Jumat, 30 Mei 2014

Nikmatnya Syukur, Betul- betul Syukur Membawa Nikmat


Huaaa...ternyata sudah akhir Mei. sebelum tanggal berganti ke bulan Juni, baiknya aku ceritakan tentang buku antologi yang kugawangi ini. Buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama ( Mei 2014 on book's Store). Hasil kerjasama dengan Indscript Creative. Merupakan kumpulan kisah- kisah inspiratif tentang syukur. Nah, kebetulan aku dipercaya untuk menjadi PJ ( penanggung jawab).

Alhamdulillah, audisi terlaksana dengan cukup meriah ( hehehe walau tanpa teropet dan kembang api ya...). Naskah yang ikut diluar ekspektasiku sendiri. Maklum lah, aku merasa siapa lah aku ini. Penulis pemula yang unyu- unyu yang miskin pengalaman. Grogi, keder dan tentu saja bingung. Banyak naskah yang bagus. banyak pula naskah yang bikin kepalaku puyeng saat membacanya ( upss..hehehe). makin bingung saat pilihan yang bagus melebihi kuota naskah di buku, glek...!!

Akhirnya kukumpulkan naskah- naskah yang termasuk ciamik ke dalam berbagai tema. Jika ada yang sama, maka aku pilih yang ceritanya mengalir dan enak dibaca. ada juga beberapa naskah yang secara alur cerita bisa dikatakan jungkir balik hehehe..., tapi karena idenya lain dari yang lain, aku memilihnya dan meminta ijin untuk memoles atau mengeditnya. Cling...aku kirim lagi ke pemilik ide dan kebanyakan sih setuju dengan polesanku. "Wah...Mbak, naskahku kok jadi bagus gini. jadi mewek sendiri pas bacanya....," komentar satu kontributor yang membuat aku senyum- senyum girang. Alhamdulillah...

memang menulis cerita inspiratif kadang susah- susah gampang. apakah harus dengan kata- kata indah layaknya puisi, atau langsung to the point menyampaikan pesan yang ingin disampaikan. kalau ditanya seperti itu, jujur aku yo bingung hehehe. Tapi kalau baca cerita inspiratif di koran, majalah, atau buku biasanya aku lebih suka cerita yang ringan tapi penuh makna. Tidak terkesan menggurui, tapi mampu membuka hati pembacanya. Misal ingin menulis kisah inspiratif tentang ibu, maka pikirkan hal yang paling berkesan tentang sosok ibu. bisa ibu yan pekerja keras, bisa juga ibu yang mandiri atau ibu yang selalu menjadi pengayom anak-anaknya. intinya, tidak perlu banyak pesan dalam kisah yang kita tulis.

Audisi sudah selesai dan terpilihlah 32 cerita yang sebagai kontributor buku storycake kali ini. Terpilih juga tiga cerita terbaik. Aku pilih karena tiga- tiganya memiliki ide - ide yang unik. satu tentang bangkit dari keterpurukan, satunya tentang cerita ringan saat bercengkrama dengan ibunda via telepon dan cerita mengharu biru dari seorang penderita kanker yang penuh syukur. Nah, dah mulai penasaran kan...hehehe.

Menjadi PJ memberiku banyak pengalaman.dari mulai mengedit  naskah- naskah sesuai keinginan penerbit, menjawab pertanyaan kontributor 'kapan buku terbit' hehehe ( jadi inget, dulu pas jadi kontributor juga melakukan hal yang sama wakakakak), dan ini kadang yang suka bikin mata panas. masalahnya bukan mendengar lewat telinga, tapi membaca inbox hehehe. jadi yang panas mata.

