Selasa, 01 September 2015

Pesan Untuk Orang Tua

Astaghfirullah... hanya itu yang bisa keluar dari mulut saya mendengar berita yang dibawa oleh si sulung siang ini. "Bu, tahu enggak tadi di sekolah Teteh gak ada pelajaran."

"Kok bisa?'

"Iya, dari pagi guru-guru rapat, trus siang-siang kita semua dikumpulin dan ada pengumuman..."

"Emang ada apa?"

"Ibu tahu ada berita anak SMP yang jadi pembunuh?" Si sulung malah bikin penasaran.

"Iya, tahu dari status teman-teman ibu. Heh..., jangan-jangan anak sekolah Teteh?" Duh dag dig dug banget.

"Bukan, itu anak SMPN yang lain.Yang meninggal anak kelas 9, cewek. Yang ngebunuh anak SMPN juga baru kelas 7. Pake palu bu..."

Deg..., shock berat asli. "Emang motifnya apa?"

"Katanya sih, pengin ngambil hp si anak ceweknya, da mereka janjian ketemuan. si ceweknya diminta bawa laptop ama hp. Tapi si cowoknya dah bawa palu."

Ya... Allah,  saya hanya bisa nyebut dan geleng-geleng kepala. Kelas 7 sudah melakukan tindakan kriminal berat? apa yang salah dengan generasi muda negeri ini? Apakah begitu menggoda HP Android hingga bisa membuat seorang anak yang menghilangkan nyawa orang lain.

Akhirnya, saya pun memaksakan diri mncari-cari berita tentang kejadian itu. Padahal terus terang sering ngeri dan parno sendiri kalau sudah baca atau menyimak berita kriminal. Dan ternyata dari berita diketahui motif si pelaku karena cemburu dan  Memang ini bukan kejahatan pertama kali yang dilakukan oleh anak di bawah umur. Bisa jadi ada juga kejahatan lain yang kadang oleh orang dewasa pun tidak pernah terlintas, tapi mungkin karena kejadiannya termasuk dekat dari rumah tepatnya di daerah Cipamokolan, makanya rasa ingin tahu lebih besar. Apalagi sekolah si korban juga merupakan almamater sepupu saya, hemm... asa ngerasa dekat sekali.

Bagi orang tua yang anaknya memasuki usia remaja, ini merupakan sebuah tamparan keras. Bahwa sering kali kita orang tua merasa sudah cukup memberi perhatian pada anak. Tapi lebih sering orang tua tidak tahu apa-apa tentang anak. Dengan siapa anak bergaul, atau berteman. Anak mengikuti kegiatana apa di luar rumah.

Orang tua juga sering kali sudah cukup merasa memberi kasih sayang dengan menuruti semua keinginan anak. Jadi mereka hanya berpikir bahwa dengan memenuhi kebutuhan anak yang bersifat materi, mereka sudah merasa sudah cukup memberi perhatian. Padahal masih banyak kebutuhan anak yang bersifat immateri. Yang jika tidak didapat dari orang tua dan keluarga, maka anak akan mencarinya dari luar rumah dan lingkungan.

Faktor tontonan juga amat menentukan. Bagi remaja yang sedang mencari jati diri, apa yang dalam pikirannya keren pasti akan diikuti. Belum lagi idola-idola remaja yang kadang hidupnya jauh berbeda dari tatanan masyarakat, seharusnya menjadi tantangan orang tua agar lebih awas dalam membimbing anak-anaknya.

"Saya melihat, di anak-anak komplek tantangan paling berat adalah gaya hidup Bu," Ujar kepala sekolah di PAUD tempat si pengais bungsu sekolah." Saya sampe kaget, anak-anak kelas 3 SD jaman sekarang sudah malu ke TPA, alasannya karena itu mah untuk anak-anak. Jadi anak-anak sekarang mah, lebih suka kumpul-kumpul main dari pada ke masjid untuk ngaji. Sedih banget, TPA yang dulu muridnya hampir mencapai 80 orang, sekarang terancam off."

Ya..., peristiwa ini seperti sebuah warning, atau pesan penting bagi orang tua atau siapa pun yang peduli dengan anak-anak. Bahwa dunia sekarang ini sangat jauh dari kata ramah untuk anak-anak. Maka, mulailah dari diri sendiri dan keluarga, untuk lebih perhatian pada anak. Untuk meluruskan kembali visi misi dalam mendidik anak, bukan sekedar menjadikan anak sebagai investasi dunia yang bisa memberikan hasil kerjanya untuk orang tua, tapi lebih ke arah investasi akhirat. Maka, didiklah anak dengan pemahaman agama yang betul, ajarkan anak  untuk mengenal Allah dan mencintai Allah.

Mungkin sudah saatnya orang tua jaman sekarang cemburu pada sinetron, film, musik, gadget bahkan pacar atau teman anak. Karena anak-anak kita saat ini lebih dengan hal-hal itu dari pada dengan orang tua apalagi dengan agama. Mereka lebih percaya pada teman dari pada orang tua. Mereka lebih nurut pada pacar dari pada pada perintah ibu, naudzubillah. Maka, lakukan langkah pendekatan bijak dengan anak. Tunjukkan bahwa orang tua dan keluarga lebih tulus dalam mencintai anak. Tunjukkan bahwa orang tua bisa dipercaya, dan mereka pun dipercaya oleh orang tuanya.

Hemm... pastinya tugas yang berat. Tapi dengan niat kuat dan yakin akan pertolongan Allah bukan suatu yang mustahil bukan?***

Sumber foto:
http://3.bp.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar