Kamis, 09 Januari 2014

 Karena Tidak Ada yang Sia-sia





"Do'akan saja bu, nasib kami berubah. rezeki kami akan lebih baik. Bosen juga setiap bulan gali lubang tutup lubang..." Keluh seorang sahabat yang langsung kuamini.

Saat ini, aku memang harus lebih banyak bersyukur.   Kondisi keuangan keluargaku termasuk cukup.  lebih bersyukur lagi karena dalam beberapa kesempatan aku dan suami masih  bisa mengirim beberapa rupiah ke Mamah ( ibuku)  dan Bapak mertua. Karena beberapa tahun kebelakang pun, kondisi keluargaku termasuk kekurangan. Kadang saat menerima gaji dari suami bingung sendiri. Karena banyaknya pos- pos yang harus tertutup. Ujung- ujungnya yang tersisa di tangan hanya sekian ratus ribu rupiah yang harus cukup untuk sebulan. Bingung saat melihat kebutuhan gizi empat anak yang masih dalam masa pertumbuhan. belum lagi saat harus ada pengeluaran tambahan seperti sakit atau iuran ini itu dari sekolah si sulung. Hemm...rasanya menyesakkan dada. Bikin pusing sampai ubun- ubun.

Pernah suatu hari aku betul- betul kehabisan uang. sejak pagi aku sudah bilang ke suami tentang kondisi ini. Suamiku hanya diam, mungkin dia sedang berpikir mau cari pinjaman kemana lagi nih hehehe. melihat reaksinya, buru- buru aku bilang," Insyaallah ada rezeki Yah, usaha saja yang terbaik..."
Suami pun kembali terlihat bersemangat. Jujur saja, aku lebih takut kalau suamiku pergi kerja dalam kondisi pikiran kalut. saat- saat seperti itu biasanya setan demen banget menggoda untuk berbuat salah. Entah itu menggambil hak orang lain, mencuri atau bohong sana sini. Waduh..., bahaya....bisa- bisa aku memasukkan bara api neraka ke perut anak- anakku. ihh...ngeri....kan!

Suamiku pun pernah harus berpanas- panas di tengah teriknya matahari. Berjalan kaki, turun naik angkot untuk mengerjakan sebuah proyek. Kejadiannya pas banget di bulan puasa. Dia berharap hasil proyekan kali ini bisa dipakai untuk berlebaran bersama keluarga.  "Alhamdulillah Bu, Ayah gak sampai batal puasa. Masyaallah panasnya.... ." Nyes..., hatiku makin sakit. Ya Allah...., kali ini asli aku langsung mewek sambil terus berdo'a agar semua usaha suamiku diridhaiNya.

Aku pun makin paham susahnya cari uang. Makanya, saat membelanjakannya pun mikir berkali- kali. Penting, perlu, mendesak atau tidak. Kalau tidak, beli saja yang betul-betuk kebutuhan pokok. Kudu pinter memilih maka kebutuhan pokok, sekunder dan tersier, agar lumbung tidak bocor. Syukur- syukur bisa nabung walau receh- receh di celengan. Minimalnya saat uang yang lembaran habis, masih bisa kodok- kodok celelngan untuk sekedar membeli tempe hehehe....

Aku juga jadi tidak suka jajan. Dan kebiasaan itu aku tularkan pada anak- anakku. Sebisa mungkin kubuatkan kue atau cemilan yang sesuai dengan dompetku. Entah itu bubur kacang hijau dengan kuah berlimpah. Atau pisang berlumur susu kental manis tanpa keju. Bisa juga bala- bala atau bakwan minus udang. Karena hanya ada wortel, kol kadang dicampur buncis sebagai pemanis.

satu lagi hasil dari perjalanan hidupku, bahwa lihatlah yang dibawah kita agar selalu bersyukur. Ternyata, masih banyak orang yang hidupnya jauh lebih susah dari kondisi diri. dan itu terus terbawa sampai sekarang, walau kondisiku sudah jauh lebih baik, paling tidak suak melihat ke atas. Takut malah gelisah dan stress hehehehe. " Syukuri apa yang ada aja, itu jauh lebih menyenangkan," ujarku setiap kali mendengar anak- anak mengeluh karena tidak bisa jajan seperti teman- temannya.

Kembali ke kisah temanku, saat ini pun aku yakin sekali banyak juga yang masih dalam kondisi kekurangan. Bukan mau sok menasehati apalagi sok mengugurui,  tapi mungkin satu hadist ini bisa menginspirasi. bisa menjadi pengingat bahwa Allah Maha Adil dalam hal apapun terhadap ummatnya. Bahwa mengurangi keluhan itu jauh lebih baik dari pada mengobral kesusahan ( apalagi obralnya di media sosial hadeuhh..empet deh bacanya juga). Bahwa memperbanyak pengharapan jauh lebih disukai oleh pemilik Kekayaan dan Yang Maha Kaya, Allah Al Ghani.

