pesonanya. Kesuksesan di usia muda malah sering menggerus sifat zuhud, qanaah. Hingga tanpa sadar pemuda berbaju shalih pun menjadi agen-agen dunia.

Dulu, ketika saya masih muda ada sosok sahabat yang sering diceritakan terkait pemuda dengan seluruh daya tariknya. Dalam bayangan saya, Mus'aib adalah sosok pemuda yang secara fisik sangat menarik, kalo dijaman now bisa diajak jadi anggota boyband atau jadi seorang idol ( hehehe halu jaman dulu enggak kepikiran sih, pokoknya keren aja ). Lalu begitu mengenal Islam berubah drastis.  Tampilannya tak lagi semerbak mewangi dengan jubah-jubah khas Arab yang mewah.

Mus'aib layaknya pemuda dengan sifat pemberaninya bisa jadi tidak terlalu berpikir jauh akan konseskuensi pilihannya. Dan dengan seluruh tekadnya pula dia menghadapi ujian, tekanan bahkan penolakan dari keluarganya. Sampai-sampai dia pun mengalami susah makan, susah minum, tidur di tempat kotor. Yang semua itu berpengaruh pada penampilannya. Bahkan sampai ketika beliau menemui kesyahidan, Rasulullah sampai terharu melihat selembar kain yang tidak mencukupi menutup tubuhnya. 

Itulah satu teladan pemuda yang berhasil melewati ujian dunia dan memenangkan keimanan dalam kehidupannya. Dan saya yakin saat ini pun ada pemuda-pemuda seperti Mus'aib, seperti Saad bin Abu Waqqash, seperti Umar bin Khattab, bahkan seperti Ali bin Abi Thalib ( radiyallahu anhum ), yang kelak akan jadi pemuda-pemuda yang menjadi ikon perubahan, dan cemerlang karena keimanan dan geraknya sebagai agen kebenaran. Wallahu a'lam bishowab