Jumat, 17 April 2015

Coba KMJM untuk Mengobati Batuk

 Baru-baru ini saya dapat resep alami untuk obat batuk. Hasil curhat dan chatting sama kakak ipar. jadi ceritanya pada saat itu keponakan saya sedang batuk. Oleh sang ibu, si anak sudah diberi obat batuk andalan mereka. "Biasanya sih, kalau sudah dikasih obat itu, langsung sembuah. Lha... ini sudah habis sebotol malah gak mgepek."

"Ke dokter aja atuh...!"

"Sudah..., sudah dapat obat dan sudah hampir habis juga. Demam, pilek dan lemesnya dah hilang. Cuma batuknya itu yang bandel. Awet banget."

Memang, batuk itu terkesan penyakit biasa. Dan sepetinya sudah menjadi kebiasaan masyarakat kita, kalau batuk ya langsung beli obat yang biasa di lihat di layar kaca. Dan seringnya si batuk ini betah banget di badan. Sudah sampai berbagai macam obat dicoba, tetap saja ogah pergi. Apalagi jika si kecil yang terkena batuk. Wah..., sebagai ibu saya sering senewen dan stress saat jam minum obat. Harus pintar beradu siasat dan juga strategi. belum adu otot kalau ternyata si anak main tutup mulut, huff...! Hasilnya, obat yang sudah didapat dengan susah payah seringnya malah tumbah di baju dan menjadi sia-sia.

Tapi, tetap saja kan kalau sakit usaha yang harus dilakukan ya berobat selain minta kesembuhan pada Allah. Karenanya saya ingin obat yang memang enak dan disukai anak-anak. Plus tanpa efek samping dong ya. Seringnya, saya merasakan efek enggak nyaman setelah mengkonsumi obat-obatan kimia. Perut jagi begah atau malah melilit. Belum lagi badan tiba- tiba ngedrop.  Dan ternyata itu bukan hanya saya yang merasakan, tapi juga suami dan anak-anak.

Dari situ lah saya melirik kembali obat-obatan tradisional, seperti jamu atau madu. Ketika sudah mulai bersih-bersih dan tidak enak badan, saya biasanya langsung mengkonsumsi madu dua sendok. Kalau tenggorokan sedkit gatal tambah beberapa tetes air perasan jeruk nipis. Atau kalau ingin minuman segar yang menjaga stamina, tinggal masukkan jeruk nipis ke teh hangat. Subhanallah..., tak berapa lama, badan terasa segar kembali.

"Nah..., itu juga yang kemarin dikatakan si perawat di puskesmas. Dia malah memberi Mbak, resep jamu kunyit mengkudu jeruk nipis dan madu."

"Iya, Mbak. Kalau di sini ada yang batuk saya sih biasanya pake madu dan jeruk nipis. Pengencer dahak alami, atau ekspektoran alami." Tambah saya. "Alhamdulillah anak-anak gak susah kalau minum itu."

"Oh bukannya kecap ama jeruk nipis?"

"Itu juga bisa, tapi enakan minum madu. kalau kecap enaknya dimasukkan ke masakan hehehe." Saya mencoba bergurau, "Eh..bikin jamu KMJM mudah enggak?"

"Eh... jamu apa itu?" Mbakku malah bingung.

"Ya, tadi kunyit mengkudu madu jeruk nipis," Saya malah ngakak betulan.


" Oh.. gampang banget, ambil kunyit secukupnya, kupas parut dan peras airnya. Parut mengkudu atau pace muda, secukupnya saja. Lalu peras dan tambahkan ke air kunyit. Masak, sampai mendidih. Beri beberapa tetes air jeru nipis dan sesendok madu. Minumkan setelah jamu hangat. Rasanya enak sekali di tenggorokan. Tidak pahit, seger malahan."

Dan ternyata setelah baca sumber ini itu, saya jadi tahu kalau buah mengkudu itu memang penuh khasiat, subhanallah. Bisa untuk mengobati hipertensi, batuk, kulit bersisik, sakit kuning dan masih banyak lagi. Dan kunyit, si kuning yang sudah biasa jadi bumbu kuning ini memang terkenal banyak manfaatnya. Selain ampuh untuk sakit maag, kunyit ini juga memiliki khasiat mengobati batuk, terutama batuk kering. Sedangkan jeruk nipis, sudah banyak dikenal sebagai pengencer dahak dan juga kandungan vitamin C nya cukup untuk membuat say atahan tubuh stabil.

Sepertinya bagi yang tinggal di kampung sih bahan-bahan tadi sangat mudah didapat. Dulu, di kampung saya, pohon pace atau mengkudu sangat mudah ditemukan. Tak jarang, buahnya yang sudah matang jatuh dan membuat aroma yang bisa membuat hidung berkernyit. Tapi di perkotaan, kalau tidak menanam sendiri atau rasa-rasanya susah untuk mendapatkan buah itu. Apalagi yang masih muda. Bisa saja sih, pesen ke abang tukang sayur hehehe... ( gaya hidup intsan orang kota ).

"Alhamdulillah, sekarang batuk dah sembuh. Dan ternyata kemarin itu amandelnya juga besar. Tenggorokannya merah. Jadi makanan juga harus mulai dijaga nih. Untungnya anaknya dah bisa dinasehatin."

Saya ber-o - ria mendengar penjelasan Mbakyu ku itu. Beberapa tahun yang lalu, satu dari sikembar juga dirujuk ke THT karena amandelnya sudah cukup besar. Mungkin maksud dokter di klinik sekolahnya agar anak mendapat penanganan yang tepat. Kalau perlu operasi ya lakukan. Syukur-syukur masih bisa dengan obat saja.Tapi karena waktu itu kondisi saya tidak memungkinkan bolak-balik antar Kakak Zainab, saya pun searching-searching lah ke internet.  Tak lupa tanya sana-sini agar tidak tersesat ( hehehe). Saya pun memberi minum madu dua kali sekahari, masing-masing dua sendok.

Memang harus sabar dan mau susah dikit. Karena biasanya pengobatan herbal tidak se-cespleng obat kimia. Tapi melihat hasilnya, terbayar sudah semua kelelahan itu...( hehehe... berasa lagi baca novel). Dan Saat diperiksa lagi ke doktrik klinik di sekolahnya, si dokter malah takjub. "Amadelnya dah normal lagi, tenggorokannya juga sehat sekali. Jadi ke dokter THT waktu itu?"

Dan jawaban anak saya seperti yang saya tulis di atas, cukup minum madu setiap hari dan menjaga makanan.
Jadi ingat firmat Allah Swt., yang ini  
"Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia." (QS 16:69) .
Tambahin juga yang ini
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Hendaklah kalian menggunakan dua obat yaitu madu dan Al Qur’an."

Subhanallah...***






Sumber:
http://manfaatbuahdaun.blogspot.com/2014/01/manfaat-dan-khasiat-buah-mengkudu-untuk.html
http://obatbatuk.org/obat-batuk-alami/
dan berbagai sumber.







Jumat, 10 April 2015

Agar Tidak Ada Kata Menyesal

"Nyesel saya dulu gak mau kuliah," Keluh seorang teman
Saya dan seisi mobil spontan kaget. "Emang ngapain aja setelah lulus SMA?"
"Saya milih merit dari pada kuliah."
Kok bisa, pikiran saya muter-muter. Memang, dulu pun pernah terlintas untuk nikah muda. Tapi tetep saja keinginan saya untuk melanjutkan pendidikan sangat besar. Meski jujur saja, saya juga saat itu bingung mau kuliah dimana dan ambil jurusan apa. asli, tidak terlintas dalam pikiran saya waktu itu, sebuah profesi atau pekerjaan yang ingin saya tekuni di kemudian hari.
"Dulu orang tua saya nyodorin uang 5juta, lalu bilang, nih terserah kamu mau kuliah atau nikah. ya saya milih nikah."
"Lha..., kenapa gak milih kuliah?" Jujur saja, saya memang bener-bener penasaran :)
"Karena orang tua dulu kasih syarat, kalau kuliah harus ambil jurusan teknik. padahal saya kan senengnya bagian seni. pengin kuliah ya di bagian seni."
"Masuk aja ke IT*, kan ada jurusan fakultas FS*D." Saya masih ngotot.
"Iya, dulu enggak kepikiran Mbak, jadinya ya nikah dan sekarang pengin banget kuliah. Tapi gak ada uang hehehe."

Obrolan pun berhenti dan kami semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Saya ingat dulu orang tua juga memberi syarat kalau mau kuliah. Syaratnya cukup masuk ke PTN saja, asal negeri mau jurusan apa pun, it's oke. Kalau swasta meski jurusannya ajaib pun Abah tidak akan acc. alasannya cuma satu, ora ana duit ( gak ada uang)!

Dengan persyaratan harus negeri, akhirnya saya pun kuliah di sebuah politeknik di Bandung. Dan tanpa mempedulikan jurusan yang saya ambil, orang tua oke saja. Padahal saya masuk jurusan yang saya sendiri tidak terlalu minat. Jadilah di awal-awal masuk kuliah, saya dapat gelar Putri Salju. Eits, jangan bayangkan itu saya dapat karena tampilan fisik. Karena memang tidak ada mirip-miripnya kok dengan si Snowwhite ( hehehe... tutup muka pake jilbab ), tapi itu adalah olokan dari kakak angkatan yang artinya, putri salah jurusan ( hahahaha ).

Karena sudah terlanjur masuk, saya pun berusaha kuliah dengan baik. Alhamdulillah lulus juga setelah tiga tahun kuliah. Minimalnya, tidak ada perasaan bersalah sama orang tua. Nah, ini lah masalah yang sebenarnya, saya tidak tahu mau kerja apa dengan ijazah yang sudah di tangan. Saat teman-teman seangkatan bersemangat ngalamar ke sana-sini, ikutan proyek ini itu, saya malah asyik membangun mimpi saya menjadi penulis. setiap pagi saya sudah duduk manis di depan komputer ( bukan milik saya,milik saudara ) untuk menulis yang seringnya ngeblank hehehe.

Masalah kedua, uang jatah bulanan tak lagi datang, what a suprise! terpaksa saya pun terjun ke dunia les privat. Mengajar anak SD, SMP, SMA yang saya jalani dari pagi sampai lepas isya'. Demi apa coba, ya demi sesuap nasi dan ada alasan tidak disuruh cepat-cepat pulang kampung. Uang yang saya dapat tidak seberapa, malahan untuk ongkos ngajar saja seringnya kurang. Jadinya saya sengaja jalan kaki, memaksa kaki saya menyusuri jalan kompleks yang gak ada angkot. Ada juga ojeg yang ongkosnya bikin puyeng. kalau enggak becak yang bisa bikin sesak napas.

Tapi saya menikmati aktifitas mengajar ini, bahkan saya merasa ingin sekali menjadi seorang guru. Di mata saya, guru itu keren sekali. Mungkin karena saya terlalu terpengaruh oleh tokoh drama GTO yang super keren itu. Seorang guru yang bukan saja mengajar pelajaran di depan kelas, tapi guru yang memang membuat muris-muridnya semangat mengejar impian mereka. Persis kayak Bu Muslimah di novel Laskar Pelangi ya...

Dan akhirnya, saya pun mendapat kesempatan untuk menjadi seorang guru beneran. Artinya memang mengajar di depan kelas di sebuah sekolah. Walau cuma guru kontrak yang singkat, hehehe. Intinya, saya fokus menjadi guru yang baik, guru yang menyenangkan karena memang saya tidak mau dianggap sebagai guru yang galak. Sampai ketika masa mengajar saya selesai, saya pun pamitan. Dan ini lah yang membuat saya begitu terharu, karena murid-murid justru ingin saya lebih lama mengajar. Wajah-wajah lucu yang biasany sering bikin ulah ajaib, hari itu menangis karena enggan berpisah ( Wew..., hari itu saya juga mewek karena terharu).

Setelah menikah, saya sepakat di rumah mengurus rumah tangga dan anak-anak. Lagi- lagi ada yang membuat saya pusing tujuh keliling. Memang benar, ada kalanya, manusia butuh sebuah pekerjaan atau komunitas untuk menunjukkan eksistensinya. Demikian juga dengan kegelisahan yang saya rasakan. Buka karena ingin eksis atau sekedar diakui, tapi lebih ke arah ingin merasa bermanfaat. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi juga masyarakat.

Saya pun kerap berdiskusi dengan suami, tentang keinginan untuk kembali mengajar. Waktu itu saya merasa passion saya memang di dunia pendidikan. Tapi rupanya, kondisi saya tidak memungkinkan. Dengan si sulung yang baru 5 tahun, si kembar yang menginjak 3 tahun dan si nomer 4 yang masih doyan ASI ( 1 tahun an ) membuat saya tidak bisa beranjak dari rumah. Puff...

Suami lah yang mengingatkan saya pada cita-cita saya dulu, menjadi penulis. Dia menyemangati saya untuk kembali menulis. Dia juga memberikan sebuah komputer yang bisa saya pakai untuk menuangkan ide-ide. Dia juga menyediakan waktu untuk membaca atau sekedar mengkomentari tulisan saya. "Coba tulis hal-hal yang sangat dengan dengan dunia Ibu, dunia muslimah mungkin..."  atau, "Tulisa saya yang ingin Ibu tulis." Ujarnya menyemangati.

Saya hampir menyerah karena memang tulisan saya tidak selesai-selesai. Selalu berhenti di paragraf atau lembar kesekian. Duh..., rasanya makin tertekan. Tapi satu yang membuat saya tidak mau berhenti, adalah saya tidak ingin menyesal kelak. Karena memang saya merasa belum melakukan apa pun. Ibarat berjuang belum sampai titik darah penghabisan. Belum maksimal, bahkan melangkah pun belum, lalu bagaimana saya bisa merasakan pengalaman saat berlari atau terjatuh.

Dan saat saya mendengar kata-kata teman di awal cerita ini, saya bersyukur karena saya dulu tidak memilih berhenti. Berusahalah semaksimal kemampuanmu, hingga saat engkau memutuskan untuk berhenti pun tidak ada penyesalan. Dan satu lagi, jangan takut atau ragu menemukan cita-cita baru. Bukankah sangat menyenangkan punya banyak pengalaman yang bisa diwariskan pada anak-anak mu kelak. Sugoi  ne!***A

Jumat, 03 April 2015

Ini yang Harus Dilakukan Saat Si Kecil Terkena Flu Kulit ( Flu Singapur )



Sebenaranya sudah lama mendengar jenis flu yang satu ini. Teman saya dulu menyebutnya dengan flu Singapur. Pikir saya, jauh-jauh amat ya importnya ( hehe abaikan saja ), ternyata memang di Singapur penyakit ini pernah menjangkit secara luas dan menyebabkan kematian. 

Nah,  tadi pagi teman saya yang lain mengatakan kalau anaknya didiagnosa dokter terkena penyakit flu kulit.  "Seperti umumnya flu, Bu. Dari minggu kemarin, anak saya memang pilek. Demam juga minggu kemarin. Saya pikir pas lihat ada bintik merah di dagunya itu kayak digigit nyamuk atau jerawat. Ternyata makin lama makin membesar dan berisi cairan. Kayaknya gatel, soalnya anak saya garuk-garuk terus." 

 "Oh ya, biasanya memang di dekat sekitar mulut, kuku kaki dan tangan. Sudah diperiksa?" Tambah saya. 

"Iya, bener banget. Di daerah jempol tangannya juga sudah ada bintik merah. Duh..., saya pikir itu kayak kutu kucing atau apa lah... ternyata pas tadi periksa ke dokter flu kulit. obatnya banyak banget, ada 4 botol. ada juga salep untuk mengeringkan bintik-bintik itu." 

Akhirnya saya pun cari-cari sumber dan berusaha menuliskan tentang penyakit ini. hasilnya berikut: 

Dalam istilah kedokteran, penyakit ini disebut juga penyakit KTM ( kaki tangan dan mulut). mengingat memang ketiga daerah itu lah yang terserang virus flu ini. Atau  Hand, Foot, And Mouth Disease (HFMD). Gejala-gejalanya, seperti flu biasa, kadang diiringi demam, bisa juga demam sudah dari kemarin-kemarin. Timbul lepuhan di sekitar mulut, banyak yang menyangka sariawan karena anak-anak akan kehilangan nafsu makan. Biasanya menyerang anak-anak usia dua bulan sampai lima tahun. bahkan sampai usia 10 tahun. sedangkan orang dewasa jarang yang terkena virus ini.

Karena penyebabnya virus sebenarnya akan sembuh jika daya tahan tubuh ( imunitas ) juga baik. Tapi jika memang kondisi anak terlihat lemah dan mengkhawatirkan, sebaiknya ke dokter atau rumah sakit untuk mendapat penanganan yang tepat. misal infus dan obat bila memang diperlukan. Bukan apa-apa Kawan, pengalaman ngasih minum vitamin atau sekedar obat turun panas ke anak itu banyak juga yang akhirnya dikeluarkan kembali. Belum lagi kalau anak susah makan, wah... bisa menguras eneri tuh bujuk-bujuknya.

 Penyakit ini juga bisa menular melalui jalur pencernaan, pernapasan, ludah, cairan vesikel ( cairan dalam bintik atau gelembung yang ada di kulitnya ). Penularan juga bisa melalui kontak tak langsung  seperti melalui handuk, peralatan makan, juga mainan. jika anak sudah sekolah sebaiknya istirahat di rumah dulu sampai sembuh untuk menghindari penularan penyakit ini. Kalau memungkinkan pakaikan juga masker pada anak atau orang sekitar anak yang sakit. untuk mengurangi kemungkinan tertular.

Faktor kebersihan juga harus dijaga. Biasakan mencuci tangan dengan sabun atau cairan antiseptik. Bagi ibu-ibu, biasakan mencuci tangan setelah membersihkan pup, air kencing atau sekedari ludah anak. Keringkan bintik-bintik dengan salep atau propolis ( bagi yang menyukai pengobatan herbal ).

Jika anak masih mengkonsumsi ASI, maka ibu juga harus didopping vitamin, agar menghasilkan ASI yang berkualitas. Hingga daya tahan tubuh anak makin kuat. Dan..., yang terpenting minta kesembuhan kepada Allah Swt , karena tidak ada yang bisa menyembuhkan kecuali Allah. Betulkan? :)

 



Kasihan gantengnya hilang dikit ya De Yazid,  Syafakallah ya...:)

Minggu, 22 Februari 2015

Arti Kehadiranmu, Nak!





Arti Kehadiranmu, Nak

( for you..., Omar)

Hari ini tepat Omar dua tahun, Alhamdulillah. Rasanya, baru kemarin ya Dik, ibu didorong masuk ke ruang operasi untuk persalinan caesar. Gak ada rencana, beda rasanya saat menghadapi caesar yang pertama saat melahirkan si kembar  8 tahun yang lalu. Dua minggu sebelum TP, posisi kamu di rahim ibu baik-baik saja. Semua optimis bakalan bisa persalinan normal. "Tinggal nunggu kontraksi aja, Bu!" ujar dokter dengan senyum yang terasa melegakan hati.

Well, ibu pun makin rajin tuh nyari-nyari kontraksi. Mulai dari jalan kaki bolak-balik antar dan jemput Mbak Yesha sekolah, ke mini market pun sengaja nyari yang agak jauhan, maksud hati biar jalannya makin jauh. Eh...yang ada malah tetangga dan orang yang kenal yang ketemu pas lewat malah wanti-wanti, "Aduh Ibu...naha tebih-tebih pisan atuh... kade ah...!" eaaaaa....ngakak deh!

usia kandungan dah sampai 39 minggu, kamu masih nyaman aja Dik, di rahim. Bahkan kerasa sama ibu, kandungan kok kayak yang tinggi lagi ya. Dan bener saja, pas USG lagi, ekspresi dokter tampak tidak baik. "Posisi bayi gak ada di jalan lahir, miring dan jauh sekali. Untuk sementara ketuban masih layak dalam artian bagus." Deg..., Ya Allah... asli lemes banget tuh.

Dokter memberi waktu seminggu lagi, hingga usia kandungan sampai 40 minggu ( usia maksimum). Itu juga mempertimbangkan kondisi ketuban. "Kalau ada kontraksi, kita bisa upayakan normal. tapi kalau sampai batas ini tidak ada kontraksi pilihannya caesar ya...."

Awalnya, mencoba santai karena ini berarti persalinan caesar yang kedua. dulu waktu si kembar USG kamis sore, masuk ruang operasi senin siang. dan kini diberi waktu seminggu, ah...semoga saja ada pertolongan dan kemudahan yang diberikan Allah. Karena masih keukeuh niat persalinan normal maka sepanjang perjalanan pulang kepala penuh dengan jadwal treatmen agak posisi bayi turun dan upaya mengundang kontraksi. Di sini suami dah mulai menatap khawatir, lihat istrinya komat-kamit dan manggut-manggut sendiri hehehe...( ya iyalah kalau komat-kamit barengan bisa-bisa lagi berdoa bersama kan ya...hehehe)

Hasilnya tidak ada perubahan, yang ada malah kepala pusing dan migren melanda. aku pun jadi sering cemas dan kesal karena semua usaha tidak menghasilkan kondisi yang aku inginkan.Sampai suami mengingatkan, bahwa semua sudah diatur oleh Allah. "Allah yang memasukkan ( mengisi ) isi rahim dan Allah juga yang akan mengeluarkannya. Allah sudah mengisi dengan yang terbaik, maka Allah juga akan memberi jalan keluar yang terbaik juga. kewajiban urang mah usaha sareng tawakal. ulah maksa... daa.. dipaksa ge moal tiasa."

Huhuhu... mewek deh daku ngedenger semua nasehat suami. Tapi memang saya suka ngeyel, malam sebelum operasi masih aja coba usul tunggu seminggu lagi. "Siapa tahu lusa ada kontraksi." Ujarku. "Apa hanya persalinan normal yang ibu pikirin, gak kasihan sama Adik. Ibu sendiri dah bilang pakaian dalam dah basah terus ( ketuban dah kerasa merembes ) dan lendir warna hijau muda juga dah sering keluar. Hem..., coba terima ini sebagai jalan terbaik dari Allah. pikirin kondisi Adik, jangan sampai dia dalam bahaya karena keteledoran kita."

Makanya, ketika saya melihat liputan pasangan artis yang mempersiapkan mental baik untuk persalinan normal atau caesar, saya setuju banget. siapa sih yang tidak ingin merasakan persalinan normal, dan pulih dengan cepat? tapi jika kondisi ternyata tidak memungkinkan ya jangan maksa. sebaiknya mempersiapkan mental dan meyakini bahwa persalinan dengan jalan apa pun pertaruhan nyawa. hitungannya tetaplah sebuah perjuangan.

Trus bagaimana kalau tidak menyiapkan mental, ya kayak yang saya alami. selama masa penyembuhan merasa stres berat alias depresi. Lagi-lagi penyakit maksa gak ilang-ilang nih, hehehe. ternyata penyembuhan caesar kedua tidak semulus caesar pertama. mungkin karena penyatuan daging pada luka yang kedua lebih berat dari yang pertama. Dokter sih terus kasih support, bahkan dia tidak menyuruh saya bolak balik kontrol karena melihat perkembangan yang signifikan. lha.. malah saya yang sering merasa sewot karena perih dan luka di perut tak kunjung hilang hemm....Astaghfiullah!

Tapi mendengar kisah teman-teman yang lain yang lebih parah dari saya padahal mereka caesar pertama, saya jadi malu karena banyak ngeluh. padahal tidak ada yang membuat saya 'terburu-buru' untuk sembuh. Apalagi di sisi saya ada bayi yang membutuhkan asupan ASI dan di sisi lain ada tim suporter terbesar yang siap mendukung saya, siapa lagi kalau bukan suami, anak-anak dan keluarga.

Hingga sekarang setiap memandang anak-anak saya selalu teringat saat-saat mereka hadir. Ada kalanya geli terasa saat mengingat perjuangan tiap kali persalinan. ada moment dimana saya harus meringis sepanjang Bandung-Tegal hanya karena ibu ingin saya melahirkan di dekatnya. Ada juga saat sudah siap operasi, eh malah sibuk pindah rumah sakit karena inkubator hanya satu, sementara saya butuh dua, atau suami yang tidak bisa keluar masjid karena sudah siap jum'atan sementara kontraksi sudah lima belas menit sekali, dan juga melahirkan ditolong bidan yang sedang nyidam mual-mual dan bolak-balik menin bobokan anaknya wakakakakak..., kayaknya kalau dibikin buku bisa jadi satu novel tuh hihihi...subhanalallh... Alhamdulillah...

Dan Omar, ini untukmu sayang... agar selalu ingat, ayah ibu berbahagia dengan kehadiranmu. Alhamdulillah ala kulli hal.*** 



Senin, 16 Februari 2015

Me & My Daughter : Senangnya..., Menekuni Hobi yang Sama

Me & My Daughter : Senangnya, Menekuni Hobi yang Sama


Dulu, saat saya masih kecil, saya selalu ingin menjadi seperti mamah. Bukan karena tubuh mamah yang tinggi ( bahkan melampaui Abah ), tapi karena setiap yang disentuhnya selalu menjadi 'bagus'. Tangan Mamah handal dalam urusan jahit menjahit. Bahkan saat saya memutuskan memakai jilbab, Mamah yang menjahit semua baju dan gamis. Maklum, sulit sekali mencari pakaian untuk saya yang anak tanggung. Ya.. tanggung tinggi dan besar badan hehehe...

Mamah juga piawai saat di dapur. Setiap saya ingin makanan A, otak Mamah langsung bekerja. Dia akan melihat makanan yang saya inginkan, lalu mulai merumuskan bahan-bahannya. Hasilnya, meski secara tampilan bisa jadi tidak mirip karena minimnya perlatan, tapi soal rasa wuihh... oishii ne... alias sedep bener. Makanya, saya pernah minta mamah untuk buka stand atau warung di kantin kampus. Saat itu saya masih kuliah dan mamah sedang bosan dengan kegiatannya berdagang pakaian di pasar.