"Sesungguhnya diantara dosa- dosa ada yang tidak bisa ditebus ( dihapus) dengan pahala shalat, sedekah, atau haji. Namun hanya dapat ditebus dengan kesusahpayahan dalam mencari nafkah." (HR. Thabrani).

Nah, jadi tambah semangat mencari nafkah yang halal untuk keluarga kan kawans...Insyaallah, walau rezeki berupa materi belum ada di tangan saat ini, tapi mudah- mudahan terhapusnya dosa- dosa membuka keridhoan Allah untuk membuka pintu- pintu rezeki buat diri dan keluarga. Yakinlah, tidak ada yang sia- sia, tidak ada yang tidak bermanfaat. lagi pula, hapus deh gambaran kalau rezeki itu hanya uang or materi semata. Bukankah kita bisa melihat senyum anak- anak dan pasangan juga sebuah keberkahan?


Wallohua'lam bishowab.
Inspirasi jum;at mubarrok- by: Ummu Ayesha ( ayesha El himah)

Jumat, 06 Desember 2013

Jejak Tulisan....

Alhamdulillah, akhirnya buku pertama yang kunanti- nanti terbit juga. Secara, menunggunya cukup lama. Hampir setahun setengah lho! Tapi, semua terbayar dengan senyum dan ucapan syukur bahwa akhirnya buku itu bisa terbit dan beredar di toko buku.

Buku ini memang istimewa bagiku. Berawal, dari kesukaanku membacakan cerita buat anak - anak sebelum tidur. Lalu, aku pun sering membeli buku- buku untuk anak-anak sesuai dengan misiku. misal, saat Ayesha yang kurang sabaran dan sering buru- buru, aku pun membeli buku anak- anak tentang sifat sabar. Atau saat Aa Zuhdi sudah mulai suka pakai sarung, aku belikan juga buku tentang kegembiraan anak bisa memakai sarung sendiri.

Awalnya, di manajemen penulis yang kuikuti ( Indscrpt Creative ) membuka kesempatan untuk menulis buku anak .Waktu itu judulnya sudah ada yaitu 40 Kisah Pengantar Tidur Islami. Dan..., tentu saja, ada rasa ragu- ragu, bisa enggak ya. secara selama ini outline yang aku buat tidak ada yang gol satu pun. Maka aku pun mulai membaca- baca buku- buku yang sudah aku bacakan untuk anak- anak. Dan ..., aku pun mulai terbayang seperti apa buku pengantar tidur itu.

Agar berbeda dengan yang lain, aku pun memasukkan kisah beberapa Nabi. Bismillah..., kikirim outlineku. dan ternyata butuh tiga kali kirim karena ada beberapa kendala teknis. Entah itu intenet yang ngadat atau ternyata sudah terkirim tapi di sana gak diterima. Aku berusaha berpositif thingking aja. Mun tos rezeki moal kamana ( kalau sudah rezeki ) tidak akan kemana. yang penting sudah berusaha maksimal dan beda dari yang lain hehehe..sambil kipas- kipas tentunya :)

Buku untuk anak, bergenre dongeng atau kisah. Cocok sekali dibacakan pada anak- anak. seperti sudah diketahui, bahwa membacakan cerita atau dongeng sangat bermanfaat membangun karakter anak. Apalagi jika ceritanya penuh nilai- nilai positif yang ingin ditanamkan pada anak. Dalam buku ini , 40 Kisah Pengantar Tidur Islami, insyaallah banyak nilai- nilai akhlak mulia yang bisa diambil. mulai dari kisah tentantang kejujuran, kemuliaan, pengorbanan hingga keberanian. kelebihannya cerita ini diambil dari kisah para pelaku sejarah yang sudah tercatat baik dalam Al-Qur'an maupun kisah- kisah para shahabat dan thabiin.

Yakin deh, bahwa waktu-waktu istimewa yang antara ibu, ayah dan anak akan bisa  tercipta dengan membacakan cerita penuh hikmah ini. So...tunggu apa lagi, segera dapatkan buku ini di gramedia dan book's store lainnya.

Jumat, 28 Juni 2013

Cermin dari Sahabat

bagiku, yang sudah mengalami persalinan lima kali, tetap saja melahirkan itu menegangkan. Excited memang, awesome juga. bayangkan saja, tubuh yang sudah lelah seharian- bahkan bisa jadi lebih- menahan sakit kontraksi, ternyata masih bisa mengejan dan mengeluarkan si buah hati. itu lah mengapa setiap kali melahirkan, aku tetap ingin didampingi suami. Bidan atau dokter yang mendampingi pun harus yang aku percaya. karena melahirkan tetaplah sebuah pertaruhan nyawa. Dan jika kondisi terburuk menimpaku saat melahirkan, minimalnya aku ingin orang- orang yang kupercayalah yang ada disampingku.

Kondisi yang jauh berbeda justru dialami sahabatku. Dia hamil dan melahirkan di negeri asing. Perempuan kuat ini pergi mengambil gelar S2 dan S3 tanpa sadar ada makhluk mungil yang dititipkan Allah di rahimnya. mengalami masa ngidam di tengah bekunya musim dingin. Sementara suaminya masih di tanah air dan baru berencana menyusul tahun depan. O lala.., acung jempol sekaligus prihatin. Kagum pada ketegarannya dan juga tekatnya. Tapi juga prihatin atas kesendirian yang dirasakannya.

Setiap kali kami berkomunikasi yang hanya bisa lewat chatting, tak pernah sedikitpun dia mengeluh. Sesekali dia bertanya tentang yang sedang dirasakan dan cara antisipasinya. Misal, ngemil apa ya yang bisa mengurangi mual? atau sampai kapan biasanya mual - mual akan mereda?

Satu kesempatan aku pernah bertanya, beratkah menjalani semua ini? dia hanya menjawab singkat, "Insyaallah saya kuat, Teh. tolong do'akan saya kuat...kuat menjalani semua pilihan ini." sebuah jawaban yang membuat tak satu huruf pun mampu saya ketik untuk membalasanya.

Aku pun teringat beberapa teman yang lain yang kadang terkesan 'repot'saat hamil. Padahal kondisi mereka sangat nyaman. Suami ada dan siap mengantar periksa ke dokter atau bidan. Jika ingin ini tinggal bilang, ingin itu tinggal ngomong. Bahkan saat ingin istirahat ada orang tua atau mertua yang siap menampung. Semua perhatian tercurah pada kehamilannya. Namun yang terjadi tetap saja merasa kurang, merasa lemah hingga terkesan manja yang ada.

Ya, memang hidup ini penuh pilihan. Mestinya tak perlu mengeluh dan berkoar- koar saat pilihannya itu membawa pada kesusahan. Bayangkan saja itu sebagai harga yang mesti dibayar untuk sesuatu yang kita inginkan. Apalagi bagi yang keinginan yang sudah direncanakan, mestinya sudah juga dipersiapkan resiko  yang bisa didapat. 

Kini, hari- hari bergerak mendekati waktu perkiraan lahir bagi sahabatku. Aku pun makin sering menghubunginya. Menanyakan kabar dan kondisinya.  Biasanya saat- saat ini perempuan hamil sudah makin susah tidur. Bisa jadi karena posisi tubuh yang sudah tidak nyaman juga pikiran tentang persalinan yang memicu stres. Hanya do'a yang bisa kukirim, semoga persalinannya lancar, bayi dan ibunya selamat tak kurang suatu apapun.***