Sesudah buku terbit pun, tugas PJ masih lanjut mengirim bukti terbit ke seluruh kontributor yang ternyata tempat tinggalnya merata seluruh Indonesia. Ada yang lancar jaya, ada juga yang salah alamat hingga harus nginep berhari -hari di kantor pengiriman paket. Deg- degan kalau sudah ada kontributor yang inbo atau sms paket belum keterima padahal sudah dikirim hampir seminggu yang lalu, olala...rasanya kepala kayak ketimpa beras sekarung :), positifnya, jadi akrab sama mbak- mbak di kantor jasa pengiriman ( karena seringnya bolak- balik kirim buku- eh gak nyambung ya...

Oh iya, saat menulis Storycake- Nikmatnya Syukur ini aku lagi hamil si bungsu ( Omar - sekarang 15 bulan). godaaannya pasti rasa malas, emosi naik turun dan gak bisa begadang hehehe. Padahal menjelang menit- menit ditutupnya audisi banyak yang kirim naskah. jadi kudu bisa jaga staminta mantingin komputer dan ngedit. Alhamdulillah, keluarga mendukung banget. Tak lupa teman- teman yang sering jadi tempat curhat dan bertanya, makasih ya fren....

Intinya, dari kesempatan menulis Storycake- Nikmatnya Syukur, banyak sekali pelajaran dan nikmat yang kudapatkan. Subhanallah, semoga buku ini selalu mengingatkan terutama untuk diri sendiri agar senantiasa bersyukur dalam menjalani hidup ini.

 Dan....jreng..jreng..jreng..., Alhamdulillah buku ini sekarang sudah nangkring di Gramedia dan toko buku lainnya lho. Buku sederhana, tapi insyaallah penuh makna. Nah, bagi yang mau gratisannya..hehehe, tunggu di mendadak kuis di IIDN ya. Ini tampilannya...so sweet kan...^^





Kamis, 09 Januari 2014

 Karena Tidak Ada yang Sia-sia





"Do'akan saja bu, nasib kami berubah. rezeki kami akan lebih baik. Bosen juga setiap bulan gali lubang tutup lubang..." Keluh seorang sahabat yang langsung kuamini.

Saat ini, aku memang harus lebih banyak bersyukur.   Kondisi keuangan keluargaku termasuk cukup.  lebih bersyukur lagi karena dalam beberapa kesempatan aku dan suami masih  bisa mengirim beberapa rupiah ke Mamah ( ibuku)  dan Bapak mertua. Karena beberapa tahun kebelakang pun, kondisi keluargaku termasuk kekurangan. Kadang saat menerima gaji dari suami bingung sendiri. Karena banyaknya pos- pos yang harus tertutup. Ujung- ujungnya yang tersisa di tangan hanya sekian ratus ribu rupiah yang harus cukup untuk sebulan. Bingung saat melihat kebutuhan gizi empat anak yang masih dalam masa pertumbuhan. belum lagi saat harus ada pengeluaran tambahan seperti sakit atau iuran ini itu dari sekolah si sulung. Hemm...rasanya menyesakkan dada. Bikin pusing sampai ubun- ubun.

Pernah suatu hari aku betul- betul kehabisan uang. sejak pagi aku sudah bilang ke suami tentang kondisi ini. Suamiku hanya diam, mungkin dia sedang berpikir mau cari pinjaman kemana lagi nih hehehe. melihat reaksinya, buru- buru aku bilang," Insyaallah ada rezeki Yah, usaha saja yang terbaik..."
Suami pun kembali terlihat bersemangat. Jujur saja, aku lebih takut kalau suamiku pergi kerja dalam kondisi pikiran kalut. saat- saat seperti itu biasanya setan demen banget menggoda untuk berbuat salah. Entah itu menggambil hak orang lain, mencuri atau bohong sana sini. Waduh..., bahaya....bisa- bisa aku memasukkan bara api neraka ke perut anak- anakku. ihh...ngeri....kan!