Nah..., sekarang saya sudah menjadi ibu. Kebetulan seperti mamah, saya pun mendapat anak sulung seorang putri. Dia kini sudah duduk di kelas 7. Umurnya baru akan 12 tahun, ah.. rasanya baru kemarin saya berjuang menahan sakitnya kontrasksi saat melahirkannya. Kata ibu saya, dia ( Adzkiya ) ini dari kecil mirip banget sama saya. Dalam hal kebiasaan misal makan yang selalu lamaaaa dan lelet ( ini biasanya bikin saya uring-uringan apalagi jemputan sekolah sudah datang ), suka banget dengan buku alias membaca, cengeng ( hehehe... iya banget ) dan menulis ( ta..da....). Ya..., saya dan dia memiliki banyak kesamaan, bahkan dalam hal hobi.

Ceritanya, karena dia suka bikin tulisan pendek, kadang satu lembar, kadang setengah halaman, saya pun mulai menaruh perhatian. Apalagi setiap mata pelajaran bahasa Indonesia, khususnya mengarang , nilainya selalu bagus. Bahkan karangannya termasuk panjang dan lebar untuk anak seusianya. Walalu pun pas baca secara utuh kadang banyak enggak nyambungnya hehehe. Lagi-lagi saya jadi ingat pertanyaan guru saat saya di kelas 6 SD, "Ini betul karangan kamu?" karena menurut guru saya tulisan saya kok kayak milik anak SMP hehehe. Dan ternyata Adzkiya jauh lebih awal memulainya, dari kelas 1 SD, dan umurnya pun belum genap 7 tahun, What...!

Saat pemilihan ekstrakurikuler di SD nya, saya pun tanya- tanya apa yang akan dipilihnya. Pertama, dia pilih Creatipena yaitu wadah untuk melatih dan mengasah bakat menulis pada anak. Guru pembimbingnya pun guru yang pernah jadi wali kelasnya pas kelas 1. Nah, di pilihan keduanya, dia ingin mengasah kemampuannya berbahasa Inggris  secara gratisan, hehehe- eh, bayar kok..kan ada uang ekskul setiap bulannya, tapi murah lah. ( kebijakan keuangan keluarga yang membuat dia tidak ikut les ini itu, dan faktor waktu tentunya, kan dia sudah sekolah full day..., pembelaan ibu-ibu ). Saya pun acc.., alias setuju.

Saat liburan akhir kelas 2 SD saya ajak dia mengikuti pelatihan menulis di sebuah waralaba ayam goreng. Selama pelatihan, dia terlihat tegang dan nervous. Saya cuma ingin dia membuka wawasan dan bertemu banyak penulis cilik dan belajar dari penulis cilik yang waktu itu jadi narasumbernya. Saya pun tidak memberi target agar dia menulis atau membuat cerita yang banyak. Karena seringnya dia menulis hanya sampai setengah cerita dan bingung untuk membuat akhirnya. Ditambah kesibukannya karena dia masuk kelas akselerasi di sekolahnya, saya pun lebih mementingkan kegiatan belajarnya di sekolah.

Rupanya, dia tetap suka menulis dan itu dibuktikan dengan meraih juara tiga lomba menulis yang diadakan sekolahnya saat sedang PORAK ( Pekan Olah Raga Antar Kelas ). Ini adalah kegiatan yang diadakan olek ekskul Creatipena bekerja sama dengan sebuah penerbit buku anak. Pesertanya dari kelas 3,4, 5 ( sekolah adzkiya memang hanya sampai 5 tahun, tapi sejak dua tahun lalu ada juga kelas reguler yang 6 tahun ). sejak saat itu lah dia makin pede untuk menulis dan menyelesaikan cerita-ceritanya yang sudah setengah jadi.

Kini, Adzkiya sudah menerbitkan satu buku ( alhamdulillah ), buku seri KKPK berjudul Misteri Teror Sepatu, Dar Mizan 2014! Dia menulis cerita ini saat liburan kenaikan kelas ( naik kelas 5). Saya kirim ke penerbit sekitar bulan Februari 2014 dan mendapat kabar akan diterbitkan sekitar bulan Mei. Kabar gembira sebelum dia menghadapi UN dan ketika tegang-tegangnya PPDB SMP, surat perjanjian penerbitan pun datang sebagai obat stress hehehe...

Setiap nonton drama atau film, kami sering berdiskusi. Tentang jalan cerita, penokohan, pesan-pesan yang harus ditangkap juga hal-hal yang termasuk dalam kotak 'warning '. Saya kadang menyelipkan pesan tentang pergaulan yang tidak boleh diikuti, tentang rasa suka pada lawan jenis, kenapa harus menikah, memiliki anak atau hamil dan lain-lain.  Juga isu-isu yang kalau dibiarkan bisa menjadi kabur, seperti laki-laki yang feminim, atau malah yang ganti kelamin, perempuan yang tomboy atau bergaya sebagai laki-laki. Ah... rasanya menyenangkan sekali, karena kami bisa menemukan ide-ide segar dan khayalan yang sama hehehe. Yang pasti khayalan yang positif lah bukan yang negatif.

Kadang saya suka nantangin dia, "eh...gimana kalau idenya kita balik, kamu bisa nulisnya gak bla..bla..bla..."
Dan meki dia sedikit lebih kalem ( kesannya emaknya lebai banget ya..hehehe abaikan ), tiba- tiba dia akan menyabotase laptop yang tinggal semata wayang untuk dia pakai. tak tik tuk... sambil manggut manggut kadang sesekali merenung. Itu bertanda sel-sel di otaknya sedang memancarkan kilatan-kilatan ide. Yosh... ganbatte!

Saat ini dia lagi seneng-senengnya nonton yang berbau-bau Jepang. dari mulai dokumentari tentang tempat-tempat wisata di Jepang, budaya Jepang, masakan Jepang sampai drama dan anime Jepang yang memang sugoi... Terakhir dia suka banget dengan Kindaichi's file ( kalau gak salah dulu pas muda pernah juga baca manga nya hehehe...  ). Let see... apa yang akan dihasilkan dari semua bahan-bahan itu. Apakah buku barunya akan berbau Jepang juga, mulai kepo bin curious nih wakakakak...







Nah... yang penasaran dengan isinya. lihat ulasan berikutnya ya... :)







Minggu, 25 Januari 2015

Saat Harus Melepas Anak dari ASI



Pas belanja ke warung sayur, Tante – demikian para pembeli menyebutnya- sedang terkantuk-kantuk. Dari ceritanya, ternyata itu karena beberapa hari ini kurang tidur. “Lagi program nyapih si butet nih...” ujarnya dengan mata sayu.

Di hari yang lain, saya melihatnya menggendong si butet di punggung, sementara tangannya cekatan melayani pembeli. Dari ukuran si butet yang lumayan berisi, pastinya cukup berat beban di punggung. Sesekali dia menegakkan punggungnya untuk mengusir pegal, dan pada saat yang sama si butet pun merengek karena merasa tidak nyaman.

Walaupun saya memiliki enam anak, tapi menyapih sampai dua tahun sepertinya baru saya alami pada Ayesha. Si sulung terpaksa berhenti minum ASI saat usianya 15 bulan, karena ada si kembar di peut. Saat si kembar mah, hanya enam bulan menyusui karena kondisi saya yang kecapean membuat ASI tidak lancar jaya. Nah, pas Ayesha saya betul-betul menikmati masa-masa menyusui yang panjang .

Tibalah masa menyapih, dan karena tubuhnya yang kecil, saya rada-rada khawatir. Tapi kalau tidak disapih, dia juga tetap sulit makan karena ‘ngandelin’ ASI. Makanya, setelah berdiskusi dengan suami, saya pun menguatkan niat untuk melepasnya. Awalnya, saya kebingungan harus dengan cara apa? pakai tipu-tipu atau dengan memberi kesadaran pada anak. Tapi rasanya gak tega kalau meski menipu anak, misal dengan bilang, nenennya sakit, atau  diberi lipstik biar anak kira berdarah. Akhirnya, saya pun mantap memilih dengan cara yang ke dua memberi pengertian dengan berkomunikasi.

Tentu saja gak gampang dan tidak cukup waktu 24 jam. Seingat saya sampai sebulan lebih hingga Ayesha bisa betul-betul lepas dari ASI.  Saya pun menerapkan pola shift. Mengingat dia sudah sangat terbiasa nenen selama 2 tahun, tidak mungkin kan di putus dalam hitungan hari. Jadi saya target melepas nenen di siang hari pada awalnya. Setiap dia minta nenen, saya bilang “Ayesha kan sudah besar, kita makana ja yuk?”  saya juga menyibukkan dia dengan mainan atau membacakan cerita untuknya.

 Awalnya, Ayesha tidak cooperative, tapi lama-lama dia pun mulai bisa mengikuti ritme yang saya berikan. Saya pun makin menguatkan tekad dan memperlebar sabar ( ini ujian banget buat saya hehehe). Intinya,  saya mencoba konsisten.
Setelah siang dia tidak minta ASI, bagian terberat justru pas melepas tidur tanpa ASI.  Dan memang begitu lah yang terjadi. Ayesha rewel setiap jam tidur datang. Sudah gendong sampai pegel dan nyanyi sapai mulut kesemutan, tapi anak ini gak juga tidur. Sekalinya tidur tidak mau dilepas dari gendongan. Padahal saya sudah memastikan dia dalam kondisi kenyang. Dan saya juga tidak mau mengganti ASI dengan susu botol. Itu mah hanya mengalihkan dari nenen ke dot kan?

Lagi-lagi diperlukan niat yang kuat dan rasa tega. Mau bermalam-malam kurang tidur dan punggung pegal karena gendong sana-sini. Saya juga selalu menyediakan air putih di dekat tempat tidur, hingga saat dia terbangun karena haus bisa langsung terobati.
Alhamdulillah, masa-masa sulit itu terlewati juga. Kini, saya juga lagi siap-siap menyapih si bungsu Omar yang bulan depan tepat 2 tahun. Walaupun ada spare time sampai 30 bulan, tetap saja kalau tidak dimulai akan susah pada waktunya. Kayaknya saya harus mulai menguatkan niat lagi dan mencoba cara yang pernah diterapkan ke Mbak Ayesha...Bismillah...***



Kamis, 04 Desember 2014

The Journey : Storycake of your life Nikmatnya Syukur


Bismillah...
Awalnya, tidak banyak harapan saat saya menuliskan ide ini. Saya hanya ingin membuat buku kumpulan kisah-kisah inspiratif yang bertemakan syukur. bagi saya, syukur itu tidak mudah. Aslinya berat ( walau beluam pernah dikilo hehehe), karena bersyukur tentunya bukan sekedar pekerjaan lisan. Tapi juga pekerjaan batin yang akhirnya berperan penting dalam cara pandang kita terhadap kehidupan ini.