Senin, 22 Oktober 2012

Setetes Embun

Belajar dari Hajar, Belajar Tegar dan Mandiri

            Sore itu, tiba- tiba teman saya berkata,”Rasanya, saya belum menjadi istri yang mandiri deh.”
            “Oh ya..? Kenapa?” tukasku setelah meneguk sisa air di cangkir.
            “ Apa- apa harus sama suami. Belanja mesti sama suami. Urusan kran bocor, genteng pecah atau yang sepele seperti air dispenser habis saja harus suami turun tangan. Apalagi untuk urusan yang gawat seperti anak sakit. Saya enggak bisa ngebayangin kalau harus bawa anak sakit ke dokter atau rumah sakit sendirian. Kalau dipikir- pikir apa aku ini manja banget ya..hihi.”
            Saya hanya terdiam. Kata- kata teman saya mengingatkan pada episode- episode saat suami harus dinas keluar kota selama hampir satu bulan lebih. Bagi saya yang biasa melihat suami ada di rumah, minimalnya saat jam kantor selesai tentu bukan perkara mudah. Apalagi sejak suami pergi ada saja kejadian di rumah. Dari mulai gas habis, persediaan beras yang menipis sampai si sulung yang waktu itu harus daftar ke SD. Yang paling membuat bingung tentu saja tiga anak yang kompakan sakit gondongan.
            Mengeluh, rasanya tidak ada waktu untuk mengeluh. Untuk mengabari suami kondisi di rumah saja sudah tidak tega. Setiap malam saat dia menelepon saya selalu bilang kondisi rumah aman terkendali. Itu saya lakukan agar dia tenang dan konsentrasi dengan tugas- tugasnya. Ketika anak- anak sakit saya juga cuma cerita semua sudah ditangani. Sudah ke dokter dan dapat obat. Suami waktu itu hanya berhamdalah dan minta maaf, karena saya harus mengurus semua sendirian.
            Jangan tanya kerepotan dan pusing yang saya alami. Bolak- balik ke dokter dengan ojek, begadang karena rintihan anak yang deman, atau pagi- pagi harus memasak bubur karena membuka mulut saja mereka kesakitan. Belum lagi mencari sekolah yang tepat untuk si sulung mengharuskan saya keluar kompleks dan turun naik angkot. Saya juga harus memutar otak dan mengnencangkan ikat pinggang karena pengeluaran yang tiba- tiba membengkak. Duh…, saya juga tidak memungkiri kalau sempat menangis dan mengeluh sama Allah SWT. Tapi waktu itu yang terlintas dalam pikiran adalah ini tugas saya, tugas sebagai kepala rumah tangga yang saat itu sedang dititipkan suami. Bismillah laa haulaa walaa quwwaata illaa billah, hanya itu penyemangat saya waktu itu.
            Dari kejadian itu saya memahami, menjadi istri yang mandiri bisa jadi menjadi suatu keharusan.  Seorang istri bukan hanya pendamping suami, yang hanya mau dipimpin, diatur, diayomi dan dibantu dalam tugas- tugasnya. Perlu dipahami bahwa seorang istri adalah pimpinan di rumah yang tugasnya mengatur rumah. Artinya, segala sesuatu urusan rumah termasuk anak menjadi tanggung jawabnya. Dalam sebuah hadist, Rasulullah pun mengingatkan bahwa setiap manusia akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Dan seorang istri akan diminta pertanggung jawaban tentang rumahnya ( yang menjadi wilayah kepemimpinannya).
            Profil istri mandiri yang bisa dicontoh sangat jelas pada sosok Hajar, istri Khalilullah Ibrahim as. Dimulai dari dia dan bayi Ismail dikirim Ibrahin ke tempat yang jauh dari kehidupan. Yang masih sepi dengan bekal seadanya. Tentu saja Hajar bukanlah tipe istri yang banyak mempertanyakan keputusan suami. Saat melihat tekad Ibrahim, Hajar sudah tahu bahwa hijrahnya dia dan Ismail ke tanah Bakka adalah perintah Allah SWT. Hajar membuang jauh- jauh prasangka dan kecurigaan yang biasanya lekat dengan perasaan wanita. Hajar tidak menanyakan apakah Ibrahim semata- mata ingin mengucilkannya. Hanya satu pertanyaan Hajar pada Ibrahim,” Apakah ini perintah Allah, wahai suamiku?”
            “Betul.”
            “Kalau begitu, saya yakin Allah pasti akan menolong.” Jawab Hajar yakin.
            Subhanallah, itulah Hajar yang disandingkan Allah dengan hamba kesayangannya. Kualitas Hajarlah yang membuatnya terpilih untuk menjadikannya  sebagai pendidik Ismail as. Ketegaran Hajar dalam menunjukkan kemandiriannya menjalankan tugas dan skenarioNya diabadikan dalam setiap kucuran air zam- zam, juga dalam setiap langkah sa’i antara Shafa dan Marwah.
            Kalau melihat kondisi sekarang ini, tentunya kondiri Hajar waktu itu bisa jadi seratus kali lebih berat. Dia berpisah dengan Ibrahim bukan untuk hitungan sehari, seminggu. Dia harus mandiri hampir untuk belasan tahun. Mengingat hal itu rasanya malu jika hanya ditinggal suami dua malam saja membuat istri- istri mengeluh, uring- uringan. Ditambah peralatan komunikasi sudah canggih. Angkot, taksi dan ojeg juga mudah sekali di dapat. Dokter, balai pengobatan dan apotik juga bukan barang langka. Belum lagi layangan pesan antar yang memudahkan kita memesan apapun tanpa beranjak dari rumah.
            Ya.., menjadi ibu dan istri di masa kini memang lebih mudah. Banyak sekali bantuan dari mulai bantuan tenaga maupun alat yang bisa meringankan tugas- tugas kerumahtanggan. Mestinya itu membuat istri- istri semakin mandiri dan bisa melejitkan potensi- potensi terpendam yang dimilikinya. Hingga dia lebih berkarya untuk keluarganya atau untuk masyarakatnya.
            Maka, belajarlah dari Hajar. Belajar menjadi tegar dan mandiri. Menjadi istri yang tidak selalu bergantung ke suami. Tapi menjadi seorang istri yang bisa dipercaya untuk tugas- tugas hebat dalam hidupnya. Wallohua’lam bishowab.***( Ayesha El Himah)

Minggu, 14 Oktober 2012

Hakikat Qurban

Aku Mau Berqurban


Alhamdulillah wa syukurillah, sebentar lagi umat islam akan bertemu dengan moment qurban ( Idul Adha). Qurban secara fikih adalah menyembelih hewan sembelihan. Menurut bahasa qurban berasala dari kata taqorrub yang berarti mendekat. Maka berkorban hendaknya tidak saja dimaknai dengan ritual menyembelih hewan qurban tapi juga dilandasi dengan niat untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. karena itu juga yang dicontohkan oleh pelaku berqurban dalam sejarah manusia.

Qurban dikenal pertama kali dalam kisah Habil dan Qabil. Kedua putra Nabi Adam as ini diuji ketaatannya pada sebuah perintah Allah tentang pernikahan. Maka saat Qabil merasa tidak puas dengan aturan Allah, turunlah perintah qurban. Qabil yang sejak awal curiga terhadap aturan Allah, maka berkorban dengan hasil pertanian ala kadarnya. Dia tidak memberi yang terbaik bagi Allah. Sedang Habil yang sejak awal berhusnudzon akan aturan Allah, berkurban dengan ternak yang terbaik yang dimilikinya. Sejarah mencatat bahwa qurban Habillah yang diterima Allah SWT.

Pelajaran yang sama juga bisa didapat pada moment qurban yang dilakukan oleh keluarga Ibrahim as. Dalam QS. As Shaff  ( 37 ) :100- 108 . Sungguh, ujian kali ini terasa berat bagi Ibrahim. Dulu, saat dia baru mendapat keturunan yang selama ini didambakan, dia sudah diperintah memindahkan Ismail dan hajar ke Bakka ( kini menjadi Mekkah ) yang tak berpenghuni. Tanpa banyak bertanya, Ibrahim membawa keluarga kecilnya sesuai perintah Allah dengan bekal seadanya. Hanya karena yakin akan pertolongan Allah, Ibrahim rela meninggalkan Hajar dan bayi ismail di bawah sebuah pohon kurma. Ujian ini berhasil dilalui Ibrahim. Kini, setelah beberapa tahun berlalu, ujian Allah datang lagi. Kali ini perintah untuk menyembelih Ismail yang sangat dicintainya. Sekali pun berat, Ibrahim tetap melaksanakannya. didukung oleh Hajar yang sholehah dan Ismail yang sabar maka tugas berat itu pun sukses dijalani. Jangan bayangkan tak ada aral melintang yang menghadang. Bahkan syaitan laknatullah berkali - kali menggoda Ibrahim, Hajar dan Ismail. Hasilnya, Allah pun ridha dengan pengorbanan Ibrahim dan mengganti Ismail dengan hewan sembelihan yang baik, subhanallah.

Seandainya, Ibrahim adalah pribadi yang tidak taat, tak mungkin ujian itu datang padanya. Karena ujian semata- mata diturunkan bukan untuk membuat manusia susah, tapi semata- mata agar pertolongan Allah datang kepadanya. Allah juga menurunkan ujian hanya pada orang- orang yang dikasihinya. Yakinlah, tidak mungkin Allah menyakiti hamba yang dicintai dan dikasihinya. Hanya saja, Allah ingin melihat seberapa besar kadar kecintaan hamba tersebut. Ibrahim as berhasil menunjukkan bahwa kecintaannya kepada Ismail ( anak semata wayangnya saat itu ) tidak membuat kecintaan kepada Allah berkurang. Bahkan Ibrahim berhasil menularkan keyakinannya kepada Ismail dan Hajar.

Bandingkanlah dengan kita yang kadang lebih mencintai yang nampak dari pada Allah. kita lebih banyak menghabiskan pikiran dan perhatian untuk dunia, hobi, anak, harta, lawan jenis maupun usaha yang ditekuni. Kalaupun kita menunjukkan perhatian pada Allah SWT, hanya sekedar pada ritual yang dilakukan tanpa ada hikmah yang didapat. kita juga sering sekali suudzon dengan aturan Allah. Bedaaa sekali dengan nabiyullah Ibrahim yang tidak pernah banyak bicara dalam menerima perintah Allah. Pantas, kalau pertolongan Allah juga terasa jauh...jauh..sekali.

Dalam QS. Alkautsar ( 106 ) : 1-3 , dijelaskan hakikat lain dari berkurban. Bahwa berkurban adalah sebentuk syukur atas karunia Allah yang tak terkira yang selama ini kita rasakan. bersyukur bukanlah perkara yang mudah. Karena sering kali kita merasa keberhasilan yang kita rasakan semata- mata buah kerja keras selama ini. Saat mendapati anak lulus ujian, kita melihatnya hasil dari ketekunan belajar dan buah les sana sini. Bahkan seringkali kita merasa menjadi manusia yang paling susaaah di dunia. Seringnya kita juga merasa kurang dengan rezeki yang diberikan oleh Allah. hidup selalu kurang...kurang...dan kurang.

Maka, mulailah merunut nikmat yang Allah berikan dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Maka kita akan melihat tidak ada satupun kejadian yang tidak perlu disyukuri. Bahkan untuk kejadian yang bisa membuat kepala cekot- cekot atau hati cenat- cenut pun akan membuat kita bersyukur. Apalagi dengan nikmat iman yang masih ditetapkan Allah dalam diri kita. Bayangkan jika iman sudah tercabut, apa yang akan kita dapat dari kehidupan ini? Naudzubillah...

Karena itu, aku mau berkurban.., ya...kita harus menanamkan niat itu dalam- dalam. Hingga tidak ada beban saat melaksanakannya. Juga bukan sekedar ritual yang hasilnya decak kagum saja. Tapi kita menyadari semua ini sebagai bentuk tasyakur binikmah. semoga dengan senantiasanya kita berkurban maka kita pun layak mendapat gelar muttaqin di hadapan Allah.karena manusia yang bertaqwa adalah manusia yang berbahagia. Hidupnya jauh dari resah, gelisah, galau dan takut. Saat mendapat nikmat Allah dia akan bersyukur, tidak akan berlebihan dalam kegembiraan. Demikian pula saat musibah dan ujian datang, dia tidak akan mencari kambing hitam, dia akan memilih untuk bersabar. Jiwanya yakin sepenuhnya bahwa tidak ada suatu kejadian pun yang terjadi dalam kehidupannya tanpa izin dari Allah SWT. Orang bertaqwa adalah manusia yang jiwanya tenang, tidak resah dan iri pada nikmat yang didapat oleh saudara- saudara, saingan apalagi musuhnya.

So.., apalagi yang menghalangi kita untuk mentaati Allah? Sungguh tidak ada...ya..aku mau berkurban dan akan terus mengupayakan semampuku. Karena aku yakin Allah akan memampukan. Wallohu'alam bishowab. ( Renungan mendekati moment Idul Adha 1433 H )

Selasa, 09 Oktober 2012

Rabu, 03 Oktober 2012

Aku dan Buah Hatiku

Episode Nenab, Bunga Kenikirku

Tahun 2005
            Surprise dan senang, itu yang ada dalam hatiku saat gambar USG menunjukkan dua janin ada dalam kandunganku. Ini kehamilanku yang kedua, berarti jika dilancarkan semua urusan ini ,  aku akan langsung diamanahi 3 orang balita. Sulungku baru genap 2 tahun, dan sekarang kandunganku sudah memasuki usia 4 bulan. Deg- degan, tentu saja, karena perutku terasa lebih penuh. Saat tendanganan dan pukulan tangan bayi sudah mulai terasa, rahimku berubah layaknya arena tinju WWF, tendang sini, pukul sana, benjol sana,cekung sini, subhanallah..Pengalaman yang tidak semua wanita merasakannya bukan?
            Memasuki usia kandungan 7 bulan, dokter memintaku untuk badrest. Alasannya, bayiku dua – dua nya dalam posisi melintang. Rahim bagian atas kosong, bawah juga. Aku sih nurut – nurut saja. Kujalani dua minggu di atas dipan. Hanya beranjak ketika butuh ke kamar mandi, karena aku ogah disuruh pakai pispot apalagi cateter. selebihnya dilakukan di atas tempat tidur termasuk mengasuh si sulung.
            Selanjutnya Dokter Rini memintaku banyak melakukan gerakan nungging. “ Ambil positifnya aja, Bu. Lebih baik gerakan nunggingnya dengan bersujud. Wah..ibu bisa menambah dengan amalan shalat sunnah, jadi makin banyak deh sujudnya.”
            Setuju..!!! aku menyambutnya dengan gembira. Aku berpikir seperti anjuran dokter, sebagai media mendekatkan diri dengan Allah. Setiap malam, aku dan suami bermunajat memasrahkan seluruh masalah ini kepada Sang Pemilik Hidup.
            Yang tidak aku siapkan adalah melahirkan dengan operasi. Makanya, aku langsung stres saat mendengar anjuran dokter Rini.
            “ Operasi, Dok?” Aku sangsi. “ Kenapa?”
            “ Insyaallah usaha ibu sudah maksimal. Satu bayi sudah tidak sungsang. Tapi yang satunya posisinya masih sungsang dan kakinya menghalangi kembarannya untuk bergerak ke arah jalan lahir.”
            “ Apa memang tidak bisa diusahakan lagi, Dok? Masih ada 2 minggu lagi kan dari TP?”
            Wajah dokter kandunganku berubah tegas. Satu ekspresi yanghampir belum pernah kulihat sebelumnya.  “ Lebih baik dalam minggu- minggu ini, Bu. Menghindari hal – hal yang tidak diinginkan. Saya sendiri sudah heurin lihat rahim Ibu, sudah padat banget.”
            Puff…, aku masih bingung. Semangat yang coba dihembuskan suami seolah masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Inikah hasil akhirnya?
            Tanggal 16 Mei, pukul 13.30 aku memasuki ruang operasi. Melihat wajahku yang pias, dokter anestesi mencoba mengalihkan perhatianku. “ Wah..kembar ya, Bu?”
            Aku mengangguk kaku.
            “ Anak ke berapa Bu?”
            “ 2 dan 3.”
            “ Laki – laki atau perempuan?”
            “ Laki – laki dan perempuan, sepasang.”
            “ Alhamdulillah, komplit ya Bu?”
            Lamat – lamat kurasakan rasa kantuk menghampiriku. Sebelum kesadaranku hilang, kusempatkan melantunkan doa dan sejumput harapan, semoga disempatkan membuka mata dan melihat sepasang kembarku.
            Pukul 15.30 sebuah tepukan eh..lebih tepatnya tamparan menyadarkanku. “ Selamat, Bu. Bayi ibu sudah lahir. Laki- laki dan perempuan. Cepat pulih ya..?” Dokter Rini yang pertama kali menyambut kesadaranku.
            Rasa penasaran membuatku minta melewati ruang incubator, tempat kembarku dirawat. Keduanya lahir dengan berat yang hampir sama 2000gram. Terbayang kurus dan kecilnya mereka kan? Kusapa si jagoan dengan Zuhdi Ali dan si cantik yang ada di incubator sebelahnya dengan Zainab Khalisah.***