Suamiku pun pernah harus berpanas- panas di tengah teriknya matahari. Berjalan kaki, turun naik angkot untuk mengerjakan sebuah proyek. Kejadiannya pas banget di bulan puasa. Dia berharap hasil proyekan kali ini bisa dipakai untuk berlebaran bersama keluarga.  "Alhamdulillah Bu, Ayah gak sampai batal puasa. Masyaallah panasnya.... ." Nyes..., hatiku makin sakit. Ya Allah...., kali ini asli aku langsung mewek sambil terus berdo'a agar semua usaha suamiku diridhaiNya.

Aku pun makin paham susahnya cari uang. Makanya, saat membelanjakannya pun mikir berkali- kali. Penting, perlu, mendesak atau tidak. Kalau tidak, beli saja yang betul-betuk kebutuhan pokok. Kudu pinter memilih maka kebutuhan pokok, sekunder dan tersier, agar lumbung tidak bocor. Syukur- syukur bisa nabung walau receh- receh di celengan. Minimalnya saat uang yang lembaran habis, masih bisa kodok- kodok celelngan untuk sekedar membeli tempe hehehe....

Aku juga jadi tidak suka jajan. Dan kebiasaan itu aku tularkan pada anak- anakku. Sebisa mungkin kubuatkan kue atau cemilan yang sesuai dengan dompetku. Entah itu bubur kacang hijau dengan kuah berlimpah. Atau pisang berlumur susu kental manis tanpa keju. Bisa juga bala- bala atau bakwan minus udang. Karena hanya ada wortel, kol kadang dicampur buncis sebagai pemanis.

satu lagi hasil dari perjalanan hidupku, bahwa lihatlah yang dibawah kita agar selalu bersyukur. Ternyata, masih banyak orang yang hidupnya jauh lebih susah dari kondisi diri. dan itu terus terbawa sampai sekarang, walau kondisiku sudah jauh lebih baik, paling tidak suak melihat ke atas. Takut malah gelisah dan stress hehehehe. " Syukuri apa yang ada aja, itu jauh lebih menyenangkan," ujarku setiap kali mendengar anak- anak mengeluh karena tidak bisa jajan seperti teman- temannya.

Kembali ke kisah temanku, saat ini pun aku yakin sekali banyak juga yang masih dalam kondisi kekurangan. Bukan mau sok menasehati apalagi sok mengugurui,  tapi mungkin satu hadist ini bisa menginspirasi. bisa menjadi pengingat bahwa Allah Maha Adil dalam hal apapun terhadap ummatnya. Bahwa mengurangi keluhan itu jauh lebih baik dari pada mengobral kesusahan ( apalagi obralnya di media sosial hadeuhh..empet deh bacanya juga). Bahwa memperbanyak pengharapan jauh lebih disukai oleh pemilik Kekayaan dan Yang Maha Kaya, Allah Al Ghani.

"Sesungguhnya diantara dosa- dosa ada yang tidak bisa ditebus ( dihapus) dengan pahala shalat, sedekah, atau haji. Namun hanya dapat ditebus dengan kesusahpayahan dalam mencari nafkah." (HR. Thabrani).

Nah, jadi tambah semangat mencari nafkah yang halal untuk keluarga kan kawans...Insyaallah, walau rezeki berupa materi belum ada di tangan saat ini, tapi mudah- mudahan terhapusnya dosa- dosa membuka keridhoan Allah untuk membuka pintu- pintu rezeki buat diri dan keluarga. Yakinlah, tidak ada yang sia- sia, tidak ada yang tidak bermanfaat. lagi pula, hapus deh gambaran kalau rezeki itu hanya uang or materi semata. Bukankah kita bisa melihat senyum anak- anak dan pasangan juga sebuah keberkahan?


Wallohua'lam bishowab.
Inspirasi jum;at mubarrok- by: Ummu Ayesha ( ayesha El himah)

Jumat, 06 Desember 2013

Jejak Tulisan....

Alhamdulillah, akhirnya buku pertama yang kunanti- nanti terbit juga. Secara, menunggunya cukup lama. Hampir setahun setengah lho! Tapi, semua terbayar dengan senyum dan ucapan syukur bahwa akhirnya buku itu bisa terbit dan beredar di toko buku.

Buku ini memang istimewa bagiku. Berawal, dari kesukaanku membacakan cerita buat anak - anak sebelum tidur. Lalu, aku pun sering membeli buku- buku untuk anak-anak sesuai dengan misiku. misal, saat Ayesha yang kurang sabaran dan sering buru- buru, aku pun membeli buku anak- anak tentang sifat sabar. Atau saat Aa Zuhdi sudah mulai suka pakai sarung, aku belikan juga buku tentang kegembiraan anak bisa memakai sarung sendiri.

Awalnya, di manajemen penulis yang kuikuti ( Indscrpt Creative ) membuka kesempatan untuk menulis buku anak .Waktu itu judulnya sudah ada yaitu 40 Kisah Pengantar Tidur Islami. Dan..., tentu saja, ada rasa ragu- ragu, bisa enggak ya. secara selama ini outline yang aku buat tidak ada yang gol satu pun. Maka aku pun mulai membaca- baca buku- buku yang sudah aku bacakan untuk anak- anak. Dan ..., aku pun mulai terbayang seperti apa buku pengantar tidur itu.

Agar berbeda dengan yang lain, aku pun memasukkan kisah beberapa Nabi. Bismillah..., kikirim outlineku. dan ternyata butuh tiga kali kirim karena ada beberapa kendala teknis. Entah itu intenet yang ngadat atau ternyata sudah terkirim tapi di sana gak diterima. Aku berusaha berpositif thingking aja. Mun tos rezeki moal kamana ( kalau sudah rezeki ) tidak akan kemana. yang penting sudah berusaha maksimal dan beda dari yang lain hehehe..sambil kipas- kipas tentunya :)

Buku untuk anak, bergenre dongeng atau kisah. Cocok sekali dibacakan pada anak- anak. seperti sudah diketahui, bahwa membacakan cerita atau dongeng sangat bermanfaat membangun karakter anak. Apalagi jika ceritanya penuh nilai- nilai positif yang ingin ditanamkan pada anak. Dalam buku ini , 40 Kisah Pengantar Tidur Islami, insyaallah banyak nilai- nilai akhlak mulia yang bisa diambil. mulai dari kisah tentantang kejujuran, kemuliaan, pengorbanan hingga keberanian. kelebihannya cerita ini diambil dari kisah para pelaku sejarah yang sudah tercatat baik dalam Al-Qur'an maupun kisah- kisah para shahabat dan thabiin.

Yakin deh, bahwa waktu-waktu istimewa yang antara ibu, ayah dan anak akan bisa  tercipta dengan membacakan cerita penuh hikmah ini. So...tunggu apa lagi, segera dapatkan buku ini di gramedia dan book's store lainnya.

Jumat, 28 Juni 2013

Cermin dari Sahabat

bagiku, yang sudah mengalami persalinan lima kali, tetap saja melahirkan itu menegangkan. Excited memang, awesome juga. bayangkan saja, tubuh yang sudah lelah seharian- bahkan bisa jadi lebih- menahan sakit kontraksi, ternyata masih bisa mengejan dan mengeluarkan si buah hati. itu lah mengapa setiap kali melahirkan, aku tetap ingin didampingi suami. Bidan atau dokter yang mendampingi pun harus yang aku percaya. karena melahirkan tetaplah sebuah pertaruhan nyawa. Dan jika kondisi terburuk menimpaku saat melahirkan, minimalnya aku ingin orang- orang yang kupercayalah yang ada disampingku.

Kondisi yang jauh berbeda justru dialami sahabatku. Dia hamil dan melahirkan di negeri asing. Perempuan kuat ini pergi mengambil gelar S2 dan S3 tanpa sadar ada makhluk mungil yang dititipkan Allah di rahimnya. mengalami masa ngidam di tengah bekunya musim dingin. Sementara suaminya masih di tanah air dan baru berencana menyusul tahun depan. O lala.., acung jempol sekaligus prihatin. Kagum pada ketegarannya dan juga tekatnya. Tapi juga prihatin atas kesendirian yang dirasakannya.

Setiap kali kami berkomunikasi yang hanya bisa lewat chatting, tak pernah sedikitpun dia mengeluh. Sesekali dia bertanya tentang yang sedang dirasakan dan cara antisipasinya. Misal, ngemil apa ya yang bisa mengurangi mual? atau sampai kapan biasanya mual - mual akan mereda?

Satu kesempatan aku pernah bertanya, beratkah menjalani semua ini? dia hanya menjawab singkat, "Insyaallah saya kuat, Teh. tolong do'akan saya kuat...kuat menjalani semua pilihan ini." sebuah jawaban yang membuat tak satu huruf pun mampu saya ketik untuk membalasanya.

Aku pun teringat beberapa teman yang lain yang kadang terkesan 'repot'saat hamil. Padahal kondisi mereka sangat nyaman. Suami ada dan siap mengantar periksa ke dokter atau bidan. Jika ingin ini tinggal bilang, ingin itu tinggal ngomong. Bahkan saat ingin istirahat ada orang tua atau mertua yang siap menampung. Semua perhatian tercurah pada kehamilannya. Namun yang terjadi tetap saja merasa kurang, merasa lemah hingga terkesan manja yang ada.

Ya, memang hidup ini penuh pilihan. Mestinya tak perlu mengeluh dan berkoar- koar saat pilihannya itu membawa pada kesusahan. Bayangkan saja itu sebagai harga yang mesti dibayar untuk sesuatu yang kita inginkan. Apalagi bagi yang keinginan yang sudah direncanakan, mestinya sudah juga dipersiapkan resiko  yang bisa didapat. 

Kini, hari- hari bergerak mendekati waktu perkiraan lahir bagi sahabatku. Aku pun makin sering menghubunginya. Menanyakan kabar dan kondisinya.  Biasanya saat- saat ini perempuan hamil sudah makin susah tidur. Bisa jadi karena posisi tubuh yang sudah tidak nyaman juga pikiran tentang persalinan yang memicu stres. Hanya do'a yang bisa kukirim, semoga persalinannya lancar, bayi dan ibunya selamat tak kurang suatu apapun.***