Dan apa pekerjaan yang paling mudah, masih menurut saya ( eit maaf kalau salah ya...) adalah mengeluh dan menyalahkan orang lain. Saat anak sakit, paling gampang tuh nyalahin anak yang sesiangan main sepeda. Atau saat mendapati pekerjaan tidak sesuai dengan harapan ya paling gampang mengeluh dan menyalahkan siapa saja. Saat orang lain lebih baik dari kita paling gampang nyinyir dan berpikir macam-macam yang biasanya negatif. Ya..minimalnya ada rasa iri yang akhirnya malah jadi benci.

Karena itu lah saya mengajukan ide itu, ide tentang kisah-kisah bersyukur yang bisa jadi dari peristiwa sepele tapi mengandung hikmah yang amat besar.  Minimalnya menggugah hati kita bahwa hidup kita masih lebih baik, masih lebih menyenangkan.  bahwa masalah yang kita hadapi masih bisa dipecahkan, atau kita menyadari masih banyak orang yang peduli. Masih ada pasangan yang selalu menerima kita dengan penuh pengertian. Masih ada orang yang mau mendengar curhat kita dan memberi nasehat ( walau kadang pedih menyayat hati hiks hiks hiks...)

lalu mulailah hunting naskah dengan membuka audisi pencarian bakat eh...pencarian naskah di IIDN. Gak disangka banyak juga yang ikutan, sampai pusing sendiri memilihnya. Setiap hari update naskah yang sudah masuk karena biasaya para peserta ribut kalau belum ada kabar naskahnya dah keterima ( ya kan... pengalaman sendiri soalnya hehehe ), dan juga mengingatkan untuk peserta agar memenuhi ketentuan yang sudah dibuat di pengumumam pencarian naskah.

Ternyata memilih naskah itu tidak gampang. Ada yang ide juga banyak yang mirip. Gak mungkin kan satu buku ceritanya sama semuanya. makanya perlu yang betul-betul. untung gak sampai ngitung kancing apalagi sampai nunggu si tokek bersuara. Tapi cukup membuat stress hingga bayi ( waktu itu saya lagi hamil Omar ) joged-joget kesel di rahim. Eng ing eng..terkumpullah 35 naskah inspiratif tentang syukur. ada yang mengharu biru, ada yang membuat semangat ada yang membuat mewek ( banyak nih hehehe) dan membuat kita merenung. Saya sendiri selalu merasa ingin banyak mengucap syukur dan memperbanyak sujud setelah membaca buku ini ( buku ini sering saya baca lho...). Aih...penasaran kan? aku kutipin dikit ya....

 Jika ingin menjadi seseorang yang senantiasa bersyukur, jangan lupa melihat ke bawah.Niscaya engkau akan melihat betapa banyak sesungguhnya orang lian yang mendapat nikmat jauh lebih sedikit dari pada apa-apa yang telah diberikan Allah kepadamu.
Sayangnya, dari sekian banyak contoj dan cerita kehidupan manusia yang malang, mengharu biru dan sungguh membuat pilu hati nurani itu ternyata tidak ada satu pun yang berhasil membuatku menjadi seseorang dengan hati yang bersyukur. Hatiku masih selalu saja diliputi dengan ketidakpuasan, penyesalan, dan kesedihan akan keadaaan diriku... ( Nikmatnya Syukur hal 117 )


Setelah memilih pun, editing berlanjut. Ada naskah yang harus dirombak karena kurang greget ( ini kata penerbit loh ), diminta disusun ulang biar lebih nendang. Oke...oke..., saya pun ngadep kompi lagi dan taraaaa....alhamdulillah jadi dan di acc oleh pemilik naskah.

Proses menunggu buku terbit pun seru. saya mesti jawab setiap kontributor nginbo nanyain kabar terbit. saya bilang sabar ya..., ngantrinya lama...panjang kayak ular naga hihihi... alhamdulillah kontributornya baik-baik semua ( beneran loh...hehehe). hingga akhirnya April tahun 2014 buku ini terbit, alhamdulillah...syukur tiada terkira. dan saya harus memahami bahwa ini adalah waktu yang terbaik. karena saya akan terus mengingat kapan terbit buku ini. Tentu saja karena ada kejadian unik pas buku ini terbit, yaitu Omar dirawat di RS karena BP ( bronko pneunomie....)

Sungguh, dalam setiap kesempitan pun, Allah masih memberi kejutan kebahagian tak terkira. Dan buku ini adalah hiburan untuk saya ketika sedih melihat Omar yang baru 15 bulan tergolek lemah.  dan di bulan november kembali diberi kejutan manis lagi oleh Allah, saat seorang kontributor ( Mbak Diah Kusumasturi) bilang kalau buku Storycake of Your Life Nikmatnya Syukur jadi gift book di acara Kick Andy 7 November 2014 ..what a suprise! Subhnallah... ( senengnya pake jingkarak-jingkrak hehehe)

Banyak yang mengucapkan selamat, lalu saya tiba-tiba merasa malu. Ya jelas, wong saya ngerasa tidak berbuat banyak kok ya...hehehe. Saya hanya berharap ini memang kebaikan untuk saya dan buku ini. agar pesanny makin meluas tentunya. pesan kecil dari penulis pemula macam saya ini, agar senantiasa menghargai apa pun dalam hidup ini dan mensyukurinya.

Selesai...., sampai jumpa di lain waktu ya...hehehe. wassalam
Alhamdulillah ala kulli hal