Tahun 2009
            Zainab atau lebih sering kupanggil Nenab, sudah genap 4 tahun. Tubuhnya gemuk, tapi masih dalam batas normal. Mukanya bulat, dengan mata besar yang indah. Kalo bicara lucu, fasih dan tidak cedal. Di telingaku, suaranya seperti berbentuk bulat – bulat yang membuatku gemas. Kadang, aku mesti menyadarkan diriku dan beristighfar berkali- kali saat mengagumi keindahan makhluk kecil ini. Takut terlena !!
            Menyadari dia sebagai anak nomor 2, aku memang memberi perhatian khusus. Karena, menurut Alfred Alder, bapak pencetus teori psikologi individu berdasarkan urutan kelahiran, bahwa anak nomor 2 biasanya cenderung bersifat susah diatur, sering dianggap keras kepala, sensitif, walaupun memiliki sifat mandiri dan juga mudah beradaptasi. Kebetulan semua teori Pak Alfred ada pada Nenab. Dia memang cenderung keras kepala, pemarah, sulit dimengeri. Ayahnya saja sering sekali merasa kewalahan menghadapi Nenab.
            “ Duh..ibu aja deh..” Kilahnya setiap gagal membujuk Nenab berhenti dari tangisannya yang lama dan konsisten banget dalam hal volume suaranya.
            Tidak mau berlama – lama bingung, aku langsung konsultasi ke temanku, Hani yang kebetulan seorang psikolog.
            “ Emang ada pendapat seperti itu, tapi sebenarnya itu terjadi karena anak nomor 2 kadang kurang dapat perhatian seperti layaknya anak sulung atau bungsu. So.., kasih perhatian dan kasih sayang yang sama aja, Non.” Ujar Hani lugas.
            “ Kasih pengertian juga sama saudara- saudaranya, bahwa meskipun bersaudara bahkan kembar sekalipun, mereka tetap pribadi yang berbeda, pribadi yang unik. Penanganannya pun kudu unik. Aku sih yakin kamu bisa..” Hani berusaha menyemangatiku.
            Gantian aku yang bingung. Terasa ada beban berat yang menggelayuti pundakku. Tapi bukankah amanah ini sudah datang padaku, pastinya aku juga sudah disiapkan dan dinilai mampu. Jadi..bismillah aja deh..
            “ Oke deh, Ni. Nuhun banget ya..”
            Aku memutar otak, mencari informasi di sana – sini, membaca buku parenting dan tetap berkonsultasi dengan Hani. Intinya, tetaplah berprasangka baik pada anak, dan berilah penilaian dengan kata – kata positif. Kedengarannya mudah kan? Tapi prakteknya lumayan susah. Pertama aku harus berkompak-ria dengan suami. “ Jangan pernah menyebutnya tukang cemberut. “ tegasku.
            “ Ya..bukan apa – apa bu, lihat saja wajah Nenab. Lengkungan bibirnya membuat wajahnya kusut. Ibu lihat lagi aja tuh foto pas dia baru dikeluarkan dari inkubator. Dia cemberut, Zuhdi tersenyum, sungguh sepasang lengkungan yang sempurna.”
            Mau tak mau aku tersenyum membayangkan foto si kembar yang memang persis gambaran suamiku. Tapi menjauhinya juga bukan solusi kan, pikirku yakin.
            Sebenarnya, aku sebagai ibunya yang harus lebih sabar mendengarkan hingga pesan yang ingin disampaikan Nenab saat dia berkomunikasi denganku sampai dengan jelas. Setiap Nenab bicara aku berusaha menyimak dengan baik. Menunjukkan antusias kala dia tertarik dengan sesuatu. Aku juga sering memberinya pujian, bahwa senyum Nenab manis sekali. Untuk menyemangatinya, aku bercerita kalau saat Nenab tersenyum, malaikat Rakib sedang mencatat amalan mulia. Terang saja, putri kecilku tersenyum lebar – lebar. Duhh..manisnya.
            Dibalik itu, Nenab punya sifat penyayang.  Apalagi terhadap Zuhdi, kembarannya. Setiap bangun tidur,  waktu makan, bahkan saat Zuhdi kena ulah si sulung, Nenablah yang membelanya. Dia juga mempunyai sifat pemaaf. Bahkan dia yang selalu mendo’akan ayahnya setiap dia selesai shalat maghrib. Setiap ayahnya merasa pusing atau aku yang merasa capek, dia selalu mengajukan pertanyaan polos yang bisa membuat mataku memanas.
            “ Ayah pusing ya, Nenab pijitin ya..??”
            Walaupun pijatannya lebih mirip gelitikan, kulihat suamiku  sangat menikmatinya. Aku mengingatkan agar dia lebih sering memuji Nenab. bukankah kata – kata positif sangat membangun harga diri anak dari pada celaan dan hinaan?
            “ Enak gak, Yah?”
            Subhanallah, enak sekali.”
            “ hehehehe.” Nenab tertawa memamerkan gigi susunya yang rapi.
            Mungkin karena pujian itu, setiap kali ditanya oleh siapapun tentang cita – citanya, Nenab selalu menjawab,” Mau jadi tukang pijit…!!”
            Ditahun yang sama, aku terpapar gejala Typus. Awalnya karena pola makan yang tidak teratur dan kurangnya asupan gizi. Jadilah badanku kalah diserang virus penyakit itu. Semalaman, tubuhku deman tinggi. Sudah minum parasetamol, tapi deman itu muncul lagi saat pengaruh obat hilang.
            “ Ibu mau dikompres ?” suara Nenab terdengar sangat dekat di telingaku.
            Ah, aku ingat, setiap kali dia demam dan di rumah sedang kosong obat turun panas pasti itu yang kulakukan padanya.
            Dengan tangan mungilnya, dia membasahi washlap dan menempelkan di keningku. Aku hanya bisa tersenyum dan berterimakasih dengan lirih.
            Esoknya, aku memutuskan ke dokter. Padahal, aku biasanya susah banget pergi ke dokter. Tapi membayangkan anak – anak tidak ada yang mengasuh, aku juga tidak tega. Pagi – pagi diantar suami, aku pergi periksa ke dokter langganan di komplekku. Nenab yang sudah bangun dan shalat subuh langsung menyiapkan jaket dan kaos kaki.
            “ Biar Ibu gak masuk angin.” Ujarnya polos.
            “ Nenab di rumah aja ya, sama Teteh dan Aa..” pesan ayahnya.
            “ Siap..laksanakan.” jawabnya lucu.
            Setelah menitipkan si kembar pada si sulung, aku dan suami menembus dinginnya pagi. Berrrr…, masyaallah dingin banget Bandung hari ini, keluhku dalam hati.
            Sepulang dari dokter, aku langsung jadi pasien di rumah. Melihat kondisiku yang lemah, suami memutuskan ambil cuti. Seharian dia jadi ibu rumah tangga, mulai dari sapu lantai, menyiapkan makanan sampai cuci piring. Karena hobinya beres-beres, Nenab pun mengajukan diri membantu ayahnya beres- berer kamar tidurnya dan ruang tengah. Hanya urusan baju kotor yang tidak tersentuh oleh mereka berdua. Biarlah, masih bisa besok di giling di mesin cuci.
            Disekolah, Nenab bercerita pada gurunya tentang kondisiku yang sedang sakit. Memang, dari laporan gurunya, Nenab lebih perhatian dan banyak bercerita dibanding Zuhdi. Dia juga mudah berempati dengan teman – temannya. Tapi juga sangat tegas dan kuat pendirian. Makanya, anak yang terkenal ‘jegger’ di sekolahnya saja sampai tidak berani menggodanya.
            Di akhir pertemuan, Nenab meminta guru dan teman – temannya berdoa buatku. “ Ya..Allah, sembuhkan sakitnya Ibu Nenab, amin..”***