Senin, 22 Oktober 2012

Setetes Embun

Belajar dari Hajar, Belajar Tegar dan Mandiri

            Sore itu, tiba- tiba teman saya berkata,”Rasanya, saya belum menjadi istri yang mandiri deh.”
            “Oh ya..? Kenapa?” tukasku setelah meneguk sisa air di cangkir.
            “ Apa- apa harus sama suami. Belanja mesti sama suami. Urusan kran bocor, genteng pecah atau yang sepele seperti air dispenser habis saja harus suami turun tangan. Apalagi untuk urusan yang gawat seperti anak sakit. Saya enggak bisa ngebayangin kalau harus bawa anak sakit ke dokter atau rumah sakit sendirian. Kalau dipikir- pikir apa aku ini manja banget ya..hihi.”
            Saya hanya terdiam. Kata- kata teman saya mengingatkan pada episode- episode saat suami harus dinas keluar kota selama hampir satu bulan lebih. Bagi saya yang biasa melihat suami ada di rumah, minimalnya saat jam kantor selesai tentu bukan perkara mudah. Apalagi sejak suami pergi ada saja kejadian di rumah. Dari mulai gas habis, persediaan beras yang menipis sampai si sulung yang waktu itu harus daftar ke SD. Yang paling membuat bingung tentu saja tiga anak yang kompakan sakit gondongan.
            Mengeluh, rasanya tidak ada waktu untuk mengeluh. Untuk mengabari suami kondisi di rumah saja sudah tidak tega. Setiap malam saat dia menelepon saya selalu bilang kondisi rumah aman terkendali. Itu saya lakukan agar dia tenang dan konsentrasi dengan tugas- tugasnya. Ketika anak- anak sakit saya juga cuma cerita semua sudah ditangani. Sudah ke dokter dan dapat obat. Suami waktu itu hanya berhamdalah dan minta maaf, karena saya harus mengurus semua sendirian.
            Jangan tanya kerepotan dan pusing yang saya alami. Bolak- balik ke dokter dengan ojek, begadang karena rintihan anak yang deman, atau pagi- pagi harus memasak bubur karena membuka mulut saja mereka kesakitan. Belum lagi mencari sekolah yang tepat untuk si sulung mengharuskan saya keluar kompleks dan turun naik angkot. Saya juga harus memutar otak dan mengnencangkan ikat pinggang karena pengeluaran yang tiba- tiba membengkak. Duh…, saya juga tidak memungkiri kalau sempat menangis dan mengeluh sama Allah SWT. Tapi waktu itu yang terlintas dalam pikiran adalah ini tugas saya, tugas sebagai kepala rumah tangga yang saat itu sedang dititipkan suami. Bismillah laa haulaa walaa quwwaata illaa billah, hanya itu penyemangat saya waktu itu.
            Dari kejadian itu saya memahami, menjadi istri yang mandiri bisa jadi menjadi suatu keharusan.  Seorang istri bukan hanya pendamping suami, yang hanya mau dipimpin, diatur, diayomi dan dibantu dalam tugas- tugasnya. Perlu dipahami bahwa seorang istri adalah pimpinan di rumah yang tugasnya mengatur rumah. Artinya, segala sesuatu urusan rumah termasuk anak menjadi tanggung jawabnya. Dalam sebuah hadist, Rasulullah pun mengingatkan bahwa setiap manusia akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Dan seorang istri akan diminta pertanggung jawaban tentang rumahnya ( yang menjadi wilayah kepemimpinannya).
            Profil istri mandiri yang bisa dicontoh sangat jelas pada sosok Hajar, istri Khalilullah Ibrahim as. Dimulai dari dia dan bayi Ismail dikirim Ibrahin ke tempat yang jauh dari kehidupan. Yang masih sepi dengan bekal seadanya. Tentu saja Hajar bukanlah tipe istri yang banyak mempertanyakan keputusan suami. Saat melihat tekad Ibrahim, Hajar sudah tahu bahwa hijrahnya dia dan Ismail ke tanah Bakka adalah perintah Allah SWT. Hajar membuang jauh- jauh prasangka dan kecurigaan yang biasanya lekat dengan perasaan wanita. Hajar tidak menanyakan apakah Ibrahim semata- mata ingin mengucilkannya. Hanya satu pertanyaan Hajar pada Ibrahim,” Apakah ini perintah Allah, wahai suamiku?”
            “Betul.”
            “Kalau begitu, saya yakin Allah pasti akan menolong.” Jawab Hajar yakin.
            Subhanallah, itulah Hajar yang disandingkan Allah dengan hamba kesayangannya. Kualitas Hajarlah yang membuatnya terpilih untuk menjadikannya  sebagai pendidik Ismail as. Ketegaran Hajar dalam menunjukkan kemandiriannya menjalankan tugas dan skenarioNya diabadikan dalam setiap kucuran air zam- zam, juga dalam setiap langkah sa’i antara Shafa dan Marwah.
            Kalau melihat kondisi sekarang ini, tentunya kondiri Hajar waktu itu bisa jadi seratus kali lebih berat. Dia berpisah dengan Ibrahim bukan untuk hitungan sehari, seminggu. Dia harus mandiri hampir untuk belasan tahun. Mengingat hal itu rasanya malu jika hanya ditinggal suami dua malam saja membuat istri- istri mengeluh, uring- uringan. Ditambah peralatan komunikasi sudah canggih. Angkot, taksi dan ojeg juga mudah sekali di dapat. Dokter, balai pengobatan dan apotik juga bukan barang langka. Belum lagi layangan pesan antar yang memudahkan kita memesan apapun tanpa beranjak dari rumah.
            Ya.., menjadi ibu dan istri di masa kini memang lebih mudah. Banyak sekali bantuan dari mulai bantuan tenaga maupun alat yang bisa meringankan tugas- tugas kerumahtanggan. Mestinya itu membuat istri- istri semakin mandiri dan bisa melejitkan potensi- potensi terpendam yang dimilikinya. Hingga dia lebih berkarya untuk keluarganya atau untuk masyarakatnya.
            Maka, belajarlah dari Hajar. Belajar menjadi tegar dan mandiri. Menjadi istri yang tidak selalu bergantung ke suami. Tapi menjadi seorang istri yang bisa dipercaya untuk tugas- tugas hebat dalam hidupnya. Wallohua’lam bishowab.***( Ayesha El Himah)

Minggu, 14 Oktober 2012

Hakikat Qurban

Aku Mau Berqurban


Alhamdulillah wa syukurillah, sebentar lagi umat islam akan bertemu dengan moment qurban ( Idul Adha). Qurban secara fikih adalah menyembelih hewan sembelihan. Menurut bahasa qurban berasala dari kata taqorrub yang berarti mendekat. Maka berkorban hendaknya tidak saja dimaknai dengan ritual menyembelih hewan qurban tapi juga dilandasi dengan niat untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. karena itu juga yang dicontohkan oleh pelaku berqurban dalam sejarah manusia.

Qurban dikenal pertama kali dalam kisah Habil dan Qabil. Kedua putra Nabi Adam as ini diuji ketaatannya pada sebuah perintah Allah tentang pernikahan. Maka saat Qabil merasa tidak puas dengan aturan Allah, turunlah perintah qurban. Qabil yang sejak awal curiga terhadap aturan Allah, maka berkorban dengan hasil pertanian ala kadarnya. Dia tidak memberi yang terbaik bagi Allah. Sedang Habil yang sejak awal berhusnudzon akan aturan Allah, berkurban dengan ternak yang terbaik yang dimilikinya. Sejarah mencatat bahwa qurban Habillah yang diterima Allah SWT.

Pelajaran yang sama juga bisa didapat pada moment qurban yang dilakukan oleh keluarga Ibrahim as. Dalam QS. As Shaff  ( 37 ) :100- 108 . Sungguh, ujian kali ini terasa berat bagi Ibrahim. Dulu, saat dia baru mendapat keturunan yang selama ini didambakan, dia sudah diperintah memindahkan Ismail dan hajar ke Bakka ( kini menjadi Mekkah ) yang tak berpenghuni. Tanpa banyak bertanya, Ibrahim membawa keluarga kecilnya sesuai perintah Allah dengan bekal seadanya. Hanya karena yakin akan pertolongan Allah, Ibrahim rela meninggalkan Hajar dan bayi ismail di bawah sebuah pohon kurma. Ujian ini berhasil dilalui Ibrahim. Kini, setelah beberapa tahun berlalu, ujian Allah datang lagi. Kali ini perintah untuk menyembelih Ismail yang sangat dicintainya. Sekali pun berat, Ibrahim tetap melaksanakannya. didukung oleh Hajar yang sholehah dan Ismail yang sabar maka tugas berat itu pun sukses dijalani. Jangan bayangkan tak ada aral melintang yang menghadang. Bahkan syaitan laknatullah berkali - kali menggoda Ibrahim, Hajar dan Ismail. Hasilnya, Allah pun ridha dengan pengorbanan Ibrahim dan mengganti Ismail dengan hewan sembelihan yang baik, subhanallah.