 Tahun 2010
            Alhamdulillah, Allah menitipkan amanah lagi di rahimku. Nenab menunjukkan perhatiannya dengan cara unik. Setiap siang, setelah makan, dia akan menghampiriku yang sedang beristirahat sambil menenteng buku cerita. “ Hai adik bayi…, ini kakak Nenab. Kalo sudah besar aku pengin jadi dokter. Nah..yang sehat ya..Mau dibacakan cerita??” Ujarnya sambil mengelus perutku lembut.
            Dia juga yang selalu perhatian dengan pola makanku. Setiap kali waktu makan berlalu dan dia belum melihat aku memegang piring, dia pasti protes. “ Kok, Ibu belum makan, kasihan adik bayinya bu.., pengin maem tuh…”
            Tapi, tetap saja ada temanku yang memberi penilaian ‘agak berbeda ‘dari saudara – saudaranya. “ Ogo..( manja ) dan sulit dimengerti..!”
            Aku hanya tersenyum. Wajar – wajar saja kan orang memberi pendapat.
            “ Sebenarnya, dia terlihat judes karena bentuk mulutnya yang melengkung ke bawah. Mungkin karena waktu di kandungan dia memang jadi objek penderita kembarannya. Saat di USG dia sering terlihat kepukul atau ketendang. Bahkan pernah satu kali USG, kaki Zuhdi nangkring di keningnya hehehe, lucu tapi kasihan juga lihatnya.”
            Ohhh..gitu..
            “ Tapi dia mempunyai hati yang sangat cantik, senyum yang manis, ramah dan penuh empati. Jadi gak perlu operasi bentuk bibir kan..?”****

Untuk Nenab: Bunga kenikir ibu yang cantik dan penuh percaya diri. Walau cantikmu tak menghiasi jambangan, tapi menjadi penyejuk mata di tepi jalan. Semakin banyak orang yang mengetahui keunikan dan kelebihanmu, makin banyak cinta yang hadir dalam kehidupanmu. Selamat mengejar mimpi- mimpimu, Nak.
 By: Ayesha Elhimah ( pernah diikut sertakan dalam sebuah lomba menulis, tapi tidak lolos hehehe )