Seandainya, Ibrahim adalah pribadi yang tidak taat, tak mungkin ujian itu datang padanya. Karena ujian semata- mata diturunkan bukan untuk membuat manusia susah, tapi semata- mata agar pertolongan Allah datang kepadanya. Allah juga menurunkan ujian hanya pada orang- orang yang dikasihinya. Yakinlah, tidak mungkin Allah menyakiti hamba yang dicintai dan dikasihinya. Hanya saja, Allah ingin melihat seberapa besar kadar kecintaan hamba tersebut. Ibrahim as berhasil menunjukkan bahwa kecintaannya kepada Ismail ( anak semata wayangnya saat itu ) tidak membuat kecintaan kepada Allah berkurang. Bahkan Ibrahim berhasil menularkan keyakinannya kepada Ismail dan Hajar.

Bandingkanlah dengan kita yang kadang lebih mencintai yang nampak dari pada Allah. kita lebih banyak menghabiskan pikiran dan perhatian untuk dunia, hobi, anak, harta, lawan jenis maupun usaha yang ditekuni. Kalaupun kita menunjukkan perhatian pada Allah SWT, hanya sekedar pada ritual yang dilakukan tanpa ada hikmah yang didapat. kita juga sering sekali suudzon dengan aturan Allah. Bedaaa sekali dengan nabiyullah Ibrahim yang tidak pernah banyak bicara dalam menerima perintah Allah. Pantas, kalau pertolongan Allah juga terasa jauh...jauh..sekali.

Dalam QS. Alkautsar ( 106 ) : 1-3 , dijelaskan hakikat lain dari berkurban. Bahwa berkurban adalah sebentuk syukur atas karunia Allah yang tak terkira yang selama ini kita rasakan. bersyukur bukanlah perkara yang mudah. Karena sering kali kita merasa keberhasilan yang kita rasakan semata- mata buah kerja keras selama ini. Saat mendapati anak lulus ujian, kita melihatnya hasil dari ketekunan belajar dan buah les sana sini. Bahkan seringkali kita merasa menjadi manusia yang paling susaaah di dunia. Seringnya kita juga merasa kurang dengan rezeki yang diberikan oleh Allah. hidup selalu kurang...kurang...dan kurang.

Maka, mulailah merunut nikmat yang Allah berikan dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Maka kita akan melihat tidak ada satupun kejadian yang tidak perlu disyukuri. Bahkan untuk kejadian yang bisa membuat kepala cekot- cekot atau hati cenat- cenut pun akan membuat kita bersyukur. Apalagi dengan nikmat iman yang masih ditetapkan Allah dalam diri kita. Bayangkan jika iman sudah tercabut, apa yang akan kita dapat dari kehidupan ini? Naudzubillah...

Karena itu, aku mau berkurban.., ya...kita harus menanamkan niat itu dalam- dalam. Hingga tidak ada beban saat melaksanakannya. Juga bukan sekedar ritual yang hasilnya decak kagum saja. Tapi kita menyadari semua ini sebagai bentuk tasyakur binikmah. semoga dengan senantiasanya kita berkurban maka kita pun layak mendapat gelar muttaqin di hadapan Allah.karena manusia yang bertaqwa adalah manusia yang berbahagia. Hidupnya jauh dari resah, gelisah, galau dan takut. Saat mendapat nikmat Allah dia akan bersyukur, tidak akan berlebihan dalam kegembiraan. Demikian pula saat musibah dan ujian datang, dia tidak akan mencari kambing hitam, dia akan memilih untuk bersabar. Jiwanya yakin sepenuhnya bahwa tidak ada suatu kejadian pun yang terjadi dalam kehidupannya tanpa izin dari Allah SWT. Orang bertaqwa adalah manusia yang jiwanya tenang, tidak resah dan iri pada nikmat yang didapat oleh saudara- saudara, saingan apalagi musuhnya.

So.., apalagi yang menghalangi kita untuk mentaati Allah? Sungguh tidak ada...ya..aku mau berkurban dan akan terus mengupayakan semampuku. Karena aku yakin Allah akan memampukan. Wallohu'alam bishowab. ( Renungan mendekati moment Idul Adha 1433 H )

Selasa, 09 Oktober 2012